NovelToon NovelToon
Batas Pintu Jati

Batas Pintu Jati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: penavana

Laras Kusuma Widjaya adalah definisi gadis sempurna: ningrat, cantik, dan sangat penurut. Hidupnya adalah deretan protokol kaku. Masalahnya hanya satu, Laras tidak tahu cara bilang "tidak"—bahkan saat Bara, cowok paling pembuat masalah di sekolah, mengajaknya melakukan hal paling gila dalam hidupnya.

Semua hal nyeleneh yang dilarang keras oleh keluarganya, justru menjadi pintu keluar bagi jiwa Laras yang selama ini terkekang. Namun, saat perasaan mulai tumbuh melampaui batas kasta, tembok tradisi menuntut ketaatan yang mustahil ia sanggupi. Di antara tuntutan keluarga dan debaran jantung yang tak masuk akal, Laras harus memilih: tetap menjadi putri mahkota yang sempurna, atau membiarkan gelar ningratnya hancur berantakan demi satu-satunya kebebasan yang pernah ia rasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penavana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamera Tersembunyi

Bara menumpahkan isi celengan ayamnya di atas kasur. Suara gemerincing koin yang beradu dengan lembaran uang kertas menjadi musik paling merdu yang pernah ia dengar belakangan ini. Dengan jari-jemari yang cekatan, ia mulai menyusun lembaran sepuluh ribu dan lima puluh ribu itu, mengelompokkannya dengan teliti.

​"Satu juta sembilan ratus... dua juta... dua juta seratus," bisik Bara.

Napasnya tertahan sejenak sebelum sebuah senyum tipis terukir.

"Alhamdulillah, akhirnya pas."

​Dua juta seratus ribu rupiah. Uang itu adalah saksi bisu betapa kerasnya Bara berjuang selama beberapa bulan terakhir. Setiap rupiahnya adalah hasil dari berdiri berjam-jam sebagai pelayan part-time di kafe, menahan kantuk di sela-sela jadwal sekolah, dan menunda segala keinginannya demi satu tujuan besar. Ia tidak menyangka, kerja kerasnya selama beberapa bulan ini akhirnya membuahkan hasil secepat ini.

​Tanpa membuang waktu, Bara menyambar jaketnya dan bergegas menemui Adi.

​"Om, duitnya udah pas nih. Waktunya buat nebus laptop," ujar Bara saat tiba di depan pria itu.

Matanya menyala dengan tekad yang tidak bisa dibendung lagi. Adi menatap pemuda di depannya dengan rasa bangga sekaligus haru. Ia tahu betul Bara bukan lagi anak kecil yang hanya bisa menangis saat ayahnya dituduh. Semangat Bara untuk memperjuangkan kebenaran benar-benar tak tergoyahkan.

​"Ayo, Bar. Kita jemput sekarang," jawab Adi mantap.

​Keduanya bergegas menuju kantor pegadaian. Proses administrasi yang biasanya terasa biasa saja, kini terasa sangat lambat di mata Bara. Namun, saat benda kotak berwarna hitam itu akhirnya berpindah ke tangannya, Bara merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. ​Mereka kembali ke kos-kosan Adi. Adi segera menyalakan laptop tersebut di atas meja kayu kecil. Bara duduk di sampingnya, mengamati setiap pergerakan layar dengan dada yang terasa sangat sesak, seolah oksigen di ruangan itu mendadak menipis.

​Tangan Bara yang bertumpu di lutut bergetar hebat. Ia segera mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyembunyikannya di balik meja agar Adi tidak melihat betapa rapuhnya ia saat ini. ​Layar laptop itu menyala sempurna. Adi mulai menggerakkan kursor masuk ke direktori Data D. Jemarinya bergerak lincah membuka beberapa folder tersembunyi yang sengaja ia beri nama samaran agar tidak menarik perhatian orang awam. File-file rahasia yang hanya diketahui olehnya.

Bara menatap layar itu dengan pandangan yang kian menajam. Dadanya terasa dihimpit beban yang sangat berat hingga ia hampir sulit bernapas.

