NovelToon NovelToon
Dia Yang Ku Pilih

Dia Yang Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: Yolanda Fitri

Novel ini menceritakan seorang gadis bernama BIANCA yang masih kebingungan antara BARRA cinta lamanya yang berakhir karena kesalapahaman yang di buat oleh AZA teman kecil dari BARRA , atau LEO orang baru yang membuat DIA bangkit kembali menjalani hari hari dengan ceria. namun bukan kisah cinta mereka saja yang rumit , Bianca juga menjalani hidup yang tidak mudah di mana dia seorang anak yatim piatu .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yolanda Fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Rencana Jahat

Mereka semua pun akhirnya sampai di kampus. Bianca dan Dinda berniat langsung menuju ruang kelas, tapi Dinda malah mengajak mampir ke kafe kampus dulu karena dia belum sempat sarapan. Di belakang mereka, diikuti oleh dua pria tampan, Leo dan Barra. Ibaratnya, Bianca dan Dinda seperti dua putri yang dijaga ketat oleh dua pengawal gagah.

Dari kejauhan, Aza melihat semua kejadian itu dan hatinya dipenuhi amarah yang meluap-luap. Dia gagal memisahkan Bianca dan Barra, bahkan Leo pun selalu berada di sisi Bianca. Semakin hari, rasa benci Aza terhadap Bianca semakin membara.

Di dalam hatinya, Aza bersumpah akan menghancurkan hidup Bianca. Baginya, Bianca tidak berhak bahagia di atas penderitaan yang dia rasakan. Setelah menahan emosinya, Aza pun mendekati mereka dan berpura-pura menanyakan kabar serta kesehatan Bianca pasca kecelakaan dulu.

"Gue sehat kok, Za. Udah pulih total dan bisa beraktivitas kayak biasa lagi," jawab Bianca santai.

Namun, tatapan Aza kepadanya terasa begitu tajam dan sinis. Dalam hati, Aza bergumam: "Itu baru permulaan, Bianca. Permainan yang sebenarnya baru aja dimulai."

Dinda memperhatikan tatapan tajam itu dan merasa ada yang janggal dari sikap Aza. Tapi dia mencoba mengabaikannya karena dirinya belum terlalu mengenal Aza. Mungkin memang begitulah watak aslinya, pikir Dinda.

Tak lama kemudian, jam pelajaran pun dimulai. Tanpa pemberitahuan sebelumnya, pihak kampus mengadakan razia mendadak hari itu. Semua tas mahasiswa diperiksa satu per satu tanpa terkecuali.

Keributan pun terjadi di kelas Bianca. Dosen pengawas menemukan sesuatu yang sangat tidak pantas di dalam tas Bianca. Sebuah foto editan yang isinya sangat menjijikkan dan tidak senonoh. Yang lebih mengejutkan lagi, orang-orang yang ada di dalam foto itu adalah Aza dan Barra.

Di bagian belakang foto itu tertulis jelas kata: "PENGHIANAT".

Bianca benar-benar kaget dan bingung setengah mati. Dia tidak mengerti bagaimana benda itu bisa masuk ke dalam tasnya. Bianca langsung membela diri, "Bu, itu bukan milik saya! Saya nggak tau apa-apa soal ini!"

Berita itu menyebar dengan cepat, membuat seluruh mahasiswa di kampus berkerumun di depan kelas, termasuk Aza, Leo, dan Barra.

Mendengar nama mereka disebut-sebut, Aza dan Barra langsung menerobos masuk, diikuti oleh Leo di belakang mereka.

"Ada apa ini, Bu? Kenapa nama kami disebut-sebut?" tanya Aza seolah tidak tahu apa-apa.

Saat melihat foto yang dipegang oleh dosen, Aza berpura-pura terkejut lalu menatap Bianca meminta penjelasan. Bianca terus menyangkal dan bersumpah kalau dia tidak pernah melakukan hal seburuk itu.

