Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ZURICH, 3.847 KILOMETER DARI RUMAH
Tiket itu dipesan pukul 02.17 dini hari.
Arsenia duduk di sudut ruang tunggu kantor polisi dengan laptop pinjaman di atas pahanya, matanya merah namun jarinya bergerak cepat dan pasti. Jakarta–Doha–Zurich. Berangkat pukul 06.45. Ia tidak tidur. Tidak akan bisa tidur.
Raka meletakkan dua gelas kopi dari mesin otomatis di lorong, lalu duduk di kursi sebelahnya tanpa berkata apa-apa. Ia menyodorkan satu gelas. Arsenia mengambilnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Mereka diam selama tiga menit penuh.
"Kau tidak harus ikut," ucap Arsenia akhirnya.
"Aku tahu."
"Ini urusan keluargaku."
"Aku tahu itu juga."
Arsenia akhirnya menatapnya. "Lalu kenapa kau memesan tiket yang sama tiga menit sebelum aku selesai memesan milikku?"
Raka menyesap kopinya. "Karena kamu akan menyesal kalau pergi sendirian dan aku akan menyesal kalau membiarkanmu pergi sendirian. Lebih efisien kalau kita selesaikan penyesalan itu bersama-sama."
Arsenia menatapnya lama. Lalu, untuk pertama kali sejak malam yang panjang itu, ia tersenyum—kecil, lelah, namun nyata.
"Kau benar-benar tidak romantis sama sekali."
"Aku pragmatis."
"Itu kata lain untuk hal yang sama."
Keberangkatan
Dian dan Arka menemukan mereka di konter check-in Terminal 3, masing-masing membawa ransel kecil.
Arsenia mengerutkan kening. "Kalian—"
"Jangan," Dian memotong dengan tenang. "Aku sudah melapor ke redaksi. Ini kelanjutan liputan. Resmi." Ia menepuk tasnya. "Kamera, laptop, akreditasi pers. Semua ada."
Arsenia beralih ke Arka.
Arka mengangkat bahu dengan ekspresi yang berusaha terlihat acuh. "Ada kemungkinan jaringan Hendrawan masih aktif di Zurich. Kalian butuh seseorang yang tahu cara membaca situasi lapangan."
"Kamu pingsan tadi malam," Dian mengingatkan tanpa menoleh.
"Keputusan strategis."
"Kamu bilang itu untuk ketiga kalinya dan masih tidak ada yang percaya."
Raka memandang keempatnya—perempuan yang baru saja kehilangan dan menemukan kembali ayahnya dalam satu malam yang sama, jurnalis yang merekam kejatuhan seorang arsitek kekuasaan dengan tangan yang tidak gemetar, mantan musuh yang melempar kabel server pada momen yang tepat, dan dirinya sendiri yang masih merasakan perih di bahu kiri setiap kali mengangkat tas.
Tim yang aneh, pikirnya. Namun entah mengapa, tepat.
"Boarding pukul 06.15," ucapnya. "Kita punya waktu empat puluh menit. Makan dulu."
Di Atas Awan
Pesawat membelah langit pra-fajar ketika Arsenia akhirnya meletakkan kepalanya ke sandaran kursi dan memejamkan mata—bukan untuk tidur, Raka tahu, melainkan untuk berdiam di balik kegelapan sejenak.
Di kursi belakang, suara Dian terdengar pelan, sedang mengetik artikel. Di sebelahnya, Arka sudah tertidur enam belas menit setelah lepas landas dengan cara yang membuat Dian menoleh lalu memutuskan untuk tidak berkomentar.
Raka membuka berkas di laptopnya.
Tiga nama.
Itu yang berhasil diekstrak dari server sebelum tim forensik digital Komisi Antikorupsi mengambil alih. Hendrawan dalam interogasi awalnya memilih bungkam—wajar, ia memiliki tiga pengacara kelas satu yang sudah berjejer di luar ruang interogasi bahkan sebelum fajar.
Namun data tidak bisa dibungkam.
Nama pertama: R. Soebagyo — mantan kepala badan infrastruktur, pensiun dini tiga tahun lalu dengan alasan kesehatan. Kini tinggal di Singapura.
