NovelToon NovelToon
Di Jodohin Sama Santri

Di Jodohin Sama Santri

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / Romansa
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Celina adalah ratu clubbing yang hidupnya cuma soal hura-hura, alkohol, dan gonta-ganti cowok sesuka hati. Baginya, pakaian seksi adalah seragam wajib untuk menaklukkan malam. Dia nggak butuh aturan, apalagi komitmen.

Muak melihat kelakuan Celina yang makin liar, sang Mama akhirnya memberikan ultimatum keras: Menikah dengan seorang santri pilihan Mama, atau angkat kaki dari rumah tanpa sepeser pun uang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Setelah Raka dan Reno pamit, Celina merasa badannya jauh lebih segar. Mungkin karena beban pikiran soal hamil karena tespeck eror itu sudah hilang, nafsu "nakal" Jakarta-nya tiba-tiba muncul lagi. Dia masuk ke kamar Ndalem, mengunci pintu, dan langsung menuju koper besarnya yang tersimpan di pojok lemari.

Di dasar koper itu, ada sebuah kotak rahasia. Celina membukanya dan mengeluarkan beberapa set lingerie yang sengaja dia bawa dari Jakarta, tapi belum pernah sekalipun dia pakai di pesantren ini.

Dia memilih satu yang paling ekhem yawww. Bahannya full brukat Maroon transparan yang sangat tipis, nyaris seperti jaring laba-laba yang menempel di kulit. Modelnya benar-benar hot bagian dadanya terbuka lebar dengan desain cut-out tepat di bagian pu*ing, membiarkan bagian sensitif itu menyembul dan terbuka. Bagian belakangnya pun hanya berupa seutas tali tipis yang tenggelam di antara lekuk tubuhnya.

Celina berdiri di depan cermin besar, mematut dirinya sendiri. Dia berputar ke kiri dan ke kanan, mengagumi pantulan dirinya yang terlihat sangat kontras dengan suasana kamar yang berbau kayu gaharu itu.

"Gila... dada gue ternyata makin gede juga ya," gumam Celina sambil membusungkan dadanya, jemarinya mengusap pinggiran brukat yang kasar namun sensual itu. "Belakangnya juga... makin berisi. Cakep banget gue pake ginian. Emang dasarnya badan gue body goals sih."

Dia asyik berpose, sesekali membenahi posisi lingerie yang sangat minim itu agar terlihat makin menggoda di cermin. Dia benar-benar tenggelam dalam dunianya sendiri, menikmati kecantikannya yang selama ini tertutup baju longgar pesantren.

Namun, saking asyiknya mengagumi diri sendiri, Celina tidak mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dia juga tidak sadar bahwa pintu kamar—yang ternyata kunci selotnya tidak tertutup rapat—perlahan terbuka.

Zuhair berdiri di sana. Masih lengkap dengan baju koko putih dan sarung gelapnya, tapi pecinya sudah dia lepas. Dia terpaku di ambang pintu, matanya yang biasanya teduh seketika menatap tajam, tak berkedip, mengunci pemandangan di depannya.

Celina yang sedang membelakangi pintu tiba-tiba merasakan hawa dingin dan tatapan intens dari belakang. Saat dia menoleh ke arah cermin, jantungnya serasa mau copot.

Zuhair sudah berdiri tepat di belakangnya. Jarak mereka hanya beberapa senti. Mata Zuhair menyisir setiap lekuk tubuh Celina yang nyaris telanjang itu, mulai dari paha, pinggul, hingga dadanya yang mencuat dari lubang brukat.

"Zu-Zuhair...?" suara Celina tercekat di tenggorokan. Dia ingin menutupi dadanya dengan tangan, tapi tubuhnya justru kaku tidak bisa bergerak.

Zuhair tidak bicara sepatah kata pun. Napasnya mulai terdengar berat dan tidak beraturan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, hingga hembusan napasnya terasa hangat di tengkuk Celina. Tangan Zuhair yang biasanya dingin kini terasa panas saat perlahan menyentuh bahu polos Celina yang hanya terhalang tali tipis lingerie.

"Kamu... sedang apa, Celina?" bisik Zuhair, suaranya rendah, serak, dan penuh dengan gairah yang selama ini dia tekan habis-habisan.

Celina hanya bisa menatap pantulan mereka di cermin; seorang Gus yang terlihat sangat alim bersanding dengan wanita yang berpakaian seperti godaan neraka. Kontras itu justru membuat suasana di dalam kamar mendadak jadi sangat panas.

Ruangan itu mendadak hening, hanya suara detak jantung Celina yang berpacu kencang memenuhi indra pendengarannya sendiri. Di cermin, ia bisa melihat betapa kontrasnya mereka—Zuhair dengan sisa wibawa seorang pemuka agama, dan dirinya yang nyaris tanpa busana dalam balutan brukat hitam yang sangat berani.

Zuhair tidak menjauh. Sebaliknya, telapak tangannya yang hangat mulai merayap dari bahu menuju leher Celina, memberikan sensasi geli yang membakar.

