NovelToon NovelToon
My Love Never Left

My Love Never Left

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Zanesa

Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.

Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.

​Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.

​Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.

​Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.

​"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Hari itu dimulai seperti biasa bagi Aurora. Datang ke kampus, mengikuti kelas, bekerja di kafe, dan berusaha keras mengabaikan semua ucapan Sophia beberapa hari terakhir. Namun, ia tidak pernah menduga bahwa hari ini akan menjadi salah satu momen paling memalukan dalam hidupnya.

---

Sore harinya, pihak kampus mengadakan acara amal tahunan di sebuah ballroom mewah. Acara ini selalu dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak konglomerat dan keluarga ternama. Tentu saja, termasuk sang pewaris tunggal, Alexander Kingsley.

Aurora sebenarnya enggan untuk datang. Namun, Lily terus memaksanya tanpa ampun.

"Ayolah, Aurora. Sekali-kali ikut bergabung," bujuk Lily bersemangat.

"Aku nggak mau, Lily. Lagipula pakaianku biasa saja," tolak Aurora halus.

"Alexander juga datang, lho," bisik Lily sengaja memancing.

Aurora langsung terdiam, membuat Lily tersenyum kemenangan. "Nah, kan. Langsung berubah pikiran."

---

Satu jam kemudian, Aurora sudah berdiri di dalam *ballroom*. Gaun putih sederhana yang dikenakannya terlihat sangat kontras dibanding gaun-gaun mewah para tamu lainnya.

Meski begitu, di sudut ruangan lain, Alexander tetap tidak bisa mengalihkan pandangan sedikit pun dari Aurora. Ryan yang berdiri di sampingnya sampai menggelengkan kepala melihat tingkah sang sahabat.

"Bro," tegur Ryan menyenggol lengannya.

"Hm? Kenapa?" sahut Alexander tanpa menoleh.

"Kamu kelihatan jatuh cinta banget. Matamu nggak lepas dari dia," goda Ryan.

Alexander bahkan tidak berniat untuk menyangkal ucapan itu.

---

Saat Aurora sedang mengambil minuman di meja bufet, sesosok wanita anggun tiba-tiba menghampirinya. Sophia Laurent. Kehadirannya langsung memicu firasat buruk di benak Aurora.

"Hai, Aurora," sapa Sophia dengan senyum manis yang terkesan dipaksakan.

Aurora membalas dengan senyum sopan. "Halo, Sophia."

Sophia melirik gaun putih polos yang dikenakan Aurora dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis. "Gaunnya cantik."

"Terima kasih," jawab Aurora sedikit terkejut, walau hatinya tetap waspada.

---

Tak lama kemudian, pembawa acara naik ke atas panggung utama dan mengambil mikrofon.

"Selamat datang di acara amal tahunan Universitas New York!" seru sang pembawa acara disambut tepuk tangan meriah. "Malam ini akan ada sesi donasi, dan setiap tamu undangan bebas memberikan sumbangan terbaik mereka."

Aurora tidak terlalu memedulikan pengumuman itu, sampai akhirnya Sophia tiba-tiba berdiri dari kursinya dengan penuh percaya diri. Dengan anggun, Sophia berjalan ke depan dan mengambil mikrofon dari panitia.

"Aku ingin memulai malam ini dengan nominal yang pantas," ucap Sophia percaya diri sembari tersenyum ke arah hadirin. "Lima puluh ribu dolar."

Ruangan langsung riuh oleh decak kagum. Aurora membelalakkan matanya tak percaya. Lima puluh ribu dolar? Angka itu bahkan jauh lebih besar dari biaya kuliahnya selama beberapa tahun ke depan.

Di tengah riuhnya tepuk tangan, Sophia tiba-tiba melirik tajam ke arah Aurora. Suaranya lewat mikrofon terdengar begitu lantang menggema.

"Aurora, kamu juga ikut donasi, kan?" tanya Sophia dengan nada menuntut.

Deg.

Seluruh ruangan langsung hening seketika. Puluhan pasang mata kini beralih menatap lurus ke arah Aurora. Aurora membeku di tempatnya. Ia sadar, Sophia sengaja melakukan ini untuk menyudutkannya.