​"Ini dia, Bar," bisik Adi pelan.

Adi membuka sebuah folder tersembunyi berisi file video. Klik ganda dilakukan, dan sebuah pemutar video muncul di layar. Itu adalah rekaman CCTV yang merekam gerak-gerik Malik saat sabotase.

Tangan Bara yang tersembunyi di bawah meja bergetar hebat. Ia mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, berusaha keras agar isak tangisnya tidak pecah di depan Adi.

"Om, om kok bisa punya rekaman ini?"

"Ini kebiasaan gue, Bar. Semenjak gue pernah dituduh maling dulu, jadi om selalu antisipasi, masang cctv tersembunyi di setiap sudut."

Mata Bara terasa panas. Bayangan wajah Papanya yang kuyu karena dihujat tetangga dan ditekan oleh keluarga Widjaya melintas begitu saja. Pria jujur itu meninggal dalam kehinaan, dituduh lalai dalam bekerja, padahal dialah yang mencoba menjaga integritasnya sampai akhir.

Bara menyandarkan punggungnya ke dinding. Matanya masih terpaku pada layar laptop yang menampilkan adegan rekaman CCTV itu. Keheningan di ruangan itu terasa begitu mencekam, hanya suara kipas laptop yang menderu kecil, seolah ikut menanggung beban informasi yang baru saja terbuka.

​"Bar," suara Adi memecah lamunan Bara.

"Kamu harus hati-hati. Video ini bukti yang kuat, tapi juga berbahaya. Orang yang berani merusak mobil keluarga Widjaya bukan orang sembarangan. Om yakin, pasti ada seseorang yang memperalat Malik."

​Bara mengepalkan tangannya di atas lutut.

"Aku tahu, Om. Tapi aku nggak bisa diam aja. Selama ini Papa dianggap lalai. Papa dianggap pembunuh. Aku nggak mau mati dalam keadaan orang-orang masih berpikir kayak gitu tentang Papa."

​"Lalu, apa rencana kamu? Kamu mau kasih liat ini ke keluarga Widjaya sekarang?"

​"Belum saatnya, Om," bisik Bara parau.

"Aku harus cari tahu dulu siapa dalang kecelakaaan itu," lanjutnya.

"Sebentar.." Adi menyela, jemarinya bergerak lincah di atas trackpad.

Layar laptop itu berkedip sejenak sebelum menampilkan rekaman baru. Suasananya remang, diambil dari sudut gelap di lorong belakang bengkel. Di sana, Malik tidak sendirian.

​Seorang pria misterius berdiri membelakangi kamera. Pria itu memakai masker hitam dan jaket kulit berwarna hitam pekat yang tampak mahal. Mereka tampak berbincang serius. Malik berkali-kali menunduk hormat, gestur tubuh yang menunjukkan bahwa pria berjaket kulit itu adalah orang dengan kedudukan yang jauh lebih tinggi.

​"Lihat itu, Bar," bisik Adi dengan suara tercekat.

"Malik tidak bekerja sendirian. Dia menerima instruksi."

​Bara memperhatikan gerak-gerik pria berjaket kulit itu. Meski wajahnya tertutup masker, postur tubuhnya yang tegap dan cara bicaranya yang terlihat dominan memberikan kesan otoritas yang kuat. Pria itu mengeluarkan sebuah amplop tebal—yang Bara yakini berisi uang sogokan—dan menyerahkannya pada Malik sebelum Malik melangkah mendekati mobil keluarga Widjaya untuk melakukan sabotase pada remnya.

​"Siapa dia, Om?" suara Bara terdengar dingin, hampir seperti bisikan maut.

"Malik cuma eksekutor. Tapi pria jaket kulit itu... dia otaknya."

​"Wajahnya benar-benar tertutup, tapi perhatikan..." Adi menjeda video itu tepat saat pria berjaket kulit tersebut hendak berbalik.

