"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah yang Merayap
Pagi itu, embun masih betah menggelantung di ujung daun bambu, namun suasana di aula pengajian wanita Pesantren Al-Ikhlas sudah mendidih oleh desas-desus yang lebih panas dari uap kopi.
Kabar tentang keributan di rumah joglo Rasyid telah bermutasi menjadi ribuan versi cerita yang mengerikan, menyebar dari mulut ke mulut seperti wabah yang tak terbendung.
Shanum masuk ke aula dengan langkah ragu. Ia mengenakan gamis abu-abu sederhana dan jilbab senada yang disematkan rapi.
Di tangannya, ia mendekap sebuah buku saku Iqra’ dan buku catatan kecil. Sesuai perintah Rasyid semalam—sebuah perintah yang terdengar seperti permohonan agar Shanum mencoba beradaptasi—ia datang untuk mengikuti kelas tajwid dasar.
Begitu kakinya melewati ambang pintu, keheningan yang janggal menyergap. Puluhan santriwati yang sedang duduk melingkar serentak menoleh.
Dalam satu gerakan yang terkoordinasi secara alami, mereka yang duduk di baris tengah segera bergeser menjauh, menyisakan sebuah ruang kosong yang lebar di tengah-tengah aula.
Shanum menarik napas panjang, mencoba menulikan telinga. Ia duduk di area yang kosong itu.
“Ngapain dia ke sini? Bukannya kemarin habis mabuk?” bisik seorang santriwati dengan nada yang sengaja dikeraskan.
“Hus! Jangan keras-keras. Nanti kalau Kyai Rasyid dengar, kita yang diusir. Maklumlah, kan ‘kesayangan’ baru,” sahut yang lain dengan tawa mengejek.
Nyai Salamah duduk di depan, di atas mimbar rendah. Ia melihat menantunya duduk terkucilkan, namun sang ibu mertua hanya menunduk, sibuk merapikan kitabnya.
Tidak ada kata pembelaan, tidak ada teguran untuk para santriwati yang mulai berani menunjuk-nunjuk.
Shanum mencoba fokus. Ia membuka bukunya dan memberanikan diri menyentuh bahu seorang santri senior di depannya, seorang wanita bernama Fatimah yang dikenal sebagai tangan kanan Bibi Halimah.
“Maaf... boleh tanya? Ini cara baca huruf Alif yang ada tanda ini bagaimana ya?” tanya Shanum dengan suara rendah, hampir memohon.
Fatimah menoleh, menatap tangan Shanum yang menyentuh bahunya dengan tatapan seolah melihat bangkai. Ia mengibaskan bahunya kasar.
“Oh, cara baca Alif saja kamu tidak tahu? Kasihan sekali,” Fatimah tertawa sinis, membuat seluruh aula kini terpusat pada mereka.
“Tapi wajar, sih. Biasanya tanganmu lebih sibuk membaca angka di kartu ATM laki-laki sambil melayani mereka, kan? Di sini kami membaca firman Tuhan, Shanum. Bukan nominal tips dari hidung belang yang sering kamu kencani.”
Wajah Shanum memanas. “Aku hanya bertanya soal bacaan, bukan soal hidupku.”
“Hidupmu itu sudah jadi rahasia umum!” seorang kerabat Rasyid dari barisan belakang berdiri.
“Kudengar dari orang-orang pasar, kamu ke sini Cuma buat sembunyi karena rahimmu sudah rusak, ya? Sudah berapa kali kamu gugurkan kandungan hasil zina di Jakarta sampai lari ke sini buat cari perlindungan suci?”
Deg.
Jantung Shanum serasa berhenti berdetak. Fitnah itu begitu keji hingga telinganya berdenging. “Apa kamu bilang?”
“Kenapa? Kurang jelas? Wanita kayak kamu itu nggak pantas menginjakkan kaki di aula ini. Kamu itu najis yang dibungkus jilbab. Nggak perawan, tukang aborsi, pemabuk pula. Apa lagi yang mau kamu banggakan? Kecantikanmu yang hasil ‘jualan’ itu?”
Shanum berdiri. Tangannya gemetar hebat. Harga dirinya yang selama ini ia jaga di tengah lumpur kehidupan meledak seketika.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Fatimah. “Jaga mulutmu, betina suci! Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang aku lalui untuk tetap hidup!” raung Shanum.
