Di sudut kota yang tenang, hiduplah keluarga Baskara yang tampak sederhana namun menyimpan kehangatan yang luar biasa. Cerita ini berpusat pada kehidupan sehari-hari mereka yang dinamis, berputar di antara aroma masakan dapur, wewangian parfum langka, dan ambisi masa depan.
Kyla Rebecca Lynette M., si bungsu berusia 18 tahun yang memiliki kecantikan visual mutlak bak boneka hidup, menyimpan dunia emosionalnya sendiri di balik taman belakang yang luas dan laboratorium parfum rahasianya. Di saat sang kakak sulung, Tamara, berjuang dan akhirnya berhasil menembus beasiswa penuh S2 di London membawa kebanggaan sekaligus rasa haru yang hebat bagi keluarga Rebecca harus menghadapi ujian akhir SMA-nya.
Dalam proses pendewasaan ini, Rebecca dibimbing sekaligus "diganggu" oleh kakak keduanya, Naufal, seorang pemuda dingin di luar namun menjadi mentor sekaligus pencipta kerusuhan yang manja di kamar Rebecca. Di bawah asuhan hangat kedua orang tua mereka, novel ini mengeksplorasi arti kedewasaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oviamarashiin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh Kereta Bawah Tanah dan Tatapan Kota Kosmopolitan
Kereta bawah tanah Piccadilly Line melaju membelah terowongan gelap di bawah kota London dengan suara gemuruh yang khas. Di dalam gerbong yang melaju stabil itu, Tamara duduk dengan tenang di salah satu kursi berbahan beludru motif kotak - kotak klasik. Di pelukannya, secangkir oat latte hangat masih menyisakan hawa panas yang nyaman di jemari tangannya yang mulus.
Di seberang tempat duduknya, beberapa penumpang lokal tampak sibuk dengan aktivitas masing - masing. Ada yang tenggelam di balik lembaran koran The Times, ada yang menyumbat telinga mereka dengan headphone, dan ada pula yang sesekali melirik ke arah Tamara dengan pandangan penuh rasa ingin tahu yang sopan.
Di kota kosmopolitan seperti London, melihat wanita mengenakan hijab atau pakaian tertutup sebenarnya bukanlah hal yang aneh. Namun, kombinasi penampilan Tamara pagi ini memiliki daya pikat visual yang berbeda. Perpaduan antara busana syar'i abu - abu pastel yang jatuh dengan potongan elegan, khimar panjang yang menutup dada dengan sangat rapi, serta selembar cadar sutra yang berayun halus mengikuti ritme gerakan kereta, memancarkan aura high-fashion yang misterius namun berkelas.
Terlebih lagi, setiap kali kereta melambat di setiap stasiun dan pintu gerbong terbuka, embusan angin terowongan ikut mengibas kain khimarnya, kembali menyebarkan distilasi wangi mawar hitam, bergamot, dan cendana racikan Rebecca ke seluruh sudut gerbong. Beberapa orang yang berdiri di dekat tiang pembatas bahkan tampak menghirup udara dengan kening berkerut kagum, mencoba menebak asal wewangian mewah yang menenangkan jiwa tersebut.
Seorang wanita muda berambut pirang pendek dengan gaya busana edgy yang duduk dua kursi di sebelah Tamara sejak tadi tidak bisa melepaskan pandangannya. Setelah mengamati dengan ragu selama beberapa menit, wanita itu akhirnya menggeser duduknya mendekat dan berbisik pelan agar tidak mengganggu penumpang lain.
"Excuse me, mate. I hope I’m not being rude, but your attire is absolutely stunning. The drape of your veil is incredibly elegant. Is it custom-made?" tanyanya dengan binar mata seorang pecinta mode sejati.
(Permisi, Sobat. Saya harap saya tidak lancang, tapi pakaianmu benar-benar memukau. Lipatan kain cadarmu luar biasa elegan. Apakah itu dibuat khusus?)
