NovelToon NovelToon
TERJEBAK OBSESI

TERJEBAK OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Duda
Popularitas:686
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

update setiap tanggal genap

Lin Yinjia adalah mahasiswi biasa yang hidupnya sederhana namun hangat bersama keluarganya. Ketika adiknya mengalami kecelakaan dan terbaring koma, kehidupannya perlahan berubah. Demi membantu biaya pengobatan, Yinjia terpaksa mempertahankan perjodohan yang sudah diatur keluarganya dengan Gu Zhenrui, pewaris keluarga kaya yang arogan dan penuh kesombongan.

Di kampus, Yinjia harus menghadapi berbagai gosip, sindiran, dan pengkhianatan dari orang-orang yang dulu ia percaya. Ketika ia mulai menyadari bahwa tunangannya berselingkuh, Yinjia memutuskan untuk berhenti menjadi gadis yang hanya diam menerima semuanya.

Kesempatan datang saat ia diterima magang di sebuah perusahaan ekspor impor besar di Shanghai. Di sanalah ia bertemu Guo Linghe—presiden direktur perusahaan yang dingin, kaku, dan memiliki dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan Yinjia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Jamuan - 2

Gedung hotel itu terlalu terang untuk seseorang seperti Lin Yinjia. Bukan karena lampunya menyilaukan, tapi karena semua yang ada di dalamnya terasa… tidak untuknya.

Langkahnya sedikit tertahan saat berdiri di depan pintu ballroom. Tangannya menggenggam undangan yang tadi ia dapat dari Song Jian. Kertas tebal dengan tulisan emas itu terasa lebih berat dari seharusnya.

Bukan sekadar acara makan malam. Ini dunia lain. Dan ia sadar, ia bukan bagian dari dunia itu. Namun, jika ia mundur sekarang… semua yang sudah ia jalani selama ini akan terlihat seperti lelucon.

Yinjia menarik napas pelan, lalu mendorong pintu itu. Suara percakapan langsung menyambutnya. Ruangannya luas, dengan lampu gantung besar di tengah langit-langit. Orang-orang berdiri dalam kelompok kecil, berbicara dengan suara rendah, tertawa secukupnya, menatap secukupnya. Tidak ada yang benar-benar lepas. Semua terlihat… terkontrol.

Yinjia melangkah masuk, mencoba tidak terlihat canggung. Tapi itu mustahil. Ia bisa merasakan beberapa tatapan mengarah padanya—bukan karena ia istimewa, tapi karena ia berbeda.

Pakainnya sederhana. Tidak buruk, tapi jelas tidak sekelas mereka. Ia menahan diri untuk tidak menarik ujung bajunya. “Fokus,” gumamnya pelan.

Ia mencari meja magang. Beberapa wajah familiar terlihat, dan ia sedikit lega saat melihat dua rekan magangnya melambaikan tangan. “Kamu datang juga,” kata salah satu dari mereka.

“Iya… agak telat ya?” jawab Yinjia pelan.

“Masih awal kok. Tenang saja.”

Yinjia duduk. Ia mencoba menyesuaikan diri dengan suasana. Gelas di depannya masih kosong, tangannya dingin, dan pikirannya terus berusaha mencari tempat yang aman.

Namun tidak ada. Karena ini bukan tempat aman. Ini tempat orang-orang yang terbiasa berada di atas. Matanya tanpa sadar menyapu ruangan. Dan saat itulah… ia melihatnya.

Guo Linghe.

Ia berdiri tidak jauh dari sisi ruangan, berbicara dengan beberapa pria berjas. Tidak banyak bergerak, tidak banyak bicara. Tapi kehadirannya… sulit diabaikan. Ia tidak perlu mencari perhatian. Perhatian datang sendiri.

Tatapannya datar, ekspresinya tenang, dan setiap orang yang berbicara dengannya terlihat sedikit… berhati-hati. Yinjia menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Bukan karena tertarik. Lebih karena… penasaran.

Bagaimana seseorang bisa terlihat begitu dingin, tapi tetap menjadi pusat dari segalanya? Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan saat menyadari dirinya terlalu lama melihat. “Jangan aneh-aneh,” bisiknya pada diri sendiri.

Acara mulai berjalan. Satu per satu orang dipanggil untuk memperkenalkan diri. Para magang, staf baru, hingga beberapa divisi yang bekerja sama. Semua berbicara singkat, padat, dan jelas.

