Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Tak Terduga
Cinta mengalihkan pandangannya. Ia melangkah menuju kantin dengan dagu terangkat, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa detak jantungnya yang sedikit lebih cepat hanyalah reaksi alami akibat rasa kesal, bukan karena hal lain.
Kantin sekolah saat jam istirahat kedua adalah definisi kekacauan yang terorganisir. Bau aroma mi goreng, bakso, dan es teh manis bercampur jadi satu.
Cinta memilih meja di pojok yang cukup tenang, tempat biasanya ia dan Sarah menghabiskan waktu. Tak lama kemudian, Sarah datang membawa dua botol minuman dingin dengan wajah yang masih dipenuhi sisa-sisa euforia.
"Kamu tahu tidak?" Sarah duduk dengan gerakan dramatis.
"Baru saja aku dengar dari anak kelas sebelah, Rian itu pindahan dari salah satu SMA elit di Jakarta Selatan. Katanya, ayahnya punya pengaruh besar, tapi Rian sendiri sering terlibat balap liar."
Cinta menusuk siomay di piringnya dengan sedikit tenaga ekstra. "Gosip lagi, Sar? Kamu harusnya jadi jurnalis investigasi, bukan anak MIPA."
"Ini bukan sekadar gosip, Cinta! Ini informasi latar belakang. Penting untuk kelangsungan hidupmu sebagai teman sebangkunya," bela Sarah.
"Kalau dia benar-benar anak balap liar yang suka berkelahi, kamu harus hati-hati. Jangan sampai kamu jadi sasaran amarahnya kalau dia sedang tidak mood."
Cinta menghela napas panjang. "Dia tidak bicara padaku, Sar. Bahkan saat aku mencoba bicara baik-baik, dia malah mengejekku suka mengatur. Dia cuma cowok sombong yang merasa sekolah ini tidak selevel dengannya."
"Atau mungkin dia cuma tidak tahu cara memulai pertemanan di tempat baru?" gumam Sarah, yang kali ini terdengar sedikit lebih bijak.
Cinta terdiam. Ia teringat kembali tatapan mata Rian di koridor tadi. Tajam, ya, tapi ada kekosongan yang dalam di sana. Namun, Cinta segera menyingkirkan empati yang mencoba merayap masuk.
...****************...
Jam pelajaran terakhir adalah Bahasa Indonesia. Ibu Lastri, guru senior yang sangat menjunjung tinggi etika, masuk dengan membawa tumpukan tugas esai. Suasana kelas kembali menegang karena Ibu Lastri dikenal tidak segan-segan memberi nilai nol jika ada murid yang tidak fokus.
Rian masuk ke kelas tepat sebelum Ibu Lastri memulai pelajaran. Ia berjalan melewati meja guru tanpa menundukkan kepala, sebuah gestur yang dianggap kurang sopan di sekolah ini. Pak Bambang mungkin memaklumi hari pertamanya, tapi Ibu Lastri adalah cerita yang berbeda.
"Nak Rian, silakan duduk. Dan besok, pastikan kancing bajumu dikancingkan dengan benar. Ini sekolah, bukan pasar," sindir Ibu Lastri tajam.
Rian hanya bergumam pelan yang terdengar seperti mengiyakan lalu duduk di samping Cinta. Kali ini, ia mengeluarkan sebuah buku tulis kecil yang tampak usang dari saku jaket yang ia letakkan di sandaran kursi.
Cinta mencuri pandang. "Oh, jadi dia punya buku," batinnya sinis.
Namun, kejengkelan Cinta memuncak saat Ibu Lastri memberikan tugas mendiskusikan makna sebuah puisi secara berpasangan dengan teman sebangku. Cinta memutar tubuhnya menghadap Rian, sementara Rian tetap pada posisinya, menatap papan tulis dengan tatapan kosong.
"Kita harus mengerjakan ini. Temanya tentang kerinduan yang tak tersampaikan. Kamu punya ide?" kata Cinta, mengetukkan jarinya ke meja.
Rian menoleh perlahan. Sudut bibirnya terangkat sedikit, menciptakan seringai tipis yang tampak seperti ejekan.
"Kenapa bertanya padaku? Kamu kan peringkat satu. Bukannya kamu sudah tahu semua jawabannya?"
Cinta mengerutkan dahi karena heran bagaimana bisa dia tahu bahwa aku peringkat satu di kelas ini.
"Ini tugas kelompok, Rian. Aku tidak mau mengerjakan bagianmu. Setidaknya berikan satu opini agar aku bisa menuliskannya."
