NovelToon NovelToon
Cinta Di Medan Perang

Cinta Di Medan Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Irsan Wahyudi

Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kunjungan ke Pak Darmo

*Bab 13

Nayla saat ini sedang membantu Sari, lalu Nayla berhenti sebentar.

"Sar—" suara Nayla memulai pelan.

"Iya, Dok."

"Kondisi di sini... sudah separah apa?" tanya Nayla.

Sari diam sebentar. Matanya melirik ke pintu tenda, lalu ia menarik napas.

"Lumayan, Dok," jawabnya pelan. "Tapi warga sini sudah biasa. Mereka tahu kapan harus masuk rumah, kapan boleh keluar."

"Sudah berapa lama konfliknya?" tanya Nayla lagi.

"Hampir setahun. Awalnya cuma rebutan lahan—tapi lama-lama melebar. Sekarang sudah agak mendingan sejak TNI masuk dok. Tapi belum benar-benar selesai."

Nayla mengangguk pelan. "Bagaimana dengan warganya yang sakit?"

"Ada, Dok." Sari menghitung dalam kepala. "Kebanyakan lansia. Hipertensi, asam urat, yang sudah lama nggak kontrol karena takut keluar rumah. Terus anak-anak—ISPA banyak, karena musim hujan kemarin."

"Ada yang parah?" tanya Nayla

Sari diam sebentar.

"Ada, Dok, Pak Darmo. Warga di ujung desa kakinya terluka saat ini

sudah seminggu lebih. Saya sudah kasih antiseptik tapi..."

Sari menggeleng pelan. "Saya bukan dokter. Saya takut salah penanganan."

Nayla menegakkan punggungnya. "Kapan kita bisa ke sana?"

"Hah Dokter mau langsung ke sana?"

"la emangnya kenapa?" Nayla mengernyit.

"Ya... ya saya kira Dokter mau istirahat dulu."

Nayla berdiri, meraih tas medisnya

"istirahat bisa nanti Pak Darmo sedang menunggu."

Sari memandangi Nayla sebentar—perempuan yang baru kemarin tiba, tapi sekarang sudah berdiri dengan tas medis di tangan dan mata yang tidak kenal tunda.

"Siap, Dok," Sari ikut berdiri. "Saya antar sekarang."

Nayla mengangguk. "Saya tunggu di luar."

 

Nayla sudah berdiri di luar tenda medis, tas di tangan, menunggu.

Angin siang Karang Wilis bertiup pelan—lebih hangat dari pagi tadi.

"Mau ke mana, Dok?" suaranya

Nayla menoleh ke samping.

Raditya berdiri di sana. Kaos oblong hijau army dan celana loreng panjang melekat di tubuhnya nya Keringat tipis di pelipisnya. Sepertinya dia baru saja selesai dari mengerjakan sesuatu lalu melewati tenda medis. Raditya menatap Nayla dengan tatapan yang sudah Nayla hafal—datar.

Nayla tersenyum kecil. "oh, ini Pak. Saya harus ke ujung desa dulu".

"Ada warga yang terluka di sana. Sudah seminggu lebih tidak ditangani."

Raditya tidak langsung menjawab.

Tangannya bergerak, dia melirik jam tangan di pergelangan kirinya.

"11.40,"

Matanya kembali ke Nayla.

"Di sini sedang rawan Belum benar-benar aman dok."

Nayla mengernyit sebentar.

Ini kedua kalinya ia mendengar Raditya bicara panjang setelah di lapangan tadi pagi.

"Saya tahu, Pak. Tapi saya dokter. Tugas saya untuk mengobati."

"Dan saya yakin Bapak juga tahu—tugas Bapak salah satunya melindungi warga sipil, termasuk menjaga keselamatan saya."

Raditya menatapnya.

Nayla menatap balik—tidak mengalihkan pandangan.

Beberapa saat kemudian

"Ayo, Dok."

Suara Sari tiba-tiba terdengar dari dalam tenda

memecahkan keheningan itu

ia sedang menunduk, sibuk merapikan bajunya sebelum keluar.

Lalu saat ia mengangkat kepalanya, matanya membesar.

Di depannya berdiri sosok dengan postur tinggi dan besar. Kaos oblong hijau yang mencetak tubuhnya dengan jelas. Tatapan yang tidak terbaca.

Sari menciut satu langkah ke belakang tanpa sadar.

"Dok—" suaranya keluar kecil, hampir seperti bisikan. "—Dok."

Nayla menoleh ke belakang.

"Ah—oh." Nayla tersenyum, melangkah sedikit ke samping. "Sar, kenalin—ini Letnan Raditya. Pimpinan tim di sini."

Sari menelan ludah.

"Ha—halo, Pak," suaranya terdengar gugup, tangannya bergerak ke belakang—memegang baju bagian belakang Nayla.

Nayla merasakan tarikan itu

Ia menahan senyum.

"sama sar sama batinnya".

Raditya menatap Sari sedetik—tidak lebih, tidak kurang. Ia menghela napas.

"Ayo. Saya temani."

Ia melangkah ke depan tanpa menunggu jawaban seperti selalu.

Sari masih berdiri di tempatnya, tangannya masih menggenggam baju bagian belakang Nayla.

"Ayo, Sar," ucap Nayla pelan.

Sari melepaskan genggamannya pelan. Mengangguk. Lalu mereka melangkah berjalan mengikuti Raditya.

Suasana siang ini terasa lebih ramai dibanding hari pertama kemarin.

Beberapa warga terlihat di depan rumah. Mereka melirik sebentar ke arah rombongan kecil itu, beberapa warga ada yang menyapa, lalu kembali lagi ke urusan masing-masing.

Di depan, Raditya melangkah dengan ritme yang sama seperti selalu.

"Dok—" suara Sari memecah kebisuan.

"Kenapa "

"Letnan Raditya itu... selalu seperti itu ya?"

Nayla menoleh.

"Seperti apa?" tanya Nayla mengoda

"Ya..." Sari mencari kata yang tepat. "Dingin."

Nayla menggelengkan kepala.

"Ih, serem, Dok," Sari bergidik kecil. "Tadi waktu dia tiba-tiba berdiri di depan—saya kira kita mau diinterogasi, Dok."

Nayla tertawa kecil, lalu diam sesaat. Ia menatap punggung Raditya.

"Dia nggak segitunya kok, Sar.

Di balik sikapnya itu dia sebenarnya sosok pemimpin yang baik juga perhatian dia juga sosok pemimpin yang bertanggung jawab."

"Ha serius"

Nayla tidak menjawab ia masih menatap punggung Raditya, "iya"

"ciee ciee"

"apaan si ayok"

.

1
irsan
maap temen temen bab 10 ini memang sengaja aku buatnya pendek karena untuk pembagian adengan 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!