Aza pun mengambil kesempatan itu untuk menarik simpati orang banyak. Dengan nada sedih dia berkata:

"Bi, kenapa Lo tega banget lakuin hal kejam kayak gini? Apa karena Lo masih marah sama gue soal surat yang dulu salah gue kasih, sampai bikin Lo dan Barra berpisah? Padahal gue udah jelasin semuanya, udah bantu cari pelakunya, dan Lo sama Barra juga udah baikan lagi. Tapi kenapa hati Lo masih menyimpan dendam besar banget ke gue?"

Bianca menggelengkan kepalanya berusaha menjelaskan bahwa dia tidak melakukan hal itu, tapi suara suaranya kalah oleh teriakan dan caci maki teman-teman sekelas yang langsung menuduhnya bersalah. Suasana semakin memanas dan ricuh. Tiba-tiba, Aza yang terus menangis histeris jatuh pingsan tepat di depan kaki Barra.

Barra segera menggendong tubuh Aza dan membawanya ke ruang kesehatan kampus. Karena situasi sudah tidak terkendali, kegiatan belajar mengajar dibatalkan hari itu. Bianca pun dipanggil ke ruangan dosen untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Leo dan Dinda menunggu di depan ruangan dosen sampai Bianca keluar. Mereka berdua sama sekali tidak percaya kalau Bianca adalah pelakunya. Leo bertanya kepada Dinda, "Din, Lo tau nggak sesuatu yang selama ini nggak gue tau?"

Dinda terkejut karena ternyata Leo belum tahu kejadian yang semalam dia bicarakan dengan Bianca. Leo terus mendesak Dinda, memintanya menjelaskan apa maksud perkataan Aza di dalam kelas tadi.

Akhirnya Dinda menceritakan semuanya secara rinci. Betapa terkejutnya Leo saat tahu kalau Aza ternyata adalah teman kecil Barra yang sudah saling kenal sejak lama. Setelah mendengar cerita itu, Leo langsung bergegas pergi mencari keberadaan Aza. Banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepalanya dan ingin dia lontarkan langsung pada Aza.

Di ruang kesehatan, Barra masih setia menemani dan menunggu Aza sadar. Bagaimanapun juga, Aza adalah sahabat masa kecilnya, mereka tumbuh dan besar bersama. Tak lama kemudian, Aza membuka matanya dan sadar. Dia melihat Barra ada di sampingnya.

"Makasih ya udah nungguin gue. Sebaiknya Lo pergi aja, gue malu banget harus ketemu siapa-siapa sekarang," kata Aza lemah.

Barra merasa kasihan dan menawarkan diri untuk mengantar Aza pulang ke rumahnya. Awalnya Aza menolak, tapi Barra memaksa karena khawatir kondisi Aza masih lemah dan belum stabil.

Barra memapah Aza berjalan menuju tempat parkir, dan di sana mereka bertemu dengan Leo yang sepertinya sudah menunggu cukup lama. Leo ingin bicara serius dengan Aza saat itu juga. Namun Aza menolaknya, dia bilang tidak ingin bertemu atau berbicara dengan siapa pun dulu.

Leo terus memaksa dan mendesak, hingga akhirnya Barra ikut campur dan berkata dengan nada tegas, "Dia bilang nggak berarti nggak. Jangan dipaksa! Lo nggak lihat kondisinya lagi nggak baik kayak gini?"

Barra langsung membukakan pintu mobilnya untuk Aza dan menyuruhnya masuk. Mereka pun pergi meninggalkan Leo yang hanya bisa terpaku diam di tempat parkir.

Selesai diperiksa, Bianca keluar dari ruangan dosen lalu berlari pergi begitu saja tanpa menyapa Dinda yang sudah menunggunya dari tadi. Dinda mencoba mengejarnya, tapi Bianca berseru kalau dia ingin sendiri dan tidak mau bertemu siapa pun saat ini. Dia butuh ketenangan untuk menenangkan pikirannya yang kacau.

Leo dan Dinda diam-diam mengikuti Bianca dari belakang untuk memastikan dia sampai di rumah dengan selamat. Setelah yakin Bianca aman di rumahnya, mereka berdua mampir ke sebuah kafe untuk menenangkan pikiran dan membicarakan kejadian buruk yang menimpa mereka hari ini.

Di dalam kafe, Dinda berkata dengan yakin, "Gue seratus persen yakin itu bukan perbuatan Bianca. Gue juga yakin banget kalau dia dijebak sama seseorang."