Kamera menangkap sebuah kilatan di pergelangan tangannya. Sebuah jam tangan emas dengan logo keluarga Widjaya yang sangat spesifik terukir di sana. ​Darah di sekujur tubuh Bara seolah membeku. Jam tangan itu bukan sekadar perhiasan. Itu adalah simbol kehormatan yang hanya dimiliki oleh anggota inti keluarga Widjaya.

​"Nggak mungkin..." Bara mundur selangkah hingga punggungnya menghantam lemari kayu Adi.

"Jadi, yang membunuh Kakek Laras... adalah anggota keluarganya sendiri?"

​Dunia Bara terasa berputar. Jika kebenaran ini terungkap, dampaknya tidak hanya akan membersihkan nama Papanya, tapi akan meruntuhkan seluruh fondasi keluarga Widjaya dari dalam.

​"Ini bukan lagi soal kecelakaan, Bar," Adi menutup laptop itu dengan bunyi klik yang tajam.

"Ini pengkhianatan berdarah dingin."

​Bara terdiam di tengah kegelapan kos yang pengap. Kini ia sadar, laptop di depannya bukan sekadar alat pembukti kebenaran, melainkan kotak pandora yang jika dibuka, akan menyapu bersih kebahagiaan semua orang yang ia sayangi.

​"Simpan laptopnya, Om," ucap Bara setelah keheningan panjang.

"Jangan biarkan siapa pun tahu. Biar aku yang cari tahu siapa pria di balik jaket kulit itu... sebelum dia tahu kalau aku memegang bukti ini."

1
Ros 🍂
semangat ya Thor 💪🏽
Ijin mampir🙏
penavana: thankyouuuu
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Kaaaaan.... bah ternyata bukan kulkas pintu seratus, tapi manusia yang perlu penakhluk. mana si putri lagi
Faeyza Al-Farizi
modus....modus.... gak usah dipinjemin ndoro... 😌😌😌😌
Faeyza Al-Farizi
Nah kan.... yang waras gitu loh
Faeyza Al-Farizi
ya bukan berarti dia yang godain bujang..... bisa-bisanya, makanya gak usah pacaran, 😌
Faeyza Al-Farizi
Heh sabun Wing gak usah ngadi-ngadi, kamu yang pertama bangunin macan tidur, udah tau lawannya membara, malah di pancing 🫵, lagian gak bisa gitu anteng orang sekola kok nantang2
Faeyza Al-Farizi
sumpah seru bagian ini, berasa kembali ke jaman pas awal-awal demen novel. seger banget hawanya 😌😌
Faeyza Al-Farizi
cupu amat make nama bapak, HUUUUUUUUUU 🫵🫵🫵🫵🫵🫵
Faeyza Al-Farizi
ngebayangin Laras, lari buat nolongin. 😌
Faeyza Al-Farizi
sumpah habis ini kamu kemana-mana punya pengawal pribadi😌
Faeyza Al-Farizi
ketahuan bohong kau 😌😌
Faeyza Al-Farizi
😭😭😭😭 bisa-bisanya ada kebetulan model gini 😭😭
penavana: fakta nih kaak 🤭
total 1 replies
Faeyza Al-Farizi
Bara, heh... tapi paham sih aku, emang modelan kamu paling hapalnya nama guru BK, gadis unceran sama pak satpam 😌
Faeyza Al-Farizi
heeeee preman nyuruh ndoro agung buat ndatengin, berani amat 🫵
Faeyza Al-Farizi
buseeeet ini intuisinya kuat banget 😱
Adi Lima
ya kalo gitu pesan ayam geprek online aja, suruh kurir taroh di sekuriti, terus numpang makan di situ 😄🤣🤣🤣🤣
Adi Lima
Biar bapak yang kasih Tips & Trik untuk ngelawan secara intelek 😄🤣
Adi Lima
oooooh, jadi berani melawan itu pertanda kedewasaan
Adi Lima
yaaaah, shutdown lagi... mungkin dipandang soal ini si Laras gak perlu tau detilnya 🤣
Adi Lima
eh, surprise, ternyata ibunya penuh pengertian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!