NovelToon NovelToon
SISTEM KAYA MENDADAK: SETIAP DETIK MENGHASILKAN UANG

SISTEM KAYA MENDADAK: SETIAP DETIK MENGHASILKAN UANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"

Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]

Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.

Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Pasar Gelap Orion

Dunia di luar jendela jet pribadi itu bukan lagi biru langit atau gumpalan awan. Semuanya berubah menjadi garis-garis cahaya putih yang memanjang, seolah-olah pesawat ini sedang membelah dimensi. Andra duduk di kursi pilot dengan mata yang sulit terpejam. Di sampingnya, Siska sudah mulai bisa duduk tegak, meski wajahnya masih tampak pucat pasi.

"Kita benar-benar pergi meninggalkan Bumi?" tanya Siska pelan. Suaranya masih serak, tangannya meremas ujung selimut medis yang membungkus kakinya.

Andra mengangguk tanpa menoleh. "Tidak ada lagi yang tersisa untuk kita di sana, Siska. Aku sudah menjadi orang paling dicari, dan kamu... kamu dianggap sudah mati dalam ledakan di Kalimantan. Di Bumi, kita cuma tinggal nama."

Siska menatap punggung Andra. Ada rasa bersalah yang masih membayangi matanya, tapi ada juga rasa aman yang aneh karena pria ini tetap menjaganya meski dia pernah melakukan kesalahan fatal—meskipun itu di luar kendalinya.

Tiba-tiba, guncangan hebat terasa. Garis-garis cahaya di luar jendela mendadak berhenti, berganti dengan pemandangan yang membuat napas Andra tertahan. Di depan mereka, melayang sebuah stasiun raksasa yang besarnya mungkin seukuran kota Jakarta. Bentuknya tidak beraturan, seperti tumpukan logam tua yang disatukan dengan energi ungu yang berpijar di sela-selanya.

[Selamat datang di Sektor Orion\, Andra.] [Status: Wilayah Netral. Hukum Bumi tidak berlaku di sini.] [Saldo Galaksi Aktif: 1.000 Kristal.]

"Tempat apa itu, Tuan?" Jagal muncul dari kabin belakang, matanya melotot tajam. Dia yang biasanya tidak takut pada apa pun, kini terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk ke taman hiburan yang menakutkan.

"Itu Pasar Gelap Orion," jawab Andra. "Tempat di mana para pemberontak, pelarian, dan pedagang antar bintang berkumpul. Kalau kita mau melawan 'The Void', kita butuh modal yang bukan sekadar kertas atau angka digital dari bank pusat."

Jet mereka diarahkan oleh sinar penarik otomatis menuju salah satu dermaga di stasiun itu. Begitu pintu pesawat terbuka, udara yang masuk terasa sedikit berbeda—lebih kering dan ada aroma seperti logam terbakar. Andra melangkah turun lebih dulu, diikuti Jagal yang tangannya tidak pernah lepas dari gagang senjatanya.

Suasana di dalam dermaga sangat ramai, tapi aneh. Makhluk-makhluk yang berlalu-lalang punya bentuk yang bermacam-macam. Ada yang tingginya tiga meter dengan kulit seperti batu, ada yang kecil ramping dengan empat lengan yang bergerak lincah. Tidak ada yang peduli dengan kedatangan manusia dari Bumi; di sini, setiap orang punya urusannya masing-masing.

"Jangan jauh-jauh dari aku," bisik Andra pada Siska. Dia menggandeng tangan wanita itu, merasakannya sedikit gemetar.

Mereka berjalan menyusuri lorong yang dipenuhi kios-kios aneh. Ada yang menjual senjata yang bentuknya seperti tabung kaca, ada yang menjual botol berisi cairan yang bisa menyala sendiri. Andra berhenti di depan sebuah bangunan besar yang di depannya ada simbol kristal berputar—sama seperti simbol saldo di kepalanya.

"Ini tempat penukaran energi," kata Andra.

Begitu mereka masuk, seorang pria pendek dengan mata tiga menatap mereka dengan malas. "Manusia? Jarang sekali ada spesies dari planet terbelakang itu yang sampai ke sini. Mau jual organ tubuh atau mau beli info?"

Andra meletakkan koin emas kecil terakhirnya di atas meja. Pria bermata tiga itu mengambilnya, menggigitnya, lalu membuangnya ke lantai dengan tawa mengejek. "Logam kuning ini tidak ada harganya di sini. Berikan aku kristal atau pergi dari sini."

Andra tersenyum tipis. Dia memejamkan mata sebentar, memanggil Sistem.

