“Aku tidak sudi menghabiskan sisa hidupku menjadi pengasuh pria cacat yang membosankan. Jika Papa ingin menjual anak, jual saja Alesha. Dia sudah terbiasa hidup susah.”
Darah Alesha mendidih. Ia meremas kertas itu hingga hancur dalam kepalannya. "Si brengsek itu..." desisnya. Ia tidak terkejut Kiara kabur; kakaknya itu memang egois. Namun, menyebut pria yang akan dinikahinya sebagai 'pria cacat yang membosankan' adalah penghinaan yang rendah, bahkan untuk standar Kiara.
"Alesha, tolong... Papa mohon," Bramasta tiba-tiba menjatuhkan dirinya. Ia berlutut di atas lantai marmer dingin, memegang ujung jubah Alesha. "Keluarga Matteo Al-Ricci bukan orang sembarangan. Mereka adalah penguasa bisnis di Roma. Utang Papa pada mereka... Papa menggunakan seluruh aset perusahaan sebagai jaminan. Jika pernikahan ini batal, Papa akan dipenjara, dan kita akan gelandangan dalam semalam!"
Alesha menatap ayahnya dengan pandangan jijik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifra Sulistya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: SATU RANJANG, DUA DUNIA
Lampu kamar telah dipadamkan, namun kegelapan di dalam ruang pribadi Matteo tidak pernah benar-benar sunyi.
Suara detak jam dinding kuno terdengar seperti ketukan palu di tengah keheningan yang menyesakkan. Di atas ranjang super king yang luas itu, sebuah perbatasan tak kasat mata telah ditarik.
Alesha berbaring menyamping di sisi paling pinggir, tubuhnya meringkuk hingga hampir terjatuh dari tepian kasur.
Ia bisa merasakan tekstur sprei sutra yang dingin di bawah kulitnya, namun pikirannya jauh dari kata tenang. Hanya beberapa meter di sampingnya, Matteo berbaring telentang.
Ia bisa mendengar napas pria itu teratur, berat, dan terasa sangat dekat.
Ini adalah situasi yang tidak pernah ia bayangkan saat pertama kali menginjakkan kaki di kediaman pria itu.
Ia, sang desainer amatir yang biasanya tidur di sofa bengkel yang keras, kini berbagi ranjang dengan pria paling misterius di Roma.
Jangan melewati batas tengah, kata-kata Matteo tadi sore terus bergema di kepalanya.
Alesha memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghalau bayangan noda darah di kain gaun Kiara yang dibakar Matteo semalam.
Kamar ini terasa seperti kotak es. Ia merasa seolah-olah sedang tidur di sebelah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Waktu seolah melambat. Alesha hampir saja terlelap ketika sebuah suara rendah memecah keheningan malam. Bukan suara detak jam, melainkan suara rintihan yang tertahan.
Ia membuka matanya. Suasana kamar masih gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang menembus celah gorden.
Di sampingnya, Matteo mulai bergerak gelisah. Tubuh pria itu menegang, jemarinya mencengkeram sprei hingga urat-urat di tangannya menonjol.
"Tidak... tidak sekarang..." gumam Matteo.
Suaranya serak, penuh dengan ketakutan yang tidak pernah ia tunjukkan saat terjaga.
Alesha menahan napas. Ia tidak berani bergerak, namun rintihan Matteo semakin menjadi-jadi. Keringat dingin mulai membasahi dahi pria itu.
"Remnya... remnya blong!" teriak Matteo tertahan, suaranya seperti tercekik.
"Jangan... kau mengkhianatiku... kalian semua pengkhianat!"
Matteo mulai menggelengkan kepalanya dengan kasar. Ia tampak terjebak dalam labirin ingatan yang menyiksa momen kecelakaan yang merenggut kemampuannya untuk berjalan, atau mungkin sesuatu yang lebih gelap dari itu.
Alesha tertegun mendengarnya. Rem yang blong? Pengkhianatan? Jadi, kecelakaan itu bukan sekadar nasib buruk? Seseorang sengaja melakukannya?
Rasa iba yang tidak diundang mulai merayap di hati Alesha. Di balik topeng "Monster Al-Ricci" yang dingin dan kejam, pria ini hanyalah seorang manusia yang hancur oleh rasa sakit yang ia sembunyikan rapat-rapat.
Tanpa sadar, Alesha menggeser tubuhnya mendekat, melewati batas tengah yang tadi ia patuhi dengan kaku. Ia melihat Matteo yang tersiksa, napasnya memburu, wajahnya menunjukkan penderitaan yang luar biasa.
Secara refleks, tangan Alesha terjulur. Ia memegang tangan Matteo yang sedang mencengkeram sprei.
"Matteo, bangun..." bisik Alesha lembut.
Begitu kulit mereka bersentuhan, Matteo tersentak. Namun, bukannya terbangun, ia justru menggenggam tangan Alesha dengan sangat erat, seolah-olah tangan itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai yang menenggelamkannya.
Genggamannya begitu kuat hingga Alesha sedikit meringis, namun ia tidak menarik tangannya.
Alesha mulai mengusap punggung tangan Matteo dengan ibu jarinya, sebuah gerakan menenangkan yang biasa ia lakukan pada dirinya sendiri saat merasa takut di masa kecil.
"Sstt... tidak apa-apa. Kau aman di sini," bisik Alesha lagi, kali ini lebih dekat ke telinga Matteo.
