NovelToon NovelToon
Sang Istri Muda

Sang Istri Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."

Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.

Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.

Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 : Rasa Takut Pertama Kali

"Maaf, Kinnar... Maaf ya..."

Kharisma tak bisa henti-hentinya meminta maaf saat kini berhadapan dengan sahabatnya. Kinnar sudah begitu bersemangat datang ke rumah pagi-pagi sekali, menanti jawaban dari Prabujangga. Tapi saat datang, Kharisma justru tidak bisa memberikan kabar baik.

Kinnar terlihat cemberut duduk di seberangnya, perempuan itu bersedekap dengan bahu terkulai. "Kok gitu, sih? Memangnya kenapa?" gumamnya, membuat Kharisma semakin tidak enak hati.

"Apa gara-gara gue kemarin masuk ke kamar lo tiba-tiba? Aneh banget, masak gitu doang malah marah," lanjutnya kesal. Wajahnya terlihat muram.

Kharisma menggeleng, tangannya bertaut di pangkuan. "Maaf ya Kinnar... Mas Prabu itu memang susah dibujuk—"

"Biasanya kalo suami itu nggak akan susah di bujuk sama istri, Kharisma." Kinnar menyela dan menghela napas. "Gue jadi curiga kalo suami lo itu nggak cinta sama lo. Nggak mau dengerin omongan, terus nggak mau ngebantu sahabat istrinya sendiri," ujarnya kesal.

Kharisma terbelalak, kepalanya sedikit tertunduk. Apa yang dikatakan oleh Kinnar itu memang benar, kan? Prabujangga tidak mencintainya, dan hanya menikahinya untuk meraih keturunan saja. Jadi tidak mengherankan jika Prabujangga tidak mau mendengarkannya. Tapi kenapa rasanya sakit sekali?

"Atau... lo ada curiga gitu nggak, sih? Jangan-jangan suami lo nolak karena di kantor dia punya simpenan?" Kinnar tiba-tiba berasumsi, keningnya berkerut curiga. "Soalnya aneh aja gitu. Masak dia nggak mau ngasi gue kesempatan? Wimana group itu kan besar, pasti ada posisi kosong. Terus... gue juga sahabat lo, dan lo istrinya dia. Secara tidak langsung kalo gue kerja di sana, gue bakalan banyak ngelapor ke lo tentang dia deket sama siapa aja."

"M-maksud kamu?" Kharisma semakin cemas dan gugup. Ia tidak pernah berpikir seperti itu sebelumnya.

Tapi... bagaimana jika Kinnar benar? Bagaimana jika seandainya suaminya itu menolak bukan karena curiga Kinnar ingin mendekatinya, melainkan untuk menyembunyikan perempuan lain?

"Ya... gitu deh." Kinnar mengendikkan bahu. "Kayaknya suami lo itu punya simpenan. Secara gue ini kan sahabat lo, jadi otomatis nanti gue bakal cerita ke lo dia deket sama siapa aja di kantor."

Kecemasan Kharisma meningkat, kepalanya tiba-tiba terasa pusing.

"Mungkin... Mas Prabu hanya ragu," balasnya denial, meskipun kata-kata Kinnar jelas masuk akal.

Kinnar mendesah malas. "Ragu apa?"

"Ragu kalau kamu belum memiliki pengalaman, jadi dia bingung ingin memberikan posisi apa," jawab Kharisma ragu-ragu, meskipun jelas Prabujangga kemarin menolak karena beranggapan bahwa Kinnar ingin mendekatinya. Tapi itu tidak mungkin, kan? Kinnar itu adalah sahabatnya.

Kinnar terdiam, dia tampak berpikir sejenak. "Eh, tapi bisa juga sih," ucapnya, lalu menggeleng pelan. "Apa gue harus ke kantornya langsung buat ngelamar, ya? Terus biar di interview dulu."

Saran itu bagaikan tiket emas bagi Kharisma.

Kharisma mengangguk setuju. "Iya, langsung saja datang ke kantornya untuk melamar pekerjaan." Ia memberi jeda sebelum menambahkan, "nanti kalau ke sana jangan lupa untuk... melihat-lihat ya, beritahu aku kalau Mas Prabu dekat dengan seseorang."

Kinnar tersenyum dan tertawa pelan. "Iya, iya, nanti pasti gue bilang ke lo soal siapa aja yang deket sama dia di kantor," ucapnya, lalu bangkit untuk menghampiri Kharisma. "Doain supaya gue di terima, ya," ucapnya, lalu menarik Kharisma ke dalam pelukan.

"Pasti." Kharisma tertawa lembut, membalas pelukan sahabatnya.

Semoga saja kecemasannya tidak benar.

...***...

Kepala-kepala menunduk dalam tatkala mendengar suara ketukan sepatu mendekat. Suara yang tenang dan terukur membuat mereka langsung mengenali bahwa atasan mereka sudah dekat di jangkauan.

"Maaf, Pak. Saya ingin melaporkan bahwa selama rapat tadi saya mendapatkan panggilan dari Ibu Nada. Beliau juga meninggalkan pesan." Nina—asisten pribadi Prabujangga menyambut di depan pintu ruangan dengan sopan. Tubuhnya sedikit membungkuk, dan pandangannya tertunduk.

"Pesan apa?"

"Ibu menanyakan kepulangan bapak, dan saya diminta untuk menginformasikan bahwa Nona Lihana... sedang berada di kediaman," jawab Nina lugas.

