Apa jadinya ketika seorang pria yang tidak memiliki perasaan harus disandingkan dengan seorang wanita yang mampu merubah seluruh hidupnya, Raja Gustaf pria dingin keturunan bangsawan itu sudah memiliki dua istri, akan tetapi selama pernikahan dengan kedua istrinya dia tidak merasakan arti cinta yang sesungguhnya.
Namun dengan datangnya Layla Candra kedalam hidupnya menjadi istri ke tiga Gustaf merasakan adanya perasaan cinta untuk Layla...
Namun Layla sendiri merasa pernikahnya dengan Raja Gustaf adalah kematiannya setiap hari, karena ia di paksa menikah oleh Ayahnya sebagai aliansi demi sebuah wilayah benteng Candra...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter~22 Perjumpaan di lorong sepi
Setelah percakapannya dengan Layla usai, Laras berjalan cepat meninggalkan paviliun taman. Dadanya masih naik turun menahan amarah yang belum sepenuhnya reda. Ia berniat kembali ke kamarnya, berharap bisa menenangkan diri sejenak sebelum rasa sakit itu kembali menyerbu. Lorong sayap timur yang biasanya sepi dan teduh, pagi itu terasa lebih pengap dari biasanya.
Langkah kakinya berhenti mendadak.
Di ujung lorong, berjalan seorang pria jangkung dengan pakaian kebesaran berwarna biru tua yang disulam benang perak. Punggungnya tegap, langkahnya berat namun berwibawa, dan wajahnya yang tampan namun keras itu kini tampak lebih tenang—berbeda jauh dari bayangan mengerikan yang selama ini hidup di kepala Laras.
Itu Raja Gustaf.
Ia tampak sedang berjalan sendirian, mungkin baru saja selesai berdiskusi dengan Raja Batara dan hendak kembali ke ruang tamu utama. Di tangannya, ia memegang selembar daun lontar yang berisi peta wilayah perbatasan.
Saat keduanya makin mendekat dan hanya berjarak beberapa langkah, Gustaf pun menyadari kehadiran wanita di depannya. Ia berhenti. Ingatannya langsung menangkap siapa wanita itu—Laras, istri mendiang Pangeran Laksamana, kakak ipar Layla. Serasa pernah bercerita sedikit tentangnya, dan tentang luka yang ia simpan.
Gustaf perlahan menurunkan kepalanya sedikit, sebagai tanda penghormatan dan kesopanan, sama seperti ia lakukan kepada seluruh keluarga Candra. Ia berniat menyapa, berusaha bersikap baik dan meminta maaf seperti yang ia lakukan kepada yang lain.
"Selamat pagi, kaka ipar Laras," ucap Gustaf rendah dan sopan. "Saya Raja Gustaf. Saya tahu... kehadiran saya di sini mungkin tidak menyenangkan bagi Kaka. Saya datang dengan hati yang rendah, dan saya ingin—"
Belum sempat Gustaf menyelesaikan kalimatnya, Laras melangkah maju satu langkah. Matanya menatap tajam ke manik mata Gustaf, tatapan yang sama sekali tidak ada rasa hormat, tidak ada rasa takut, bahkan tidak ada rasa ingin tahu. Yang ada hanya kebencian murni yang membara, seolah-olah ia sedang menatap seekor binatang buas, bukan seorang Raja.
"Jangan berani-berani menyapa saya dengan suara itu," potong Laras dingin. Suaranya rendah, namun tajam hingga ke tulang. "Jangan gunakan kata-kata manismu, Raja. Aku tidak butuh sanjunganmu, aku tidak butuh maafmu, dan aku tidak butuh kehadiranmu di tanah ini."
Gustaf tertegun sejenak. Ia tidak terkejut, ia sudah menduga akan mendapat reaksi seperti ini. Namun rasa berat di dadanya tetap terasa saat mendengarnya langsung dari mulut wanita itu. Ia tetap berdiri diam, tidak bergerak, membiarkan Laras melampiaskan segalanya.
"Aku mendengar semua ucapanmu kemarin di depan gerbang," lanjut Laras, bibirnya melengkung membentuk senyum sinis yang menyakitkan. "Kau bilang kau datang sebagai menantu yang meminta maaf? Kau bilang kau datang membawa damai? Kau berdiri di sana dengan kepala tegak, memakai pakaian indah, dan semua orang bertepuk tangan mendengarkanmu seolah kau adalah pahlawan yang datang menyelamatkan kita."
Laras melangkah mendekat, kini jarak mereka hanya tinggal satu jengkal. Ia menunjuk dada bidang Gustaf dengan jari telunjuknya yang gemetar, matanya memerah menahan air mata yang berubah menjadi api.
"Tapi tahukah kau, Raja Gustaf? Di balik semua tepuk tangan itu, ada satu orang yang tidak bisa bertepuk tangan. Ada satu orang yang berdiri diam di sudut jendela, dan satu-satunya hal yang terlintas di kepalanya saat melihatmu... adalah wajah suaminya yang tergeletak mati di tanah basah, dengan leher terputus oleh pedangmu sendiri!"
