“Segera pulanglah,, Kita butuh kamu untuk menjadi saksi Kha!”
Mendapat kabar tentang pernikahan kedua sahabatnya, kini Arka yang memang menetap tinggal di Italia Kembali dengan Sangat mendadak, Bagaimana tidak Dua sahabat baiknya akan menikah dan Arka harus menghadirinya.
Namun beberapa langkah Arka tiba di tempat dimana janur kuning melengkung terdapat juga bendara kuning di sampingnya.
Bayu Putra!
Bagaimana bisa sahabatnya meninggal tepat di acara sakralnya?
“Aku hancur Kha, Kenapa Bayu harus meninggalkan aku?”
Arka tak mampu menahan tangisnya, di peluk Vina dengan penuh belas kasih.
“Bagaimana Acaranya? Penghulu sudah datang namun pernikahan tidak bisa di lanjutkan!”
Arka menatap Vina yang sudah berderai air mata, rasanya dia ingin menghapuskkan kesedihan sahabatnya itu, tapi bagaimana caranya?
Kesedihan menyelimuti kediaman mempelai, pernikahan sudah pasti batal.
Namun, Satu pucuk surat yang Bayu tinggalkan untuk Arka membuat suasana semakin mencekam, Bayu meminta Arka yang menggantikan dia menikahi Vina.
Dan menikahi SAHABATNYA sendiri tidak pernah terlintas di dalam benak seorang ARKANA.
“Lanjutkanlah,, Arka yang akan menjadi pengantin penggantinya!”
Satu pernnyataan Sang Ibu yang membuat seluruh mata mendelik.
“Mah!”
“Lanjutkan Nak, Hujudkan permintaan terakhir sahabatmu!”
Apa Akra akan mengabulkan permintaan terakhir sahabatnya? Dan bagaimana bisa dia menikahi sahabat perempuannya?
Tidak!!
Pria Tampan itu gelisah memandang Cincin tunangan di jemari kirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nufierose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH TANGGA
BAB 26
Di Bawah Sorotan Kamera dan Kebencian
Udara di dalam studio buatan di pinggiran Roma itu terasa makin tipis dan menyesakkan. Lampu-lampu tungsten yang panas menyorot tajam ke arah tempat tidur besar yang menjadi properti utama adegan revisi hari ini.
Suara bising kru yang biasanya terdengar seperti harmoni kerja, kini di telinga Arka terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu.
Ia berdiri di sudut set, membiarkan penata rias menyeka keringat dingin di dahinya dengan spons, namun matanya sama sekali tak lepas dari sosok Rendy.
Rendy duduk di kursi kru, tak jauh dari monitor sutradara. Pria itu tidak pergi setelah memberikan makanan pada Sefa,ia justru bertahan di sana dengan tangan bersedekap, seolah ingin memastikan dengan matanya sendiri bagaimana Arka memainkan peran ganda dalam hidupnya.
Bagi Arka, keberadaan Rendy di sana bukan lagi sebagai sahabat, melainkan sebagai hakim yang siap menjatuhkan vonis kapan saja.
"Oke, Arka, Sefa! Masuk posisi! Kita ambil wide shot dulu baru close-up!" teriak sutradara lewat megafon, suaranya menggema di seluruh studio.
Sefa melangkah menuju ranjang dengan jubah sutra yang menutupi gaun tipisnya. Wajahnya nampak gugup, sebuah kegugupan alami seorang aktris yang akan melakukan adegan intim, namun di matanya terpancar kepercayaan penuh pada Arka.
Bagi Sefa, Arka adalah pelabuhan amannya. Sebaliknya, Arka merasa setiap langkah yang ia ambil seberat timah. Pikirannya melayang jauh ke rumah mereka.
Di salah satu sudut rumah itu, Vina mungkin sedang duduk sendirian, menatap jendela, tak menyadari bahwa suaminya sedang bersiap melakukan adegan ranjang dengan wanita lain demi menjaga sebuah rahasia yang ia sebut sebagai ‘perlindungan’.
"Adegan 45, Take 1! Action!"
Kamera mulai bergerak di atas dolly. Arka mulai menjalankan perannya. Ia mendekati Sefa, menatap matanya dalam-dalam, lalu menyentuh pipi gadis itu dengan lembut sesuai instruksi naskah.
Namun, setiap kali jemarinya bersentuhan dengan kulit Sefa, sebuah kilatan ingatan menghantam kepalanya. Ia teringat saat ia mengucapkan janji nikah di depan penghulu untuk Vina. Ia teringat bagaimana ia memeluk Vina semalam untuk meredakan tangisnya. Ia merasa seperti sedang melakukan pengkhianatan di bawah lampu sorot, sebuah dosa yang disaksikan oleh puluhan pasang mata kru film.
"Sayang... aku mencintaimu. Jangan pernah biarkan aku sendiri," ucap Sefa, menghayati perannya dengan air mata yang mulai menggenang.
Kalimat itu terasa begitu nyata karena memang itulah yang Sefa rasakan di dunia nyata.
Arka seharusnya menjawab dengan ciuman yang dalam, sebuah klimaks dari adegan romantis itu. Namun, saat wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibir Sefa, ia secara tidak sengaja melirik ke arah monitor.
