NovelToon NovelToon
Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Dihina Tanpa Bakat, Ternyata Aku Pewaris Teknik Dewa Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Isekai / Akademi Sihir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: naramas_

Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Sebelum Penentuan

Malam terakhir di Desa Oakhaven sebelum babak final ujian akademi terasa sangat sunyi, seolah olah alam semesta sendiri sedang menahan napas untuk menyaksikan apa yang akan terjadi esok hari. Angin malam berembus perlahan, membawa aroma tanah basah dan sisa sisa kayu bakar yang mulai mendingin dari perapian warga. Arlan duduk di atas beranda gubuknya yang kecil, menatap langit malam yang dipenuhi oleh ribuan bintang. Cahaya rembulan yang keperakan jatuh di wajahnya, memperlihatkan garis wajah yang jauh lebih tajam dan dewasa dibandingkan anak seusianya. Di tangannya, dia memegang sepotong kain kusam yang digunakannya untuk mengasah sebuah pisau kayu kecil, bukan untuk digunakan sebagai senjata, melainkan hanya untuk menenangkan pikirannya yang terus bekerja.

Di kehidupan sebelumnya sebagai Adit, dia selalu merasa cemas setiap kali menghadapi audit besar atau penandatanganan kontrak yang menentukan masa depan perusahaannya. Namun sekarang, rasa cemas itu telah berubah menjadi sebuah ketenangan yang dingin. Arlan menyadari bahwa ketakutan adalah hasil dari ketidaktahuan akan kemampuan diri sendiri. Dan malam ini, dia tahu persis seberapa jauh dia bisa melangkah. Dia telah membuka empat gerbang energi dan sedang berada di ambang gerbang kelima. Dia telah mengalahkan puluhan lawan dan bertahan hidup di puncak gunung yang membeku. Tidak ada alasan baginya untuk merasa takut pada seorang pemuda sombong seperti Julian.

Pintu gubuk di belakangnya terbuka perlahan. Elena keluar dengan sebuah selimut tebal di tangannya. Dia menyampirkan selimut itu di bahu Arlan, lalu duduk di sampingnya. Arlan bisa merasakan tubuh ibunya yang masih sedikit gemetar. Sejak kejadian di arena tadi siang, Elena tidak bisa berhenti memikirkan keselamatan Arlan. Bagi seorang ibu yang sudah kehilangan suaminya karena fitnah, melihat anak satu satunya masuk ke dalam konflik politik kerajaan adalah mimpi buruk yang sangat nyata.

"Arlan, apakah kamu benar benar harus melakukan ini besok?" suara Elena terdengar sangat lirih, hampir hilang ditelan suara desiran angin. "Kamu sudah membuktikan bahwa kamu bukan sampah. Kamu sudah membuat mereka semua terdiam. Bukankah itu sudah cukup? Kita bisa pergi dari desa ini malam ini juga. Kita bisa hidup tenang di tempat lain di mana tidak ada orang yang mengenal nama Vandermir."

Arlan meletakkan pisau kayunya dan menatap mata ibunya. Dia bisa melihat pantulan dirinya di mata Elena yang berkaca kaca. Di kehidupan lamanya, Siska meninggalkannya saat dia hancur. Namun di sini, Elena ingin melarikan diri bersamanya demi melindunginya. Perbedaan ini membuat hati Arlan yang sedingin es sedikit mencair.

"Ibu, melarikan diri hanya akan membuat kita dikejar selamanya," ucap Arlan dengan nada yang sangat lembut namun tegas. "Dunia ini tidak akan membiarkan keluarga pengkhianat hidup tenang jika kita terlihat lemah. Jika kita pergi sekarang, mereka akan mengirim ksatria bayangan untuk memburu kita seperti binatang. Satu satunya cara untuk mendapatkan kedamaian sejati adalah dengan menunjukkan kepada mereka bahwa kita terlalu kuat untuk disingkirkan. Besok, aku akan mengakhiri semua penderitaan ini."

Elena menunduk, air matanya jatuh mengenai kain selimut. Dia tahu bahwa perkataan Arlan benar, namun hati seorang ibu tetap saja merasa cemas. Arlan memegang tangan ibunya yang kasar karena kerja keras. Dia memberikan aliran energi hangat dari Gerbang Kehidupan untuk menenangkan saraf ibunya. Perlahan lahan, Elena merasa lebih tenang dan rasa kantuk mulai menyerangnya. Arlan menuntun ibunya kembali ke dalam kamar dan menunggunya sampai tertidur lelap.

Setelah memastikan ibunya tidur, Arlan kembali ke kamarnya sendiri. Dia tidak langsung berbaring. Dia duduk bersila di tengah ruangan dan mulai melakukan persiapan terakhir yang paling berbahaya. Dia memanggil energi dari empat gerbang yang sudah terbuka secara bersamaan. Arlan merasakan tubuhnya mulai memanas, uap tipis keluar dari pori pori kulitnya. Dia mulai memusatkan seluruh energinya ke arah Gerbang Kelima: Gerbang Batas.

Gerbang ini terletak di pusat aliran energi di bagian perut bawah. Jika Gerbang Keempat menghilangkan pembatas rasa sakit, maka Gerbang Kelima menghilangkan pembatas fisik tubuh. Saat gerbang ini terbuka, otot dan tulang Arlan akan bekerja melampaui kapasitas maksimal manusia. Ini adalah teknik yang bisa membuatnya bergerak secepat kilat, namun efek sampingnya adalah pendarahan internal jika digunakan terlalu lama. Arlan harus membiasakan tubuhnya dengan tekanan gerbang ini sebelum fajar menyingsing.

"Cukup satu menit," gumam Arlan dalam hati. "Aku hanya butuh membuka gerbang ini selama satu menit untuk menghancurkan pertahanan Julian. Selebihnya, aku akan menggunakan teknik fisik biasa."

Di tempat lain, suasana di kediaman kepala desa Gort jauh dari kata tenang. Di dalam ruangan kerja yang mewah, Julian sedang berdiri di depan sebuah kotak kayu hitam yang dihiasi dengan ukiran iblis. Wajahnya terlihat sangat pucat dan matanya merah karena kurang tidur. Di sampingnya, Gort berdiri dengan ekspresi yang penuh dengan ketakutan dan harapan jahat.

"Tuan Muda, apakah Anda yakin ingin menggunakan benda ini?" tanya Gort dengan suara yang sedikit bergetar. "Jika akademi tahu, mereka akan mendiskualifikasi Anda secara permanen. Ini adalah barang terlarang."

Julian menatap Gort dengan pandangan yang sangat tajam, membuat Gort segera menundukkan kepalanya. "Akademi tidak akan tahu jika sampah itu sudah mati di tanganku sebelum ada yang menyadarinya. Aku tidak akan membiarkan reputasi keluargaku hancur hanya karena kalah dari seorang anak pengkhianat tanpa mana. Benda ini akan memberiku kekuatan dewa yang sesungguhnya selama sepuluh menit."

Julian membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah kristal berwarna merah darah yang mengeluarkan aroma busuk yang sangat tajam. Itu adalah Kristal Darah Iblis, sebuah alat sihir terlarang yang mampu melipatgandakan mana pengguna secara paksa dengan bayaran umur atau kesehatan pengguna. Julian mengambil kristal itu dan menempelkannya ke dadanya. Kristal itu perlahan lahan meresap masuk ke dalam kulitnya, meninggalkan tanda berwarna merah yang berdenyut seperti jantung yang berdetak.

Julian berteriak tertahan saat merasakan mana yang sangat gelap dan panas mengalir deras ke seluruh pembuluh darahnya. Dia merasa sangat kuat, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Dia merasa seolah olah dia bisa membelah seluruh desa ini hanya dengan satu tebasan pedang. Senyum jahat muncul di wajahnya yang kini terlihat sedikit lebih tua akibat efek samping kristal tersebut.

