Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Rekrutmen
Sinar matahari pagi yang semakin terik menerangi halaman depan Mansion Quizel yang kini berubah menjadi kamp seleksi darurat. Bau sisa ledakan dari truk Jenderal Rian masih tercium tipis, bercampur dengan aroma logam dari senjata-senjata yang ditumpuk di satu sisi. Sekitar tiga puluh prajurit militer yang tersisa berdiri berbaris dengan wajah pucat, tangan mereka terikat di depan, sementara mata mereka menatap nanar ke arah balkon tempat Elara tadi berdiri.
Arkan berdiri di depan barisan dengan tablet transparan di tangannya, sementara Herra bersandar pada pilar beton sambil mendekap senapan sniper-nya. Aura Herra yang dingin dan mematikan membuat para prajurit itu tidak berani bahkan untuk sekadar berbisik.
"Dengar!" suara Arkan menggema, meski tenang namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan. "Nona Elara bukan tipe orang yang suka membuang sumber daya. Tapi dia juga tidak akan memelihara ular di dalam rumahnya. