NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Tidak Masuk Logika

"Seharian saya dan Budi di gudang, nggak ketemu Non Ziva."

"Dia tidak ikut balik Anita ke kota, kan? Sudah kamu hubungi dia?"

"Tadi sebelum Anita pergi, dia pamit ke saya dan bilang kalau Non Ziva sedang istirahat di kamarnya. Kalau menghubungi Anita takutnya dia malah panik lalu balik lagi ke sini padahal dia baru sampai di kota."

"Saya sudah cari di Rt. 3, tetapi tidak menemukan Non Ziva. Saya juga sudah tanya-tanya tetapi tidak ada yang melihat," lapor salah seorang pekerja Minah.

"Bu Minah ... Bu Minah... Saya barusan mencari ke lingkungan Rt.5 lalu ketemu Cahyo. Katanya, sore tadi dia melihat Non Ziva berjalan ke arah kecamatan," lapor Ida yang baru saja datang dengan nafas ngos-ngosan seolah dia baru saja berlari jauh.

Padahal Ida tidak berkeliling mencari Zivanna seperti yang lainnya. Tadi niatnya hanya ingin pulang, tiduran di rumah lalu kembali ke rumah Minah seakan-akan dia sudah melakukan pencarian maksimal.

Keberuntungan sepertinya sedang berpihak pada Ida. Di tengah jalan dia bertemu Cahyo lalu pemuda itu menceritakan pertemuannya dengan Zivanna, cucu dari juragannya Ida.

Mendengar cerita Cahyo, Ida pun santai. Dia pulang ke rumah untuk tiduran seperti yang dia inginkan. Tidak lupa dia menceritakan apa yang terjadi kepada Suci yang kebetulan juga sedang di rumah.

Puas beristirahat Ida kembali ke rumah Minah lalu melaporkan soal pertemuan Cahyo dengan Zivanna.

"Ke kecamatan?"

"Iya, tadi kata Cahyo begitu," jawab Ida meyakinkan.

"Bud, cepat kamu susul dia ke kecamatan. Bawa mobil! Ajak beberapa orang!" perintah Minah. "Yang lain boleh pulang."

"Baik, Bu." Budi mengajak beberapa orang pekerja laki-laki untuk ikut bersamanya. Dia mengendarai mobil yang lain mengendarai sepeda motor agar bisa melakukan pencarian menyebar.

* * *

Suci berjalan tanpa tujuan. Dia tidak memiliki pacar, jadi di hari libur pun dia tidak memiliki kegiatan. Tetapi kemudian dia teringat cerita ibunya soal hilangnya Zivanna. Dia penasaran apakah gadis itu sudah pulang atau belum jadi dia berjalan menuju rumah Minah untuk memastikannya.

Lima menit kemudian Suci sampai. Dia tidak berani mendekat, hanya bersembunyi di balik pohon teh-tehan sambil mengintip dan mencuri dengar.

Suasana tidak begitu ramai seperti yang tadi ibunya ceritakan. Di teras rumah Minah cuma ada beberapa orang termasuk ketua RT dan ... Suci memelototkan matanya. Seorang pemuda berhidung mancung duduk diantara beberapa laki-laki di sana. "Itu dokter Alvaro???"

Untuk sesaat Suci terpana. Dia terbiasa melihat Alvaro berpenampilan formal, memakai kemeja dan celana panjang kain atau chinos dengan rambut di sisir rapi ke belakang. Tetapi Alvaro yang di depan ini, Ahh... Berkali-kali lebih tampan dari biasanya.

Rambutnya dibiarkan berantakan hingga sebagian menutupi dahinya. Kaos polos lengan pendek yang dia pakai seakan memamerkan lengan berisi yang selama ini belum pernah Suci saksikan karena selalu tertutupi jas putih kebesarannya.

Suci tidak bisa berhenti memandangi laki-laki itu hingga akhirnya dia sadar sesuatu. "Untuk apa dia di sana?! Apa si manja itu sudah ketemu tetapi sakit lagi lalu Alvaro dipanggil untuk memeriksanya?"

Suara orang-orang itu hanya terdengar samar-samar jadi Suci tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Suci kesal sendiri karena tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaannya.

Beberapa saat kemudian, orang-orang itu pamit. Suci kebingungan. Dia khawatir akan tertangkap basah sedang menguping jadi dia segera meninggalkan tempat persembunyiannya.