Tamara menoleh perlahan, sepasang mata bulat hitamnya memancarkan kehangatan yang instan. "Oh, thank you so much! No, it's actually a standard modest brand from my home country, Indonesia. I just style it with a matching silk niqab to keep me warm from the London wind."
(Oh, terima kasih banyak! Tidak, ini sebenarnya merek busana muslim standar dari negara asal saya, Indonesia. Saya hanya menatanya dengan cadar sutra yang senada untuk menjaga tubuh tetap hangat dari angin London.)
Wanita pirang itu mengangguk - angguk kagum, tangannya bergerak memberikan gestur apresiasi. "Brilliant! The fabric selection is top-notch. It looks like something straight off a contemporary modest runway in Paris. I’m Chloe, by the way. Are you here for the fashion week or just visiting?"
(Hebat! Pemilihan kainnya kelas atas. Kelihatan seperti sesuatu yang langsung keluar dari panggung peragaan busana muslim kontemporer di Paris. Omong-omong, saya Chloe. Apakah kamu ke sini untuk pekan mode atau sekadar berkunjung?)
"Lovely to meet you, Chloe. I'm Tamara. Actually, I'm here to study. I'm starting my Master's degree at UCL this week," jawab Tamara jujur, suaranya yang lembut terdengar sangat percaya diri dari balik kain sutranya.
(Senang bertemu denganmu, Chloe. Saya Tamara. Sebenarnya, saya ke sini untuk belajar. Saya mulai kuliah Magister saya di UCL minggu ini.)
"An intellectual with a stellar sense of style! That’s proper grand, innit? UCL is just around Bloomsbury, right? You’re going to love the cafes around there," sahut Chloe dengan senyuman lebar.
(Seorang intelektual dengan selera gaya yang luar biasa! Itu benar-benar hebat, bukan? UCL itu di sekitar Bloomsbury, kan? Kamu pasti akan suka kafe-kafe di sekitar sana.)
"Next station: Russell Square. Change here for..."
Suara rekaman otomatis dari pengeras suara gerbong memotong percakapan seru mereka. Tamara melirik ke arah layar digital di atas pintu. Stasiun tujuannya sudah dekat.
"Well, this is my stop. It was brilliant chatting with you, Tamara. Best of luck with your postgrad, and seriously, don't ever change that scent. It's majestic!" ucap Chloe sembari berdiri dan memberikan lambaian tangan hangat saat pintu kereta berdesir terbuka.
(Nah, ini stasiun perhentianku. Sangat menyenangkan mengobrol denganmu, Tamara. Semoga sukses dengan pascasarjanamu, dan serius, jangan pernah ganti wewangian itu. Itu sangat megah!)
"Thank you, Chloe! Have a wonderful day!" balas Tamara tulus.
(Terima kasih, Chloe! Semoga harimu menyenangkan!)
Tamara kembali meraih pegangan koper besarnya. Sembari melangkah keluar dari gerbong menuju eskalator stasiun bawah tanah yang panjang, ia merasakan sebuah keyakinan baru yang membumbung tinggi di dalam dadanya. Di kota sepadat dan se-individualis London ini, identitasnya sebagai wanita bercadar ternyata bukan hanya dihargai, melainkan mampu membuka ruang dialog budaya yang indah dan penuh rasa hormat. Langkah kakinya kini semakin mantap menembus tangga keluar stasiun, siap menyambut hamparan arsitektur klasik kawasan Bloomsbury yang megah di balik kabut pagi.
...****************...
Setelah keluar dari stasiun bawah tanah Russell Square, Tamara menyeret koper besarnya menyusuri trotoar batu khas kawasan Bloomsbury yang dikelilingi oleh bangunan - bangunan berarsitektur Georgia yang megah dan jajaran pohon ek yang rimbun. Hanya butuh waktu sepuluh menit berjalan kaki, Tamara akhirnya tiba di depan sebuah gedung bata merah bergaya klasik dengan papan nama kuningan bertuliskan UCL Postgraduate Student Hall.
