Seorang gadis polos kehilangan harta warisannya akibat kelicikan saudara tiri, ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari keluarga perwira tinggi, namun pria tersebut pergi di hari pernikahan hingga akhirnya adik pria tersebut yang notabene seorang duda harus menyelamatkan nama besar keluarga dengan menyembunyikan identitas aslinya. Ayah gadis itu pun seorang tentara tapi seolah tak pernah menyayanginya.
Saat tau kabar kabur tentang identitas pria tersebut. Ibu tiri gadis itu menyesal dan iri setengah mati.
Kesakitan yang di alami gadis itu membuatnya trauma hingga sangat waspada dan sulit percaya. Kini pria tersebut harus berjuang sekuat tenaga untuk menembus tembok pertahanan hati istrinya yang selalu berpura-pura di balik tingkah randomnya, padahal ia tidak tau.. siapa pria yang bersamanya saat ini.
SKIP bagi yang tidak tahan dengan KONFLIK.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Meringankan situasi.
"Tidak, karena saat Papa kembali untuk mencari Mama Anye.. Mauria, wanita yang sudah menyelamatkan nyawa Papa itu, belum hamil." Jawab Pak Rinto.
Semua pandang mata tertuju pada Reina. Ada sorot mata mengisyaratkan banyak hal yang sulit untuk di uraikan.
Reina terdiam seribu bahasa, ia bingung tak tau harus berkata apa. Pikirannya seakan mati tak bisa menyambung cerita yang berbeda dengan wanita yang ia panggil ibu dan berhadapan dengan pria yang sebenarnya begitu ia rindukan dan inginkan sebagai seorang ayah.
"Jadi, bagaimana penjelasan Mama mu??" Tanya Pak Rinto.
"Mama mengatakan Papamu ada di kota, dia meninggalkan kita karena hanya mencintai istri pertamanya. Dia mengabaikan Mama yang juga menyelamatkan nyawanya." Kata Reina. "Sekarang Reina tanya, kenapa Papa meninggalkan istri Papa disana???"
"Papa tidak pernah menikahi Mauria. Dia hanya menjadi sepenggal kisah di masa lalu, masa lalu yang mengakibatkan Papa dan Mama Anye berpisah, tapi...." Belum selesai perkataan itu tapi Mama Niken sudah bereaksi. "Jangan kebiasaan menyimpulkan saat Papa belum selesai bicara, ndhut." Tegurnya.
Mama Niken terdiam dan akhirnya mendengarkan setiap kata dari Papa Rinto.
"Papa tidak pernah menyesali perpisahan itu, bahkan tidak pernah sekali pun menyesali anak-anak Papa yang sudah terlahir ke dunia. Mama Anye punya kehidupan sendiri bersama Papa Ali dan Papa menghargai hal itu." Imbuh Pak Rinto. "Mengenai kamu, Reina.. Papa tidak tau apa yang Mama mu ceritakan. Tapi, di saat itu Papa juga masih sadar untuk memegang teguh kesetiaan pada Mama Anye. Papa paham mungkin hal ini akan sangat menyakitkan. Hanya saja, usiamu lebih tepat seperti Reigar. Jadi.. Kamu lahir saat Papa sudah kembali menemui Mama Anye."
Dada Reina terasa sesak. Tatapan keras itu melunak menghakiminya, hanya Bang Reigar saja yang masih tatap memandangnya dengan sebelah mata.
"Kalau boleh Papa tau, apakah di saat ini ada pria yang sedang dekat dengan Mama mu?" Selidik Pak Rinto.
"Paman Habib." Jawab Reina mantap dan tegas dengan jawabannya.
Pak Rinto mengangguk tapi tidak mengatakan apapun lagi.
"B*****t. Setelah ini apa yang mau kau lakukan???" Omel Bang Reigar.
Reina pun tidak bisa menjawabnya. Sedih jelas menguasai hatinya.
Secepatnya Jilly duduk di pangkuan Bang Reigar, ia tidak lagi mempedulikan sekitar. "Jill pusing, bisakah kita pulang?" Rengeknya dengan manja.
"Kau kenapa lagi?? Nggak enak badan?" Tanyanya lembut, seluruh perhatiannya mendadak berpindah pada istri kecilnya.
Papa Rinto tersenyum kecil. Menantunya itu memang pintar mengalihkan situasi dari amarah seorang Reigar.
