Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."
Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.
Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.
Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?
"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara
Malam semakin larut, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam kamar utama yang luas itu. Sisa-sisa isak tangis Isvara masih menggantung di udara yang dingin akibat semburan air conditioner. Ia tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan lebih dari sepuluh menit. Baginya, menangis adalah kelemahan yang tidak bisa ia beli, sebuah kemewahan yang terlarang di tengah kepungan musuh bernama keluarga Prayudha dan parasit bernama keluarga kandungnya sendiri.
Isvara menyeka air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia menolak untuk menjadi hancur. Dengan napas yang masih tersengal, ia melangkah menuju cermin besar setinggi plafon di sudut kamar. Di sana, ia melihat bayangannya sendiri seorang wanita yang tampak tangguh dalam balutan piyama sutra, namun jika dilihat lebih dekat, matanya menyiratkan kelelahan yang akut.
Ia menyentuh dadanya, tepat di atas jantung yang berdenyut dengan irama yang tidak beraturan. Rasa nyeri itu masih ada, tumpul namun konsisten, seperti peringatan dari bom waktu yang siap meledak kapan saja.
"Satu hari lagi," bisik Isvara pada pantulan dirinya sendiri. "Hanya butuh satu hari lagi untuk melewati RUPST. Setelah itu, aku akan pergi. Aku akan mencari ketenangan yang tidak pernah diberikan oleh siapa pun di dunia ini."
Namun, Isvara tahu bahwa "menghilang" hanyalah angan-angan kosong. Ia terjerat oleh rantai emas bernama surat perjanjian pra-nikah, dan ia terikat oleh harga diri yang tidak mengizinkannya untuk menyerah kalah di hadapan orang-orang yang ingin melihatnya berlutut.
Di lantai bawah, suasana tidak kalah tegang. Adrian masih duduk mematung di kursi ruang makan, meskipun piringnya sudah lama dikosongkan oleh pelayan. Ia menatap meja marmer yang dingin, teringat bagaimana Isvara pergi meninggalkannya dengan kata-kata yang begitu menohok.
Rasa "aneh" dari tempe panggang hambar dan sayuran tanpa rasa yang ia cicipi tadi masih menempel di lidahnya. Bukan rasanya yang mengganggu Adrian, melainkan fakta yang tersirat di baliknya. Mengapa seorang wanita muda yang memiliki akses ke segala kemewahan dunia memilih untuk hidup seperti seorang pertapa? Mengapa Isvara begitu disiplin, bahkan cenderung menyiksa dirinya sendiri dengan asupan yang begitu minim rasa?
"Bibik," panggil Adrian, suaranya memecah kesunyian ruang makan.
Bibik segera mendekat dengan langkah terburu-buru, kepalanya tertunduk dalam. "Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?"
"Apakah Nyonya memang selalu makan seperti itu? Tanpa bumbu? Tanpa minyak? Tanpa rasa?" tanya Adrian. Ia mencoba membuat suaranya terdengar santai, seolah-olah itu hanya pertanyaan basa-basi, namun matanya menatap tajam pada Bibik.
Bibik ragu sejenak, meremas jemarinya dengan cemas. "Sudah cukup lama, Tuan. Nyonya bilang beliau harus menjaga asupan tubuhnya agar tetap ringan.
Beliau sangat keras pada dirinya sendiri. Kadang saya ingin membuatkan sup iga atau rendang kesukaan keluarga, tapi Nyonya selalu menolak dengan sopan. Beliau bilang, tubuhnya tidak bisa menerima makanan yang terlalu 'berat'."
Adrian terdiam. Jawaban itu bukannya meredakan rasa penasarannya, malah menambah beban di kepalanya. Disiplin atau ada sesuatu yang disembunyikan? Adrian teringat saat Isvara tampak sangat pias di kantor, saat dia memegang dadanya seolah-olah sedang menahan beban ribuan ton.
"Apa dia pernah mengeluh sakit?" tanya Adrian lagi.
"Nyonya tidak pernah mengeluh, Tuan. Beliau selalu terlihat kuat. Tapi... kadang saya melihat beliau meminum banyak air putih dan beristirahat lebih awal jika Tuan tidak ada di rumah," jawab Bibik jujur.
Adrian menghembuskan napas kasar. Ia berdiri, merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Ia memutuskan untuk naik ke lantai atas, bukan untuk berdamai dengan Isvara begitu ia meyakinkan dirinya tapi karena ia ingin memastikan bahwa "aset" berharganya itu tidak tumbang sebelum rapat besar besok.
Keesokan paginya, suasana di Prayudha Mansion berubah menjadi medan persiapan perang. RUPST (Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan) bukan sekadar pertemuan bisnis bagi keluarga ini; itu adalah panggung untuk memamerkan kekuasaan dan menjatuhkan lawan politik di dalam internal keluarga.
