NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 Rumah yang Hangat

Malam itu rumah kecil Ana terasa jauh lebih ramai dari biasanya.

Ajeng benar-benar jadi menginap.

Dan entah kenapa, sejak gadis itu datang, suasana rumah yang biasanya tenang berubah seperti kapal pecah.

Saat ini Ana sedang berada di dapur sambil memasak makan malam. Aroma sup kimchi dan ayam kecap memenuhi ruangan kecil itu.

Sementara Ajeng duduk di kursi dapur sambil memperhatikan Ana tanpa berhenti bicara sejak tadi.

“Kak…”

“Hm?” jawab Ana sambil memotong daun bawang.

“Aku masih nggak nyangka Kakak hidup.”

Tangan Ana berhenti sesaat sebelum kembali bergerak pelan.

Ajeng menatap punggung wanita itu lama.

“Kita semua pikir Kakak udah nggak ada…” suara gadis itu mulai mengecil.

Ana tersenyum tipis tanpa menoleh.

“Aku juga nggak nyangka masih hidup.”

Kalimat itu membuat dada Ajeng terasa sesak.

Matanya mulai memanas melihat bekas samar luka di tangan Ana yang terlihat saat lengan cardigan wanita itu sedikit tersingkap.

“Kak…”

Ana menoleh pelan.

Ajeng menggigit bibirnya sendiri sebelum akhirnya berkata lirih,

“Maafin aku ya…”

Suasana dapur langsung terasa sunyi.

Ajeng menunduk dalam.

“Aku jahat banget dulu…”

Ana diam mendengarkan.

“Aku egois…” lanjut Ajeng sambil menahan tangis. “Aku takut Ayah lebih sayang Kakak daripada aku.”

Air mata mulai jatuh di pipi gadis itu.

“Aku juga takut semua orang ninggalin aku…”

Ana perlahan meletakkan pisau dapur lalu berjalan mendekat.

Ajeng makin menangis.

“Padahal Kakak baik banget sama aku…”

“Kakak selalu jagain aku…”

“Dan aku malah…” suaranya pecah.

Ana langsung memeluk adiknya pelan.

“Udah…” bisiknya lembut.

Ajeng langsung menangis di pelukan Ana seperti anak kecil.

“Aku minta maaf…”

“Aku minta maaf karena nggak pernah bela Kakak…”

Ana memejamkan mata perlahan sambil mengusap rambut Ajeng.

“Aku nggak pernah benci kamu, Jeng.”

Kalimat sederhana itu justru membuat Ajeng menangis semakin keras.

Karena selama bertahun-tahun… ia selalu takut Kakaknya membencinya.

Dan malam itu untuk pertama kalinya setelah lima belas tahun, dua saudara yang sama-sama terluka akhirnya benar-benar bicara dari hati ke hati.

Tak lama kemudian suasana haru itu langsung hancur saat terdengar suara Sabine dari ruang tamu.

“MIMAAAA! ABANG NYEMBUNYIIN ES KRIM AKU!”

“Heh itu punya Abang!” balas Dylan tidak kalah keras.

Ajeng langsung menghapus air matanya sambil melotot bingung.

“Mereka tiap hari begini?”

Ana hanya tertawa kecil sambil mengangguk pasrah.

“Capek ya jadi Mima?” tanya Ajeng polos.

Ana menatap ke arah ruang tamu dengan senyum lembut yang jarang sekali terlihat di masa lalunya.

“Enggak.”

“Justru mereka alasan aku masih bertahan sampai sekarang.”

Ajeng langsung diam menatap Kakaknya.

Untuk pertama kalinya ia melihat Dariela Atlanna Zavira Raespati benar-benar terlihat hidup.

Bukan Ela sang putri es yang dingin dan kosong seperti dulu.

Melainkan Ana… wanita hangat yang tersenyum tulus karena keluarganya sendiri.

Keesokan paginya rumah kecil itu kembali ramai.

Ana sedang menyiapkan sarapan di dapur saat Dylan dan Sabine sudah ribut sejak pagi.

“Bine! Itu telur Abang!”

“Kan aku cuma ambil satu!”

“Satu apanya itu setengah piring!”

Ajeng yang baru bangun langsung melongo melihat keributan mereka.

“Pagi-pagi udah perang dunia aja…” gumamnya sambil duduk di meja makan.

Sabine langsung menunjuk Dylan kesal.

“Abang pelit!”

“Biarin!”

Ana yang sedang menuang sup cuma menggeleng geli.

“Udah diem dua-duanya.”

Namun lima detik kemudian mereka ribut lagi gara-gara rebutan susu cokelat.

Ajeng yang melihat itu malah tertawa sampai sakit perut.

“Ya ampun…”

“Berisik banget…”

Dylan langsung menunjuk Sabine.

“Yang berisik dia!”

“Abang juga!”

“Hush!” Ana akhirnya memukul pelan kepala keduanya pakai sendok kayu.

Dan ajaibnya… rumah itu justru terasa hangat dengan keributan kecil tersebut.

Ajeng diam-diam memperhatikan Ana yang tersenyum sambil memarahi Dylan dan Sabine.

Wanita yang dulu selalu terlihat datar dan dingin itu sekarang tertawa kecil hampir setiap menit.

Matanya juga tidak lagi kosong.

Ada kehidupan di sana.

Ada kebahagiaan yang dulu tidak pernah Ajeng lihat saat mereka masih tinggal serumah.

Dan entah kenapa…

Melihat Kakaknya seperti ini membuat dada Ajeng terasa hangat sekaligus sesak bersamaan.

Karena sekarang ia sadar satu hal.

Bukan keluarga Raespati yang menyelamatkan Dariela Atlanna Zavira Raespati.

Melainkan Dylan dan Sabine.

Dua anak itu… berhasil menghidupkan kembali hati Kakaknya yang dulu pernah hancur sepenuhnya.

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!