Aku Jadi Villainess? Oh Tidaaaak!
Terseret masuk ke dalam novel dan menjadi Freya Valencia Vane? Bukan jadi pemeran utama wanita yang baik hati, tapi malah jadi Villainess kejam yang nasibnya pasti mati tragis di akhir cerita?
Demi menyelamatkan nyawaku, aku harus berubah total.
Di depan orang, aku jadi wanita paling suci, lembut, dan sopan sedunia.
"Tolong maafkan aku... aku tidak bermaksud begitu."
Tapi di dalam hati?
"Dasar tolol. Kalau bukan karena takut mati, udah gue hancurin muka lo dari tadi. Sabar Freya, sabar... demi nyawa gue."
Rencananya simpel: Jauhi Pangeran Zevian si algojo, lindungi Aria si Female Lead, dan hidup tenang.
Tapi kenapa semuanya berjalan salah?
Kenapa Zevian yang dulu benci aku malah natap aku begitu?
Kenapa Ares si sepupu tampan malah makin mendekat?
Oh Tidaaaak. Aku cuma mau hidup tenang kok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Calista F., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Langit di atas Akademi Starfell retak oleh cahaya merah. Mana hitam dan api Crimson Flame saling bertabrakan di udara malam seperti badai yang hidup.
Dan di tengah semua itu, Freya Valencia Vane sedang mencoba untuk tidak mengalami mental breakdown.
"...Lyra bukan villain." Kalimat itu keluar pelan dari bibirnya.
Namun efeknya jauh lebih besar dibanding ledakan mana tadi.
Hening langsung menyelimuti halaman akademi.
Profesor Rowan membeku di tempat. Ares perlahan menurunkan Eclipse Howl. Bahkan Zevian terlihat menegang sekarang.
Sedangkan Felix… Untuk pertama kalinya sejak datang ke Starfell, senyum santainya benar-benar hilang.
Api merah masih berputar liar di sekitar tubuh Freya. Panasnya membuat udara di sekelilingnya bergetar.
Namun sekarang Freya tidak peduli. Karena bayangan yang baru saja ia lihat terasa terlalu nyata.
Vernholt.
Kota itu terbakar.
Orang-orang menjerit.
Namun Lyra tidak terlihat seperti monster.
Dia terlihat seperti seseorang yang sedang mati-matian MENAHAN sesuatu.
"Kalau gerbang terbuka… semuanya akan terulang lagi."
Suara Lyra masih menggema di kepala Freya.
Dan semakin ia mengingatnya, semakin besar rasa takut yang muncul di dadanya.
"Freya." Suara Felix menariknya kembali.
Freya perlahan mengangkat kepala. Tatapan merah gelap kakaknya terlihat jauh lebih serius sekarang.
"...Apa yang kau lihat?"
Freya membuka mulut pelan. Namun sebelum ia sempat menjawab...
SKREEEEEEEEEE...
Suara mengerikan mengguncang langit malam. Semua orang refleks mengangkat kepala. Lingkaran sihir hitam raksasa di atas akademi mulai berputar semakin cepat. Mana hitam turun seperti hujan. Dan dari dalam lingkaran itu sesuatu mulai bergerak.
Bukan manusia. Bukan pt corruption biasa. Melainkan bayangan raksasa dengan puluhan mata merah menyala.
Para murid yang masih berada di sekitar halaman langsung pucat.
"Apa itu…?"
Profesor Rowan langsung membentak keras. "SELURUH MURID MUNDUR KE AREA DALAM!"
Para profesor segera bergerak melindungi murid lain. Lingkaran pertahanan sihir mulai muncul di seluruh halaman akademi. Namun Freya bisa merasakan sesuatu. Makhluk itu belum sepenuhnya keluar. Seolah masih terjebak. Dan justru itu yang membuatnya lebih menyeramkan.
"Itu belum lengkap," gumam Ares pelan.
Tatapan emasnya menyipit ke langit. "Kalau benda itu berhasil turun penuh… akademi selesai."
Freya langsung menegang. "...Apa sebenarnya itu?"
Kali ini Felix yang menjawab. Suara kakaknya terdengar jauh lebih dingin dibanding biasanya.
"Gerbang."
"..."
"Dan sesuatu di baliknya."
DEG.
Jantung Freya berdetak keras. Zevian melangkah maju sedikit. Soulblade hitam di tangannya mulai dipenuhi mana biru gelap.