"Aku..." Aurora mencoba menguasai diri dan tersenyum tipis. "Aku akan memberikan donasi sesuai dengan kemampuanku."

Sophia mengangguk pelan, namun gurat ekspresinya terlihat sangat mengejek. "Tentu saja."

Kasak-kusuk mulai terdengar di antara para mahasiswa yang hadir. Bisikan-bisikan miring itu mampir begitu saja di telinga Aurora.

"Dia kan cuma mahasiswa beasiswa yang kerja part-time."

"Mana mungkin mampu menyumbang di acara sekilas ini."

"Kasihan banget, salah tempat kayaknya dia."

---

Wajah Aurora seketika memanas karena malu. Rasa ingin pergi dari tempat itu makin membuncah. Namun sebelum ia sempat melangkah mundur, Sophia kembali membuka suara.

"Kalau tidak salah, kamu itu bekerja sebagai pelayan di kafe, ya?" tanya Sophia dengan nada meremehkan.

Beberapa orang di sekitar ballroom mulai tertawa kecil. Aurora mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik gaun. Sophia benar-benar sedang mempermalukannya di depan semua orang, dan yang paling menyakitkan, tidak ada satu orang pun yang berniat menghentikannya.

---

Namun tiba-tiba, suasana tegang itu terpecah oleh suara langkah sepatu mahal yang menggema tegas di atas lantai ballroom. Seseorang bangkit berdiri dari kursi VIP. Semua orang menoleh dan seketika menahan napas saat menyadari sosok itu adalah Alexander Kingsley.

Wajah pria itu tampak luar biasa dingin. Sangat dingin. Aurora bahkan belum pernah melihat ekspresi sepekat itu di wajah Alexander sebelumnya.

Alexander berjalan ke arah Sophia, lalu merebut mikrofon dari tangan wanita itu dengan gerakan kasar. Ruangan langsung sunyi senyap, tidak ada yang berani bersuara karena tahu Alexander sedang dilingkupi amarah yang besar.

Pria itu mengedarkan pandangan tajamnya ke seluruh sudut ruangan, kemudian berbicara dengan suara berat yang penuh penekanan.

"Menurutku, malam ini adalah tentang niat tulus membantu orang lain," ujar Alexander tegas. "Bukan tempat untuk mempermalukan atau merendahkan seseorang."

Hening total. Tidak ada satu pun pelayat atau mahasiswa yang berani menyela.

Wajah Sophia langsung berubah pucat pasi. "Sander... maksudku bukan begitu—"

"Kalau tujuan donasi malam ini hanya untuk menunjukkan siapa yang paling kaya dan menindas yang lemah..." potong Alexander cepat tanpa membiarkan Sophia membela diri. "Maka acara ini sudah kehilangan maknanya."

---

Kemudian, Alexander membalikkan badannya dan menoleh ke arah Aurora. Dalam sekejap, tatapan matanya yang semula sedingin es langsung berubah menjadi sangat lembut—berbeda 180 derajat.

Di depan puluhan pasang mata yang menonton, Alexander berjalan menghampiri Aurora, lalu menggenggam erat tangan gadis itu yang sedang gemetaran.

"Aurora bekerja lebih keras dan lebih jujur daripada siapa pun yang aku kenal di ruangan ini," ucap Alexander lantang sambil menatap mata Aurora dalam-dalam. "Dan aku jauh lebih menghargai kerja keras itu daripada sekadar jumlah uang yang dimiliki seseorang."

Deg. Jantung Aurora berdegup begitu kencang mendengar pembelaan itu.

---

Seluruh isi ballroom terdiam membisu, sementara Sophia berdiri mematung di atas panggung dengan wajah yang memerah padam karena malu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Alexander mempermalukannya di depan publik demi membela seorang gadis biasa seperti Aurora.

Meskipun semua orang mengira badai telah berlalu, Sophia diam-diam mengepalkan tangannya erat-erat hingga kukunya memutih. Matanya berkaca-kaca menahan amarah yang membakar dada. Dalam hati, ia mulai menanam kebencian yang jauh lebih besar kepada Aurora.

Sebab, makin keras ia berusaha memisahkan mereka, makin kuat pula cara Alexander untuk melindungi gadis itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!