NovelToon NovelToon
- Believe In Magic -

- Believe In Magic -

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Akademi Sihir / Reinkarnasi
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: bidadari

Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.

Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.

Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.

Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.

Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:

Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?


- Believe in magic -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 — Pelajaran Kehidupan Manusia di Mall

Laura Roberts menatap lorong-lorong mall yang ramai dengan perasaan campur aduk. Semua terasa asing; cahaya lampu yang terang, bunyi musik dari toko-toko, aroma makanan dari restoran, dan manusia yang lalu-lalang di sekelilingnya membuat kepala Laura berputar. Ia belum pernah melihat kehidupan seperti ini sebelumnya, bahkan saat di dunia sihir ia jarang melihat keramaian seperti ini.

“Mommy… apa semua ini?” Laura bertanya pelan sambil menatap orang-orang yang berdesakan. Matanya melebar melihat anak-anak berlari, remaja menatap ponsel, dan orang dewasa membawa belanjaan dengan tergesa-gesa.

Nyonya Quenza tersenyum lembut, menepuk pundak Laura. “Tenang saja, sayang. Mall memang ramai, tapi itu biasa. Semua orang di sini datang untuk berbelanja, makan, atau sekadar berjalan-jalan. Nikmati saja, jangan terlalu serius.”

Laura mengerutkan dahi, matanya berkeliling memperhatikan setiap gerakan manusia. “Aku… aku tidak terbiasa. Mereka semua berjalan begitu bebas. Bagaimana mereka tidak saling bertabrakan?”

Martin mencondongkan tubuhnya, matanya menyipit. “Laura… kamu ini baru bangun dari amnesia, kan? Tapi kenapa bertingkah seperti makhluk yang baru pertama kali jadi manusia? Semua orang biasa saja di sini. Kamu terlalu panik.”

Laura menelan ludah, mencoba menenangkan diri. “Maaf… aku hanya penasaran. Semuanya begitu cepat, bunyinya keras, dan… bau-bau makanan ini aneh. Aku tidak tahu harus bagaimana.”

Martin mencebik. “Itu bagian dari hidup manusia. Mereka terbiasa dengan keramaian. Kamu harus belajar menyesuaikan diri, bukan terus-terusan bertanya.”

Laura mengangguk, matanya menatap anak-anak yang bermain di area bermain mall. Mereka tertawa, berteriak, dan bergerak seolah-olah tidak ada aturan. Di dunia sihir, setiap gerakan manusia memiliki tujuan dan aturan, tapi di sini semuanya tampak spontan, acak, dan membingungkan.

Mereka berjalan ke salah satu toko, dan Laura menatap rak-rak penuh barang yang berwarna-warni. Ia mengambil sebuah benda kecil dan menatapnya bingung. “Ini… apa? Bagaimana orang membeli ini?”

Nyonya Quenza tersenyum. “Itu barang yang bisa dibeli dengan uang atau kartu. Kamu tinggal menyerahkan uang atau menempelkan kartu ke mesin, dan barang itu menjadi milikmu.”

Laura menatap kartu tipis yang diberikan Nyonya Quenza. Baginya, benda tipis itu seperti sihir modern. “Hanya dengan menempelkan ini… barang menjadi milik kita? Tidak ada mantra, tidak ada perintah? Aku tidak percaya.”

Martin mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, menatapnya tajam. “Ya. Itu bagian dari kehidupan manusia. Tidak perlu mantra, tidak perlu sihir. Cukup ikuti instruksi sederhana, selesai.”

Laura mencoba menempelkan kartu itu ke mesin, menekan beberapa tombol dengan hati-hati. Mesin itu mengeluarkan suara bip, dan barang yang ia pilih langsung ‘terbayar’. Matanya melebar, ia terkejut sekaligus kagum. “Ini… berhasil? Tanpa mantra atau apa pun?”