"Kau tahu tentang ini." Bukan pertanyaan.
Felix menghela napas panjang kecil. "...Keluarga Vane memang ditugaskan menjaga segelnya."
Hening.
Freya langsung menoleh cepat. "Apa?"
Felix menatap langit beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, "Crimson Flame tidak pernah dibuat untuk menghancurkan manusia."
Tatapannya turun pada Freya. "Kekuatan itu dibuat untuk menutup gerbang."
BOOM.
Kalimat itu terasa seperti ledakan lain di kepala Freya.
Selama ini semua orang menyebut Crimson Flame sebagai kutukan. Sebagai kekuatan penghancur. Namun sekarang...
"Itu penjaga?" gumam Freya pelan.
Felix tersenyum kecil. Namun kali ini senyumnya terasa pahit. "Harusnya begitu."
Hening lagi.
Lalu Freya menyadari sesuatu. "...Harusnya?"
Ekspresi Felix berubah sedikit. Dan sebelum ia sempat menjawab...
DUAAAAAAAAAR.
Ledakan besar menghantam penghalang akademi. Seluruh tanah bergetar keras. Jeritan terdengar dari sisi gerbang utama.
"Corruption menembus barat."
"Pertahanan kedua runtuh."
Mana hitam mulai membanjiri halaman akademi. Monster-monster corruption bermunculan dari bayangan seperti gelombang hidup.
Profesor Rowan langsung mengangkat tongkatnya. Lingkaran sihir besar muncul di udara.
"Zevian... Lindungi Freya!"
"Aku tahu."
Zevian langsung bergerak maju.
SWOOOSH.
Soulblade hitamnya membelah corruption pertama yang melompat ke arah mereka.
BOOOOOOM.
Ledakan mana biru gelap menghancurkan tiga monster sekaligus.
Freya membelalak kecil. 'Astaga… dia makin serem kalau serius.'
Crimson Valkyrie langsung berkomentar datar. "Fokus."
'Aku lagi fokus takut.'
Sementara itu Ares sudah mulai menembak tanpa ekspresi.
DOR. DOR. DOR.
Peluru mana hitam-keemasan menembus inti corruption satu demi satu.
Dan seperti biasa, pria itu masih terlihat terlalu santai untuk seseorang yang sedang berada di medan perang.
"Kalau aku mati malam ini," katanya sambil menembak monster lain, "tolong kuburkan aku bersama makanan enak."
Freya langsung stres.
"ITU WASIAT PALING GAK BERGUNA YANG PERNAH AKU DENGAR."
Felix tertawa kecil.
Dan anehnya di tengah kekacauan ini, suara tawa kecil itu membuat Freya sedikit lebih tenang. Namun detik berikutnya...
FLASH.
Kepala Freya kembali sakit. "UGH..."
Bayangan lain muncul.
Gerbang hitam besar.
Rantai merah.
Dan Lyra berdiri di depannya sambil menangis.
"Segelnya rusak…"
Freya langsung memegangi kepalanya.
"Freya..." Felix buru-buru menangkap bahunya.
Tatapan merah gelap pria itu langsung berubah tajam. "Kau melihat apa?"
Freya mencoba bernapas normal. "...Gerbang."
"..."
"Dan Lyra."
Hening. Lalu perlahan ekspresi Felix berubah.
Retak. Untuk pertama kalinya, Freya melihat emosi nyata di wajah kakaknya.
Rasa bersalah dan ketakutan.
"...Sial."
Freya langsung menatapnya. "Kak."
Felix menutup mata beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Aku sebenarnya tidak mau kau tahu secepat ini."
"...Tahu apa?"
Namun sebelum Felix menjawab...
SKREEEEEEEEE...
Makhluk di atas langit meraung lagi. Kali ini lebih keras. Dan lingkaran sihir hitam mulai retak.
Profesor Rowan langsung membelalak. "...Mereka menggunakan mana Freya."
Semua orang langsung menoleh.
Freya membeku. "Hah?"
Profesor Rowan terlihat pucat sekarang. "Crimson Flame bereaksi pada gerbang."
Tatapannya tajam. "Dan setiap kali kekuatanmu bangkit… segelnya ikut melemah."
DEG.
Freya langsung merasa darahnya dingin. "...Apa?"
Felix langsung memaki pelan. "Sialan."
Freya menatap mereka bergantian. "TUNGGU DULU."
Tidak ada yang menjawab cepat. Dan justru itu lebih mengerikan.