Di sana, ia melihat bayangan Rendy yang berdiri dari kursinya. Rendy menatapnya dengan pandangan yang penuh kebencian dan penghinaan, seolah sedang menonton sebuah pertunjukan kemunafikan yang menjijikkan.
Arka mendadak kaku. Napasnya tercekat. Ia melihat bibir Sefa yang menanti, namun yang terbayang di matanya justru wajah Vina yang pucat dan penuh luka.
Rasa bersalah yang selama ini ia tekan, meledak hebat di dadanya. Ia tidak bisa melakukannya.
"Cut! Cut!" Sutradara berteriak frustrasi.
"Arka! Ada apa denganmu? Kamu terlihat seperti sedang memeluk mayat! Mana gairahnya? Mana emosinya?"
"Maaf... aku... aku butuh udara segar," ujar Arka parau.
Tanpa memedulikan tatapan bingung Sefa yang masih terduduk di atas ranjang dengan wajah memerah karena malu, Arka melangkah turun dari set. Ia berjalan cepat meninggalkan studio menuju lorong belakang yang sepi.
Arka bersandar di tembok beton yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang memburu. Namun, ketenangannya tak bertahan lama.
Suara langkah kaki yang berat mendekat. Itu Rendy.
Rendy mencegat langkah Arka di lorong remang-remang itu. Tanpa ada orang lain di sana, Rendy akhirnya meledakkan amarah yang sudah ia tahan sejak tadi. Suaranya rendah, namun setiap katanya tajam seperti sembilu.
"Hebat sekali aktingmu, Arka. Kamu hampir saja menipu seluruh dunia dengan wajah suci itu," Rendy tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan.
"Kamu bisa terlihat begitu mendambakan Sefa di depan kamera, sementara kemarin aku melihatmu mencium tangan Vina dengan penuh perasaan di restoran. Katakan padaku, yang mana yang akting? Atau jangan-jangan... bagimu, hidup ini memang hanya sekadar panggung sandiwara?"
Arka menatap Rendy dengan mata merah yang menyala.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku hadapi, Rendy! Jangan pernah merasa paling tahu tentang urusan rumah tanggaku!"
Kalimat itu meluncur begitu saja. ‘Rumah tangga’. Sebuah kata yang seharusnya tabu untuk diucapkan di situasi ini.
Rendy tertegun sejenak, lalu tawa sinisnya makin keras.
"Rumah tangga? Kamu baru saja menyebutnya rumah tangga? Jadi dugaanku benar... kamu sudah melampaui batas dengan Vina? Kamu mengkhianati Sefa yang malang itu demi wanita lain, lalu kamu menyebutnya urusan rumah tangga?"
Rendy melangkah maju, mencengkeram kerah baju Arka hingga pria itu terhimpit ke tembok.
"Sefa tidak punya siapa-siapa lagi, Arka! Dia hanya punya kamu! Dan kamu justru menusuknya dari belakang dengan membawa wanita lain ke dalam hidupmu? Apa kamu punya hati?"
"Aku melakukannya untuk melindunginya, Rendy! Kamu tidak tahu betapa rumitnya posisi Vina!" Arka balas berteriak, mencoba melepaskan cengkeraman Rendy.
"Melindungi? Dengan cara membohonginya setiap hari? Dengan cara tidur dengan wanita lain di belakangnya?" Rendy mendorong Arka dengan kasar.
"Aku memberimu waktu sampai besok pagi. Hanya sampai besok. Kalau kamu tidak jujur pada Sefa tentang siapa Vina sebenarnya dan apa hubungan kalian, maka aku yang akan melakukannya. Aku akan membawa Sefa ke hadapan Vina dan membiarkannya melihat sendiri betapa busuknya pria yang ia puja selama ini."
Rendy berlalu pergi dengan langkah lebar, meninggalkan Arka yang kini merosot jatuh ke lantai. Dunianya terasa runtuh. Waktu yang ia miliki kini benar-benar di ujung tanduk. Ia terjepit di antara dua wanita yang sama-sama rapuh, dan satu sahabat yang kini berubah menjadi musuh paling berbahaya.
Namun, di balik pilar yang tak jauh dari tempat mereka bertengkar, seorang wanita berdiri mematung. Sefa, yang tadi berniat menyusul Arka untuk menanyakan apa yang terjadi di set, mendengar sebagian besar percakapan itu. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya membekap mulutnya sendiri agar jeritannya tidak pecah.
Satu kata yang terus terngiang di telinganya adalah Rumah tangga.
Sefa memejamkan mata, membiarkan air mata kekecewaan membasahi pipinya.
Ia tidak tahu kebenaran utuhnya, namun ia tahu satu hal, Arka, pria yang menjadi satu-satunya tumpuannya, telah membangun sebuah rahasia besar yang melibatkan wanita lain.
Dan wanita itu adalah Vina, sosok sahabat Tunangannya.
“apa aku salah dengar Kak?”
“Rumah tangga katamu?”
Sefa menghapus buliran bening yang mengalir di pipinya.