Prosedur check-in di meja resepsionis berjalan dengan sangat lancar. Setelah menyerahkan kartu identitas mahasiswa dan bukti pembayaran akomodasi, petugas asrama menyerahkan sebuah kartu akses elektronik berwarna perak kepada Tamara.
"Room 304, third floor, Miss Tamara. Elevators are just around the corner on your right. Have a lovely stay," ucap petugas itu ramah.
(Kamar 304, lantai tiga, Nona Tamara. Lift ada di sudut sebelah kanan Anda. Semoga masa tinggal mu menyenangkan.)
Tamara melangkah masuk ke dalam lift, menekan tombol angka tiga, dan menyusuri koridor asrama yang dilapisi karpet tebal bernuansa hijau botol yang sunyi dan bersih. Begitu ia menempelkan kartu elektroniknya pada gagang pintu kamar 304, suara klik mekanis berbunyi, membuka gerbang menuju kehidupan barunya.
Sreeett...
Pintu kayu jati tebal itu terbuka, menampilkan sebuah ruangan bergaya modern luxury minimalist yang sangat luas, bersih, dan hangat berkat sistem pemanas ruangan (heater) sentral yang bekerja dengan sempurna meredam dinginnya cuaca London di luar.
Asrama pascasarjana ini dirancang khusus untuk kenyamanan studi tingkat tinggi, di mana satu kamar hanya berisi dua orang saja. Layout ruangan dibagi menjadi dua zona privasi yang simetris, dipisahkan oleh sebuah sekat lemari buku minimalis setinggi langit-langit di bagian tengah. Di zona milik Tamara, terdapat sebuah tempat tidur ukuran single-size dengan seprai putih bersih yang tebal, sebuah meja belajar kayu yang luas menghadap langsung ke jendela kaca besar dengan pemandangan jalanan London, serta lemari pakaian tanam (wardrobe).
Fasilitas di dalam kamar ini terbilang sangat lengkap dan mewah untuk ukuran akomodasi mahasiswa. Di sudut dekat pintu masuk, terdapat sebuah kulkas mini satu pintu berwarna hitam matte yang siap menampung stok makanan, lengkap dengan teko listrik pemanas air (kettle) dan beberapa cangkir keramik di atasnya.
Tepat di sisi kiri lorong masuk, terdapat sebuah pintu kaca buram yang menuju ke kamar mandi di dalam kamar (en-suite bathroom). Tamara membuka pintu tersebut dan mendapati sebuah kamar mandi modern yang sangat bersih dengan dinding marmer abu-abu, dilengkapi dengan wastafel, cermin besar berpencahayaan LED, kloset duduk otomatis, serta bilik pancuran air hangat (hot shower) bertekanan tinggi yang sangat nyaman.
Tamara meletakkan tas jinjingnya di atas kasur, lalu melangkah menuju jendela besar. Dari lantai tiga ini, ia bisa melihat kabut tipis London yang mulai terangkat, menyisakan pemandangan bus-bus tingkat merah yang melintas di kejauhan.
Dengan perlahan, Tamara membuka ikatan cadar sutra abu - abunya, memperlihatkan kembali wajah porselennya yang cantik, matang, dan bersinar murni. Ia mengembuskan napas lega, meresapi kehangatan kamar asramanya yang akan menjadi saksi bisu perjuangan akademisnya selama satu tahun ke depan.
Sembari menatap ke arah sisi tempat tidur kosong di seberang sekat yang tampaknya belum ditempati oleh teman sekamarnya Tamara mulai membuka koper besarnya, siap menata pakaian syar'i dan botol - botol parfum racikan mawar hitam dari Rebecca ke dalam lemari, menandai awal dari jejak langkahnya di tanah Britania Raya.