[Transfer 50 Kristal ke akun lokal...] [Proses selesai.]

Tiba-tiba, sebuah tablet di depan si pedagang berbunyi nyaring. Mata ketiganya langsung melotot. "Lima puluh kristal?! Maaf, Tuan! Saya tidak tahu kalau Anda adalah pedagang kelas berat!"

"Aku butuh informasi," kata Andra, suaranya dingin dan tegas. "Siapa yang paling berkuasa di sektor ini selain 'The Void'?"

Si pedagang langsung membungkuk hormat, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. "Di sini ada sindikat bernama 'The Iron Star'. Mereka benci setengah mati pada 'The Void' karena jalur perdagangan mereka sering dirampas. Kalau Anda punya kristal sebanyak itu, Anda bisa membeli satu kapal perang kecil dari mereka."

"Aku tidak butuh satu kapal perang," sahut Andra. "Aku butuh armada. Dan aku butuh tahu di mana mereka menyembunyikan 'Gerbang Bintang' yang menuju markas utama pusat komando mereka."

Siska yang berdiri di samping Andra berbisik pelan, "Andra, apa kamu tidak takut? Kita sendirian di sini. Uang sebanyak itu... apa tidak akan membuat orang-orang di sini ingin merampok kita?"

Andra menoleh ke arah Siska, menatap matanya dalam-dalam. "Takut itu sudah lewat saat aku di Antartika, Siska. Sekarang, aku cuma punya satu tujuan. Mereka sudah mengambil hidup kita, mengubah kita jadi bahan percobaan. Sekarang saatnya aku membeli keadilan dengan cara mereka sendiri."

Jagal menyela, "Tuan, ada orang-orang mencurigakan yang mengikuti kita sejak tadi. Sepertinya mereka tertarik dengan 'dompet' Anda."

Andra melirik lewat sudut matanya. Benar saja, ada sekelompok makhluk berbadan besar dengan pakaian tempur yang tampak sudah usang sedang berdiri di tikungan koridor, memperhatikan mereka dengan lapar.

"Bagus," kata Andra pelan. "Aku butuh latihan sedikit untuk mencoba sistem tempur yang baru."

Andra sengaja berjalan menuju area yang lebih sepi, menjauh dari keramaian pasar. Begitu mereka sampai di sebuah lorong buntu yang remang-remang, kelompok pengejar itu langsung mengepung mereka.

"Serahkan kristalnya, Manusia! Atau kami akan mencincangmu dan menjual dagingmu sebagai umpan ternak!" raung salah satu dari mereka yang memiliki taring panjang.

Jagal sudah siap menarik pelatuk, tapi Andra mengangkat tangan. "Jangan, Jagal. Biar aku yang selesaikan ini."

Andra melangkah maju. Dia tidak lagi merasa seperti kurir paket yang lemah. Di kepalanya, Sistem mulai menghitung koordinat serangan.

[Mode Tempur: Aktif.] [Target Terkunci: 5 Entitas.] [Biaya Serangan: 1 Kristal.]

"Keadilan itu mahal harganya," bisik Andra.

Dalam sekejap mata, tubuh Andra menghilang, hanya menyisakan bayangan emas yang bergerak sangat cepat. Terdengar suara benturan keras dan jeritan singkat. Dalam hitungan detik, lima makhluk besar itu sudah tergeletak di lantai, tidak sadarkan diri dengan luka bakar energi di dada mereka.

Andra kembali berdiri di samping Siska, merapikan kerah bajunya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. "Ayo kita cari 'The Iron Star'. Aku punya banyak uang untuk dibelanjakan hari ini."

Siska menatap Andra dengan perasaan campur aduk. Pria di depannya ini bukan lagi Andra yang dulu dia kenal—Andra yang sederhana dan selalu mengalah. Sekarang, ada sesuatu yang agung sekaligus mengerikan di dalam dirinya. Tapi di balik semua itu, Siska tahu, Andra melakukan ini semua untuk melindunginya.

Mereka terus berjalan menembus pasar gelap itu, menuju masa depan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Di langit-langit stasiun Orion, Andra bisa melihat kapal-kapal raksasa berlalu-lalang. Dia tahu, sebentar lagi, salah satu dari kapal itu akan menjadi miliknya, dan dia akan kembali ke Bumi bukan untuk menetap, melainkan untuk meruntuhkan kekuasaan 'The Void' sampai ke akar-akarnya.

"Ayo, Jagal. Kita belanja besar hari ini," kata Andra dengan senyum yang tidak pernah terlihat seberani itu.

1
Sebut Saja Chikal
nanti saya mampir.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!