Rian mengambil pulpen dari meja Cinta tanpa izin, memainkannya di antara jari-jarinya dengan lincah. "Kerinduan itu omong kosong. Kebanyakan orang merindukan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ada. Mereka hanya rindu pada imajinasi mereka sendiri tentang seseorang atau sebuah tempat."
Cinta tertegun. Jawaban itu terlalu filosofis dan gelap untuk seorang murid yang sedari tadi terlihat malas. Ia terpaksa mengakui dalam hati bahwa cara bicara Rian memiliki bobot yang tidak ia duga.
"Itu perspektif yang menarik. Tapi di puisi ini, penyairnya merujuk pada rumah. Bagaimana menurutmu?" jawab Cinta, berusaha tetap objektif.
"Rumah bukan berarti bangunan, kan? banyak orang punya rumah tapi merasa tidak punya tempat pulang," balas Rian pendek.
Setelah mengatakan itu, Rian meletakkan kembali pulpen Cinta dan kembali terdiam. Ia seolah-olah telah menutup pintu percakapan secara permanen. Cinta menuliskan poin-poin tersebut dengan perasaan aneh.
Ada sisi dari Rian yang terasa sangat kontradiktif dengan penampilannya yang berantakan. Di satu sisi dia terlihat seperti pemberontak, tapi di sisi lain, bicaranya menyiratkan luka yang disembunyikan dengan rapi.
...****************...
Sore harinya, hujan deras mengguyur. Langit berubah menjadi abu-abu pekat, dan angin laut yang kencang membawa aroma garam hingga ke gerbang sekolah. Cinta berdiri di depan lobi, menatap rintik hujan dengan cemas. Ia lupa membawa payung, dan ojek online yang ia pesan tak kunjung mendapatkan pengemudi.
Sekolah sudah mulai sepi. Sebagian besar murid sudah pulang atau sedang berteduh di kelas-kelas. Saat itulah, ia melihat sebuah motor besar berwarna hitam pekat berhenti di depan lobi. Pengendaranya mengenakan helm full face hitam, tapi Cinta segera mengenali jaket denim yang tersampir di bahunya.
Itu Rian.
Rian membuka kaca helmnya. Air hujan membasahi wajahnya yang tegas. Ia melihat ke arah Cinta yang berdiri sendirian. Untuk beberapa saat, mereka hanya saling tatap di tengah suara gemuruh hujan.
Cinta mengira Rian akan mengejeknya atau setidaknya melewatinya begitu saja sebagai balasan atas sikap ketusnya di kelas. Namun, Rian justru mematikan mesin motornya.
"Belum pulang?" tanya Rian. Suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan, tapi tetap terasa mengintimidasi.
"Belum. Sedang menunggu ojek," jawab Cinta singkat, berusaha menjaga jarak.
Rian melihat ke arah ponsel Cinta yang layarnya masih menunjukkan pencarian pengemudi. "Tidak akan ada yang mau mengambil pesananmu di cuaca seperti ini. Wilayah ini rawan banjir kalau hujan begini."
"Aku bisa menunggu," balas Cinta keras kepala.
Rian mendengus, tawa pendek yang terdengar meremehkan. "Terserah. Tapi kalau kamu terserang flu besok, jangan salahkan aku."
Cinta baru saja akan membalas dengan kalimat tajam ketika ia melihat Rian merogoh sesuatu dari dalam bagasi motornya. Sebuah payung lipat kecil berwarna biru tua. Rian melemparkannya ke arah Cinta. Dengan refleks yang cukup baik, Cinta menangkap payung itu.
"Gunakan itu. Kamu bisa mengembalikannya besok," kata Rian.
Sebelum Cinta sempat mengucapkan terima kasih atau menolak, Rian sudah kembali menutup kaca helmnya dan menyalakan mesin motor. Deru mesinnya memecah kesunyian sore itu saat ia melesat pergi, menembus hujan yang lebat, meninggalkan Cinta yang terpaku memegang payung biru di tangannya.
Cinta menatap payung itu dengan bingung. Payungnya terasa dingin dan basah, tapi tindakannya tadi justru terasa hangat. Sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan label cowok bermasalah yang telah ia sematkan pada Rian.
...****************...
Malam itu di rumah, Cinta tidak bisa sepenuhnya fokus pada tugas Matematikanya. Pikirannya terus kembali pada kejadian di sekolah. Ia membayangkan Rian yang melaju di tengah hujan deras. Mengapa cowok seperti dia repot-repot meminjamkan payung pada gadis yang baru saja menceramahinya tentang kedisiplinan?