Keadaan menjadi kacau. Fatimah menjerit, bukan karena sakit, tapi karena melihat peluang. “Lihat! Dia main fisik! Iblis di dalam dirinya keluar! Serang dia! Jangan biarkan dia menodai tempat ini!”
Dalam sekejap, Shanum dikepung. Beberapa santriwati yang terprovokasi menarik jilbab Shanum hingga terlepas, memperlihatkan rambutnya yang berantakan.
Shanum mencoba melawan, namun ia kalah jumlah. Ia didorong, bahunya dipukul, dan seseorang menendang kakinya hingga ia tersungkur di lantai semen yang dingin.
“Keluar kamu sampah!”
“Jangan kotori pesantren kami!”
Di tengah pengeroyokan verbal dan fisik yang kalap itu, Nyai Salamah hanya diam membatu, menutup matanya seolah sedang berdoa, namun tak melakukan apa pun untuk menghentikan kegilaan itu.
Flashback: Tiga Jam Sebelumnya
Pukul 02.00 dini hari. Saat seisi desa terlelap dalam dinginnya sisa hujan, Rasyid duduk di depan monitor komputer di ruang kerjanya. Di sampingnya, Zaki berdiri dengan wajah tegang.
Layar monitor menunjukkan rekaman CCTV dari teras rumah joglo kemarin sore. Rasyid memutar ulang adegan saat Bibi Halimah mencegat Shanum.
“Zoom bagian tangan Bibi Halimah,” perintah Rasyid dingin.
Di layar yang diperbesar, terlihat jelas Bibi Halimah menjatuhkan sesuatu dari balik telapak tangannya ke dalam gelas Shanum sebelum diberikan. Zaki kemudian meletakkan sebuah plastik klip berisi botol kecil di atas meja.
“Cairan ini saya temukan di tempat sampah belakang, tertimbun dedaunan. Saya sudah meminta kenalan saya di lab farmasi untuk mengecek isinya lewat foto komposisinya.
Ini stimulan saraf dosis tinggi yang jika dicampur kafein atau teh, akan memberikan efek disinhibisi. Orang akan merasa kepanasan, hilang kendali emosi, dan bicaranya akan melantur seperti orang mabuk,” jelas Zaki.
Rasyid menatap layar dengan mata yang menyipit tajam. Aura ketenangan yang biasanya ia miliki kini berganti menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya—sesuatu yang menyerupai predator yang siap menghancurkan mangsanya.
“Mereka pikir aku akan diam saja saat istriku dijadikan bahan tontonan dan difitnah sebagai pemabuk?” bisik Rasyid. Suaranya rendah, namun Zaki bisa merasakan bulu kuduknya meremang.
“Siapkan mobil. Dan pastikan semua berkas tentang riwayat kesehatan Shanum dari rumah sakit Jakarta yang kamu pegang itu sudah siap.”
Kembali ke Aula
Shanum sudah hampir menyerah. Ia meringkuk di lantai, melindungi kepalanya dengan tangan sementara makian terus menghujani dirinya. Air matanya mengalir, bukan karena rasa sakit fisik, tapi karena rasa hina yang tak tertahankan.
Tiba-tiba, pintu besar aula terbuka dengan dentuman yang sangat keras.
BRAKK!
Langkah kaki yang mantap dan berat menggema di seluruh ruangan. Seluruh santriwati terdiam seketika. Rasyid masuk dengan jubah hitam yang berkibar, wajahnya sedingin es kutub.
Ia tidak melihat ke arah ibunya, tidak melihat ke arah para santri. Matanya hanya tertuju pada satu titik: Shanum yang hancur di lantai.
Rasyid berlutut di samping Shanum. Tanpa mempedulikan puluhan mata yang menatap, ia melepaskan sorban putih dari bahunya sendiri, lalu menggunakannya untuk membungkus kepala Shanum yang terbuka, menutup aurat istrinya dengan kelembutan yang kontras dengan kemarahannya.
“Rasyid! Jangan bela dia! Dia sudah menampar Fatimah! Dia kasar!” teriak Bibi Halimah yang baru saja masuk.
Rasyid berdiri perlahan, merangkul bahu Shanum dan menariknya agar berdiri bersandar pada tubuhnya. Ia mengeluarkan sebuah tablet dari balik jubahnya dan menyalakannya.
“Semuanya, lihat ke depan,” suara Rasyid menggelegar, bergetar dengan wibawa yang membuat beberapa santriwati mundur ketakutan.