Prabujangga perlahan mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, otaknya kembali memanas. Kakaknya itu ternyata tidak main-main mengatakan ingin membawa istrinya pergi. Tapi siapa menyangka caranya begitu terang-terangan? Dia benar-benar datang langsung ke kediaman Wimana.

"Hanya itu? Apa ada pesan lain?" tanya Prabujangga datar, meskipun amarahnya sudah melompat ke ubun-ubun.

Nina menggeleng. "Hanya itu yang Ibu Nada minta untuk saya sampaikan. Beliau juga meminta agar bapak menghubungi kembali setelah rapat selesai."

Prabujangga mengangguk, lantas melewati Nina dan masuk ke dalam ruangannya. Tangannya merogoh saku, mengeluarkan benda pipih dan menyalakan layar.

Ponsel itu berdering beberapa kali sebelum tersambung ke pesan suara.

"Prabu? Sudah selesai rapatnya, nak?"

"Sudah," jawabnya singkat. "Apa yang diinginkan Kak Lihana datang ke sana?"

"Tadi katanya hanya berkunjung. Dia menanyakan istri kamu, katanya ingin berkenalan. Tapi Mama bilang kalau kamu lagi nggak ada di rumah."

Berkenalan? Akal-akalan licik apa lagi itu?

"Apa lagi yang Mama katakan?"

"Mama bilang kamu lagi di rumah mertua kamu."

Prabujangga mengeratkan cengkramannya pada ponsel, benda itu nyaris remuk di tangannya. Secara tidak langsung sekarang Lihana mengetahui di mana istrinya berada.

"Lalu? Di mana dia sekarang? Masih berada di sana?"

Entah mengapa perasaanya menjadi tidak enak. Pikirannya langsung tertuju pada Kharisma yang sedang berada di kediaman orang tuanya. Perempuan polos itu terlalu sulit untuk memilah mana yang baik dan buruk. Jika Lihana tiba-tiba datang dengan topeng kebaikannya...

"Enggak, ini baru banget keluar pas Mama bilang kalo kamu lagi rapat. Kayaknya mau nyusul kamu ke sana."

Prabujangga terdiam, otaknya kembali berpikir.

Lihana tidak mungkin datang untuk menemuinya karena itu hanya akan membuang-buang waktu. Wanita itu mana mau datang jika tidak mendapatkan sesuatu yang menguntungkan? Dan jika dia pergi, pasti ada sesuatu yang sedang dia cari.

Prabujangga mencoba menyatukan potongan-potongan informasi ini, mencoba membaca rencana kakaknya yang sudah pasti rumit dan cerdik.

"Prabu? Nak?"

Suara Nada mengalihkan atensinya. Ia baru ingat bahwa telponnya masih tersambung pada Nada.

"Saya akan kabari lagi nanti, ada hal penting yang harus dilakukan." Tanpa menunggu jawaban, ia memutuskan sambungan.

Prabujangga melangkah mendekati mejanya, tangannya menyugar rambut hingga acak-acakan. Kenapa menjadi begitu rumit sekarang?

"Jika Mama sudah mengatakan di mana saya dan Kharisma berada, itu berarti Kak Lihana tau di mana targetnya. Dia tau di mana istri saya," gumamnya, mencoba menjernihkan pikiran.

Bagaimana caranya ia menangani situasi ini sendiri sekarang? Dan kenapa ia menjadi uring-uringan seperti ini?

Prabujangga menapakkan tangannya pada permukaan meja yang keras, menatap tanpa fokus berkas-berkas yang menumpuk. "Jika Kak Lihana pergi setelah mengetahui bahwa saya sedang berada di kantor dan jauh dari Kharisma, itu berarti..."

Batu besar seakan-akan menghantam kepalanya saat kesadaran perlahan-lahan muncul.

Kakaknya pasti pergi ke kediaman Respati untuk mencari istrinya.

Prabujangga kembali meraih ponselnya, pikirannya benar-benar tidak berjalan karena ketakutan. Ketakutan. Satu hal yang nyaris tak pernah ia rasakan seumur hidupnya, dan perempuan polos itu—istrinya, justru menjadi alasannya bisa merasa seperti ini.

Prabujangga menggulir layar buru-buru, mencari nomor rumah Respati tepat saat pintu kantornya perlahan-lahan dibuka tanpa izin.

"Permisi..."

Kepalanya tertoleh.

Di sana, di jarak yang cukup jauh, Prabujangga bisa melihat seorang wanita berdiri di ambang pintu ruangannya. Rambut panjangnya digerai dan sedikit acak-acakan, blouse-nya terlihat ketat dan tipis hingga menonjolkan lekuk tubuh, dan roknya... itu lebih pendek dari standar yang telah ia tetapkan pada setiap pegawai wanita di wilayahnya.

Kinnar. Ia yakin itu namanya.

Bersambung...

1
partini
itu lah susahnya kalau punya istri folos nya di luar Nurul karena folossss nya mendekati OON
partini
good story
Liaramanstra: Terimakasih💗
total 1 replies
partini
wah keren Langung tau ,, maklum lah istrimu rada" jadi gampang di kibulin
di kalau ga denger atau melihat dengan mata kaki kepala nya susah untuk percaya
partini
dihhh jangan jadi Kunti bogel yah no good,, bisanya kaya gitu sih jadi parno aku baca Nya
Elisabeth Lalang
Bukankah tujuan dari maksud pernikahan itu adalah agar Prabu dan Kharisma memiliki anak lalu kenapa sekarang Prabu semena-mena akan meninggalkan Kharisma Di Malam pengantinnya😟
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!