Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.
Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.
Apa yang terjadi pada Damar ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persimpangan di Balik Kaca Bening
Matahari pagi di Kendal terasa begitu bersahabat saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh. Di halaman rumah joglo, sebuah mobil minibus milik Pak RT sudah terparkir rapi. Hari ini adalah hari besar bagi Rania dan Ibu Lastri. Rencana perjalanan ke Semarang Kota bukan sekadar perjalanan belanja biasa, melainkan langkah nyata untuk mengisi "ruh" ke dalam klinik yang baru saja selesai dibangun.
"Ayo, Nduk Rania, mobil sudah siap !! " ajakan Ibu RT dengan semangat yang meluap-luap.
Ibu Lastri yang sudah tampil rapi dengan setelan batik favoritnya mengangguk mantap. "Mari Bu RT. Mari kita berangkat. Mumpung jalanan belum terlalu padat."
Rania tersenyum melihat keakraban mereka. Ibu RT diajak bukan tanpa alasan; selain untuk menyambung silaturahmi, Ibu Lastri ingin tetangga dekatnya itu ikut merasakan kebahagiaan dan sedikit refreshing setelah lelah mengurus warga. Sementara itu, kaum pria memiliki tugas yang tak kalah berat. Bapak Suprapto dan Pak RT berangkat secara terpisah menuju kantor dinas terkait di kabupaten untuk mengurus legalitas izin praktik klinik Rania. Mereka juga berencana mendatangi balai desa untuk memasang pengumuman lowongan pekerjaan bagi dua orang perawat dan satu tenaga administrasi yang akan membantu Rania nanti.
"Hati-hati di jalan ya, Bu. Jangan sampai ada yang ketinggalan daftar belanjanya," pesan Bapak Suprapto sambil melambaikan tangan saat mobil mulai bergerak meninggalkan halaman.
Sepanjang perjalanan menuju Semarang Kota, suasana di dalam mobil sangat riuh. Ibu RT dan Ibu Lastri asyik membicarakan model kursi tunggu yang sedang tren, sementara Rania lebih banyak terdiam di kursi tengah, mencatat spesifikasi alat medis yang harus ia cek di distributor nanti. Ada rasa syukur yang mendalam menyelinap di hatinya melihat betapa banyak orang yang mendukung masa depan barunya.
Kesibukan di Jantung Kota
Semarang Kota menyambut mereka dengan hiruk-pikuknya. Rania mengarahkan supir—yang merupakan saudara sepupu Pak RT—menuju kawasan yang menjadi pusat alat kesehatan. Di sana, Rania tampak begitu profesional. Ia memeriksa setiap inci meja periksa, mencoba stetoskop, dan memastikan tabung oksigen yang ia beli memiliki standar keamanan terbaik.
"Ibu pilihkan gorden untuk ruang periksa ya, Ran? Yang warnanya hijau muda supaya pasien tidak tegang," ujar Ibu Lastri yang sibuk di toko perlengkapan interior di sebelah toko alat kesehatan.
Waktu seolah terbang begitu saja. Dari satu toko ke toko lain, belanjaan mereka mulai memenuhi bagasi mobil. Mulai dari timbangan bayi, lemari obat, hingga kursi plastik untuk ruang tunggu. Rania merasa lelah namun sangat puas. Rasanya seperti sedang menyusun kepingan hidup yang sempat pecah menjadi sebuah bangunan baru yang lebih bermakna.
Panggilan Alam dan Persimpangan Takdir
Sore hari, saat perjalanan pulang menuju Kendal dimulai, langit Semarang mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan. Di tengah perjalanan keluar dari batas kota, Rania tiba-tiba merasakan dorongan kuat di kantung kemihnya. Efek kehamilan yang sudah memasuki bulan kelima memang membuatnya tidak bisa menahan hajat terlalu lama.
"Pak, maaf, bisa mampir ke SPBU terdekat? Saya ingin ke toilet," pinta Rania pada supir.
"Oh, boleh Mbak Dokter ," jawab supir sambil membelokkan setir ke arah sebuah SPBU besar di pinggir jalur utama.
Mobil terparkir di area parkir yang cukup luas. Rania segera turun dan berjalan sedikit terburu-buru menuju area toilet umum. Di saat yang bersamaan, sebuah mobil mewah berwarna hitam metalik—sedan yang dikemudikan oleh Mario—perlahan masuk ke lajur pengisian bahan bakar.
Mario turun dari mobil, berdiri di samping tangki bensin sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada petugas SPBU. Di dalam mobil, di kursi penumpang depan, Dara (Damar) sedang duduk dengan anggun. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra yang menutupi lehernya. Dara sedang mengedarkan pandangan ke arah area parkir, sekadar mengusir kebosanan.
Tiba-tiba, jantung Dara seolah berhenti berdetak.
