Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rasa tak percaya mengandung suka
Shintia menatap Raffa sekilas dengan alis terangkat, masih mencoba mengerti apa yang baru saja terjadi.
“Raffa… Kamu ini… Kamu tuh siapa sih?” tanyanya lagi, suaranya setengah marah, setengah penasaran.
Raffa menoleh ke arahnya, senyum tipis muncul di bibirnya. “Aku cuma penggemar kamu… serius.”
Shintia mengerutkan dahi. “Jujur, aku masih bingung, dan… sekarang kita pergi bareng? Apa kamu gak salah?”
“Tenang, aku gak niat jahat kok,” jawab Raffa santai, matanya tetap menatap jalan. “Dan sumpah aku gak kenal kamu sebelumnya…”
Shintia menatapnya tajam. “Kamu kemarin kan yang muncul di kampusku, dan kamu kan yang kasih info anak magang ke dosenku?”
Raffa menghela napas panjang, menepuk setir sebentar dengan santai sebelum kembali menatap Shintia. “Aku memang gak kenal kamu sebelumnya, Shintia. Tapi saat dosen cerita tentang kamu bahwa kamu cerdas, mandiri, dan… cantik pecicilan aku mendadak suka. Emang aku gak boleh suka sama kamu?”
Shintia langsung menepuk dahinya dengan tangan. “RAFFA! Kamu tu mabuk kali ya…”
Raffa tertawa kecil, senyumnya semakin lebar. “Mabuk karena kamu, paham kan?”
Shintia menoleh ke jendela, pipinya panas. “Duh, ya ampun…”
Sementara itu, mobil hitam melaju di jalan pantai yang sepi, deburan ombak terdengar samar dari kejauhan, namun konsentrasi Shintia masih terpecah antara rasa bingung dan kesal pada Raffa. Ia terus memikirkan bagaimana pria ini bisa muncul begitu saja di hampir semua situasi pentingnya, saat ia mendorong motor, saat kehabisan bensin, dan kini tiba-tiba mengaku sebagai pacarnya. Belum lagi, kepercayaannya terhadap Raffa dari keluarganya membuat Shintia semakin cemas.
Tak lama kemudian, ponsel Raffa berdering, membuat Shintia menoleh. Nama asistennya terpampang di layar. Raffa sedikit gugup, tapi ia cepat menenangkan diri. Ia memakai headphone dan mengangkat telepon sambil tetap menjaga senyum tenangnya di depan Shintia.
Shintia menatap sekilas tapi segera menoleh lagi ke jendela. Ia masih bingung dengan pria ini, namun ada rasa penasaran yang tak bisa ia bendung.
Di sisi lain, Raffa sedikit menegaskan nada suaranya ketika mendengar asistennya berbicara. Ada suara tegang di dalamnya karena Sella pegawai yang selalu mencoba mendekatinya lagi-lagi mencarinya. Raffa menahan emosi sebentar, memastikan Shintia tidak tahu apa pun tentang urusan itu.
Tak hanya itu, asistennya juga memberitahu bahwa ibunya menanyakan soal jodohnya. Raffa menghela napas panjang. Ia tak mau membahas identitasnya sebagai direktur di hadapan Shintia. “Katakan saja aku akan segera datang ke rumah Sanjaya, ya,” ucapnya dengan tenang namun hati-hati.
Asistennya mengerti dan mengiyakan, dan Raffa segera menutup telepon. Ia menatap Shintia lagi. “Kelihatannya penting banget,” gumamnya pelan.
Shintia, yang masih setengah bingung dan setengah kesal, hanya bisa mengangkat bahu. “Oh, enggak… Biasa teman. Katanya boss minta aku datang nanti sore,” jawabnya polos, mencoba terdengar biasa saja.
Raffa menatapnya diam sebentar, menikmati cara gadis itu berbicara natural dan tanpa pura-pura. Ia tersenyum tipis. “Kamu memang unik, Shintia. Bener-bener beda dari yang lain,” ucapnya sambil tetap fokus menyetir.
Shintia menatapnya sekilas. “Raffa… unik itu istilah buat orang baik atau jahat nih?”
“Untuk sekarang, baik… tapi hati-hati, nanti bisa berubah jadi jahat kalau kamu terus bikin aku penasaran,” jawab Raffa sambil menyeringai nakal.
