NovelToon NovelToon
PEWARIS NAGA BIRU

PEWARIS NAGA BIRU

Status: tamat
Genre:Anime / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Di Klan Ryu yang telah runtuh, Ryu Seol hanyalah pemuda tujuh belas tahun dengan meridian qi rusak—sampah yang dihina sepupunya sendiri di depan seluruh keluarga. Setiap hari adalah penghinaan, hingga suatu malam ia menemukan sebuah gua terlarang di balik air terjun.

Di dalamnya menanti Gu, rubah berekor sembilan yang jiwanya terperangkap selama ribuan tahun. Dengan sarkasme tajam dan kekuatan iblis kuno, Gu menawarkan perjanjian: memperbaiki meridian Seol, mengajarkan teknik terlarang Pedang Bayangan, dan membawanya melompat dari nol menjadi pendekar dalam hitungan bulan—dengan satu syarat: suatu hari Seol harus membebaskannya.

Dari buangan klan kecil, Seol melangkah ke Sekte Pedang Surgawi, melewati ujian maut Gua Iblis, dan bertemu Seol Hwa—murid senior dingin yang perlahan mencair, serta Baek Ho—sahabat setia dari Sekte Tulang Besi. Namun kekuatannya yang tumbuh terlalu cepat menarik perhatian musuh lama: Ryu Cheonmyeong, yang kini bergabung dengan Kultus Da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Kesempatan dari Seol Hwa

Tiga hari telah berlalu sejak insiden di dapur. Park dan kawan-kawannya masih menjauhi Seol, tetapi bukan karena mereka berhenti mengganggu—melainkan karena mereka sedang menyusun rencana. Seol merasakannya. Ada ketegangan di udara, sesuatu yang akan pecah sewaktu-waktu.

Tapi pagi ini, sebelum sesuatu itu pecah, sebuah kejutan datang.

Seol sedang menyapu area latihan murid dalam ketika seorang murid senior mendekatinya. Bukan Kang Jin. Murid ini lebih tua, dengan jubah biru tua yang menandakan statusnya sebagai asisten instruktur.

“Ryu Seol,” katanya, suaranya datar. “Sabeom-nim Seol Hwa memanggilmu.”

Seol berhenti menyapu. Di sekelilingnya, beberapa murid luar yang sedang bekerja ikut berhenti, menatap dengan mata terbelalak. Seol Hwa. Murid senior paling elit di sekte ini. Memanggil murid luar biasa.

“Sekarang?” tanya Seol.

“Sekarang.”

Seol meletakkan sapunya, merapikan seragam abu-abunya yang lusuh, dan mengikuti murid itu. Di belakangnya, bisik-bisik mulai pecah seperti gelombang.

---

Aula Latihan Dalam

Aula latihan dalam terletak di puncak tertinggi Gunung Cheongmyeong, di belakang Aula Pedang Surgawi. Bangunannya lebih kecil dari aula utama, tetapi lebih megah—dinding-dinding marmer putih dengan urat emas, lantai batu hitam mengilap yang memantulkan bayangan seperti cermin, dan di langit-langit, lukisan langit malam dengan bintang-bintang yang bersinar dengan cat emas asli.

Seol belum pernah masuk ke sini. Murid luar tidak diizinkan mendekati area ini. Tapi hari ini, ia berdiri di tengah aula, dikelilingi oleh keheningan yang pekat dan udara yang terasa berat—bukan karena tekanan qi, tetapi karena keagungan tempat ini.

Seol Hwa berdiri di tengah aula, pedang panjang di tangan kanannya, rambut hitamnya terikat ke belakang dengan pita putih. Hari ini ia tidak mengenakan jubah formal murid dalam, tetapi pakaian latihan sederhana—kemeja putih lengan panjang dan celana hitam ketat yang memungkinkan gerakan bebas. Tanpa jubah, tubuhnya yang ramping terlihat lebih jelas, dan Seol menyadari bahwa di balik kecantikannya yang dingin, ada kekuatan yang terpancar dari setiap ototnya.

“Kau datang,” katanya tanpa menoleh.

Seol membungkuk hormat. “Sabeom-nim memanggilku.”

