Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Pusaran kecil di bawah meja itu mulai bekerja seperti mesin vakum. Udara di dalam kelas perlahan tersedot ke arah laci meja Xiao Yan.
"Hah?" Lin Fan tiba-tiba mengusap lengannya. "Kenapa tiba-tiba dingin sekali di sini?"
Bukan hanya Lin Fan, kertas catatan milik siswi yang duduk di barisan depan mulai bergerak-gerak sendiri, seolah ditarik oleh angin tak kasatmata ke arah belakang kelas. Debu kapur yang berterbangan di dekat papan tulis juga melayang lurus melewati Guru Li, bergerak menuju meja Xiao Yan.
"Gawat," batin Xiao Yan. Matanya sedikit melebar. "Aku salah memperkirakan efek kepadatan energi rute langsung. Kelereng ini mulai menarik gravitasi lokal."
Guru Li menghentikan penjelasannya. Dia merasakan anomali energi di udara. Rambut cepaknya sedikit berdiri tegak.
"Siapa yang sedang mengumpulkan energi?! Aku belum menyuruh kalian mempraktekkannya!" bentak Guru Li dengan keras. Matanya menyapu seluruh kelas, mencari sumber tarikan energi tersebut.
"Ugh... Bukan aku, Guru!" jawab seorang siswa di depan dengan panik karena kertasnya mulai terbang.
Tatapan Guru Li perlahan bergerak menyusuri lorong, mengikuti arah melayangnya debu kapur. Arah itu lurus menuju barisan paling belakang, tepat di mana Lin Fan dan Xiao Yan duduk.
Guru Li mulai berjalan mendekat dengan langkah berat.
"Hancurkan sekarang sebelum dia melihatnya," batin Xiao Yan.
Xiao Yan segera menjentikkan jarinya di bawah meja untuk membuyarkan pusaran energi padat tersebut. Namun, dia tahu bahwa menghancurkan kepadatan ekstrem secara tiba-tiba akan menghasilkan ledakan udara atau suara yang sangat keras. Dia butuh pengalih perhatian.
Dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata manusia biasa, Xiao Yan menendang sedikit kaki kursi kayu milik Lin Fan di sebelahnya dengan ujung sepatunya.
Tak.
Tendangan itu membuat keseimbangan kursi Lin Fan hilang seketika.
Pada saat yang bersamaan, Xiao Yan membuyarkan energi di bawah mejanya.
BOP!
Suara letupan udara terdengar sangat keras di bagian belakang kelas, bersamaan dengan jatuhnya Lin Fan ke belakang.
BRAK!
"Uwaaa!" teriak Lin Fan. Tubuhnya telentang di lantai bersama kursinya yang terguling.
Seluruh kepala siswa di kelas langsung menoleh ke arah belakang. Guru Li menghentikan langkahnya, matanya menatap tajam ke arah Lin Fan yang sedang meringis kesakitan di lantai.
Tarikan udara di ruangan itu langsung menghilang seketika. Debu kapur kembali berjatuhan ke lantai secara normal. Kertas-kertas berhenti bergetar.
"Apa yang kau lakukan di sana?!" bentak Guru Li dengan marah.
"Ugh... Aduh... Bokongku," erang Lin Fan sambil mengusap bagian belakang celananya. Dia berusaha duduk. "Maaf, Guru! Aku... aku tadi sedang mencoba meregangkan pinggangku, tapi kursinya tiba-tiba patah keseimbangannya."
Guru Li berjalan mendekat dan berdiri menjulang di atas Lin Fan. Wajahnya terlihat sangat garang.
"Meregangkan pinggang? Saat aku sedang menjelaskan teori keselamatan nyawa?!" tegur Guru Li. Dia menatap kursi kayu Lin Fan. "Suara letupan apa tadi?"
Lin Fan terlihat kebingungan. Dia melirik ke arah Xiao Yan untuk meminta bantuan, tapi Xiao Yan hanya duduk diam menatap lurus dengan wajah datar.
"Suara letupan?" ulang Lin Fan. Wajahnya tiba-tiba memerah karena malu. "Itu... Ugh... Mungkin perutku sedang tidak enak, Guru. Aku belum sarapan pagi ini. Makanan kemarin malam sepertinya membuat gas di perutku menumpuk."
Beberapa siswa di depan mulai menahan tawa mereka.
Guru Li mengerutkan keningnya, merasa jijik sekaligus kesal. Dia tidak lagi merasakan anomali energi Qi di ruangan itu. Mengingat bakat Lin Fan yang rendah, sangat mustahil bocah ini bisa membuat pusaran energi. Penjelasan bahwa suara keras itu adalah suara buang angin dan kursi jatuh terdengar jauh lebih masuk akal.
"Hah..." Guru Li mendengus kasar. Dia menunjuk ke arah Lin Fan. "Angkat kursimu! Berdiri di lorong luar kelas sampai pelajaranku selesai! Aku tidak mau ada siswa yang memecah konsentrasi kelas dengan suara-suara aneh dari perutnya!"
"Ya, Guru," jawab Lin Fan dengan nada sedih.
Lin Fan berdiri, memegang perutnya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali, dan berjalan gontai keluar kelas. Dia berdiri di sebelah pintu dengan kepala tertunduk.
Guru Li berbalik dan berjalan kembali ke depan kelas.
"Perhatikan kembali papan tulis! Jangan ada yang mempraktekkan sirkulasi ini sebelum aku perintahkan!" teriak Guru Li.
Di bangkunya, Xiao Yan membuang napas perlahan melalui mulutnya agar tidak terdengar.
"Hah..."
"Maafkan aku, Lin Fan," batin Xiao Yan. "Tapi pengorbanan reputasimu adalah harga yang murah untuk mencegah guru ini menyadari anomali tadi. Setidaknya kau hanya dihukum berdiri, bukan dibawa ke ruang interogasi keamanan."
Xiao Yan menatap laci mejanya yang kini kosong. Tidak ada sisa debu energi apa pun di sana.
"Pelajaran yang sangat berharga," batin Xiao Yan menyimpulkan kejadian hari ini. "Aku tidak boleh lagi mengetes teori guru dengan metodeku sendiri. Dunia ini memiliki standar yang sangat rendah. Jika aku menggunakan standarku, dunia ini yang akan hancur. Aku akan menulis jawaban yang salah di kertas ujian nanti agar sesuai dengan apa yang mereka ajarkan."
Xiao Yan mengambil penanya. Dia mulai menyalin diagram Sirkulasi Awan Mengalir yang menyesatkan itu ke buku catatannya dengan tulisan tangan yang rapi. Dia membulatkan tekad untuk menjadi murid biasa yang bodoh.
Di luar jendela, langit siang terlihat cerah. Angin berhembus pelan, menerbangkan beberapa helai daun kering. Xiao Yan menatapnya dengan tenang, merasa puas karena kedamaiannya hari ini berhasil dipertahankan sekali lagi, meskipun teman sebangkunya harus membayarnya dengan berdiri di luar selama dua jam ke depan.