Nama kedua: Larasati Wulan Dewi — direktur sebuah perusahaan investasi yang memiliki saham di dua puluh tiga proyek pembangunan di enam kota besar. Perempuan. Raka menandai nama ini dua kali. Tidak terduga. Hendrawan suka yang tidak terduga.
Nama ketiga hanya berupa inisial yang belum terdekripsi penuh: "M.S.A." — dengan catatan satu baris di bawahnya yang membuat Raka membacanya tiga kali untuk memastikan ia tidak salah baca.
"Akses Level Arsitek. Satu-satunya yang mengetahui keberadaan cetak biru asli."
Raka menutup laptop.
Ia menatap jendela. Di bawah sana, awan membentang seperti lantai putih tanpa tepi.
Cetak biru asli.
Selama ini mereka berpikir teknologi Pondasi Abadi adalah targetnya. Namun jika ada "cetak biru asli" yang berbeda—maka apa yang ada di server Valen Group hanyalah salinan. Hanyalah umpan kedua, lebih besar dari buldoser di wilayah barat.
Dan aku hampir tidak menyadarinya.
"Kamu memikirkan sesuatu yang membuatmu khawatir."
Raka menoleh. Arsenia masih memejamkan mata, namun bibirnya bergerak.
"Kamu tidak tidur," kata Raka.
"Tidak. Tapi aku bisa membedakan suara napas orang yang tenang dan orang yang otaknya sedang bekerja keras." Ia membuka matanya, menatap langit-langit kabin. "Apa yang kamu temukan?"
Raka menimbang sejenak. Lalu ia membuka laptopnya dan memutar layar ke arah Arsenia.
Arsenia membaca. Dua kali. Ekspresinya tidak berubah—namun tangannya yang memegang armrest mengencang pelan.
"M.S.A.," ucapnya.
"Kamu mengenali inisial itu?"
Arsenia terdiam selama delapan detik penuh—Raka menghitungnya tanpa sadar.
"Mungkin," jawabnya akhirnya. "Tapi aku perlu melihat kondisi Ayah dulu. Sebelum aku bicara tentang kemungkinan apa pun."
Raka mengangguk. Ia tidak mendesak. Ada sesuatu di balik kata mungkin itu yang terasa seperti sebuah kamar yang pintunya belum siap dibuka—dan ia tahu lebih dari siapa pun bahwa pintu yang dipaksakan hanya akan merusak engselnya.
Zurich, Sore Hari
Kota itu menyambut mereka dengan hujan gerimis dan udara yang membuat paru-paru terasa seperti baru dicuci.
Linden Medical Center berdiri di pinggiran kota tua, tersembunyi di antara deretan pohon elm yang sudah kehilangan separuh daunnya karena musim gugur. Bangunannya bukan rumah sakit dalam bayangan kebanyakan orang—lebih menyerupai resor mewah yang kebetulan memiliki peralatan medis kelas satu. Pintu kacanya otomatis, resepsionisnya berbicara dalam empat bahasa, dan aroma di dalamnya adalah lavender tipis yang dirancang untuk menenangkan.
Namun Arsenia tidak membutuhkan ketenangan jenis itu.
Interpol sudah menghubungi pihak rumah sakit enam jam sebelum mereka tiba. Direktur medis, Dr. Helene Vauthier, seorang perempuan Swiss berambut perak dengan kacamata tipis berbingkai titanium, menyambut mereka di lobi dengan ekspresi yang profesional namun tidak tanpa rasa iba.
"Nona Arsenia Valen?" ia mengulurkan tangan. "Saya Helene. Kami sudah menunggu kedatangan Anda."
"Kondisi Ayah saya," Arsenia tidak membalas salam terlebih dahulu. "Tolong jujur."
Dr. Helene tidak tersinggung. Ia justru mengangguk seperti seseorang yang sudah mengantisipasi pertanyaan itu.
"Zat yang digunakan untuk menginduksi kondisi komanya tergolong jarang—bukan jenis yang biasa kami temui dalam kasus medis konvensional. Kami awalnya menanganinya sebagai koma pasca-trauma karena tidak ada yang menginformasikan penyebab sebenarnya kepada kami." Ia berhenti sejenak. "Namun sejak dua belas jam lalu, setelah kami menerima analisis zat dari Interpol dan menyesuaikan penanganannya—ada respons."