“Aku tidak memanggilmu untuk hormat-hormatan.” Ia berbalik, matanya yang hitam pekat menatap Seol dengan intensitas yang sama seperti saat ia keluar dari Gua Iblis. “Aku ingin kau menjadi partner latihanku.”

Seol mengerjap. “Aku?”

“Kau.” Seol Hwa mengangkat pedangnya, ujungnya mengarah ke dada Seol. “Kau melewati ujian masuk dengan nilai tertinggi. Kau mendengar nyanyian pedang. Kau keluar dari Gua Iblis lebih cepat dari siapa pun dalam lima tahun terakhir. Tapi sejak menjadi murid luar, kau hanya menyapu dan mengangkut air.”

Ia menurunkan pedangnya, berjalan mengelilingi Seol dengan langkah lambat.

“Aku ingin tahu apakah ujian-ujian itu hanya keberuntungan, atau kau benar-benar memiliki sesuatu.”

Seol tidak bergerak. Di dalam dadanya, pusaran qi berputar lebih cepat—bukan karena takut, tetapi karena antisipasi.

“Aku tidak punya pedang,” katanya.

Seol Hwa berhenti di depannya. Ia mencabut pedang panjangnya dari sarung, lalu melemparkannya ke arah Seol.

Seol menangkapnya dengan refleks. Pedang itu lebih berat dari yang ia kira, tetapi keseimbangannya sempurna. Bilahnya berkilat, tidak ada satu pun noda karat. Ini adalah senjata sejati—bukan ranting kayu, bukan pedang berkarat milik bandit.

“Pinjaman,” kata Seol Hwa. “Jangan rusak.”

Ia mengambil pedang kedua dari dinding—sebuah bilah yang lebih pendek, dengan sarung hitam polos. Ia menghunusnya, dan cahaya matahari dari jendela tinggi menerpa bilah itu, memantulkan kilatan putih yang menyilaukan.

“Serang aku,” katanya. “Dengan kemampuan terbaikmu.”

Seol menggenggam gagang pedang itu erat-erat. Kayunya terasa hangat di tangannya—hangat karena qi yang tersimpan di dalamnya dari penggunaan bertahun-tahun. Ia tidak pernah memegang pedang sebaik ini.

Ia menarik napas dalam-dalam. Pusaran di dadanya berputar stabil.

“Maafkan aku kalau kurang ajar,” katanya.

Ia melangkah maju.

---

Babak Pertama: Ujian

Seol tidak menyerang dengan liar. Ia tahu perbedaan level antara dirinya dan Seol Hwa terlalu besar untuk dimenangkan dengan kekuatan kasar. Yang ia butuhkan adalah menunjukkan—bukan mengalahkan.

Ia mengayunkan pedangnya dalam gerakan horizontal, sederhana, tanpa hiasan. Serangan pembuka yang umum, mudah dibaca.

Seol Hwa menangkis dengan pedang pendeknya. Bunyi logam beradu bergema di aula, dan Seol merasakan getaran menjalar ke lengannya—bukan getaran biasa, tetapi getaran yang mengandung qi, yang mencoba melumpuhkan otot-ototnya.

Ia mengalirkan qi-nya sendiri untuk menetralisirnya. Teknik yang Gu ajarkan. Getaran itu lenyap sebelum sempat melukai.

Seol Hwa mengangkat alis. “Tidak buruk.”

Ia balas menyerang. Gerakannya cepat—sangat cepat. Pedang pendeknya berkelebat seperti kilat, menusuk ke arah dada Seol dengan kecepatan yang hampir tidak bisa diikuti mata.

Seol menghindar. Tubuhnya bergerak dengan refleks yang sudah terlatih—bukan refleks alami, tetapi refleks yang ia bangun selama berminggu-minggu latihan di hutan. Tubuhnya bergeser ke kanan, pedang panjang di tangannya naik untuk menangkis.

Crak!

Pedang Seol Hwa mengenai bilah pedang Seol dengan sudut yang presisi, menciptakan tekanan yang mencoba mendorong pedang Seol keluar dari genggamannya.

Seol bertahan. Ia memutar pergelangan tangannya, mengalirkan qi ke ujung jari, menciptakan tarikan yang membuat pedangnya tetap di tempatnya.

Seol Hwa mundur selangkah. Matanya menyipit.

“Teknik itu,” katanya, “bukan teknik sekte ini.”

