Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Meninggalkan Klan
Malam itu, paviliun belakang keluarga Tian tidak lagi terasa seperti tempat pengasingan, melainkan sebuah altar pembantaian yang sunyi.
Asap hitam tipis—sisa-sisa kotoran meridian yang dikeluarkan Tian Shan—masih mengambang di udara, berbau amis dan busuk.
Rambut putihnya yang baru saja bertransformasi tampak berkilau perak di bawah cahaya rembulan yang masuk melalui ventilasi.
Tatapannya kini bukan lagi kosong, melainkan setajam sembilu yang siap menguliti takdir.
Langkah kaki yang kasar menghancurkan keheningan. Pintu paviliun ditendang hingga nyaris terlepas dari engselnya.
"Hei, Bisu! Keluar kau! Beraninya kau bicara sombong tadi sore!"
Tian Yu masuk dengan wajah memerah karena amarah dan alkohol. Di belakangnya, ia membawa sebuah cambuk pendek yang biasa digunakan untuk menghukum budak. Baginya, menghajar Tian Shan adalah hiburan sebelum tidur.
Tian Shan tetap duduk bersila di atas ranjang kayu yang lapuk. Ia tidak bergerak, tidak pula gentar.
Di jemarinya yang lentik, terselip sebuah jarum tipis yang ia buat dari sisa pemurnian "Lumpur Dunia" miliknya sendiri—racun organik yang terkonsentrasi dari polusi energi alam yang paling korosif.
"Kau ... rambutmu?" Tian Yu tertegun sejenak melihat perubahan drastis pada sepupunya. "Apa kau ketakutan sampai rambutmu memutih dalam semalam? Hahaha! Menyedihkan!"
Tian Yu melangkah maju, mengangkat cambuknya. "Ayo, bicara lagi! Katakan 'jangan menyesal' seperti tadi sore! Ayo!"
CRAK!
Cambuk itu melesat, namun Tian Shan hanya memiringkan kepalanya sedikit. Cambuk itu menghantam tiang ranjang.
Dalam gerakan yang nyaris tidak tertangkap mata manusia biasa, Tian Shan melesat maju. Kecepatannya bukan berasal dari kekuatan otot, melainkan manipulasi aliran udara di sekitarnya.
Jleb.
Jarum hitam itu menembus titik meridian di leher Tian Yu. Sangat halus, hingga Tian Yu hanya merasakan seperti digigit semut.
"Apa yang kau lakukan, Sampah?!" Tian Yu mencoba memukul, namun tiba-tiba lengannya terasa mati rasa.
Tian Shan mundur selangkah, menatap korbannya dengan mata perak yang dingin. "Kau ingin aku bicara? Baiklah. Ini adalah suara terakhir yang akan kau dengar."
Tian Yu mencoba berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Racun dari "Lumpur Dunia" itu bekerja dengan cara yang sangat kejam: ia tidak langsung membunuh jantung, melainkan memicu energi Qi di dalam tubuh Tian Yu untuk memberontak.
"Ugh ... Aaakh ..."
Vena-vena di wajah Tian Yu mulai menonjol, berubah warna menjadi hitam pekat.
Energi Qi miliknya yang masih di ranah Pendekar Pemula mulai berputar terbalik, menggerus daging dan organ dalamnya dari dalam. Itu adalah rasa sakit dari Penyimpangan Qi yang dipaksakan.
Tian Shan mendekat, membisikkan kata-kata di telinga Tian Yu yang tengah menggelepar di lantai. "Dunia ini kotor, nak. Dan kau hanyalah bagian dari kotoran yang harus aku bersihkan."
Tian Yu menatap Tian Shan dengan ketakutan yang luar biasa. Ia ingin memohon, namun lidahnya sudah meleleh oleh racun korosif itu.
Matanya perlahan memutih, pembuluh darah di bola matanya pecah satu per satu hingga ia tewas dalam kondisi yang mengerikan—tubuhnya tampak seperti pohon kering yang membusuk dalam hitungan menit.
Tidak ada penyesalan di wajah Tian Shan. Baginya, ini hanyalah langkah mekanis untuk menghapus variabel yang mengganggu.
Setelah membersihkan sisa-sisa racun di tangannya, Tian Shan mengemasi sebuah bungkusan kecil.
Tidak ada harta yang ia bawa, hanya beberapa keping koin perak dan sebuah belati tua bertingkat Besi Hitam yang ia temukan di gudang paviliun.
Ia melangkah keluar dari kediaman yang telah menampungnya selama lima belas tahun dalam kehinaan.
Penjaga gerbang belakang sedang tertidur lelap, terpengaruh oleh bubuk penenang yang disebarkan Tian Shan melalui angin.
Di perbatasan hutan yang menghadap langsung ke arah kediaman keluarga Tian yang megah, Tian Shan berhenti.
Angin malam memainkan rambut putihnya yang kontras dengan kegelapan sekitarnya.
Ia menatap gerbang besar itu untuk terakhir kalinya. Di sana, di dalam rumah itu, ada orang tua yang mengabaikannya dan adik-adik yang memandangnya sebagai sampah.
Ia tidak membenci mereka; kebencian adalah emosi yang terlalu mewah untuk dibuang pada orang-orang yang tidak berarti.
"Kalian menginginkan seorang jenius, bukan seorang anomali," batinnya. "Maka biarlah dunia ini yang membuktikan siapa yang benar-benar berdiri di puncak."
Tian Shan berbalik memunggungi cahaya obor kediaman Tian. Di hadapannya membentang kegelapan hutan yang penuh dengan binatang buas dan energi alam yang kacau—sebuah miniatur dari dunia yang ia ciptakan sendiri.
"Dunia baru ini adalah pilihanku," gumamnya pelan, suaranya hilang ditelan deru angin. "Dan aku akan menjadi satu-satunya hukum yang berlaku di dalamnya."
Tian Shan sedikit tersenyum karena Ia sedikit merasa hidup dan tidak terlalu merasa hampa.
Dengan langkah yang tenang namun pasti, sang Legenda menghilang ke dalam pekatnya malam, meninggalkan jejak mayat yang mulai mendingin dan sebuah takdir yang baru saja dimulai. Ia tidak pergi untuk melarikan diri, ia pergi untuk menaklukkan.
lanjut thor💪