"KALIAN JANGAN DIAM GITU."
Akhirnya Felix mengusap wajahnya kasar sebelum berkata pelan, "Crimson Flame dan gerbang saling terhubung."
"..."
"Itulah alasan keluarga Vane selalu mengawasi pewaris Crimson Flame."
Freya langsung mundur setengah langkah. "...Jadi kalau kekuatanku lepas kendali..."
"Gerbang bisa terbuka."
Hening. Seluruh dunia Freya terasa berhenti sesaat. Api merah di sekitar tubuhnya langsung bergetar tidak stabil.
Crimson Valkyrie menyala terang. "Tenang."
'GIMANA CARANYA TENANG?'
Namun sebelum kepanikannya meledak, Zevian tiba-tiba berdiri tepat di depannya.
Tatapan biru gelap pria itu tenang. "Tatap aku."
Freya langsung membeku kecil. "...Apa?"
"Tatap aku." Nada suaranya rendah. Tegas. Dan anehnya Freya menurut.
Tatapan mereka bertemu. Dan untuk beberapa detik, suara kacau di kepala Freya perlahan mereda.
"Kau tidak akan kehilangan kendali," kata Zevian pelan.
DEG.
Jantung Freya langsung berdebar aneh lagi. 'YA TUHAN KENAPA DIA SELALU BICARA KAYAK ADEGAN FINAL DRAMA ROMANTIS.'
Crimson Valkyrie langsung menyela. "Prioritasmu benar-benar rusak."
'AKU LAGI STRES.'
Namun sebelum suasana makin absurd...
BOOOOOOM.
Tanah halaman akademi tiba-tiba retak besar. Mana hitam meledak dari bawah tanah. Dan seseorang perlahan muncul dari bayangan.
Pria berjubah hitam itu. Pemanggil corruption.
Namun sekarang wajahnya terlihat lebih jelas. Kulit pucat. Rambut hitam panjang. Dan mata merah gelap yang terasa tidak manusiawi.
Tatapannya langsung jatuh pada Freya. "...Pewaris Crimson Flame."
Freya langsung merinding. Karena suara pria itu terdengar seperti dua suara bertumpuk menjadi satu. Tidak normal.
Zevian langsung mengangkat Soulblade.
"Ares."
"Ya ya, aku tahu." Ares langsung mengarahkan Eclipse Howl.
Namun pria berjubah itu tidak terlihat takut sama sekali. Justru dia tersenyum.
"Kalian terlambat."
DEG.
Lingkaran sihir di langit mulai retak lebih besar. Makhluk di balik gerbang meraung keras. Dan Freya tiba-tiba menyadari sesuatu yang mengerikan. Mereka tidak mencoba membuka gerbang sepenuhnya.
Mereka hanya butuh RETAKAN kecil. Cukup untuk sesuatu masuk.
"Profesor..." Freya langsung berteriak. "Mereka gak perlu buka seluruh gerbang."
Profesor Rowan langsung membelalak. "...Apa?"
"Mereka cuma perlu celah."
Detik berikutnya...
KRAAAAAAAAAAK.
Retakan besar muncul di lingkaran sihir hitam. Dan sebuah tangan raksasa hitam perlahan keluar dari dalamnya.
Seluruh akademi langsung dipenuhi tekanan mana mengerikan.
Beberapa murid langsung pingsan.
Freya sendiri hampir jatuh kalau Zevian tidak menangkap lengannya.
"Astaga…" gumam Ares kecil.
Bahkan Felix terlihat menegang sekarang. "...Itu terlalu cepat."
Pria berjubah hitam tertawa pelan. "Segel Lyra Vane memang melemah."
DEG.
Freya langsung menatapnya tajam. "...Apa katamu?"
Tatapan pria itu perlahan turun padanya. "Lima belas tahun lalu… dia menutup gerbang ini dengan nyawanya."
Hening.
Seluruh tubuh Freya langsung dingin. "...Apa?"
Felix langsung bergerak maju. "Cukup."
Aura mana merah-oranye meledak dari tubuhnya. Untuk pertama kalinya, Freya melihat kakaknya benar-benar marah. Dan itu mengerikan.
Api di sekitar Felix berubah liar. Tanah halaman mulai retak. Tatapan merah gelapnya tajam penuh kebencian.
"Aku akan membunuhmu."
Pria berjubah itu hanya tertawa kecil. "Putra keluarga gagal."