Cinta membuka laptopnya dan mulai mencari tahu tentang SMA asal Rian di Jakarta. Sebagai seorang yang terbiasa dengan riset, ia merasa perlu memahami ancaman yang ada di depannya.
Namun, informasi yang ia dapatkan sangat minim. Hanya ada berita singkat tentang seorang murid yang terlibat perselisihan dengan anak pejabat, yang berujung pada pengunduran diri murid tersebut demi keamanan pihak sekolah.
"Apakah itu Rian?"
Cinta menutup laptopnya dengan perasaan bimbang. Jika benar Rian pindah karena masalah seperti itu, maka ia adalah orang yang berbahaya bagi reputasi Cinta sebagai murid teladan. Namun, sisi penulis dalam dirinya, sisi yang sering membayangkan plot-plot penuh misteri mulai berbisik bahwa setiap pemberontak punya alasan di balik tindakannya.
...****************...
Keesokan paginya, cuaca kembali cerah, seolah hujan badai kemarin tidak pernah terjadi. Cinta masuk ke kelas dengan payung biru yang sudah ia lipat rapi di dalam tasnya. Ia merasa sedikit gugup, sesuatu yang jarang ia alami sebelumnya.
Rian sudah ada di kelas, duduk di tempatnya dengan gaya yang sama yaitu bersandar malas dan menatap jendela. Namun kali ini, kemejanya dimasukkan ke dalam celana, meski dasinya tetap tidak ada.
Cinta duduk dan meletakkan payung itu di atas meja Rian. "Terima kasih untuk kemarin," ucapnya kaku. Rian melirik payung itu, lalu beralih ke wajah Cinta.
Cinta mengeluarkan sebuah buku tulis baru bermotif polos dan sebuah pulpen. "Gunakan ini. Pak Bambang akan benar-benar marah kalau melihat mejamu kosong lagi hari ini."
Rian menatap buku itu cukup lama. Ada jeda keheningan yang canggung di antara mereka. Rian kemudian mengambil pulpen tersebut, memutarnya di jari, lalu menatap Cinta dengan tatapan yang sedikit lebih lembut atau mungkin itu hanya imajinasi Cinta.
"Kamu benar-benar tidak bisa melihat orang melanggar aturan sedikit pun, ya?" tanya Rian. Kali ini suaranya tidak terdengar mengejek.
"Kedisiplinan adalah kunci," jawab Cinta tegas, meski ia merasakan pipinya sedikit menghangat.
"Atau mungkin kedisiplinan adalah cara kamu untuk merasa aman dari kekacauan dunia?" balas Rian telak.
Cinta terdiam. Kalimat itu menghujam tepat ke jantung pertahanannya. Sebelum ia sempat membalas, Pak Bambang masuk ke kelas dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya.
"Anak-anak, simpan buku kalian. Kita akan mengadakan kuis mendadak sesuai materi kemarin," suara Pak Bambang menggelegar.
Kelas langsung gaduh oleh keluhan para murid. Sarah di barisan sebelah menoleh ke arah Cinta dengan wajah panik, memberikan kode "tolong aku". Namun, perhatian Cinta justru teralihkan pada Rian.
Rian membuka buku pemberian Cinta, menuliskan namanya di halaman depan dengan tulisan tangan yang berantakan tapi kuat, lalu menatap kertas kuis yang dibagikan dengan ekspresi tenang.
Cinta menarik napas panjang. Ia tahu hari-hari ke depannya tidak akan lagi berisi tentang suara sepatu yang beradu dengan lantai keramik atau obrolan santai tentang tugas. Kehadiran Rian telah membawa variabel baru dalam hidupnya yang selama ini linear.
Saat ia mulai mengerjakan soal pertama, ia menyadari satu hal yaitu ia tidak lagi memandang Rian sebagai masalah yang harus dihindari, melainkan sebuah teka-teki yang, tanpa sadar, sangat ingin ia pecahkan. Dan bagi seorang Cinta, tidak ada yang lebih menarik daripada sebuah tantangan yang sulit ditaklukkan.
Di sampingnya, Rian mulai menggoreskan pulpen ke kertas, bekerja dengan kecepatan yang mengejutkan. Ternyata, si murid nakal itu tidak sebodoh yang dikira orang-orang. Di balik seragam yang berantakan dan aroma parfum kayu yang dominan, ada otak yang bekerja dengan cara yang berbeda. Cinta tersenyum tipis, sebuah senyuman yang ia sembunyikan di balik lembar soalnya.