"Nikahi aku, Abang Tukang Bakso!"
Demi menyelamatkan warisan Rumah Sakit dari ibu tiri yang kejam, Dokter Airine Rubyjane nekat menikahi Nata, pria penjual bakso di depan RS-nya. Airine pikir Nata hanyalah rakyat jelata yang mudah ia kendalikan.
Namun, ia salah besar. Di balik celemek berminyak itu, suaminya adalah Arnold Dexter, Komandan Intelijen legendaris yang sedang dalam misi penyamaran mematikan.
Satu per satu musuh Airine tumbang secara misterius. Saat cinta mulai tumbuh, Airine menyadari bahwa pria yang ia anggap "miskin" itu adalah predator paling berbahaya di negara ini yang sedang mengincar rahasia gelap kakeknya.
"Aku bukan sekadar tukang bakso, Istriku. Aku adalah alasan musuhmu takut pada malam hari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Detik-Detik Pengkhianatan
"Satu langkah lagi, Airine, dan aku akan memastikan Arnold tidak pernah meninggalkan pulau ini dalam keadaan utuh."
Suara Edward Jane memecah kesunyian laboratorium, dingin dan tajam seperti pisau bedah. Langkah kaki Airine terhenti tepat di depan pipa saluran pusat yang menghubungkan tangki gas Cobra-9 ke sistem ventilasi pulau. Tangannya yang tersembunyi di balik saku jaket taktis mencengkeram botol penetral biru itu hingga kuku jarinya memutih.
"Aku hanya ingin memeriksa sirkulasi udaranya, Kek," sahut Airine, suaranya bergetar namun matanya menatap tajam ke arah kakeknya. "Sebagai dokter, aku tahu subjek di dalam tabung itu akan mati jika tekanan gasnya tidak stabil. Apa itu yang Kakek mau? Mahakarya yang berakhir jadi tumpukan mayat?"
Edward tertawa kecil, suara tawanya bergema di ruangan luas itu. "Jangan mengajari kakekmu soal tekanan, Dokter. Aku yang mengajarimu cara membaca stetoskop pertama kali, ingat? Sekarang, keluarkan tanganmu dari saku. Pelan-pelan."
Arnold, yang masih membidikkan senjatanya ke arah Edward, menggeretakkan gigi. "Lepaskan dia, Edward! Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Biarkan Airine menjauh dari tangki itu!"
"Oh, Komandan, kamu terlalu protektif," Edward melirik Arnold dengan sinis. "Airine, kemarilah. Berdirilah di samping kakekmu. Biarkan pria kasar ini melihat bahwa darah Jane jauh lebih kuat daripada sumpah pernikahan murahan kalian."
Airine menarik tangannya keluar dari saku, perlahan. Ia tidak membawa botol itu keluar, melainkan menyembunyikannya di lipatan lengan bajunya. "Darah Jane tidak mengalirkan racun, Kek. Darah Jane seharusnya menyembuhkan."
"Menyembuhkan dunia butuh pengorbanan, Sayang!" Edward berteriak, wajahnya mendadak memerah. "Lihat ayah Arnold! Dia gagal karena dia lemah! Tapi kau... kau sempurna. Genetikmu adalah kunci untuk evolusi manusia!"
"Kunci untuk perbudakan, maksudmu?" sela Arnold, suaranya merendah, penuh ancaman. "Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh sumsum tulang belakangnya. Tidak satu mili pun."
"Arnold, diamlah!" Airine menoleh sekilas, memberikan kode mata yang sangat cepat ke arah katup darurat di bawah tangki. "Kek, jika aku setuju... jika aku memberikan apa yang Kakek butuhkan, apakah Kakek berjanji akan membiarkan Arnold dan timnya pergi?"
"Airine! Apa yang kau lakukan?!" bentak Arnold, wajahnya panik. "Jangan bernegosiasi dengan iblis!"