Perlahan, keajaiban kecil terjadi. Napas Matteo yang tadinya memburu mulai melambat. Genggamannya yang menyakitkan berubah menjadi pegangan yang protektif.
Kerutan di dahinya memudar, dan tubuhnya yang tadinya kaku perlahan-lahan mulai rileks.
Aroma tubuh Alesha, campuran bunga sedap malam dan sedikit bau kain baru seolah menjadi penawar bagi mimpi buruk yang menghantuinya.
Dalam keadaan setengah sadar antara kantuk yang hebat dan rasa simpati, Alesha tidak kembali ke sisi pinggirnya. Ia tetap di sana, membiarkan tangannya ditawan oleh Matteo, sampai akhirnya ia sendiri pun menyerah pada kelelahan dan tertidur dalam jarak yang sangat tipis di antara mereka.
Cahaya matahari pagi yang keemasan menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari lantai kayu dan jatuh tepat di atas ranjang.
Alesha merasakan kehangatan yang asing. Ia merasa sangat nyaman, sesuatu yang jarang ia rasakan sejak pindah ke Villa ini.
Ia mencoba bergerak, namun ia menyadari ada sesuatu yang melingkar kuat di pinggangnya. Sesuatu yang berat dan posesif.
Ia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah kain sutra hitam dari piyama Matteo yang berada hanya beberapa inci dari hidungnya.
Napas Alesha tercekat.
Ia tersadar bahwa ia tidak lagi berada di sisi paling pinggir. Ia berada tepat di tengah, dan yang lebih mengejutkan, ia berada dalam pelukan Matteo. Lengan kuat pria itu melingkar di pinggangnya, sementara kepalanya bersandar di bantal yang sama.
Posisi mereka begitu intim hingga Alesha bisa merasakan detak jantung Matteo yang tenang di dadanya.
Alesha mendongak pelan, berharap Matteo masih tidur.
Namun, ia salah.
Matteo sudah bangun. Pria itu sedang menatapnya. Tidak ada amarah di matanya pagi ini. Tidak ada kilatan kebencian atau perintah dingin. Tatapan Matteo sangat sulit diartikan ada sebuah kedalaman yang tenang, semacam pengakuan bisu atas apa yang terjadi di kegelapan malam tadi.
Mereka terdiam dalam posisi itu selama beberapa menit. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang memprotes. Keheningan pagi itu terasa berbeda, tidak lagi mencekam, melainkan penuh dengan ketegangan yang bersifat magnetis.
"Kau melewati batas, Alesha," suara Matteo terdengar sangat rendah, sedikit serak karena baru bangun tidur.
Suaranya tidak terdengar seperti ancaman, melainkan sebuah pernyataan fakta yang lembut.
Alesha tidak segera menjauh. Ia justru memberanikan diri menatap mata kelabu itu.
"Kau yang memegang tanganku lebih dulu. Kau mengalami mimpi buruk."
Matteo terdiam.
Ia menatap wajah Alesha melihat noda hitam di bawah matanya yang menunjukkan kelelahan, dan bibirnya yang sedikit terbuka. Untuk pertama kalinya, Matteo melihat Alesha bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai sosok yang memberinya kedamaian di saat ia berada di titik terlemahnya.
Perlahan, Matteo melepaskan pelukannya, namun tangannya sempat mengusap pinggang Alesha sejenak sebelum benar-benar menjauh.
Ia kembali memasang wajah datarnya, namun telinganya yang sedikit memerah mengkhianati perasaan aslinya.
"Lupakan apa yang kau dengar semalam," ucap Matteo sambil menarik dirinya ke posisi duduk, bersiap untuk pindah ke kursi rodanya yang berada di samping ranjang.
"Mimpi adalah sampah dari masa lalu. Jangan mencoba menjadi pahlawan di rumah ini."
Alesha duduk di ranjang, merapikan rambutnya yang berantakan. Ia melihat punggung Matteo yang lebar. Ia tahu pria itu sedang membangun kembali dindingnya yang sempat runtuh.
"Kau bisa menyebutnya sampah," balas Alesha, suaranya kembali tajam.
"Tapi sampah yang kau bakar atau kau sembunyikan tetap akan meninggalkan bau, Matteo. Kau tidak bisa lari dari pengkhianatan itu selamanya."
Matteo berhenti sejenak, tangannya mencengkeram pegangan kursi roda. Ia menoleh sedikit, menatap Alesha dengan tatapan yang lebih dalam dari biasanya.
"Mungkin kau benar. Tapi setidaknya, malam ini aku tidak melihat darah di tanganku."
Pria itu kemudian menggerakkan kursi rodanya menuju kamar mandi, meninggalkan Alesha yang masih terpaku di atas ranjang.
Alesha menyentuh dadanya, merasakan jantungnya yang masih berdegup kencang. Ia menyadari satu hal, dunianya dan dunia Matteo yang tadinya terpisah sangat jauh, kini mulai bertabrakan.
Dan dalam tabrakan itu, ada sesuatu yang lebih berbahaya dari sekadar rahasia atau warisan, sesuatu yang disebut perasaan, yang mulai tumbuh di antara dua orang yang seharusnya saling menghancurkan.
Pagi itu, di kamar yang luas dan dingin itu, Alesha tahu bahwa dia bukan lagi sekadar tamu atau istri kontrak.