NovelToon NovelToon
DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

DITALAK SESAAT SETELAH AKAD

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.

Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.

Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.

Talak.

Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.

Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.

Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Penangguhan Penahanan

Kamil menatap Iqbal tak percaya. Alisnya bertaut, napasnya masih berat, seperti menahan sesuatu yang mulai naik ke permukaan.

"Maksud Abang apa bicara begitu?” suaranya rendah, tapi jelas terselip nada tersinggung.

Iqbal tidak mengalihkan pandangan. Ia justru menatap Kamil lurus, seolah ingin menegaskan ucapannya.

"Ya, kamu harus jauhi Amanda!” katanya tegas. "Dia sudah membiarkan laki-laki nginap di apartemennya. Berarti dia gak baik, dong?”

Rahang Kamil langsung mengeras. Ia menggeleng pelan, matanya mulai memanas.

"Amanda gak kayak gitu,” bantahnya cepat. “Dia berasal dari keluarga terhormat.”

Iqbal menghela napas pendek, lalu mengangkat bahu tipis, seolah tidak terlalu terpengaruh.

"Tapi kan buktinya gitu, Mil,” balasnya. "Memasukkan laki-laki yang bukan muhrim… itu perbuatan yang gak baik.”

Suasana kembali menegang.

Kamil tampak ingin membalas, bibirnya sudah terbuka, tapi sebelum kata-kata keluar—

"Sudah, sudah…”

Hakim akhirnya menyela. Ia menatap keduanya bergantian dengan wajah serius.

"Masalah itu kita bahas nanti aja,” lanjutnya, nadanya lebih tenang tapi tegas, mencoba memotong bara yang mulai membesar. “Sekarang yang penting… kita harus gimana biar kamu bisa pulang, Mil?”

Kalimat itu menggantung di udara, memaksa keduanya untuk berhenti—setidaknya untuk saat itu.

"Abang tanya aja deh ke polisi!"

"Ok, ayo kita tanya!." Hakim langsung bangkit diikuti oleh Kamil, mereka melangkah menemui petugas yang ada tidak jauh dari sana. Nada suaranya dijaga tetap sopan, meski jelas ada kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.

"Maaf Pak, apakah adik saya bisa saya bawa pulang?”

Petugas yang tadi memeriksa Kamil mengangkat wajahnya, menatap Hakim sejenak, lalu melirik ke arah Kamil. Ia tampak mempertimbangkan sebelum akhirnya menjawab.

"Secara prosedur, kasusnya sudah masuk karena ada laporan dan visum dari korban,” ujarnya tenang. “Jadi sebenarnya, yang bersangkutan masih berpotensi untuk ditahan.”

Hakim mengangguk pelan, mencoba tetap tenang.

"Iya, Pak… saya paham. Tapi kalau kami sebagai keluarga menjamin, apakah bisa ditangguhkan penahanannya?”

Polisi itu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Bisa diajukan penangguhan penahanan. Tapi ada syaratnya.”

Hakim langsung fokus.

"Syaratnya apa saja, Pak? Kami siap mengikuti.”

"Harus ada penjamin—keluarga langsung. Lalu yang bersangkutan wajib kooperatif, tidak menghilangkan barang bukti, tidak mengulangi perbuatannya, dan wajib hadir setiap kali dipanggil.”

Hakim melirik Kamil sekilas, lalu kembali menatap polisi.

"Saya yang akan jadi penjaminnya, Pak.”

Kamil sedikit mengangkat wajahnya, menatap Hakim dengan ekspresi campur aduk—antara lega dan rasa bersalah.

Polisi itu mengangguk kecil.

"Nanti buat surat permohonan penangguhan. Isi data lengkap, dan tanda tangan di atas materai. Tapi…”

Ia berhenti sejenak, menatap Hakim lebih serius.

"Ini bukan berarti kasusnya selesai. Proses hukum tetap berjalan.”

"Iya, Pak. Kami mengerti.”

"Dan satu lagi,” lanjut polisi, kini menatap langsung ke arah Kamil, “kalau sampai dia mengulangi perbuatannya atau mangkir dari panggilan, penangguhan ini bisa dicabut. Langsung ditahan.”

Kamil menelan ludah, lalu mengangguk pelan.

"Iya, Pak… saya gak akan macam-macam lagi.”

Hakim menghembuskan napas panjang, sedikit lega meski beban di dadanya belum sepenuhnya hilang.