Dinda teringat kembali tatapan sinis Aza ke arah Bianca tadi, lalu bertanya kepada Leo, "Menurut Lo gimana soal Aza?"

Leo menggelengkan kepala dan menjawab, "Gue nggak percaya Aza bakal lakuin hal sejahat itu. Selama ini gue kenal dia, dia orangnya baik banget."

Mendengar jawaban Leo, Dinda pun mencoret nama Aza dari daftar tersangka di pikirannya. Dinda berjanji dalam hati akan mencari pelaku yang sebenarnya, karena dia tidak akan membiarkan siapa pun berani menjebak dan menyakiti sahabatnya.

Di tempat lain, Aza sudah sampai di rumahnya dan disambut oleh mamanya. Aza menangis sejadi-jadinya karena merasa sangat dipermalukan di hadapan seluruh warga kampus. Mamanya yang bingung dan khawatir langsung bertanya kepada Barra apa yang sebenarnya terjadi.

Sebelum Barra mulai bercerita, mama Aza mengantar Aza masuk ke kamarnya untuk beristirahat, lalu menyuruh Barra duduk dulu di ruang tamu. Tak lama kemudian mama Aza kembali, dan Barra pun menceritakan secara rinci apa yang terjadi di kampus tadi.

Mendengar cerita itu, mama Aza menjadi sangat marah dan berniat memperpanjang urusan ini karena nama baik anaknya sudah tercoreng di depan umum. Barra berusaha menenangkan mama Aza dan berkata kalau mungkin ini hanyalah sebuah kesalahpahaman yang nantinya akan terbongkar dengan sendirinya.

Mama Aza memohon kepada Barra agar dia mau menjaga dan melindungi Aza, mengingat kedekatan mereka sejak kecil dan hubungan keluarga yang sangat akrab. Beliau juga mengingatkan kalau dulu Aza pernah mendonorkan darahnya demi kesembuhan Ibu Barra saat sakit parah.

(Kilas Balik 1 Tahun Lalu – Di Luar Negeri)

Saat Ibu Barra akan menjalani operasi cangkok ginjal, rumah sakit tempat beliau dirawat mengalami kekurangan stok darah karena operasi itu dilakukan secara mendadak dan darurat.

Pihak rumah sakit meminta Barra untuk segera mencari pendonor darah. Barra sangat bingung karena di sana dia belum mengenal banyak orang. Ditambah lagi, golongan darahnya berbeda dengan ibunya, sedangkan ayahnya pun memiliki golongan darah yang sama dengannya.

Saat itu, seseorang datang menawarkan diri untuk mendonorkan darahnya, dan ternyata orang itu adalah Aza.

Barra bertanya dengan heran, "Ngapain Lo ada di sini, Za?"

Aza menjelaskan kalau dia akan melanjutkan kuliah di tempat yang sama dengan Barra karena ayahnya menginginkan anaknya lulusan luar negeri. Aza juga berkata kalau dia disuruh oleh ibunya untuk menjenguk Ibu Barra karena kedua ibu mereka bersahabat baik, jadi dia datang mewakili ibunya.

Barra kembali bertanya, "Kenapa Lo mau repot-repot donorin darah buat nyokap gue?"

"Karena gue udah anggep nyokap Lo kayak orang tua gue sendiri. Lagian dari kecil gue sering main dan tinggal di rumah Lo, jadi rasanya kayak keluarga sendiri," jawab Aza sambil tersenyum tulus.

Barra sangat berterima kasih dan berjanji akan membalas kebaikan Aza di lain waktu.

(Kilas Balik Selesai)

Barra berjanji kepada mama Aza bahwa mulai sekarang dia akan menjaga dan melindungi Aza sebaik mungkin, layaknya adiknya sendiri. Di sisi lain, di dalam kamarnya, Aza diam-diam menguping pembicaraan mamanya dengan Barra. Dia tersenyum lebar dengan rasa bahagia. Akhirnya dia mendapatkan kesempatan emas untuk selalu berada di dekat Barra, dan dia bertekad tidak akan menyia-nyiakan peluang berharga ini.

1
Yolanda Fitri
oke kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!