Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Promosi Paksa (Rangkap Jabatan)
"Lepas! Bapak mau culik aku atau gimana sih?!" pekik Aluna sambil menarik lengannya kuat-kuat begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat.
Elvano melepaskan cengkeramannya, lalu berjalan santai memutari meja kebesaran menuju kursi kulitnya. Wajahnya tetap datar, seolah baru saja memetik mangga, bukan menyeret anak orang.
"Duduk," perintah Elvano singkat sambil menunjuk kursi di depan mejanya.
Aluna memijat pergelangan tangannya yang memerah. Matanya melotot tajam. "Nggak mau! Aku ini dipekerjakan buat mengawasi pengeluaran Nona Elora, Pak. Bukan buat jadi sekretaris pribadi Bapak. Aku ini buta soal bikin jadwal rapat, apalagi menyeduh kopi estetik ala kafe mahal. Bapak salah orang! Cari saja lulusan akademi sekretaris sana!"
Elvano menyandarkan punggungnya yang tegap. Jari-jarinya bertaut di atas meja. "Keterampilan mengetik jadwal atau bikin kopi itu bisa dipelajari dalam sehari. Lagipula aku menyeduh kopiku sendiri. Tapi bakat pelit dan perhitungan sampai ke urusan lecet galon air? Itu anugerah. Dan aku butuh anugerah itu buat menekan biaya operasional kantorku yang bocor halus di mana-mana."
"Tapi Elora gimana?" Aluna berkacak pinggang, masih ngotot menolak. "Kalau aku sibuk ngurusin jadwal rapat dan angkat telepon Bapak, adik Bapak yang hobi foya-foya itu bisa lepas kendali. Nanti dia diam-diam gesek kartu buat beli tas kulit buaya atau borong perhiasan lagi. Bapak mau rugi bandar bulan ini?"
"Kamu merangkap jabatan," potong Elvano cepat dan tegas. Keputusannya sudah bulat dan tidak menerima penolakan. "Meja kamu ada di dalam ruangan ini. Kamu tetap pegang kartu debit Elora dan awasi dia dari sini. Dan di saat bersamaan, kamu bertugas mengaudit semua pengeluaran operasional pribadiku. Cukup adil, bukan?"
Aluna mendengus remeh. "Merangkap jabatan? Enak aja! Kerjaan dobel tapi gaji tunggal? Itu namanya eksploitasi karyawan, Pak! Bapak miliarder tapi kelakuan kayak mandor pelit. Aku bisa laporin Bapak ke dinas tenaga kerja! Pokoknya aku nggak mau!"
Aluna berbalik badan dengan langkah menghentak. Tangannya sudah terulur memegang gagang pintu, bersiap kabur dari kandang bos diktator ini.
"Gaji pokok kamu aku kali dua," ucap Elvano tenang, suaranya mengalun seperti melodi indah namun penuh kelicikan di telinga Aluna.
Tangan Aluna membeku di udara. Otaknya yang selalu berjalan dengan sistem kalkulator langsung melakukan perhitungan kilat. Gaji UMR dikali dua?
Tunggu dulu. Standar gaji sekretaris pribadi CEO di gedung pencakar langit begini minimal tiga atau empat kali lipat UMR! Dasar bos pelit, umpat Aluna dalam hati. Elvano benar-benar memanfaatkan kepolosannya untuk mencari tenaga kerja diskonan.
Tapi... tunggu dulu.
Aluna kembali berhitung. Meski gaji pokoknya disunat harga teman, dia masih punya senjata rahasia: bonus sepuluh persen dari penghematan uang jajan Elora setiap bulan dan uang makan yang dibayar perhari.
Kalau bulan ini dia bisa menekan pengeluaran Elora lagi, komisi puluhan juta sudah pasti masuk kantongnya. Ditambah gaji pokok dobel ini, total bayaran kos, dan makan enak sebulan penuh bisa lunas tanpa pusing! Cukup adil untuk berurusan dengan kulkas dua pintu ini.
Ingat kata nenek moyang: kesempatan bagus tidak akan datang dua kali.
Aluna memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat. Wajah galaknya mendadak berubah manis dengan senyum lebar yang memamerkan deretan giginya. Dia berjalan cepat menuju kursi di depan meja Elvano dan langsung mendaratkan bokongnya dengan punggung tegak paripurna.
"Jadi, apa tugas pertamaku hari ini, Pak Bos?" tanya Aluna semangat, matanya berbinar-binar penuh cinta pada uang.
Urat malunya sudah putus karena ingat ibu kost yang mulai judes menagih uang kost.
Elvano menahan senyum melihat perubahan drastis gadis di depannya. Uang memang selalu jadi bahasa universal yang paling mudah dipahami, apalagi oleh cewek realistis seperti Aluna.
"Tugas pertama kamu adalah mengatur makan siangku," Elvano melirik jam di pergelangan tangannya. "Perutku sudah tidak bisa diajak kompromi. Cepat siapkan makan siang yang efisien dan tidak merusak neraca keuanganku hari ini."
"Siap laksanakan!" Aluna langsung berdiri dan mengambil posisi di meja kerja barunya.
Aluna mulai membuka tablet kerjanya untuk memeriksa anggaran harian. Saat dia sibuk melihat daftar menu promo di aplikasi pengantar makanan, ekor matanya menangkap pergerakan aneh di sudut ruangan.
Di area pantry kecil khusus bos itu, Elvano sedang membuka sebuah kotak plastik bening berisi beberapa potong roti berlapis daging.
"Itu apa, Pak?" tegur Aluna tajam saat melihat bosnya hendak menggigit roti tersebut.
Elvano menghentikan gerakannya. "Ini sisa roti gratisan dari ruang rapat direksi tadi pagi. Masih bagus. Sayang kalau dibuang. Memaksimalkan aset sisa adalah kunci kekayaan."
Aluna berjalan cepat menghampiri Elvano. Tanpa permisi, dia merebut kotak plastik itu dari tangan sang CEO perusahaan raksasa tersebut.
"Eh! Apa-apaan kamu?" Elvano kaget bercampur kesal.
Aluna mengendus roti itu, lalu melihat tekstur rotinya yang sudah agak keras dan pinggirannya yang mulai mengering pucat.
"Ini roti sudah kena udara ruang rapat berjam-jam, Pak. Daging olahannya juga sudah pucat pasi begini," omel Aluna sambil melenggang santai menuju tempat sampah di pojok ruangan.
Brak!
Aluna membuang seluruh isi kotak plastik itu ke dalam tempat sampah tanpa rasa berdosa sedikit pun.
Mata Elvano membulat sempurna melihat makan siangnya yang sangat efisien dan gratis itu berakhir tragis di tempat sampah.
"Aluna! Itu roti dari toko kue ternama! Harganya puluhan ribu satu potong!"
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