Seol tidak menjawab. Ia tidak bisa. Ia tidak boleh.

Seol Hwa tidak memaksa. Ia tersenyum kecil—senyum yang sama saat ia keluar dari Gua Iblis.

“Lagi.”

Kali ini ia menyerang lebih cepat. Tiga tusukan dalam satu napas, masing-masing diarahkan ke titik vital yang berbeda—leher, dada, perut. Serangan yang jika terkena, bahkan dengan pedang tumpul, akan melumpuhkan.

Seol tidak punya waktu untuk menghindar satu per satu. Ia hanya bisa mengandalkan satu hal: Pedang Bayangan.

Ia mengalirkan qi ke pedang itu. Di udara, di samping bilah aslinya, dua bayangan muncul—tidak terlalu padat, tidak terlalu jelas, tetapi cukup untuk membingungkan lawan yang tidak siap.

Seol Hwa tidak terkejut. Matanya tetap fokus, pedangnya tetap pada jalurnya. Ia tidak tertipu oleh bayangan. Tapi yang membuatnya berhenti bukanlah bayangan itu sendiri, tetapi cara Seol menciptakannya.

Bayangan itu tidak muncul dari pedang. Ia muncul dari tubuh Seol. Dari qi-nya. Dari pusaran di dadanya yang berputar begitu stabil hingga hampir tidak terdeteksi.

Seol Hwa menghentikan serangannya. Pedangnya berhenti tepat di depan dada Seol, hanya sejengkal dari kulit.

Seol tidak bergerak. Napasnya teratur, meski jantungnya berdebar kencang.

“Itu,” kata Seol Hwa pelan, “adalah teknik yang tidak diajarkan di Murim selama ribuan tahun.”

Ia menurunkan pedangnya. Matanya menatap Seol dengan intensitas yang belum pernah ia tunjukkan pada siapa pun.

“Siapa gurumu?”

Seol menelan ludah. Ia tidak bisa berbohong. Tapi ia juga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

“Guruku,” katanya hati-hati, “melarangku menyebut namanya.”

Seol Hwa menatapnya untuk waktu yang lama. Kemudian ia mengangguk.

“Aku tidak akan memaksa. Tapi satu hal yang aku tahu…” Ia menunjuk ke dada Seol dengan ujung pedangnya. “Teknik itu, jika dikembangkan dengan benar, akan membuatmu lebih kuat dari kebanyakan murid dalam di sekte ini. Mungkin bahkan lebih kuat dariku.”

Ia memasukkan pedang pendeknya ke sarung, berjalan ke dinding, dan mengambil sesuatu dari rak batu di sudut aula.

Sebuah kunci besi kecil, dengan gantungan tali kulit.

“Ini,” katanya, melemparkan kunci itu pada Seol.

Seol menangkapnya dengan refleks. Kunci itu dingin di tangannya, tetapi ada kehangatan di dalamnya—seperti benda yang telah digunakan bertahun-tahun.

“Apa ini?”

“Akses ke Perpustakaan Dasar Sekte,” kata Seol Hwa. “Di sana ada ribuan kitab tentang teknik pedang, pengendalian qi, ramuan, dan sejarah Murim. Biasanya hanya murid dalam yang bisa masuk. Tapi…” Ia berhenti sejenak. “Aku memberikan izin khusus untukmu.”

Seol menatap kunci itu, lalu menatap Seol Hwa. “Kenapa?”

Seol Hwa tidak menjawab segera. Ia berjalan ke jendela, memandang ke arah lereng gunung yang hijau.

“Karena teknik yang kau miliki sekarang,” katanya pelan, “tidak akan cukup. Kau butuh lebih banyak pengetahuan. Kau butuh fondasi yang kuat. Dan perpustakaan itu…” Ia menoleh, matanya bertemu dengan mata Seol. “Adalah tempat terbaik untuk membangun fondasi.”

Seol menggenggam kunci itu erat-erat. Di dalam sakunya, Batu Giwa berdenyut pelan—denyut yang terasa seperti persetujuan.

“Aku tidak tahu harus membalas budi ini bagaimana,” katanya.

“Kau tidak perlu membalas.” Seol Hwa berjalan melewatinya, menuju pintu keluar. “Tapi suatu hari, ketika kau sudah cukup kuat…” Ia berhenti di ambang pintu, tidak menoleh. “Aku mungkin membutuhkan bantuanmu.”