Saat namanya dipanggil, jantung Yinjia langsung berdetak lebih cepat. Ia berdiri. Langkahnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Namun ia tetap maju.

Berdiri di depan banyak orang seperti ini bukan hal yang ia suka. Tapi ia tidak bisa menghindar. “Lin Yinjia… divisi administrasi,” ucapnya.

Suaranya sedikit pelan di awal, tapi ia memaksanya stabil. “Saya masih belajar… jadi mohon bimbingannya.” Singkat. Tidak istimewa. Tapi jujur.

Ia menunduk sedikit, lalu kembali ke tempat duduknya. Tangannya sedikit gemetar saat duduk kembali, tapi ia berusaha tidak menunjukkannya. Beberapa orang tidak terlalu memperhatikan. Namun ada satu orang yang memperhatikan.

Guo Linghe.

Tatapannya sempat berhenti pada Yinjia. Tidak lama. Tidak mencolok. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya… mencatat.

Bukan karena kata-katanya. Tapi karena cara ia berdiri. Tidak percaya diri, tapi tidak pura-pura percaya diri. Tidak mencoba menarik perhatian, tapi juga tidak bersembunyi sepenuhnya. Itu… jarang.

Acara berlanjut ke makan malam. Yinjia mencoba makan pelan, menjaga sikapnya. Ia memperhatikan cara orang lain menggunakan alat makan, cara mereka berbicara, cara mereka bahkan… tertawa.

Semua terasa seperti aturan tak tertulis. Ia berusaha menyesuaikan diri. Namun tetap saja… ia berbeda. “Pertama kali ikut acara seperti ini?” tanya seseorang di sampingnya.

Yinjia menoleh. Seorang pria, mungkin sedikit lebih tua darinya, tersenyum santai. “Iya,” jawabnya jujur.

“Kelihatan,” katanya ringan.

Yinjia sedikit tersenyum canggung. “Buruk ya?”

“Enggak. Justru… masih kelihatan manusia.”

Kalimat itu membuat Yinjia sedikit terdiam. Ia tidak tahu harus menganggap itu pujian atau sindiran. Namun sebelum ia sempat menjawab, suasana ruangan sedikit berubah. Percakapan mereda.

Beberapa orang berdiri lebih tegak. Dan tanpa perlu melihat, Yinjia tahu kenapa. Guo Linghe mulai bergerak.

Ia berjalan melewati beberapa meja, berbicara singkat dengan beberapa orang. Tidak lama, tidak berlebihan. Tapi setiap interaksi terasa penting.

Langkahnya berhenti… tidak jauh dari meja Yinjia.bJaraknya cukup dekat untuk membuat napas Yinjia sedikit tertahan. Ia tidak menoleh. Ia tidak berani.

Namun ia bisa merasakan kehadiran pria itu dengan jelas. “Bagaimana magangnya?” suara itu terdengar. Tenang. Datar. Namun jelas.

Yinjia membeku beberapa detik sebelum menyadari… pertanyaan itu ditujukan padanya. Ia menoleh. Dan untuk pertama kalinya… tatapan mereka bertemu secara langsung. Dekat. Lebih dekat dari sebelumnya.

Matanya tidak dingin seperti yang ia bayangkan. Lebih tepatnya… kosong. Sulit ditebak. “Baik…” jawab Yinjia, sedikit terlambat. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, “Masih banyak yang harus dipelajari.”

Linghe menatapnya beberapa detik. Tidak tersenyum. Tidak bereaksi. Namun ia tidak langsung pergi. “Tidak gugup?” tanyanya lagi.

Yinjia hampir tertawa kecil. “Tadi gugup.”

“Sekarang?”

“…masih sedikit.” Jawabannya jujur.

Terlalu jujur. Namun entah kenapa, ia tidak merasa perlu berbohong di depan pria ini. Linghe mengangguk pelan. Seolah jawaban itu cukup. Tidak ada pujian. Tidak ada kritik.

Namun sebelum ia pergi, ia mengatakan satu hal. “Kerja dengan benar.” Sederhana. Tapi entah kenapa… terasa berat. Bukan ancaman. Lebih seperti… penilaian awal.

Dan tanpa menunggu jawaban, ia pergi. Langkahnya tenang seperti sebelumnya. Yinjia masih diam beberapa detik. Tangannya yang tadi memegang garpu kini berhenti. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Bukan karena takut. Bukan juga karena gugup. Lebih karena… sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia menunduk, mencoba kembali fokus pada makanannya. Namun pikirannya tidak benar-benar kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!