"Terima kasih banyak, Pak. Kami akan urus semuanya.”

Polisi itu kembali ke berkasnya.

"Silakan ke bagian administrasi untuk prosesnya.”

Hakim menepuk pelan bahu Kamil.

"Ayo, kita urus!”

Kamil berdiri perlahan. Kali ini langkahnya lebih tertunduk—bukan lagi karena emosi, tapi karena ia mulai menyadari, bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan amarah… dan tidak semua kesalahan bisa langsung ditebus begitu saja.

Malam sudah hampir larut ketika urusan penangguhan itu akhirnya selesai. Udara di luar kantor polisi terasa lebih dingin dari biasanya, seolah ikut menyerap lelah yang sejak pagi menempel di tubuh Kamil.

Mereka berjalan keluar tanpa banyak bicara. Langkah Kamil berat, pundaknya turun, wajahnya pucat oleh kelelahan dan sisa emosi yang belum benar-benar reda.

Seorang anggota polisi yang tadi menangani mereka berdiri di dekat pintu, menatap Kamil dengan sorot tegas namun tidak lagi sekeras sebelumnya.

“Jangan sampai bikin ulah lagi. Untung kejadian kemarin tidak ada yang viralin. Coba kalau ada… wah, hujatan terus Anda terima tuh.”

Kamil hanya menunduk sedikit, lalu mengangguk pelan. Tidak ada bantahan, tidak ada pembelaan. Energinya sudah habis untuk itu.

Mereka melangkah ke parkiran. Suara pintu mobil dibuka dan ditutup terdengar lebih nyaring di tengah suasana malam yang sepi.

“Dengerin tuh apa yang dikatakan polisi tadi, jangan bikin ulah lagi!” suara Iqbal langsung meledak begitu pintu mobilnya tertutup.

Kamil menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata sesaat sebelum menjawab.

“Udah aku bilang aku emosi, Bang. Dia merebut Amanda dariku.”

Iqbal menoleh cepat, ekspresinya berubah tajam.

“Itu bukan merebut namanya! Amanda bukan milikmu. Bukan kekasihmu. Gimana sih?”

Nada suaranya naik, memantul di dalam mobil yang sempit.

“Aku sudah menganggap dia kekasih… karena selama ini dia selalu welcome,” balas Kamil, suaranya lebih rendah, tapi tetap keras kepala.

Iqbal menghela napas kasar.

“Selalu welcome bukan berarti kamu bisa langsung klaim dia kekasihmu. Mana buktinya? Ternyata dia sudah punya pacar, kan?”

Kamil membuka mata, menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras.

“Bisa jadi karena laki-laki itu yang menggoda dia.”

Iqbal hampir tertawa, tapi yang keluar justru nada kesal.

“Mau apapun alasannya, tetap dia bukan siapa-siapa kamu, Mil.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Kali ini Kamil tidak membalas.

Bukan karena dia setuju—bukan. Tapi karena tubuhnya sudah terlalu lelah untuk terus berdebat. Dari pagi sampai hampir tengah malam, emosinya diperas habis-habisan. Yang tersisa sekarang hanya kosong… dan penat.

Mobil mulai melaju, membelah jalanan yang sudah lengang.

Beberapa menit berlalu dalam diam, hanya suara mesin dan gesekan ban dengan aspal yang menemani.

Tiba-tiba Kamil bicara lagi, suaranya pelan, hampir seperti gumaman.

“Sepedaku ada di apartemen Amanda.”

Iqbal tetap menatap jalan, tangannya mantap di setir.

“Gak usah dipikirin… nanti aja diambilnya.”

Kamil mengangguk kecil, lalu menyandarkan kepalanya ke kaca jendela.

Lampu-lampu jalan berkelebat, satu per satu, seperti pikirannya yang masih berantakan—tentang Amanda, tentang kejadian tadi, tentang dirinya sendiri yang mulai terasa asing.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Kamil tidak marah.

Dia hanya… lelah.

Mobil melaju stabil di jalanan yang hampir kosong. Lampu-lampu kota mulai jarang, berganti dengan suasana yang lebih sunyi. Di dalam mobil, udara terasa berat—bukan karena panas, tapi karena percakapan yang belum selesai.

Hakim yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. Nada suaranya tegas, dingin, seolah sudah menahan cukup lama.