Ia keluar tanpa menunggu jawaban.

Seol berdiri di tengah aula, pedang panjang masih di tangan kirinya, kunci besi di tangan kanannya. Ia menatap kunci itu—sederhana, tanpa hiasan, tetapi berat. Berat dengan arti yang tidak bisa ia ukur.

Ia tidak tahu apa yang ada di benak Seol Hwa. Tidak tahu mengapa perempuan sedingin itu membantunya. Tapi satu hal yang ia tahu: ini adalah kesempatan. Dan ia tidak akan menyia-nyiakannya.

Ia mengembalikan pedang itu ke rak dinding, menyentuh bilahnya sekali lagi sebelum melepaskannya.

Terima kasih.

Ia keluar dari aula dengan langkah mantap. Di luar, matahari bersinar terang, dan untuk pertama kalinya, Sekte Pedang Surgawi terasa seperti rumah.

---

Siang Hari – Di Perpustakaan

Perpustakaan Dasar Sekte terletak di lereng tengah gunung, sebuah bangunan batu dua lantai dengan jendela-jendela besar yang menghadap ke lembah. Di luar, tidak istimewa. Tapi di dalam, Seol terpaku.

Rak-rak kayu jati menjulang hingga langit-langit, dipenuhi oleh ribuan gulungan kertas dan kitab-kitab kuno. Cahaya matahari menembus jendela-jendela kaca, jatuh di atas meja-meja baca yang terbuat dari batu hitam mengilap. Udara di sini kering, sejuk, dan berbau tinta tua serta kertas yang menguning.

Seol berjalan di antara rak-rak itu, jari-jarinya menyentuh punggung-punggung kitab. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Ada begitu banyak.

Teknik Pedang Dasar. Pengendalian Qi untuk Pemula. Sejarah Seratus Sekte. Ramuan dan Racun. Anatomi Meridian.

Ia mengambil satu kitab dari rak—Pengendalian Qi untuk Pemula—dan membukanya di salah satu meja baca.

Halaman pertama langsung membuatnya tersedak.

Di dalamnya, ada diagram meridian manusia yang sangat detail, lengkap dengan penjelasan tentang jalur-jalur qi yang bahkan Gu tidak sempat ajarkan secara lengkap. Ada teknik-teknik dasar yang bisa ia gunakan untuk memperkuat fondasinya. Ada catatan-catatan tentang kesalahan umum yang dilakukan para pemula—kesalahan yang ia sadari sedang ia lakukan selama ini.

Ia duduk, membenamkan diri dalam bacaan itu.

Jam berlalu tanpa ia sadari. Matahari bergerak dari timur ke barat, bayangan jendela bergeser di lantai, dan Seol tidak bergerak. Ia membaca. Menyerap. Belajar.

Ketika matahari mulai tenggelam, ia baru sadar bahwa ia sudah menghabiskan lima jam di perpustakaan. Ia belum makan siang. Ia belum menyelesaikan tugas sorenya. Tapi ia tidak peduli.

Ia menemukan sesuatu yang lebih berharga dari tugas apa pun.

---

Sore Hari – Kembali ke Asrama

Seol kembali ke asrama dengan langkah cepat, gulungan kecil berisi catatan yang ia tulis sendiri di tangannya. Ia sudah melewatkan tugas sore—pengawas pasti marah. Tapi ia tidak peduli.

Ia akan membayarnya besok. Dengan kerja ekstra, dengan keringat lebih banyak. Tapi ilmu yang ia dapatkan hari ini tidak bisa digantikan oleh tugas apa pun.

Saat ia memasuki gerbang asrama, Baek Ho menyambutnya dengan wajah cemas.

“Kau ke mana saja? Pengawas marah sekali. Katanya kau akan dihukum besok. Kau harus bersihkan semua area latihan sendirian.”

“Tidak apa-apa,” kata Seol. Matanya berbinar—binar yang belum pernah Baek Ho lihat sebelumnya. “Lihat ini.”

Ia membuka gulungan catatannya, memperlihatkan diagram meridian yang ia salin dari kitab.

Baek Ho mengerjap. “Apa ini?”