Martin mencebik lagi, jelas terganggu dengan reaksinya yang berlebihan. “Ya, berhasil. Itu normal bagi manusia. Jangan terlalu kaget dengan hal-hal sederhana.”

Setelah itu, mereka berjalan ke area makanan. Aroma harum dari restoran membuat hidung Laura geli, dan matanya menatap menu dengan penuh kebingungan. “Apa semua itu… makanan?” tanyanya pelan. “Bagaimana cara memilihnya? Apakah ada yang berbahaya?”

Nyonya Quenza tertawa kecil, menepuk tangan Laura. “Tidak ada yang berbahaya, sayang. Kamu tinggal pilih yang kamu suka. Cicipi, rasakan, dan nikmati saja.”

Laura mengambil piring kecil dengan hati-hati, matanya menatap makanan yang tampak sederhana tapi berwarna-warni. Ia mencoba mengamati setiap detail—bau, warna, tekstur—seolah itu adalah pelajaran baru yang harus ia pelajari. Di dunia sihir, setiap makanan dan minuman biasanya memiliki efek tertentu atau digunakan untuk mantra. Di sini… semuanya tampak normal, tapi tetap membingungkan bagi Laura.

Martin mencondongkan tubuh sedikit lagi, matanya menyipit. “Lihat? Tidak ada sihir, tidak ada aturan rumit. Hanya rasa, bau, dan pengalaman. Kamu harus belajar terbiasa dengan hal-hal sederhana sebelum bisa benar-benar mengerti dunia manusia.”

Laura tersenyum tipis, menelan makanan pertamanya dengan hati-hati. Rasanya aneh, tapi menyenangkan. Setiap sensasi—manis, asin, gurih, hangat—adalah pengalaman baru baginya. Ia menyadari bahwa menjadi manusia bukan soal kekuatan, melainkan tentang kemampuan merasakan dan menyesuaikan diri.

Saat mereka berjalan keluar dari restoran, Laura menatap keramaian mall lagi. Setiap langkah terasa seperti pelajaran baru, dan meski Martin terlihat kesal karena pertanyaan dan kekhawatirannya yang terus-menerus, Laura tahu ini adalah bagian dari kehidupannya sekarang.

Ia harus belajar menyesuaikan diri, mengamati, dan memahami dunia manusia tanpa mengandalkan sihir atau kemampuan lamanya. Semua hal kecil—membayar barang, mencicipi makanan, berjalan di antara manusia—adalah ujian kesabaran dan adaptasi.

Laura menarik napas panjang. Kepalanya mungkin masih penuh kebingungan, dan tubuhnya terasa lelah karena harus menyesuaikan diri dengan dunia baru ini, tapi satu hal pasti: rasa penasaran dan keinginan untuk memahami dunia manusia lebih kuat dari rasa takutnya.

Martin mencebik lagi. “Ingat, Laura. Jangan terlalu banyak bertanya hal-hal yang jelas. Rasakan saja, pelajari, dan terbiasa. Itu jauh lebih penting daripada mencoba memahami semuanya sekaligus.”

Laura menatap Martin, tersenyum tipis. Ia sadar bahwa ini adalah langkah awalnya untuk benar-benar menjadi manusia. Ia mungkin sering bingung, sering salah memahami hal-hal sederhana, tapi perlahan ia mulai belajar. Dan meski Martin dan Nyonya Quenza sama sekali tidak tahu tentang masa lalunya sebagai penyihir, Laura tahu rahasianya harus tetap aman.

Ia melangkah di antara keramaian mall, matanya tetap awas, hatinya penasaran, dan pikirannya mulai menyesuaikan diri dengan dunia baru—dunia manusia yang bebas, kompleks, dan penuh kejutan.

Untuk pertama kalinya, Laura merasa hidup sebagai manusia bukan hanya tentang tubuh dan pikiran, tapi tentang mengalami setiap hal dengan rasa ingin tahu, kesabaran, dan keberanian untuk belajar dari kehidupan nya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!