NovelToon NovelToon
Cinta Diusia Senja

Cinta Diusia Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Cintapertama
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: riena

"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19. Mulai curiga

Tepat setelah jarum jam dinding berdentang sebanyak delapan kali, menandakan pukul delapan lewat lima belas malam, keheningan di meja makan itu semakin terasa mencekam. Batas waktu lima belas menit yang disepakati Ameera telah habis, dan ponsel Imam masih tetap bungkam.

Rayhan menatap ibunya yang tampak semakin layu di kursinya. Rasa cemas sebagai seorang anak mengalahkan rasa sungkannya pada sang calon mertua.

"Meer, kita makan sekarang saja," ujar Rayhan tegas, nadanya tidak menerima bantahan lagi. "Ibu baru sembuh dari demam tinggi kemarin. Fisiknya masih lemas, tidak boleh telat makan malam seperti ini. Nanti penyakitnya bisa kambuh lagi."

Ameera melirik kursi kosong ayahnya dengan berat hati, lalu menatap Habibah yang menunduk dalam. Rasa egoisnya runtuh melihat kondisi calon ibu mertuanya. "Iya, Yang. Kamu benar. Tante Bibah... ayo kita makan sekarang. Maaf ya, Tante, gara-gara menunggu Papa, Tante jadi telat makan."

Habibah hanya bisa mengangguk pasrah. "Iya, tidak apa-apa, Meer. Mari kita makan."

Suasana makan malam yang seharusnya menjadi momen hangat penuh obrolan tentang persiapan pernikahan Oktober nanti, justru terasa hambar dan dingin. Hanya ada suara denting sendok yang beradu kaku dengan piring porselen.

Rayhan dengan telaten mengambilkan secentong nasi dan menyendukkan sisa sup ayam jahe semalam ke piring ibunya. "Ayo dihabiskan ya, Bu. Biar badannya hangat lagi."

"Terima kasih ya, Ray," cicit Habibah.

Setiap suapan yang masuk ke tenggorokan Habibah rasanya begitu hambar, persis seperti perasaannya saat ini. Jantungnya masih berdegup dengan irama yang tak beraturan. Matanya beberapa kali melirik ke arah pintu depan, telinganya dipasang tajam-tajam untuk menangkap suara deru mesin mobil yang sangat ia kenali.

Pikiran Habibah berkecamuk hebat. ‘Di mana Mas Imam sekarang? Apa dia kecelakaan? Atau... apa dia sengaja menjauh karena kejadian pagi tadi?’ Rasa cemas dan bersalah berbaur menjadi racun yang membuat lambungnya mendadak terasa mual. Nyaris saja ia meletakkan sendoknya karena tidak sanggup menelan makanan di bawah tekanan batin yang begitu hebat.

Di sisi lain meja, Ameera juga tidak berselera. Ia hanya mengaduk-aduk nasinya dengan malas, ponselnya diletakkan tepat di sebelah piring, berharap ada getaran atau lampu notifikasi yang menyala.

"Kamu juga makan yang banyak, Meer. Jangan melamun terus," tegur Rayhan lembut, mencoba mencairkan suasana seraya menambahkan sepotong lauk ke piring Ameera.

"Iya, Yang. Ini aku makan kok," jawab Ameera dengan senyum yang dipaksakan.

Setelah hampir dua puluh menit berlalu dalam ketegangan yang terbungkus rapi, mereka akhirnya menyelesaikan makan malam yang terasa amat panjang itu.

Habibah segera bangkit, berniat membereskan piring-piring kotor demi mengalihkan pikirannya yang mulai liar. "Biar Ibu saja yang cuci piringnya..."

"Eh, jangan, Tante!" sergah Ameera cepat, langsung menahan tangan Habibah. "Tante Bibah kan masih lemas, baru selesai makan juga. Biar Ameera saja sama Rayhan yang bereskan dapur. Tante langsung masuk kamar saja untuk istirahat dan minum obat malam."