Shintia hanya bisa mendengus, memalingkan wajahnya ke jendela lagi. Ia merasa hatinya berdebar tanpa alasan jelas. Di satu sisi, ia kesal dengan kepercayaan diri Raffa yang kelewat batas. Di sisi lain, rasa penasaran dan geli membuatnya sulit mengabaikan pria ini sepenuhnya.
Mobil terus melaju, suara ombak semakin jelas terdengar. Raffa menyalakan musik ringan, tapi volume tidak terlalu keras, membuat perjalanan terasa nyaman. Sesekali, Raffa melemparkan pandangan nakal ke arah Shintia, sementara gadis itu tetap diam, memainkan ujung tasnya, sesekali menatap Raffa dengan campuran emosi, kesal, penasaran, dan sedikit kagum.
“Jadi, Shintia,” ucap Raffa tiba-tiba setelah beberapa menit hening, “kalau aku tanya… kamu sering pergi berdua dengan laki-laki?”
Shintia tersentak, menoleh dengan alis terangkat. “Ehm… enggak. Aku… biasanya pergi sendiri atau sama teman cewek.”
Raffa mengangguk, tersenyum tipis. “Ya, makanya aku bilang, ini spesial. Kamu lagi berdua sama aku.”
Shintia mendengus, menoleh ke jendela lagi, tapi pipinya memerah. “Raffa, kamu tuh ngeselin ya… tapi kenapa aku jadi nggak bisa marah beneran?”
Raffa tertawa pelan. “Itu tandanya kamu mulai nyaman, sayang.”
Shintia mengerutkan dahi. “Sayang?! Eh, Raffa… jangan sembarangan.”
“Tapi kamu kan pacarku, jadi aku bebas.” Raffa tersenyum jahil.
Shintia menatapnya tajam, tapi hatinya berdebar lebih cepat. Ia merasa aneh, campur aduk antara kesal dan senang. Ia masih belum bisa mempercayai kenyataan bahwa seorang pria yang benar-benar asing bisa masuk begitu cepat ke dalam hidupnya, bahkan sampai keluarganya mempercayainya begitu saja.
Raffa memperhatikan setiap reaksi Shintia. Senyumnya tipis, tapi matanya berbinar. Ia menikmati momen ini, perjalanan santai, obrolan ringan, dan cara gadis itu bereaksi terhadap setiap kata-katanya. Ia merasa hidupnya lebih ringan sejak bertemu Shintia.
Sesampainya di gerbang pantai, Raffa menepikan mobil. Deburan ombak terdengar jelas sekarang, angin pantai mengibaskan rambut Shintia. Ia terdiam, kagum sekaligus canggung.
“Ini pantai favoritku,” ucap Raffa sambil mematikan mesin mobil. “Santai aja, kita bisa jalan-jalan sebentar, beli baju renang kalau mau, dan makan es kelapa muda di tepi laut.”
Shintia masih diam, memandangi laut. “Aku… aku gak pernah pergi bareng laki-laki sebelumnya,” gumamnya pelan, setengah malu.
Raffa tersenyum, menatapnya penuh arti. “Ya, makanya ini spesial. Dan jangan khawatir, aku gak akan bikin kamu nggak nyaman.”
Shintia menatap Raffa sebentar, lalu perlahan tersenyum tipis. “Hm… tapi kalau kamu ngeselin, aku gak segan buat ngamuk.”
“Siap,” jawab Raffa singkat, matanya berbinar nakal. “Tapi kalau kamu ngamuk, aku malah senang. Itu tandanya kamu peduli.”
Shintia mendengus lagi, tapi senyumnya makin terlihat. Ia merasa perasaan aneh mulai tumbuh antara kesal, penasaran, dan… mungkin sedikit suka.
Raffa membuka pintu mobil untuk Shintia, sambil tetap menjaga jarak sopan. Gadis itu turun dengan hati-hati, masih canggung tapi perlahan mulai menyesuaikan diri dengan suasana. Angin pantai membuatnya merasa segar, sekaligus membuat hatinya berdebar setiap kali mata mereka bertemu.
“Jadi… mau jalan ke mana dulu?” tanya Shintia, masih mencoba terdengar tenang.
“Ke toko baju dulu..."
"...eh, tidak usah ke toko baju, aku gak mau renang kok," sahut Shintia cepat.
Raffa tertawa pelan, sambil menatap laut lepas. “Oke. kalau begitu kita jalan aja di tepi pantai, ayok."
Shintia menurut, ia berjalan mengikuti...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