Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."
Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Kepedulian yang Terlarang
BAB 21: Kepedulian yang Terlarang
Suasana di dalam ruang kerja CEO mendadak berubah drastis setelah tirai otomatis diturunkan, menutup pandangan kepo dari Rania dan seluruh karyawan di luar kaca transparan. Di atas sofa kulit hitam yang panjang, Luna Maharani terbaring lemah dengan mata terpejam rapat. Sisa-sisa air mata yang mengering masih berbekas di sudut mata bulatnya yang biasa memancarkan kedukaan mendalam. Bedak tebal yang dipakainya sejak pagi kini luntur, menampakkan wajah asli Luna yang seputih kapas dan dipenuhi bulir-bulir keringat dingin.
Devano berdiri mematung di samping sofa, menatap tubuh ringkih yang tampak begitu kecil di atas sofa mewahnya. Napas Luna terdengar pendek-pendek dan berat, menyiratkan betapa tersiksanya tubuh itu menahan demam yang membakar.
Dengan tangan yang sedikit canggung, Devano merogoh saku jasnya, mengeluarkan sapu tangan kain sutra mahal miliknya. Dia melangkah ke kamar mandi pribadi di dalam ruangannya, membasahi kain itu dengan air dingin, lalu kembali untuk meletakkannya di atas kening Luna yang panas membara. Saat tangannya tidak sengaja menyentuh kulit pelipis Luna, rasa panas yang menyengat kembali mengusik nurani Devano.
Mata elang sang CEO beralih menatap pergelangan tangan Luna yang tergeletak di atas sofa. Di sana, kulit kuning langsat yang mulus itu tampak memar keunguan—bekas cengkeraman kasarnya kemarin siang. Dada Devano mendadak terasa sesak oleh sebuah rasa bersalah yang teramat asing dan tidak menyenangkan.
Tok... Tok... Tok...
Dokter pribadi perusahaan masuk dengan terburu-buru setelah dipanggil Devano dengan nada membentak lewat interkom tadi. Pria paruh baya itu langsung memeriksa kondisi Luna, mengukur suhu tubuh, dan memeriksa denyut nadinya.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Devano, suaranya terdengar ketus namun ada nada panik yang tertahan di sana.
Dokter itu menghela napas panjang, menatap Devano dengan pandangan serius. "Pasien mengalami demam tinggi, Tuan Devano. Suhunya mencapai 39,5°C. Selain karena kehujanan kemarin, fisiknya sangat lemah akibat kelelahan parah dan stres berat yang membuat nafsu makannya hilang. Asupan gizinya sangat buruk akhir-akhir ini. Saya akan memberikan suntikan penurun panas dan resep obat yang harus diminum setelah dia sadar."
Setelah dokter pergi, pintu ruangan kembali diketuk. Rania masuk membawa segelas air hangat dan tebusan obat dari apotek kantor. Matanya melirik sinis ke arah Luna yang masih pingsan, lalu mencoba memanas-manasi bosnya.
"Tuan Devano, Anda jangan mau ditipu oleh perempuan ini," bisik Rania dengan nada memprovokasi yang kentara. "Kemarin saya dengar dari anak-anak bawah, dia sengaja hujan-hujanan di kuburan supaya sakit dan bisa cari perhatian ke Pak Dika. Sekarang dia pakai trik yang sama di depan Anda agar dikasihani."
Brak!
Devano menggebrak meja kerja di sampingnya, membuat Rania tersentak kaget hingga gelas di tangannya bergetar. Mata elang Devano berkilat sangat tajam, memancarkan amarah murni yang sanggup menciutkan nyali siapa saja.
"Keluar!" bentak Devano dengan suara baritonnya yang menggelegar. "Siapa yang memberi Anda hak untuk menilai asisten pribadi saya, Rania?! Letakkan obat itu dan keluar dari ruangan saya sekarang juga sebelum saya menandatangani surat pemecatan Anda!"
Wajah Rania seketika pucat pasi. Tanpa berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi, dia meletakkan gelas dan obat di meja dengan tangan gemetar, lalu terburu-buru keluar dari ruangan dengan rasa dongkol dan malu yang luar biasa.
Keheningan kembali melingkupi ruangan. Setelah hampir satu jam berlalu, perlahan-lahan kelopak mata Luna bergerak. Dia melenguh lirih, merasakan kepalanya yang luar biasa pening seakan mau pecah. Hal pertama yang tertangkap oleh pandangan matanya yang kabur adalah langit-langit mewah ruang kerja Devano.
Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, Luna tersentak kaget saat mendapati Devano sedang berdiri di ujung sofa, menatapnya dengan wajah sedingin es tanpa ekspresi.
"T-Tuan Devano..." cicit Luna ketakutan. Suaranya yang serak nyaris tak terdengar. Dengan tubuh yang masih limbung dan gemetar, dia memaksakan diri untuk langsung bangun dan duduk, meskipun kepalanya terasa berputar hebat. "Maafkan saya... saya malah pingsan di waktu kerja. Saya akan segera melanjutkan membaca laporan tadi..."
"Diam dan duduk saja," potong Devano dingin, menahan bahu Luna agar tidak nekat berdiri.
Drrt... Drrt... Drrt...
Ponsel Luna yang tergeletak di atas meja kerja mendadak bergetar hebat. Layarnya menampilkan nama 'Kak Siska'. Sebelum Luna sempat meraihnya, Devano sudah lebih dulu mengambil ponsel tersebut. Dengan sengaja, Devano menekan tombol terima dan mengaktifkan mode loudspeaker di hadapan Luna.
"Luna! Kamu itu benar-benar tidak berguna ya?!" makian Siska langsung terdengar melengking keras dari seberang telepon tanpa memedulikan kondisi adiknya. "Teman Kakak bilang kamu pingsan di kantor?! Jangan pura-pura sakit untuk menghindari pekerjaan ya, Luna! Ibu di rumah tadi sempat sesak napas lagi karena stres memikirkan utang Ayah! Sekarang juga, kamu temui Mas Devano, minta uang muka gaji untuk biaya berobat Ibu dan uang saku Kakak bulan ini! Cepat lakukan, jangan jadi anak egois!"
Tut. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Siska.
Ruangan itu kembali sunyi, meninggalkan rasa perih yang teramat sangat di dalam dada Luna. Air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya luruh kembali dalam diam, membasahi pipi tirusnya yang pucat. Di hadapan pria yang telah mengambil kesuciannya, seluruh kebusukan dan kehinaan keluarganya dikuliti habis tanpa sisa. Luna merasa dirinya sudah tidak memiliki harga diri lagi walau hanya secuil di depan Devano. Dia merasa seperti barang rongsokan yang sedang diperas oleh keluarganya sendiri.
Devano menatap air mata Luna yang jatuh dalam keheningan. Sudut hatinya kembali berdenyut aneh melihat kepasrahan gadis di depannya ini. Pria itu merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah buku cek, lalu menuliskan nominal angka yang sangat besar di atasnya dengan guratan pena emas yang tegas.
Sret.
Devano merobek lembaran cek tersebut, lalu melemparkannya hingga mendarat tepat di atas pangkuan rok hitam milik Luna.
Luna menatap lembaran kertas berharga itu dengan pandangan kabur oleh air mata, lalu mendongak menatap Devano dengan penuh kebingungan.
"Tuan... ini..."
Devano melangkah maju, membungkukkan tubuh tegapnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Tangan kirinya bergerak maju, mencengkeram dagu Luna dengan kekuatan yang pas—tidak terlalu keras namun mengunci pergerakan gadis itu agar menatap lurus ke dalam mata elangnya yang kelam.
"Itu uang untuk pengobatan ibumu dan uang saku kakakmu yang serakah," desis Devano dengan suara bariton yang teramat rendah, dingin, namun sarat akan kepemilikan mutlak. "Dan sebagai gantinya... mulai malam ini, kamu tidak usah pulang lagi ke rumah neraka yang diisi oleh orang-orang egois itu. Kamu akan tinggal di apartemen pribadiku, menjadi asisten pribadiku selama dua puluh empat jam penuh tanpa pengecualian."
Luna terbelalak syok, jantungnya bertalu-talu dengan kencang di dalam rongga dadanya. "T-Tuan Devano, tapi saya—"
"Tidak ada bantahan, Luna Maharani," potong Devano kejam, ibu jarinya mengusap bibir bawah Luna yang bergetar dengan gerakan yang posesif. "Kamu sendiri yang bilang bahwa kamu berada di sini sebagai jaminan utang keluargamu, kan? Jika kamu ingin uang itu cair untuk menyelamatkan ibumu, maka jadilah milikku sepenuhnya di tempatku. Jangan biarkan pria lain—termasuk Dika—menyentuh apa yang sudah menjadi hak milikku."