Tak buang banyak waktu, Bang Reigar pun mengangkat tubuh mungil Jilly, ia juga tidak peduli siapapun lagi disana. "Saya pamit pulang dulu. Istri saya butuh istirahat."
...
Malam berganti pagi, semua sudah kembali pada rumah masing-masing. Kini Bang Huda duduk berdua dengan Reina yang masih saja menangis. Tingkah istrinya itu tidak seperti biasanya.
"Inikah salah satu alasanmu selalu menolak Abang?? Kau sendiri pun takut akan dosa yang kau buat." Tanya Bang Huda.
Reina mengangguk kecil. Matanya nanar, tubuhnya gemetar tidak berani menatap mata suaminya.
"Pasangan suami istri itu harusnya terbuka. Kenapa kamu menyimpan rahasia seperti ini?? Sekarang kita harus selesaikan semua permasalahan ini agar tidak semakin berlarut-larut. Mulai sekarang kamu di larang mengganggu Jilly, ini demi kebaikan mentalmu sendiri. Reigar bukan lawan yang bisa kamu taklukan. Jika dia menyayangi 'barang' miliknya, kau akan berhadapan langsung dengan sifat dan sikapnya yang di luar nalar itu. Abang harap kamu juga mengingatnya.
Air mata Reina semakin deras menetes, jatuh membasahi punggung tangan yang terus meremas erat dress nya. Setiap kata Bang Huda menusuk tepat ke dalam jantungnya, semua lebih terasa menyakitkan daripada kenyataan pahit yang baru saja ia dengar dari Papa mertuanya. Ia tau apa yang dikatakan suaminya itu tidak ada yang salah, namun rasa sakit dan situasi kacau ini membuatnya sulit menerima kenyataan.
"Sebenarnya aku hanya ingin membongkar rahasia yang sudah terpendam lama. Tapi......" suara Reina terdengar parau, tersendat antara isak dan tangisannya. "Selama ini aku hidup dengan cerita yang di berikan Mamaku, Mama kandungku, bukan Mama yang Abang tau. Aku diajarkan untuk membenci dan di tekankan sebagai korban. Sekarang... semuanya terbuka perlahan. Aku bingung, siapa yang harus aku percaya? Siapa yang harus aku salahkan?"
"Kebenaran memang terkadang menyakitkan, dek. Tapi lebih menyakitkan lagi jika kau terus hidup dalam kebohongan dan dendam yang tidak seharusnya kamu kamu rasakan." ucap Bang Huda lembut namun tegas. "Mengenai Jilly... kau mungkin tidak bermaksud jahat, tapi kehadiranmu yang selalu mengganggunya dengan kata-kata, kelakuan dan tatapan menekanmu... semua itu membuat Reigar emosi. Dan kau sudah lihat sendiri kemarin. Saat Reigar marah, dia tidak peduli siapa yang ada di depannya. Satu-satunya orang yang bisa menenangkannya hanyalah Jilly. Kau tidak ingin hal buruk terjadi pada kita, kan?"
"Baang.. Bagaimana ini??? Aku takut kalau Bang Reigar marah." Kata Reina sedikit merengek tak seperti biasanya.
"Tak tau lah, dek. Yang penting untuk saat ini kau tidak kena tampar." Jawab Bang Huda memasang wajah cemas.
"Baaaang..!!"
//
"Kok ada perempuan macam Reina??? Mimpi apa aku dulu bisa naksir dia." Gerutu Bang Reigar.
"Jill bilang sudah, kenapa masih mengingatnya???? Abang mau membangkitkan kenangan lama???" Omel Jill sengaja marah agar perhatian Bang Reigar beralih padanya.
"Nggak.. Nggak begitu maksudnya, sayang..!!!"
Jilly memalingkan wajahnya. "Uda aahh, Jill malas."
.
.
.
.
lanjut mba Nara
semoga reina anak org lain....Amin🙏
Bang Huda sabar yaaa...
bang rakit semoga kau juga dapa wanita yg sholeha..amin🙏
dosa klo cinta sm istri abang sendiri🙏
Jilly : ( pipi udah semerah tomat) 🤣🤣🤣🤣🤣
bayangke sambil ngekekkk/Kiss//Kiss/
lanjt mba Nara👍👍👍