Dari kejauhan, ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenal. Wanita itu mengenakan setelan blouse dan rok sederhana berwarna biru navy, rambutnya diikat rapi, dan ia berjalan sedikit terburu-buru menuju toilet. Postur tubuh itu, cara jalannya yang sedikit berubah karena perut yang mulai membuncit... itu Rania.
Dara terpaku. Matanya tidak berkedip di balik kacamata hitamnya. Ia melihat istrinya—wanita yang ia tinggalkan tanpa kata-kata—sedang berada hanya beberapa puluh meter darinya. Ada sebuah gejolak hebat yang menghantam dadanya. Ingin rasanya ia membuka pintu mobil, berlari memeluk Rania, dan meminta maaf atas segala kegilaannya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Namun, egonya yang besar dan jati diri "Dara" yang sedang ia bangun dengan susah payah menahan kakinya. Ia menatap telapak tangannya yang halus, ia teringat rencana operasi di Thailand. Jika ia turun sekarang, semua mimpi kemewahan bersama Mario akan hancur. Dan Damar tetap memilih menjadi Dara.
Beberapa menit kemudian, Rania keluar dari toilet dengan wajah yang lebih lega. Ia berjalan kembali ke arah minibus Pak RT. Saat itulah, minibus itu mulai berjalan perlahan keluar dari area parkir, melewati lajur pengisian bensin di mana mobil Mario berada.
Kaca minibus itu bening, tidak menggunakan film yang terlalu gelap. Saat minibus itu melewati samping mobil Mario, Dara melihat dengan jelas melalui kaca. Di kursi tengah, tepat di sebelah Rania, duduk Ibu Lastri. Ibunya tampak sedang tertawa lepas, menunjukkan sesuatu pada Ibu RT sambil menunjuk-nunjuk barang belanjaan di kursi belakang.
Dara melihat senyum ibunya—senyum yang sangat tulus dan bahagia yang sudah lama tidak ia lihat. Senyum itu seolah-olah menjadi pisau yang mengiris hatinya. Ia menyadari bahwa keluarganya justru menemukan kebahagiaan saat dirinya tidak ada. Ia menyadari betapa jahatnya ia telah membohongi wanita yang melahirkannya.
Tangis yang Tersembunyi
Begitu minibus Rania menghilang di balik keramaian jalan raya, pertahanan Dara runtuh. Ia menundukkan kepala, bahunya bergetar hebat. Isak tangis yang tertahan akhirnya pecah. Ia menangis tergugu, merasa menjadi manusia paling berdosa dan pengecut di muka bumi ini. Ia menangis bukan karena rindu, tapi karena rasa bersalah yang teramat sangat atas luka yang ia goreskan pada Rania dan orang tuanya.
Mario kembali ke dalam mobil dan terkejut melihat kekasihnya sedang menangis sesenggukan hingga menutupi wajahnya dengan tangan.
"Dara? Sayang, ada apa? Kenapa menangis?" Mario panik, ia segera merangkul bahu Dara dengan penuh perhatian.
Dara mencoba mengatur napasnya. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia baru saja melihat istri dan ibunya. Ia harus tetap menjaga rahasianya di depan Mario.
"Tidak apa-apa, Mario..." jawab Dara dengan suara serak, ia buru-buru menyeka air matanya dengan tisu mahal. Ia mengambil ponselnya, menunjukkan layar yang sebenarnya kosong. "Tadi aku tidak sengaja melihat tontonan video di YouTube... tentang seekor anjing yang setia menunggu pemiliknya yang sudah meninggal di depan rumah. Ceritanya sedih sekali, aku jadi teringat betapa beruntungnya aku memilikimu."
Mario menghela napas lega, meski sedikit heran dengan sensitivitas Dara yang mendadak. Ia mengecup kening Dara dengan lembut. "Aduh, kamu ini lembut sekali hatinya. Sudah, jangan menangis lagi. Sebentar lagi kita sampai di bandara. Kita harus segera sampai karena perjalanan ke Thailand akan sangat menguras tenaga."
Dara hanya mengangguk lemah. Di dalam hatinya, ia merasa sangat hampa. Mobil mewah itu terus melaju menuju bandara, menjauh dari jalur menuju Kendal.
Sementara itu, di dalam minibus, Rania sedang bersandar di bahu Ibu Lastri. Ia merasa sangat tenang. "
Ia tidak tahu bahwa pria yang ia cari baru saja menangisi kepergiannya di SPBU tadi. Takdir telah mempertemukan mereka dalam jarak yang sangat dekat, namun dipisahkan oleh kaca bening dan dinding ego yang tak tertembus. Rania terus melaju menuju masa depannya di desa, sementara Damar terus melaju menuju meja bedah di Thailand, tanpa menyadari bahwa bayang-bayang masa lalu tidak akan pernah benar-benar bisa ditinggalkan hanya dengan mengubah fisik semata.