"Tadi... katanya mual dan stres?" bisik Zuhair tepat di telinga Celina. Suaranya yang serak membuat bulu kuduk Celina meremang. "Tapi sepertinya kamu sudah cukup punya energi untuk berdandan seperti ini."

Celina menelan ludah, mencoba mencari keberaniannya yang biasa. "Gue... gue cuma lagi pengen tau aja masih muat apa enggak. Bagus kan?" tanyanya dengan nada menantang, meski suaranya bergetar.

Zuhair tidak menjawab dengan kata-kata. Ia memutar tubuh Celina perlahan hingga mereka berhadapan langsung. Mata Zuhair tertuju pada bagian dada Celina yang menyembul dari lubang brukat, memperlihatkan pu*ingnya yang mulai mengeras karena suhu ruangan dan gairah yang mulai meledak.

Tanpa aba-aba lagi, Zuhair meraup bibir Celina. Ciumannya tidak lagi lembut; kali ini penuh tuntutan, lapar, dan posesif seolah ingin menghapus semua jejak masa lalu Celina dengan laki-laki lain. Celina awalnya terkejut, namun segera membalas dengan tak kalah panas, tangannya merambat ke tengkuk Zuhair, menarik pria itu agar semakin dalam menciumnya.

Zuhair mengangkat tubuh Celina dengan mudah, membawa istrinya itu menuju ranjang kayu besar di tengah kamar. Saat tubuh Celina menyentuh sprei, brukat hitam itu semakin tersingkap, memperlihatkan betapa transparannya pakaian itu di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.

"Gus... lo yakin?" tanya Celina saat Zuhair mulai melepas kancing baju kokonya satu per satu, memperlihatkan dada bidang yang selama ini tersembunyi di balik kain taqwa.

Zuhair kembali menindih tubuh Celina. Tangannya mulai menjelajahi lekuk pinggul Celina yang hanya dibatasi tali tipis. Saat jemari Zuhair menyentuh bagian sensitif di antara paha Celina, wanita itu melenguh panjang, kepalanya mendongak ke belakang.

"Ahhh... Zuhair..."

Zuhair berpindah ke dada Celina, lidahnya bermain dengan nakal di sekitar lubang brukat, menjilati dan mengisap pu*ing Celina yang sudah sangat menanti sentuhannya. Celina meremas rambut Zuhair, kakinya secara insting melingkar di pinggang suaminya, menarik Zuhair agar semakin masuk ke dalam dekapan hangatnya.

"Kamu wangi sekali, Cel..." bisik Zuhair di sela isapannya.

"Lo juga... bau gaharu lo bikin gue gila," balas Celina dengan napas terengah.

Zuhair melepas seluruh pakaiannya hingga mereka benar-benar tanpa sekat. Ketika tubuh mereka bersentuhan kulit ke kulit, suhu di kamar itu seolah naik drastis. Zuhair menatap Celina, memastikan istrinya itu benar-benar siap. Saat Celina mengangguk kecil dengan mata yang sayu penuh gairah, Zuhair perlahan mulai menyatukan tubuh mereka.

Celina memejamkan mata erat, merasakan sensasi penuh yang berbeda dari biasanya. Ini bukan sekadar nafsu, tapi ada rasa aman dan kepemilikan yang kuat yang diberikan Zuhair. Gerakan Zuhair awalnya perlahan, sangat hati-hati seolah takut menyakiti Celina, namun seiring dengan desahan Celina yang semakin kencang, tempo itu berubah menjadi permainan yang panas dan penuh tenaga.

"Zuhair... lebih... ahhh!" Celina mencakar punggung suaminya, meninggalkan bekas merah yang menjadi saksi bisu penyatuan mereka.

Suara gesekan kulit dan de*ahan napas yang memburu memenuhi kamar Ndalem malam itu. Zuhair terus membisikkan kata-kata dalam bahasa Arab yang Celina tidak mengerti, tapi ia tahu itu adalah ungkapan cinta dan kekaguman. Puncaknya, saat ledakan gairah itu tak lagi terbendung, Zuhair membenamkan wajahnya di leher Celina, sementara Celina memeluk suaminya erat-erat, seolah tidak ingin melepaskannya selamanya.

Mereka terengah-engah dalam pelukan, keringat membasahi tubuh keduanya. Zuhair mencium kening Celina lama sekali setelah semuanya usai.

"Sekarang," bisik Zuhair sambil menarik selimut untuk menutupi mereka berdua. "Kamu benar-benar milik saya, lahir dan batin. Jangan pernah berpikir kamu nggak pantes lagi buat saya, paham?"

Celina hanya bisa mengangguk lemas di dada Zuhair, merasa untuk pertama kalinya ia benar-benar pulang ke tempat yang tepat.

1
Ulfa 168
seru lanjut thor
Veronicacake: aaaaa maacie udah baca yaaaa, jan lupa like komennya yahhhh! aku update tiap hari kok ka💕💕
total 1 replies
ChaManda
😭😭
Veronicacake: kak😭😭
total 1 replies
Ntaaa___
Jangan lupa mampir di ceritaku kak🤭😇
Anonim
SUKAAAA, GA TAMPLATE NARASINYAAAA! SEMANGAT THOR DI TUNGGU UDATE💕💕💕💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!