"Besok, Arlan Vandermir akan tahu apa artinya menantang matahari," bisik Julian dengan suara yang terdengar lebih berat.

Kakek tua misterius itu, yang sedang duduk di atap kediaman kepala desa sambil mendengarkan semua percakapan itu, hanya menggelengkan kepalanya. Dia membuang biji apel yang baru saja dia makan ke arah jendela ruangan Julian.

"Anak muda yang bodoh," gumam kakek itu. "Menggunakan kekuatan yang bukan miliknya untuk melawan seseorang yang telah menempa jiwanya di api neraka. Besok akan menjadi hari yang sangat menarik. Arlan, aku harap kamu tidak mengecewakanku."

Kembali di gubuk Arlan, sang pendekar kecil itu baru saja menyelesaikan meditasinya. Dia merasa tubuhnya sangat letih, namun matanya bersinar dengan cahaya biru yang sangat tajam. Dia telah berhasil menyentuh ambang Gerbang Kelima. Meskipun belum bisa membukanya sepenuhnya secara aman, dia sudah memiliki kendali yang cukup untuk menggunakannya dalam keadaan darurat.

Arlan berbaring di tempat tidurnya yang keras. Dia memejamkan matanya, namun pikirannya kembali melayang ke jembatan di dunia lamanya. Dia melihat Rendra dan Siska yang sedang tertawa. Namun kali ini, Arlan tidak merasa sedih. Dia justru tersenyum. Dia menyadari bahwa pengkhianatan mereka adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya, karena tanpa rasa sakit itu, dia tidak akan pernah memiliki tekad yang kuat seperti sekarang.

"Terima kasih telah menghancurkanku di kehidupan dulu," bisik Arlan pada kegelapan. "Karena kehancuran itu mengajariku cara untuk membangun kekuatan yang tidak bisa dihancurkan oleh siapa pun."

Fajar perlahan lahan mulai muncul di ufuk timur. Cahaya oranye mulai menyinari Desa Oakhaven. Suara terompet kerajaan kembali terdengar, kali ini nadanya jauh lebih megah dan menggelegar. Hari penentuan telah tiba. Arlan bangkit dari tempat tidurnya, mengenakan pakaian baru yang dijahit ibunya, dan berjalan keluar gubuk dengan langkah yang sangat ringan.

Di luar, Elena sudah menunggunya dengan segelas air putih dan senyum yang jauh lebih tenang. Arlan meminum air itu sampai habis. Dia menatap ke arah alun alun desa di mana arena babak final sudah disiapkan. Dia bisa merasakan aura mana yang sangat besar dan gelap dari arah kediaman kepala desa. Arlan tahu bahwa Julian telah melakukan sesuatu pada tubuhnya.

"Ibu, tetaplah di rumah sampai aku kembali menjemputmu," ucap Arlan pelan.

"Ibu akan menunggumu di sini, Arlan. Pulanglah sebagai pemenang," jawab Elena.

Arlan mengangguk, lalu dia melesat pergi menuju alun alun desa menggunakan Teknik Tanpa Bayangan. Dia bergerak begitu cepat sehingga orang orang desa yang baru saja bangun hanya merasakan hembusan angin yang lewat di samping mereka tanpa melihat sosok Arlan.

Hari ini, seluruh benua Aetheria akan mendengar nama Arlan Vandermir. Dan hari ini, takhta keangkuhan para bangsawan akan mulai retak oleh kepalan tangan seorang anak yang mereka anggap sebagai sampah. Pertarungan yang akan mengubah sejarah baru saja dimulai.

1
Nanda 123
trus ga bls dendam ama shabat ny tu??
M Agus Salim II: oke siap, masih dalam proses 😅
total 1 replies
Aqil Septian
UDAHLAH KEBANYAKAN NOVEL KAYAK GINI BUATAN CHATGPT, HALAH TAIK AUTHOR TAIK
Jerry K-el: gass keun💪💪💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!