Setelah agak jauh dari rumah Minah, gadis sombong itu berjalan lebih pelan. Dia berharap Alvaro melewati jalan itu dan melihatnya. Ini sudah malam, dokter itu pasti kasihan melihat dia jalan kaki sendirian lalu berinisiatif mengantarnya pulang.

Tidak lama kemudian terdengar deru suara sepeda motor di dari belakang. Suci mengulum senyum membayangkan Alvaro berhenti lalu menawarinya tumpangan.

Tetapi ternyata... "Wussss" Rombongan itu melewatinya begitu saja. Tidak ada seorangpun dari rombongan bapak-bapak itu yang menyapanya. Bahkan Alvaro juga tidak ada diantara mereka. Suci menghentak-hentakkan kakinya kesal.

Karena tidak memiliki tujuan akhirnya Suci kembali pulang. Tepat di depan pohon cincau hijau sebelum belokan ke rumahnya, Suci berpapasan dengan Cahyo.

"Mas Cahyo," sapa Suci dengan sedikit gugup dan takut.

Cahyo tidak membalas. Dia hanya menatap Suci dengan tatapan dingin dan penuh dendam. Laki-laki itu hendak berlalu begitu saja tetapi Suci menahannya.

"Mas Cahyo masih marah sama aku?"

"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkanmu!"

"Tapi Mbak Ayu bukan meninggal karena aku, Mas. Dia sakit karena kamu. Dia meninggal karena perbuatanmu!"

"Diam kau!" hardik Cahyo dengan mata mendelik tajam. Rahangnya mengatup rapat dan otot-otot di wajahnya hampir terlihat. "Bagaimana bisa Ayu yang sebaik itu mendapatkan keluarga macam iblis seperti kalian?!! Kurang apa dia sama kamu, hah?!!" bentak Cahyo. Suci semakin menunduk ketakutan.

Cahyo segera pergi. Dia khawatir tidak bisa menahan diri lalu memukuli gadis jelmaan iblis itu jika terus berlama-lama di sana.

Suci hanya menatap kepergian Cahyo. Berbeda dengan ekspresinya tadi ketika mereka berhadapan, kini tatapan Suci seolah mengejek laki-laki yang kini hanya terlihat punggungnya itu. Dimata Suci, Cahyo hanyalah laki-laki pengecut yang tidak berani mengutarakan isi hatinya.

"Ayu! Ayu! Ayu terus! Hidup jadi masalah, mati pun masih jadi masalah!" gerutunya lalu kembali berjalan.

Di rumah Minah,

Orang-orang yang tadi ikut melakukan pencarian di kecamatan sudah pada pulang. Tadi sebelum mereka sempat berangkat, Zivanna sudah pulang diantar Alvaro, dokter tampan yang sangat terkenal sekecamatan.

Kini hanya ada Alvaro, Budi, Minah dan Rani sementara Zivanna sudah beristirahat di dalam kamarnya. Seperti biasa, gadis itu seperti kehilangan separuh energinya ketika sampai di rumah.

Alvaro akan bermalam di sini, tadi Minah sudah meminta izin kepada ketua RT dan tetua di desa itu. Selain karena sudah malam, Minah juga ingin berjaga-jaga jika nanti sewaktu-waktu Zivanna demam lagi ada Alvaro di sana untuk membantunya.

"Bud, nanti kamu temani Alva tidur di ruang tengah, ya? Biar tidak jadi fitnah. Nanti ambil kasur di belakang."

"Iya, Bu."

"Alva, terima kasih telah mengantar Zizi pulang. Maaf sudah merepotkan. Anak itu memang suka sekali merepotkan orang."

"Nggak merepotkan kok, Nek. Tadi kebetulan saja ketemu," terang Alvaro dengan sopan.

"Ya sudah, silahkan beristirahat. Kalau butuh apa-apa bilang saja sama Budi."

"Iya, Nek. Terima kasih."

Setelah itu Minah mengajak Rani pergi ke belakang karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan.

Malam semakin larut. Semua orang tidur dengan lelap karena kelelahan mencari Zivanna. Hanya menyisakan Alvaro yang masih terjaga. Dia terus memikirkan kasus yang dialami Zivanna yang tidak masuk logika ilmu kedokteran yang sudah bertahun-tahun dipelajarinya.

1
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
Ds Phone
semua dalam mimpi nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!