"Jangan bilang apa-apa ke Papa. Beliau gak usah tahu masalah ini. Aku khawatir beliau shock. Cukuplah Mama yang jadi korban karena ulahmu, yang lain gak usah!”

Kalimat itu seperti pisau yang dilempar tanpa peringatan.

Kamil langsung menatap Hakim yang duduk di samping Iqbal, wajahnya berubah. Raut lelahnya seketika berganti jadi kesal.

"Mama meninggal bukan karena ulahku, Bang. Itu semua kesalahan Alika.”

Nada suaranya meninggi, defensif, seperti orang yang menolak disudutkan.

Hakim langsung menoleh tajam. Rahangnya mengeras, matanya penuh emosi yang selama ini ia tahan.

"Terserah kamu,” ucapnya singkat, tapi berat.

"Kalau kamu masih menganggap seperti itu.”

Hening.

Tidak ada yang langsung bicara lagi.

Iqbal menggenggam setir lebih erat. Ia melirik sekilas ke Hakim yang duduk di sampingnya, lalu ke kaca spion, melihat Kamil di belakangnya—dua saudara yang sama-sama keras kepala, sama-sama terluka, tapi memilih saling menyalahkan daripada saling memahami.

Di kursi belakang, Kamil membuang muka ke arah jendela. Napasnya berat, dadanya naik turun menahan emosi.

Sementara Hakim menatap lurus ke depan, matanya kosong tapi pikirannya penuh. Ada marah, ada kecewa… dan ada lelah yang tak kalah dalam.

Malam semakin larut.

Dan di dalam mobil itu, bukan hanya jalan yang terasa panjang—jarak di antara mereka pun ikut terasa semakin jauh.

1
aku
semoga makin sukses ray 🤗
Salsa Billa
thor mana bisa sekli ucap talk 3 thor?
Salsa Billa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 biar prosesnya gk ribet ya thor
total 2 replies
aku
ini kisahnya komil kah jadinya???? 🙄
Nana Geulise
buat kamil : iya jangan dilepas amanda biar tahu dulu topengnnya amanda.🫢🫢🫢
partini
pasti berjodoh dong kalian serasi 1000%,,Thor raya ngilang terus deh gantian dong Jagan begundal itu terus sinopsisnya kan kan raya kebanting cerita nya kamil
Anonim
nanti kan langsung headshot
Anonim: hah??? Ochinchin??
total 4 replies
lLy trililly
thour jngan terllu kbnyakan hidup enak s kamil ma Mandah Najiis bngett..mending balik ke Raya ja
sunaryati jarum
Malah kamu untung Mil,Manda sudah bunting.🤣🤣🤣 🤭 balasan kau terima lewat Amanda Kamil
sunaryati jarum
Semoga klarifikasi kamu bisa menjawab teka- teki / penasaran kenapa mau saja dijodohkan.
Nana Geulise
udah sikat aja mil jgn ragu bekas aldo beserta bonus anak...kalian tunggu aja tabur tuai...lebih sakit dari yang ditetima keluarga raya...🫢🫢🫢😁
partini
aduh mil mil ga usah banyak mikir gas lah nikahi cepet dapat bonus loh kecebong mantan pacar cakepppp👍
falea sezi
keluarga kamil aja. bego semua
falea sezi
woy tolol jelas2 nginep masak main gundu/Curse//Curse/ bloon g ketulungan. penampilan aja kayak. lacur
sunaryati jarum
Jika Kamil benar mencintaimu apapun keadaannya diterima
partini
semoga berjodoh dengan pak Akmal kalau dia masih single sih
partini
dihhh Amanda bego kamu harus nya bikin tidur bersama dulu baru jerat gitu loh cara Kunti bogel pada beraksi ga pro kamu
sunaryati jarum
Diberi barang ORI berkualitas malah milih barang bekas dan murahan .
Arieee
😡nikahin Sono amanda🤣biar cepet dapet anak🤣
partini
akhirnya kalian bersatu emang betul" pasangan yg cocok dunia akhirat
mantappp
sunaryati jarum
Kamu orang sok Kamil,di perusahaan keluarga saja tidak bisa beradaptasi.Untuk.Amanda ,benar kata ibu Aldo dan saudara Kamil,kau wanita yang tidak bisa menjaga martabat kamu sendiri.Keenakan Aldo hanya menanam benih.Minta Kamil menutup aibmu, untuk membuktikan cintanya mau tidak,tapi kamu harus terus terang jika hamil anak Aldo atau pria lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!