Rayhan ikut berdiri dan mengusap bahu ibunya. "Iya, Bu. Masuk kamar ya. Istirahat yang cukup."

Habibah menatap kedua anak muda di hadapannya. Tatapan mata mereka yang begitu tulus dan penuh penghormatan seketika membuat dada Habibah seperti dihantam batu besar. Rasa bersalah kembali merayap, membakar nuraninya. ‘Anak-anak ini begitu baik, begitu suci mempersiapkan masa depan mereka... tapi apa yang aku dan Mas Imam lakukan pagi tadi?’

"Ya sudah... Ibu masuk kamar dulu ya. Terima kasih, Meer, Rayhan," ujar Habibah dengan suara yang agak bergetar.

Habibah melangkah dengan lutut yang terasa lemas menuju kamarnya di sebelah kanan. Begitu pintu ditutup dan dikunci, ia menyandarkan tubuhnya pada daun pintu, memejamkan mata rapat-rapat dalam kegelapan. Di dalam kesunyian kamar itu, Habibah kembali terjebak dalam penantian yang menyiksa, menunggu kepulangan seorang pria yang beberapa jam lalu nyaris membuatnya melanggar sumpah masa lalunya.

*

*

Klek. Cklek.

Suara kunci pintu depan diputar dari luar seketika memecah keheningan rumah. Ameera yang baru saja mengelap tangannya dengan kain serbet langsung menoleh cepat ke arah ruang tamu. Rayhan pun menghentikan kegiatannya menata gelas di rak pengering.

Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok Imam yang melangkah masuk.

Kemeja batik yang dipakainya sejak pagi tampak sedikit kusut, ikat pinggangnya agak longgar, dan wajahnya menyiratkan kelelahan yang amat sangat. Namun, ada yang berbeda dari sorot matanya. Ketegangan gila yang menguasai dirinya tadi pagi kini telah surut, digantikan oleh ketenangan yang dingin. Sisa dari beberapa jam yang ia habiskan bersujud di lantai masjid.

"Papa!" Ameera langsung berlari kecil menghampiri ayahnya, gurat cemas di wajahnya seketika luruh digantikan rasa lega, meski nadanya tetap menuntut penjelasan. "Papa dari mana saja sih? Ditelepon belasan kali nggak diangkat, WhatsApp juga nggak dibaca. Aku sama Rayhan sampai bingung mau cari Papa ke mana!"

Imam memaksakan segaris senyum kebapakan yang tampak sangat natural, seolah tidak terjadi badai apa pun di dalam dirinya hari ini. Ia mengusap rambut Ameera dengan lembut.

"Maaf ya, Meer, Ray. Papa tadi setelah urusan kantor selesai, mampir ke masjid di daerah pusat. Papa salat Magrib sekalian lanjut Isya berjamaah di sana karena jalanan macet total. Ponsel Papa taruh di dalam tas kerja dan di-silent, jadi Papa beneran tidak tahu kalau kalian menelepon," bohong Imam dengan nada suara yang begitu stabil dan berwibawa.

Rayhan berjalan mendekat dari arah dapur, mengangguk hormat. "Oh, pantesan, Om. Memang kalau senin malam begini jalur protokol macetnya parah sekali. Syukurlah kalau Om Imam sudah sampai rumah dengan selamat. Kami tadi baru saja selesai makan malam dan selesai cuci piring."

Imam melirik ke arah meja makan yang sudah bersih dan rapi. "Iya, tidak apa-apa. Memang seharusnya kalian makan duluan, jangan menunggu Papa." Netranya secara refleks menyapu ke arah pintu kamar sebelah kanan. Pintu itu tertutup rapat, tak ada tanda-tanda kehidupan dari sana. "Ibumu... sudah tidur, Ray?"