"Aku sedang menyelamatkan nyawa banyak orang, Arnold! Berhenti menjadi pahlawan yang keras kepala!" balas Airine dengan nada tinggi yang dibuat-buat untuk mengalihkan perhatian Edward.
Edward menyeringai puas, merasa telah memenangkan pengaruh atas cucunya. "Tentu, Airine. Aku selalu menepati janji pada keluarga. Serahkan dirimu, dan Komandan gagahmu ini bisa pulang ke pangkalan baksonya."
"Baik," Airine melangkah mendekat ke arah kursi roda Edward, namun jalurnya sengaja melewati panel kontrol utama. "Tapi aku ingin melihat datanya dulu. Aku ingin tahu seberapa besar dosis yang akan Kakek ambil dariku."
"Data ada di layar sebelah kiri, silakan lihat," Edward menunjuk dengan dagunya.
Saat Edward lengah memperhatikan layar, Airine bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah diduga siapa pun. Ia tidak menuju layar, melainkan menghantamkan botol penetral itu ke dalam lubang asupan udara tangki pusat dan memutar katup darurat dengan seluruh tenaganya.
KLAAAK! PSSSSSSSSHT!
Cairan biru itu tersedot masuk ke dalam sistem, mengubah warna gas hijau neon di dalam tangki menjadi abu-abu kusam seketika.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Edward, mencoba menggerakkan kursi rodanya untuk menjangkau Airine.
"Membatalkan mahakaryamu, Kek!" Airine berteriak, matanya berkilat penuh kemenangan.
"SATYA! SEKARANG!" Arnold berteriak.
DUARR!
Peledak termit yang dipasang Satya di panel listrik utama meledak, mematikan seluruh lampu laboratorium dan sistem keamanan otomatis. Dalam kegelapan total, hanya lampu darurat merah yang berkedip-kedip, menciptakan atmosfer yang mencekam.
"Airine, tiarap!" Arnold menerjang ke depan, menyambar tubuh Airine dan menariknya ke balik meja laboratorium besi tepat saat anak buah Edward mulai melepaskan tembakan membabi buta.
"Gasnya sudah netral, Arnold! Mereka tidak bisa meracuni kita lagi!" Airine terengah-engah, memeluk tas medisnya erat-erat di bawah perlindungan Arnold.
"Kerja bagus, Dokter!" Arnold mencium pelipis Airine sekilas sebelum berdiri dan mulai membalas tembakan. "Satya! Amankan tangki! Jangan biarkan mereka menyalakan sistem cadangan!"
"Arnold, Kakek! Di mana Kakek?!" Airine mencoba melihat ke arah kursi roda tadi, namun kursi itu kosong.
"Sialan, dia kabur lewat jalur bawah!" Arnold mengutuk. Ia melihat sebuah pintu rahasia di bawah lantai yang terbuka sedikit. "Airine, tetap di sini bersama Satya! Aku harus mengejarnya!"
"Tidak! Aku ikut!" Airine menarik rompi Arnold. "Dia kakekku! Aku yang harus mengakhiri ini!"
Arnold menatap mata Airine yang penuh tekad di bawah kilatan lampu merah darurat. "Ini labirin bawah tanah, Airine. Jika kita masuk, tidak ada jaminan kita bisa keluar sebelum sistem penghancur diri diaktifkan."
"Lalu kenapa kita masih berdiri di sini?" tantang Airine.
Arnold menyeringai tipis, meski situasi sedang kacau. "Baik. Pegang tanganku. Jangan pernah lepaskan, apa pun yang terjadi."
Mereka melompat ke dalam lorong gelap di bawah lantai, menuju bagian terdalam pulau yang belum terjamah, di mana sang pencipta maut sedang menunggu dengan kartu as terakhir di tangannya. Di belakang mereka, suara tembakan dan ledakan masih bersahutan, menandakan bahwa perang ini baru saja memasuki babak final yang paling berdarah.
...****************...