Arsenia menelan ludah. "Respons seperti apa?"
"Gerakan jari. Fluktuasi denyut nadi yang terpola. Dan sekali—" Dr. Helene melepas kacamatanya sejenak, membersihkannya dengan gestur yang tampak seperti cara ia mengumpulkan kata-kata, "—ia menyebut sebuah nama."
Arsenia tidak bernapas. "Nama siapa?"
Dr. Helene menatapnya lembut. "Nama Anda."
Kamar 614
Pintunya berwarna putih bersih.
Arsenia berdiri di depannya selama hampir satu menit penuh. Di belakangnya, Raka, Dian, dan Arka menunggu di ujung koridor—cukup jauh untuk memberikan ruang, cukup dekat untuk tetap ada.
Raka melihat punggung Arsenia. Bahunya naik—satu tarikan napas panjang. Lalu tangannya menyentuh gagang pintu.
Ia masuk sendirian.
Pintu tertutup pelan.
Dari balik kaca kecil di pintu, Raka tidak bisa melihat banyak. Hanya siluet Arsenia yang berdiri di sisi ranjang, lalu perlahan duduk. Lalu tangannya—menggenggam tangan seseorang yang terbaring di sana.
Dian memalingkan muka ke arah lain. Ia mengambil kameranya, lalu memasukkannya kembali ke tas. Tidak semua momen untuk direkam.
Arka duduk di bangku koridor, menatap lantai marmer putih. "Hei," ucapnya tiba-tiba, suaranya rendah. "Waktu ayahku meninggal—aku tidak sempat masuk ke kamarnya. Aku terlambat dua jam." Ia tidak melanjutkan.
Tidak ada yang bertanya kenapa ia menceritakan itu.
Tidak ada yang perlu.
Tiga puluh empat menit kemudian, pintu terbuka.
Arsenia keluar dengan mata yang jelas sudah menangis namun kini kering—habis, bukan tersisa. Ekspresinya adalah ekspresi seseorang yang baru saja meletakkan beban yang sangat berat, namun belum sepenuhnya merasakan ringannya karena tubuh masih terbiasa dengan bobotnya.
"Dia bergerak," kata Arsenia. Suaranya serak. "Waktu aku pegang tangannya, dia—dia meremas balik. Lemah. Tapi nyata."
Tidak ada yang berkata apa-apa untuk beberapa detik.
"Dokter bilang butuh berapa lama?" tanya Raka akhirnya.
"Minggu. Mungkin lebih. Tergantung respons tubuhnya terhadap pembalikan zat." Arsenia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. "Aku tidak bisa meninggalkannya di sini sendirian."
"Kamu tidak harus memutuskan apa pun sekarang," kata Dian pelan.
Arsenia mengangguk. Ia menatap Raka—tatapan yang lebih panjang dari biasanya, mengandung sesuatu yang belum berbentuk kata.
"M.S.A.," ucapnya tiba-tiba.
Raka menajamkan pandangannya.
"Di dalam tadi, aku memeriksa tas kecil Ayah yang disimpan rumah sakit sejak ia masuk." Arsenia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya—sebuah kartu nama lusuh, lipatannya sudah memutih di sudut-sudutnya. "Ini ada di dompetnya. Tersembunyi di balik lapisan kulit."
Raka mengambil kartu itu.
Tidak ada logo perusahaan. Tidak ada jabatan. Hanya tiga huruf tercetak timbul di tengah kartu putih itu:
M.S.A.
Dan di baliknya, tulisan tangan dengan tinta yang sudah memudar:
"Jika kau jatuh sebelum selesai—percayakan ini pada anakmu. Dia akan tahu cara membaca fondasinya."
Raka membalik kartu itu berkali-kali. Kertasnya bukan kertas biasa—ada tekstur berbeda di permukaannya. Saat ia miringkan kartu itu ke arah cahaya dari jendela koridor, samar-samar terlihat pola garis halus yang tersembunyi di balik putihnya.
Bukan dekorasi.
Itu sebuah peta.
Dian mendekat, melihat dari sisi Raka. "Itu—"
"Tinta reaktif," kata Arka dari belakang mereka. Ia sudah berdiri tanpa terdengar, menatap kartu itu dengan ekspresi yang berubah serius. "Hanya terlihat di bawah spektrum tertentu. Teknologi lama, tapi efektif." Ia menoleh ke Arsenia. "Ayahmu seorang yang sangat berhati-hati."