"Sudah masuk kamar baru saja, Om. Tadi langsung kami suruh istirahat setelah makan supaya bisa minum obat malam," jawab Rayhan jujur.

Mendengar itu, ada secercah rasa lega sekaligus denyut perih yang samar di dada Imam. Baguslah kalau Habibah sedang beristirahat dan tidak perlu berhadapan langsung dengannya malam ini. Mereka berdua memang membutuhkan jarak untuk menata kembali puing-puing kewarasan yang nyaris hancur tadi pagi.

"Ya sudah, Papa juga mau langsung bersihkan badan dan istirahat. Badan Papa rasanya kaku semua," ujar Imam sambil mengangkat tas kerjanya. "Kalian berdua juga jangan tidur terlalu larut."

"Iya, Pa," sahut Ameera.

*

*

Sementara itu, di dalam kamar sebelah kanan yang gelap, Habibah sebenarnya sama sekali belum tidur. Sejak mendengar suara mobil Imam memasuki halaman hingga percakapan pria itu dengan anak-anak di ruang tengah, Habibah berdiri mematung di balik pintu kamarnya, mendengarkan setiap bait kata yang diucapkan Imam dengan dada yang bergemuruh.

Mendengar alasan Imam yang bertahan di masjid dari Maghrib sampai Isya, setetes air mata Habibah kembali jatuh.

Sebagai wanita yang mengenal Imam sejak masa muda, ia tahu betul... masjid adalah tempat pelarian Imam setiap kali pria itu sedang memikul beban batin yang teramat berat atau sedang mengutuk kekhilafannya sendiri. Imam sengaja menyucikan diri ke rumah Tuhan demi membunuh sisa-sisa keegoisan mereka tadi pagi.

Habibah menyentuh dadanya yang terasa ngilu sekaligus lega. Sambil meraba dinding kamar yang dingin, ia membatin, “Terima kasih, Mas... terima kasih karena sudah mengembalikan kewarasan kita.”

Ketika terdengar langkah kaki Imam berjalan menuju kamar sebelah kiri dan suara pintu kamarnya tertutup, Habibah akhirnya melangkah mundur menuju ranjangnya.

*

*

Matahari pagi kembali terbit, memancarkan sinarnya menembus ventilasi udara rumah kontrakan. Namun, kehangatan pagi itu sama sekali tidak mampu mencairkan hawa dingin dan kaku yang mendadak menyelimuti area dapur dan meja makan.

Habibah sudah bangun sejak sebelum subuh. Kondisi fisiknya sudah jauh lebih baik, sehingga ia memaksakan diri untuk menggoreng nasi dan membuat telur dadar demi menyibukkan diri. Ia tidak ingin pikirannya kembali melayang.

Tak lama kemudian, pintu kamar sebelah kiri terbuka. Imam keluar dengan kemeja kerja yang sudah rapi, membawa botol air minumnya yang kosong untuk diisi ulang di dispenser dekat dapur.

Deg.

Begitu Habibah membalikkan badan untuk menaruh piring nasi goreng ke atas meja, netranya langsung beradu dengan tatapan mata Imam. Sontak, gerakan tangan Habibah membeku di udara. Napasnya tercekat, dan sejumput guratan merah langsung menjalar di leher hingga pipinya yang mulai berkerut halus.

Imam pun tak kalah terkejut. Langkah kakinya mendadak kaku tepat di samping dispenser. Ingatan tentang bagaimana ia menangkup tangan wanita itu dan seberapa dekat jarak wajah mereka kemarin pagi seketika berputar liar di kepalanya. Imam berdehem kaku, buru-buru membuang muka ke arah galon air.

"P-pagi, Bah," sapa Imam, suaranya terdengar sangat canggung dan tidak natural.

"Pagi, Mas... eh, Pak Imam," jawab Habibah terbata-bata, lidahnya kelu hingga salah menyebut panggilan. Ia buru-buru membalikkan badannya kembali menghadap kompor, membelakangi Imam dengan dada yang bergemuruh hebat.

