NovelToon NovelToon
Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Di Bawah Sisik Perak (Under The Silver Scales)

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Action
Popularitas:244
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?


Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.

Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.

---

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Tangis di Depan Pintu Lapuk

Langkah kakiku terseret berat saat kami kembali memasuki ambang pintu gubug rumbia. Di luar, kabut fajar mendadak turun begitu pekat, bergulung-gulung tebal seperti selimut susu yang menelan seluruh vegetasi bakau dalam radius tiga meter. Pandangan mata benar-benar mati.

Memaksakan diri menembus labirin rawa dalam kondisi buta seperti ini sama saja dengan mengantarkan leher kami ke senapan anak buah Baron.

Kala ambruk di sudut ruangan, menyandarkan punggung besarnya ke dinding bilik bambu yang sudah miring. Napasnya terdengar begitu payah, satu-dua kali terputus oleh batuk kecil yang kering.

Kain perban darurat di pundaknya kembali basah, menampilkan bercak merah tua yang melebar cepat. Dia memejamkan mata, membiarkan topi kupluk hitamnya agak tersingkap, memperlihatkan pelipisnya yang dipenuhi keringat dingin.

Aku berdiri di tengah gubug yang pengap, menatap kedua telapak tanganku yang gemetar tanpa bisa kukendalikan. Lumpur hitam rawa mengering di bawah kuku-kukuku, meninggalkan rasa kaku yang tidak nyaman. Bau anyir darah, bau jelaga mati, dan aroma pembusukan dari luar seolah berkumpul di dalam dada, mencekik saluran napasku sampai rasanya mau muntah.

Aku tidak sanggup lagi.

Bisikan itu tiba-tiba muncul di kepala, begitu jernih dan berulang-ulang seperti kaset rusak. Aku ini hanya anak pelabuhan. Kerjaan harianku cuma memilah resi, mengomeli sopir truk kargo, dan menghitung recehan untuk membayar sewa kosan kamar nomor empat yang atapnya bocor. Aku bukan pahlawan di dalam novel-novel fiksi yang punya keberanian tanpa batas. Aku hanya remaja biasa yang ingin hidup tenang, yang ingin tidur tanpa perlu mengkhawatirkan apakah besok kepalaku masih menyatu dengan badan.

Bayangan Mbah Jarot yang dihantam popor senapan hingga ambruk di atas lumpur kembali berputar di mataku. Kakek tua itu mungkin sudah mati, atau sedang disiksa di suatu tempat yang mengerikan. Dan itu semua karena apa? Karena makhluk di sudut ruangan ini. Karena paket sialan yang nekat kubawa dari Gudang Sembilan.

Rasa takut yang sedari tadi kutahan mati-matian di depan Kala mendadak berubah menjadi gelombang egois yang meluap-luap. Aku ingin pulang. Aku ingin lari dari kegilaan ini.

Dengan gerakan yang tergesa-gesa dan berisik, aku merenggut ransel oranyeku yang tergeletak di lantai. Aku membuka ritsletingnya, memasukkan botol air minum yang tinggal seperempat, sisa kain bersih, dan korek gas ke dalamnya dengan kasar. Tanganku terus gemetar, membuat isi ransel itu berantakan.

"Lara..." Suara parau Kala memecah kesunyian gubug.

Aku tidak menoleh. Aku mengabaikannya, menarik ritsleting ransel itu hingga memicu suara seret yang nyaring. Aku menyampirkan kedua talinya ke bahu, mencengkeramnya erat-erat seolah benda itu adalah satu-satunya pegangan hidupku.

Logikaku berjalan cepat, liar karena panik. Jika aku keluar sekarang, menyelinap lewat jalur tikus di sisi timur yang pernah ditunjukkan Mbah Jarot, aku bisa mencapai pinggiran jalan lintas Sumatera sebelum tengah hari. Di sana, aku bisa mencegat bus malam apa saja yang mengarah ke Medan.

Aku punya sedikit uang simpanan di dalam saku jaket. Aku bisa berganti identitas, mencari kerja di depo logistik yang jauh, dan melupakan semua sisik perak, naga hulu sungai, maupun Baron Logistics. Aku bisa menyelamatkan nyawaku sendiri.

"Kau mau ke mana?" tanya Kala lagi. Kali ini, suaranya terdengar lebih tipis, lemas, seolah setiap kata yang keluar harus dibayar dengan sisa tenaganya yang sekarat.

"Aku mau pergi, Kala," jawabku ketus, membelakanginya. Suaraku bergetar, kedengaran sangat kejam di telingaku sendiri, tapi persetan.

Aku harus bertahan hidup. "Aku tidak bisa terus-terusan jadi buronan di tempat terkutuk ini. Kita tidak akan bisa lolos. Anak buah Baron punya segalanya, sedangkan kita cuma punya tubuh lemas dan kaki telanjang."