Isvara turun ke lantai bawah dengan penampilan yang sangat kontras dari semalam. Ia mengenakan setelan kerja berwarna abu-abu baja yang dijahit sempurna mengikuti lekuk tubuhnya yang ramping. Rambutnya disanggul rapi tanpa menyisakan satu helai pun yang berantakan. Ia tampak seperti patung marmer yang tak tersentuh dingin, kokoh, dan mematikan.
Di ruang tengah, ia berpapasan dengan Adrian yang sedang menyesap kopi hitam tanpa gula. Pria itu tampak sibuk membaca laporan keuangan di tabletnya, namun sudut matanya segera menangkap kehadiran Isvara.
"Besok adalah puncaknya," ucap Adrian tanpa mengalihkan pandangan. "Mama dan seluruh keluarga besar, termasuk Paman Hadi dan sepupu-sepupuku, akan hadir. Mereka sudah mendengar desas-desus tentang asal-usulmu. Mama sudah menyiapkan 'penyambutan' yang sangat hangat di meja rapat nanti."
Isvara menghentikan langkahnya tepat di samping sofa Adrian. Ia menatap suaminya dengan senyum tipis yang tidak mencapai mata. "Sampaikan pada Mamamu, Adrian... aku tidak datang ke rapat itu untuk mencari kehangatan keluarga. Aku datang untuk memastikan bahwa setiap sen yang mereka nikmati dari proyek-proyekku tetap mengalir. Jika mereka ingin menyerangku secara pribadi, pastikan mereka sudah menyiapkan argumen bisnis yang lebih kuat dari sekadar gosip tentang ayahku."
Adrian mendongak, matanya bertemu dengan mata elang Isvara. Ada percikan kekaguman yang ia tekan dalam-dalam. "Kamu sangat percaya diri untuk seseorang yang posisinya sedang di ujung tanduk."
"Ujung tanduk atau puncak gunung, perbedaannya hanya pada cara kita berdiri, Adrian," balas Isvara tajam.
Tepat saat itu, ponsel Isvara di dalam tasnya bergetar hebat. Ia melirik layar dan melihat nama Dokter Liana. Jantung Isvara berdegup kencang secara spontan. Ia segera menjauh beberapa langkah dari Adrian untuk mengangkat telepon tersebut.
"Liana, aku sedang bersiap berangkat," ucap Isvara dengan nada rendah.
"Vara, dengarkan aku!" suara Liana di seberang sana terdengar sangat mendesak dan penuh otoritas medis. "Aku baru saja meninjau ulang hasil EKG dan tes darahmu yang dikirim asistenmu semalam. Kau gila jika memaksakan diri menghadiri rapat besar itu! Kondisimu tidak stabil, Isvara. Tekanan darahmu rendah, dan otot jantungmu butuh istirahat total, bukan stres dari keluarga Prayudha!"
Isvara memejamkan mata sejenak, mencoba mengatur napasnya yang mulai terasa berat hanya karena mendengar peringatan itu. "Aku tidak punya pilihan, Liana. RUPST ini menyangkut kelangsungan firmaku. Jika aku tidak hadir, mereka akan mencabut hak desainku atas proyek Bali."
"Kau bisa mati di kursi rapat itu, Isvara! Apa gunanya firma jika kau berakhir di peti mati?" Liana berteriak pelan. "Setidaknya minumlah dosis tambahan yang aku berikan di botol biru. Dan janji padaku, jika kau merasa sesak, segera keluar. Jangan pernah memaksakan diri."
"Aku akan mencoba. Terima kasih, Liana," Isvara mematikan telepon tepat saat Adrian sudah berdiri di belakangnya.
"Siapa? Selingkuhanmu yang lain?" tanya Adrian dengan nada sinis yang khas.
Isvara berbalik dengan wajah yang kembali tenang, topengnya kembali terpasang sempurna. "Itu dokter pribadiku. Dia hanya mengingatkanku agar tetap sehat sehingga aku bisa melihat wajah kecewa Mamamu saat aku memenangkan suara pemegang saham besok."
Isvara melangkah pergi tanpa menunggu balasan Adrian. Ia masuk ke dalam mobilnya, di mana sopir pribadinya sudah menunggu. Di dalam kabin mobil yang sunyi, Isvara mengeluarkan botol biru dari tasnya, menelan satu butir obat dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menyandarkan kepalanya. Ia harus bertahan. Hanya dua puluh empat jam lagi.
Sore harinya, kantor Vara Interior Design tampak seperti pusat komando militer. Seluruh tim inti Isvara dikerahkan untuk memeriksa setiap detail presentasi.