Suara Laras meninggi, bergema di lorong kosong itu.
"Kau ingat hari itu? lima hari lalu, di perbatasan selatan? Kau ingat bagaimana kau mengangkat pedang itu? Kau ingat bagaimana kau memenggal kepala Laksamana, suamiku, kakak kandung dari istrimu sendiri? Dan kau tidak berhenti di situ. Kau bawa kepalanya, kau arak keliling pasukanmu sebagai piala kemenangan, agar semua orang tahu betapa hebatnya Raja Jaya Wijaya ini!"
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi pucat Laras, tapi ia tidak menyekanya. Ia justru menatap Gustaf semakin tajam, menikmati setiap detik kebisuan raja itu.
"Semua orang di istana ini sudah lupa. Ayahanda, Ibunda, Layla... mereka semua terlalu sibuk dengan damai ini, terlalu sibuk melihat masa depan yang cerah. Mereka bilang kau sudah berubah. Mereka bilang kau menyesal. Mereka bilang kau orang baik sekarang."
Laras tertawa kecil, suara tawa yang kering dan penuh kepahitan.
"Omong kosong."
Kata itu meluncur keluar dengan tegas dan penuh rasa jijik.
"Bagaimana mungkin seseorang berubah, jika dosa terbesarnya masih melekat di tangannya? Kau pikir dengan membagikan emas, dengan memberi pakaian, dengan meminta maaf... darah Laksamana akan hilang dari pedangmu? Kau pikir dengan menikahi Layla, kau bisa mencuci bersih semua kejahatan yang kau lakukan pada keluarganya?"
Gustaf masih diam. Wajahnya yang gagah kini tampak muram dan berat. Ia tidak menangkis, tidak membela diri. Ia tahu ia tidak punya hak untuk itu. Di depan wanita ini, ia bukan Raja yang disegani. Ia hanyalah pembunuh suaminya.
"Kaka ipar..." Gustaf mencoba bicara, suaranya berat dan parau. "Aku tahu tidak ada kata maaf yang cukup untuk mengembalikan apa yang hilang darimu. Aku membawa dendam itu sendiri setiap malam. Jika aku bisa menukar tempat, jika aku bisa mengembalikan nyawanya dengan nyawaku sendiri..."
"Cih!" Laras menyeringai, memotong lagi. "Jangan berani-berani mengucap nama suamiku dalam kalimat yang sama dengan nyawamu. Nyawamu tidak ada harganya dibandingkan sedetik pun hidup Laksamana."
Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, namun pandangannya tetap tidak lepas dari wajah Gustaf yang kini tampak tertunduk.
"Dengar baik-baik, Raja Gustaf. Kau boleh tinggal di sini. Kau boleh tidur di kamar Layla. Kau boleh makan makanan dari meja ini. Kau boleh disebut sebagai penyelamat perdamaian bagi rakyat Candra."
Laras mendekatkan wajahnya, berbisik dengan nada dingin dan mengancam yang menusuk langsung ke hati Gustaf.
"Tapi ingatlah ini selamanya. Bagi mereka, kau adalah keluarga. Tapi bagiku... kau tetaplah musuh. Kau tetaplah pembunuh. Dan setiap kali kau melangkah di tanah ini, kau melangkah di atas nama orang yang kau bunuh. Jangan pernah berpikir kau akan diterima sepenuhnya di sini. Karena selama aku masih bernapas, aku akan selalu ada untuk mengingatkanmu... betapa hinanya asal-usul damai yang kau banggakan ini."
Laras mundur selangkah, menatapnya dengan pandangan penuh kebencian yang tak tergoyahkan.
"Menyingkirlah. Aku tidak ingin menghirup udara yang sama dengan pembunuh suamiku lebih lama lagi."
Tanpa menunggu jawaban atau reaksi apapun dari Gustaf, Laras berbalik badan dengan tegap, lalu berjalan melewati sisi raja itu seolah Gustaf hanyalah debu di pinggir jalan. Ia berjalan menjauh, punggungnya tegak namun hatinya hancur berkeping-keping.
Gustaf berdiri diam di tengah lorong yang sepi itu. Tangannya yang memegang daun lontar mengepal erat hingga kertas itu terlipat berantakan. Dadanya terasa sesak, jauh lebih sakit daripada luka pedang yang pernah ia terima di medan perang dulu.
Kata-kata Laras tadi benar-benar menusuk ke ulu hati. Ia sadar, meski ia sudah mendapatkan hati Layla, meski ia sudah dimaafkan oleh Raja Batara dan Ratu Saraswati... ada satu hati yang takkan pernah bisa ia miliki. Ada satu luka yang takkan pernah bisa ia obati. Dan wanita itu, Laras, akan selalu menjadi cermin yang menunjukkan dosa terbesarnya setiap kali ia berada di istana ini.