"Dia seorang yang sangat takut," Arsenia mengoreksi—bukan dengan kepahitan, melainkan dengan pengertian yang menyakitkan. "Dan dia menyimpan kartu ini sampai akhir karena dia percaya aku akan datang."
Keheningan jatuh di antara mereka—bukan keheningan yang kosong, melainkan yang penuh dengan berat dari segala sesuatu yang belum diucapkan.
Di luar jendela koridor, Zurich mulai menyalakan lampunya satu per satu. Danau di kejauhan memantulkan cahaya sore yang memudar menjadi jingga tua. Kota yang tenang. Kota yang menyimpan rahasia dengan sangat rapi di balik fasadnya yang bersih.
Raka menutup jari-jarinya di sekeliling kartu itu.
M.S.A. Satu-satunya yang mengetahui keberadaan cetak biru asli.
Dan cetak biru itu—petunjuk pertamanya—kini ada di tangannya.
"Apa langkah selanjutnya?" tanya Dian.
Raka memasukkan kartu itu ke dalam saku dalamnya. Matanya menatap ke arah pintu Kamar 614 yang kembali tertutup—di baliknya, seorang ayah yang sedang berjuang kembali ke permukaan, seorang putri yang akan bergantian menjaganya.
"Kita butuh sumber cahaya UV dan seseorang yang bisa membaca peta yang tidak pernah dimaksudkan untuk mudah dibaca," jawabnya.
"Dan kita butuh tahu siapa M.S.A. sebenarnya," tambah Arka.
"Sudah ada kandidat?" tanya Dian.
Raka tidak menjawab langsung. Ia hanya memandang ke luar jendela, ke arah kota tua yang menyimpan terlalu banyak arsitektur yang bertahan melewati terlalu banyak perang.
"Larasati Wulan Dewi," ucapnya akhirnya. "Direktur perusahaan investasi itu. Aku perlu mengecek apakah nama tengahnya dimulai dengan S."
Dian langsung membuka laptopnya.
Arka menarik napas panjang. "Jadi kita tidak pulang besok."
"Tidak," jawab Raka.
"Bagus." Arka duduk kembali di bangku koridor, meluruskan kakinya. "Karena aku belum pernah ke Zurich dan sayang kalau hanya ke sini untuk mengantar orang ke rumah sakit."
Dian menoleh dari laptopnya. "Kamu baru saja bilang alasan egois untuk tetap membantu."
"Aku bilang itu adalah multifungsi." Arka memejamkan mata. "Tidur dulu lima belas menit. Bangunkan aku kalau sudah ada temuan."
Dian menatapnya selama tiga detik. Lalu ia mengalihkan pandangannya kembali ke layar—namun ada sesuatu di sudut bibirnya yang bergerak setipis mungkin sebelum ia berhasil menahannya.
Raka berdiri sendirian di ujung koridor, memandang kota yang semakin gelap di balik kaca.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada kata pengantar. Hanya satu baris:
"Kamu sudah menemukan kartunya. Bagus. Tapi peta itu hanya menunjukkan di mana cetak biru itu pernah berada—bukan di mana ia sekarang. Jika kamu ingin tahu sisanya, besok pagi. Café du Pont. 07.00. Datang sendiri."
Raka membaca pesan itu dua kali.
Lalu ia mengetik satu kata balasan:
"Siapa kamu?"
Tiga detik. Lalu jawaban masuk:
"Seseorang yang sudah lebih lama dari kamu mencari M.S.A. Dan seseorang yang butuh pastikan kamu bukan salah satu dari mereka sebelum aku bicara lebih jauh."
Raka memasukkan ponselnya ke saku.
Di luar, Zurich malam itu terasa seperti papan catur yang baru saja dikocok ulang—semua bidak di posisi baru, aturan yang sama, namun pemain yang berbeda.
Dan ia baru saja menerima undangan untuk langkah pertama babak berikutnya.
Di Kamar 614, jari-jari Bramantyo Valen bergerak lagi.
Kali ini lebih kuat.
Seolah ada sesuatu yang ia coba katakan.