Isvara tahu, dalam RUPST nanti, keluarga Adrian tidak akan menyerangnya lewat angka, karena mereka tahu Isvara terlalu jenius untuk dikalahkan dalam hal itu. Mereka akan menyerangnya lewat karakter, martabat, dan asal-usul.
"Nona, Nona Arini baru saja mengirim email. Dia menuntut kita menyertakan rincian biaya vendor material dari tiga tahun lalu untuk dibandingkan dengan proyek sekarang," lapor Sinta dengan wajah yang tampak kelelahan.
Isvara memijat pelipisnya. "Dia ingin mencari celah korupsi atau mark-up. Berikan padanya. Berikan semuanya. Jangan biarkan ada satu angka pun yang tersembunyi. Biarkan dia tenggelam dalam tumpukan data itu sampai dia menyadari bahwa dia tidak cukup pintar untuk membacanya."
Rima mendekat, membawa segelas air lemon hangat. "Ibu harus istirahat sejenak. Wajah Ibu sangat pucat."
Isvara menatap Rima, lalu tersenyum tipis sebuah senyum langka yang hanya ia tunjukkan pada orang-orang kepercayaannya. "Aku akan istirahat setelah semuanya selesai, Rima. Sekarang, bantu aku memeriksa desain lobi utama untuk terakhir kalinya."
Sementara itu, di kantor pusat Prayudha Group, Adrian tidak bisa fokus pada dokumen di depannya. Pikirannya terus melayang pada pembicaraan telepon Isvara yang tidak sengaja ia dengar sebagian. Kata "dosis", "istirahat total", dan wajah pias Isvara seolah-olah menghantuinya.
Ia memanggil sekretaris pribadinya, seorang pria muda yang sangat cakap dalam mencari informasi.
"Cari tahu siapa dokter bernama Liana yang menangani Isvara," perintah Adrian singkat. "Dan aku ingin laporan mendalam tentang keluarga kandung Isvara. Bukan soal ayahnya yang di penjara, tapi soal ibunya dan kakaknya, Sekar. Cari tahu setiap transaksi yang keluar dari rekening Isvara menuju mereka dalam tiga tahun terakhir."
"Baik, Pak. Segera saya proses," jawab sang sekretaris.
Adrian bersandar di kursi CEO-nya yang megah. Ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih gelap di balik sikap keras kepala Isvara. Jika Isvara benar-benar sakit, mengapa dia tidak menggunakannya sebagai senjata untuk menarik simpatinya? Mengapa wanita itu justru memilih untuk menderita dalam diam dan tetap menantangnya dengan dagu tegak?
"Kamu benar-benar teka-teki yang menjengkelkan, Isvara," gumam Adrian pada udara kosong.
Malam sebelum RUPST tiba, Isvara kembali ke rumah suaminya. Ia tidak langsung tidur. Ia duduk di balkon kamarnya, menatap lampu-lampu Jakarta yang berkelap-kelip. Dinginnya angin malam menembus kulitnya, namun ia tidak peduli.
Besok adalah penentuan. Besok, seluruh keluarga besar Prayudha akan berkumpul di ruang rapat lantai teratas gedung pusat. Ada Paman Hadi yang selalu mengincar posisi Adrian, ada sepupu-sepupu yang iri pada kesuksesan Isvara, dan tentu saja, ada Mama Wina dan Arini yang sudah menyiapkan pedang mereka.
Isvara meraba dadanya lagi. Jantungnya terasa seperti sedang meremas dirinya sendiri. Ia tahu risikonya. Ia tahu apa yang dikatakan Liana benar. Namun, bagi Isvara, mati di tengah perjuangan jauh lebih terhormat daripada hidup sebagai pecundang yang diinjak-injak oleh orang-orang yang tidak memiliki harga diri.
"Aku akan bertahan," ucapnya pada angin. "Untuk diriku sendiri. Bukan untuk Adrian, bukan untuk keluarga ini, tapi untuk membuktikan bahwa aku berhak ada di sini."
Di kamar sebelah, Adrian berdiri di balik pintu yang menghubungkan balkon mereka pintu yang selalu terkunci. Ia mendengar gumaman pelan Isvara. Ada rasa ingin tahu yang sangat besar untuk membuka pintu itu, namun egonya menahannya. Ia hanya bisa berdiri di sana, terpisah oleh dinding tebal, tidak menyadari bahwa wanita di balik dinding itu sedang bertaruh dengan setiap detak jantungnya hanya untuk bertahan hidup satu hari lagi.
Besok, badai itu akan benar-benar pecah. Dan dalam badai itu, hanya ada satu pemenang: mereka yang memiliki hati paling dingin, atau mereka yang memiliki tekad paling kuat untuk tetap bernapas.
Aku sesak Isvara...