Ia memutar rekaman CCTV itu di depan mereka semua. Rekaman yang memperlihatkan dengan sangat jelas pengkhianatan Bibi Halimah.
“Bibi Halimah... Anda menyebut istri saya pemabuk?” Rasyid menatap bibinya dengan tatapan yang bisa membunuh.
“Lalu apa sebutan untuk wanita tua yang memasukkan obat perangsang saraf ke minuman keponakannya sendiri hanya demi sebuah panggung drama?”
Bibi Halimah memucat. “Itu... itu Cuma jamu!”
“Jamu tidak membuat orang kehilangan kendali saraf, Bibi. Saya punya hasil labnya,” Rasyid melemparkan selembar kertas ke lantai aula.
Lalu, ia menatap ke arah kerumunan santriwati yang tadi menghina rahim Shanum. “Kalian bicara soal rahim yang rusak? Soal aborsi?”
Rasyid mengeluarkan map lain. “Ini adalah rekam medis resmi Shanum dari Rumah Sakit Pusat Jakarta. Dia pernah dirawat karena pendarahan akibat tekanan batin dan malnutrisi, bukan aborsi. Dia belum pernah hamil, apalagi membunuh nyawa.”
“Tapi dia nggak perawan lagi! Dia kan kerja di tempat kayak gitu!” teriak seorang santriwati dengan suara gemetar.
Rasyid melangkah satu tindak maju, menatap santriwati itu hingga ia tertunduk.
“Kalian bicara soal suci? Jika kalian mengukur kesucian hanya dari masa lalu seseorang, maka kalian sedang menghina kasih sayang Allah yang Maha Pengampun! Apakah kalian lebih tahu dari Tuhan soal siapa yang paling mulia hatinya?”
“Tapi tetap saja, Kyai... dia itu—“
“Cukup!” Rasyid memotong dengan telak. “Shanum adalah istriku. Sah secara agama dan negara. Siapa pun yang berani menyebut istriku dengan sebutan kotor lagi, atau menyentuhnya dengan maksud menghina, maka dia tidak hanya berurusan denganku sebagai pimpinan pesantren ini, tapi juga dengan hukum negara yang akan kutuntut sampai ke liang lahat!”
Rasyid menoleh ke arah Nyai Salamah. Tatapannya penuh dengan kekecewaan yang mendalam, sebuah luka yang tak terucap karena ibunya sendiri membiarkan penindasan ini terjadi.
Tanpa berkata apa-apa lagi pada ibunya, Rasyid membawa Shanum keluar dari aula. Di bawah sinar matahari pagi yang kini terasa menyengat, mereka berjalan menuju gerbang.
Shanum menatap profil samping wajah Rasyid dari balik sorban yang menutupi kepalanya. Hatinya bergejolak antara rasa syukur yang luar biasa dan kebingungan yang menyesakkan.
“Kenapa?” bisik Shanum parau saat mereka sudah agak menjauh. “Kenapa kamu melakukan semua ini? Membelaku di depan ibumu, membongkar aib keluargamu sendiri... buat apa?”
Rasyid berhenti melangkah. Ia menatap lurus ke depan, ke arah persawahan yang luas.
“Karena aku suamimu, Shanum. Dan karena aku tahu, di bawah jilbab yang mereka tarik tadi, ada jiwa yang jauh lebih suci daripada mereka yang merasa paling berhak atas surga.”
Shanum tertegun. Kalimat itu terasa sangat indah, namun ia melihat rahang Rasyid yang masih mengeras dan tangan pria itu yang masih gemetar karena menahan emosi.
Ada beban besar yang kini dipikul Rasyid karena membelanya—beban yang mungkin akan menghancurkan posisi Rasyid di pesantren ini.
“Tapi mereka akan semakin membencimu karena aku,” lanjut Shanum.
“Biarkan saja,” sahut Rasyid pendek, lalu ia menatap Shanum dengan tatapan yang sangat dalam.
“Aku lebih takut kehilangan ridha Tuhan karena membiarkanmu dizalimi, daripada kehilangan rasa hormat dari manusia-manusia yang hatinya penuh prasangka.”
Shanum terdiam. Di balik rasa harunya, ia merasakan ketakutan baru. Perang ini baru saja dimulai, dan Rasyid baru saja membakar jembatan untuk kembali ke keluarganya demi seorang wanita yang masih ia ragukan cintanya.