“Ini adalah peta meridian yang benar. Selama ini aku melakukan kesalahan di tiga titik. Lihat, di sini—aku mengalirkan qi ke jalur yang salah, itulah sebabnya pusaranku tidak stabil.”

Baek Ho menatap diagram itu, lalu menatap Seol. “Kau… kau pergi ke perpustakaan? Tapi murid luar tidak diizinkan masuk ke perpustakaan.”

Seol tersenyum kecil. “Seol Hwa memberiku izin.”

Baek Ho membelalak. “Seol Hwa? Murid senior yang dingin itu? Dia memberimu izin? Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku tidak akan menyia-nyiakannya.”

Seol duduk di atas tikarnya, membuka gulungan itu lagi, mulai mempelajarinya dengan saksama. Baek Ho duduk di sampingnya, ikut menatap diagram itu dengan rasa ingin tahu.

“Kau tahu,” kata Baek Ho setelah beberapa saat, “aku mulai percaya bahwa kau benar-benar akan menjadi murid dalam.”

Seol tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada diagram itu, tetapi di dalam dadanya, pusaran qi berputar lebih cepat—lebih stabil, lebih kuat, lebih siap.

Sebentar lagi, Gu. Sebentar lagi aku akan cukup kuat.

---

Di Kediaman Murid Dalam – Malam Hari

Seol Hwa duduk di beranda kamarnya, memandang ke arah barat—ke arah asrama murid luar. Di tangannya, secangkir teh hangat mengepulkan uap tipis ke udara malam.

“Kau memberinya akses ke perpustakaan,” suara Kang Jin dari belakangnya, datar tetapi ada nada tuduhan di dalamnya.

“Ya.”

“Itu tidak biasa. Murid luar tidak diberi akses ke perpustakaan dasar sekte, apalagi tanpa persetujuan tetua.”

“Aku adalah asisten kepala instruktur. Aku punya wewenang.”

Kang Jin mendekat, berdiri di sampingnya. “Ini bukan tentang wewenang. Ini tentang… kau terlalu tertarik padanya.”

Seol Hwa tidak menjawab. Ia menyesap tehnya, matanya tidak bergerak dari titik-titik cahaya di kejauhan.

“Teknik yang ia gunakan hari ini,” katanya pelan, “bukan teknik sembarangan. Itu adalah teknik yang sudah hilang dari Murim selama ribuan tahun.”

Kang Jin mengerutkan kening. “Teknik apa?”

“Pedang Bayangan. Teknik yang konon diajarkan oleh rubah berekor sembilan kepada Kaisar Bela Diri pertama.” Seol Hwa meletakkan cangkir tehnya. “Jika ia benar-benar menguasai teknik itu… ia bisa menjadi lebih kuat dari siapa pun di sekte ini.”

Kang Jin terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.

“Itu sebabnya aku memberinya akses ke perpustakaan,” lanjut Seol Hwa. “Aku ingin melihat seberapa jauh ia bisa melangkah. Dan jika ia benar-benar mencapai potensinya…” Ia menoleh, matanya bertemu dengan mata Kang Jin. “Ia bisa menjadi aset berharga bagi sekte ini. Atau ancaman yang sangat berbahaya.”

“Dan kau ingin memastikan mana yang akan terjadi?”

Seol Hwa tersenyum. Senyum yang tidak bisa diartikan.

“Aku hanya ingin melihat,” katanya. “Untuk saat ini, itu sudah cukup.”

Ia berdiri, melangkah masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu. Kang Jin berdiri di beranda, memandang pintu yang tertutup dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.

Di dadanya, ada kecemasan. Bukan kecemasan tentang Ryu Seol. Tapi kecemasan tentang Seol Hwa—tentang perempuan yang selama ini ia anggap tidak tersentuh emosi, kini mulai menunjukkan sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Ketertarikan.

Dan dalam dunia persilatan, ketertarikan bisa menjadi senjata yang paling tajam—atau luka yang paling dalam.

---

1
yos helmi
💪💪💪💪💪😍😍😍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍👍👍👍💪💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😍😍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
👍👍👍👍🤣🤣💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍
yos helmi
💪💪💪💪👍👍👍
Daryus Effendi
sampah
R.A.N
mana author
Q. Zlatan Ibrahim: halo terimakasih sudah berkunjung
total 1 replies
R.A.N
halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!