Suasana kaku itu terus bertahan hingga mereka semua berkumpul di meja makan. Ameera duduk di sebelah ayahnya, sementara Rayhan duduk di samping Habibah.

*

*

Rayhan, yang sejak kecil terkenal sangat peka terhadap perubahan sekecil apa pun pada ibunya, mulai menyadari ada yang tidak beres.

Ia memperhatikan bagaimana ibunya berulang kali salah tingkah. Saat Imam meminta tolong diambilkan mangkuk sambal yang berada di dekat tangan Habibah, Habibah justru menyenggol sendok garpu hingga berdenting nyaring karena tangannya gemetar.

"Eh, maaf, maaf..." ujar Habibah panik, buru-buru memungut sendok yang jatuh tanpa berani menatap mata Imam.

Imam sendiri tampak tidak fokus. Pria paruh baya yang biasanya selalu tenang dan lahap saat sarapan itu kini hanya mengaduk-aduk nasi gorengnya dengan pandangan kosong. Bahkan saat Ameera mengajaknya mengobrol tentang jadwal pertemuan dengan vendor dekorasi nanti malam, Imam hanya menjawab dengan gumaman pendek.

Rayhan meletakkan sendoknya perlahan. Matanya bergantian menatap ibunya, lalu beralih menatap Imam yang duduk di seberangnya. Ada sebuah keanehan yang tertangkap oleh radar nalurinya. Ini bukan sekadar kecanggungan biasa antara dua calon besan yang belum akrab. Ini adalah jenis kecanggungan yang sarat akan ketegangan, seperti ada sebuah rahasia besar yang sedang mati-matian mereka sembunyikan dari anak-anak.

*Kenapa Ibu sampai salah tingkah begitu? Dan kenapa Om Imam kelihatan tidak tenang sejak keluar kamar tadi?* batin Rayhan bertanya-tanya, dahinya berkerut samar.

Rayhan teringat kembali kejadian dua hari lalu saat ibunya mendadak tumbang, lalu ingatan itu berlanjut pada momen kemarin pagi saat Imam memilih menunda ke kantor demi menjaga ibunya yang lemas. Kepingan-kepingan kejadian itu mulai berputar di kepala Rayhan, menciptakan sebuah kecurigaan baru yang belum berani ia suarakan.

"Ibu..." panggil Rayhan memecah keheningan, suaranya terdengar menyelidik. "Ibu beneran sudah sehat kan? Kok tangan Ibu masih kelihatan gemetar begitu waktu pegang sendok?"

Deg.

Pertanyaan Rayhan yang tiba-tiba itu seketika membuat Habibah dan Imam sama-sama tersentak di kursi masing-masing.

*****

1
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Safitri Agus
terimakasih kak Riena updatenya 🙏🥰🥰🥰
Afternoon Honey
tetap menyimak dan membaca cerita bersambung ini..m
Indriyani_ Indry
Alhamdulillah novel ini ada update nya ... terimakasih kk😍😍😍
Safitri Agus
TRIms kak Riena updatenya 🙏🥰
Safitri Agus
rumit ya,🤦
Safitri Agus
😭😭😭
Safitri Agus
TRIms kak Riena 🙏🥰
Safitri Agus
ujian sebelum pernikahan, mereka pasti dilema....
Safitri Agus
terimakasih kak Riena sudah update 🙏🥰
Fitria Rastanti
gx lanjut kak riee ceritanya
Safitri Agus: lanjut dong kak biar tau endingnya 😊
total 3 replies
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
dari kmrn blm ada bab yg br ka ... libur yah ka?
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Mmh dew
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Indriyani_ Indry
sy sukaaa semua novel karya author ini ... novelnya kereeennn dan berkls ...
Safitri Agus
seandainya kalian mengetahui apa yg sedang terjadi dan tentang masalalu mereka.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!