Hening sejenak. Aku mengepalkan tangan, bersiap mendengar dia memohon atau mengamuk menuntut tanggung jawab atas segel darah di tanganku. Namun, tidak ada bentakan. tidak ada paksaan.

"Pergilah," bisik Kala pelan. "Memang itu yang seharusnya kau lakukan sejak awal di Gudang Sembilan."

Mendengar ucapan itu, dadaku justru terasa semakin sesak, seolah dihantam balok es raksasa. Ada rasa bersalah yang menusuk dalam, tajam dan menyakitkan. Aku tahu aku sedang berkhianat pada keputusanku sendiri, tapi rasa takut mati mengalahkan segalanya.

Aku membalikkan badan, melangkah cepat menuju pintu lapuk gubug rumbia. Jarak tiga meter terasa begitu panjang. Begitu sampai di depan pintu kayu yang sudah keropos dimakan usia itu, aku mengulurkan tangan kiri. Jemariku yang hangat bergerak menyentuh selot pintu gubug yang berkarat, bersiap untuk mengangkatnya dan melangkah keluar, menuju kabut tebal yang akan membawaku pulang.

Deg.

Tepat saat kulit jariku menempel pada besi selot yang dingin, sebuah sentakan hebat menghantam pergelangan tangan kiriku.

Rasa ngilu yang luar biasa mendadak menjalar dari tato kuno di kulitku, merambat cepat menuju siku, lalu menghujam langsung ke arah jantung.

Itu bukan rasa sakit fisik akibat luka biasa. Itu adalah getaran yang berdenyut lemah, ritmis, namun terasa sangat pekat.

Deg... deg... deg...

Denyutan di tanganku bergerak mengikuti irama yang lambat dan tersengal. Aku menoleh dengan patah-patah ke arah sudut gubug. Di sana, dada Kala tampak naik turun dengan sangat kepayahan.

Setiap detak jantung cowok itu yang berjuang melawan racun dan rasa sakit di tubuhnya terpancar murni, beresonansi langsung ke dalam nadiku melalui ikatan jangkar darah yang terpatri di kulitku.

Koneksi itu menghantam seluruh kesadaranku tanpa ampun. Melalui denyutan itu, aku tidak hanya merasakan detak jantungnya; aku bisa merasakan kesepiannya yang mendalam, rasa pasrahnya yang dingin, dan keputusasaannya yang rela ditinggalkan mati sendirian di dalam gubug reyot ini agar aku bisa selamat. Dia benar-benar melepas seluruh pertahanannya untukku.

Tanganku yang memegang selot pintu mendadak kehilangan seluruh tenaganya. Peganganku terlepas, memicu suara denting besi tua yang beradu.

Lututku langsung terasa lemas, tidak mampu lagi menopang berat tubuhku sendiri. Aku jatuh terduduk di atas lantai kayu gubuk yang kasar dan berdebu, tepat di depan pintu lapuk yang beberapa detik lalu menjadi simbol kebebasanku. Ransel oranyeku merosot jatuh ke samping, tergeletak tak berdaya.

"Sialan..." bisikku parau.

Satu tetes air mata yang hangat akhirnya lolos, membelah lapisan lumpur kering di pipiku, diikuti oleh tetesan-tetesan berikutnya yang meluncur deras tanpa bisa kubendung lagi. Aku menutupi wajahku dengan kedua telapak tangan, menangis sesenggukan hingga bahuku terguncang hebat di tengah kesunyian rawa pagi itu. Seluruh ketakutan, kelelahan, dan tekanan mental yang kukubur dalam-dalam sejak malam penculikan itu meledak runtuh menjadi tangisan yang menyedihkan.

Aku menangis karena aku takut mati. Aku menangis karena aku merindukan kamarku yang tenang. Tapi yang paling membuat dadaku remuk hingga rasanya mau mati adalah kenyataan bahwa aku tidak bisa pergi. Aku tidak bisa melangkah keluar dari pintu ini dan meninggalkan cowok bermata emas itu membusuk sendirian.

Logika jalananku patah total oleh ikatan yang tidak kasat mata ini. Hatiku sudah terikat terlalu jauh, tertinggal sepenuhnya pada paket paling merepotkan yang pernah kuterima sepanjang hidupku.

Di sudut gubug, dalam remang kabut yang menyusup lewat celah dinding, Kala hanya diam memperhatikan tangisanku. Tidak ada kata-kata penenang, karena kami tahu tidak ada yang baik-baik saja dari situasi ini. Namun, perlahan, denyutan hangat di pergelangan tanganku berubah ritme, tidak lagi terasa ngilu, melainkan bergetar konstan dan tenang, seolah dia sedang berusaha mendekapku dari kejauhan, menemaniku menghabiskan sisa air mata sebelum badai yang sesungguhnya datang menerjang gubug rumbia kami.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!