BOOM.
Api Felix langsung meledak lebih besar. Namun sebelum ia menyerang Freya menangkap lengannya.
"Kak."
Felix membeku. Freya menatapnya dengan napas tidak stabil. "...Apa maksudnya Lyra menutup gerbang dengan nyawanya?"
Hening.
Tatapan Felix goyah sedikit. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban. Freya langsung merasa dadanya sesak. Jadi selama ini Lyra bukan penghancur Vernholt. Dia menyelamatkan semuanya. Dan sejarah memanggilnya monster.
"...Mereka memfitnahnya," gumam Freya pelan.
Crimson Valkyrie bersinar redup. "...Ya."
Untuk pertama kalinya suara artefak itu terdengar sedih.
Freya menggertakkan gigi. Entah kenapa dadanya terasa panas sekarang. Marah. Sangat marah. Karena seseorang yang mati menyelamatkan dunia justru dikenang sebagai monster.
Dan yang lebih menyakitkan Lyra mungkin mati sendirian membawa semua kebencian itu.
Api Crimson Flame di sekitar Freya mulai berubah liar lagi. Namun kali ini bukan karena takut. Melainkan kemarahan.
"Freya." Zevian langsung menatapnya tajam. "Kendalikan emosimu."
Freya menggertakkan gigi pelan. "...Aku tahu."
Namun pria berjubah hitam justru tertawa kecil melihatnya. "Ya… begitulah dulu Lyra juga."
DEG.
Tatapan Freya langsung berubah dingin. "...Jangan sebut nama dia sembarangan."
Untuk pertama kalinya aura Freya berubah. Bukan panik. Bukan takut. Melainkan tekanan panas yang membuat udara di sekitar mereka bergetar.
Bahkan Ares ikut mengangkat alis kecil. "Wah."
Felix langsung menyadarinya juga. Dan untuk sepersekian detik pria itu terlihat khawatir. Karena aura Freya sekarang sangat mirip Lyra dulu.
Pria berjubah hitam tersenyum lebih lebar. "Itu dia."
Tatapannya dipenuhi kegilaan. "Crimson Flame yang sebenarnya."
SWOOOOOSH.
Mana hitam meledak dari tubuhnya. Corruption di seluruh halaman langsung meraung bersamaan. Dan makhluk di langit mulai turun perlahan dari retakan gerbang.
Profesor Rowan langsung membentak. "Kita harus menutup retakan itu SEKARANG!"
"Tutup pakai apa?" teriak Ares.
Profesor Rowan langsung menatap Freya.
Hening. Freya membeku. "...Jangan bilang..."
"Crimson Flame."
DEG.
Jantung Freya langsung jatuh.
"Tidak mungkin..." Felix langsung membalas tajam. "Dia belum siap."
"Kalau retakan itu terbuka lebih besar kita semua mati." bentak Profesor Rowan.
Suasana langsung kacau. Freya menatap langit. Retakan hitam itu semakin besar. Dan sesuatu di baliknya terus bergerak. Menunggu keluar.
Tangannya mulai gemetar. 'Aku gak bisa.'
"Kau bisa."
Freya langsung menoleh.
Zevian berdiri di sampingnya. Tatapan biru gelapnya tenang seperti biasa. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda. Kepercayaan.
"Kau tidak sendirian."
DEG.
Freya langsung diam.
Felix menatap mereka beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang kecil. "...Sial."
Lalu ia menepuk kepala Freya pelan.
"Kalau semuanya gagal…" senyumnya muncul tipis lagi, "…aku tetap bakal nyeret kau kabur hidup-hidup."
Freya langsung hampir menangis. "KAK INI BUKAN WAKTUNYA BIKIN AKU TERHARU."
"Sayang sekali. Aku kakak yang emosional."
Ares langsung mengangkat tangan santai. "Aku juga ikut voting hidup."
"TIDAK ADA YANG TANYA."
Namun anehnya di tengah semua ketakutan itu Freya akhirnya bisa bernapas lagi.
Ia menatap langit perlahan. Lalu menggenggam Crimson Valkyrie lebih erat. Api merah langsung menyala besar.
Crimson Valkyrie berbicara pelan. "Jadi?"
Freya menarik napas panjang. Tatapannya berubah lebih tajam. "...Kita tutup gerbang sialan itu."
Dan untuk pertama kalinya malam itu Crimson Valkyrie terdengar tersenyum.
"Bagus."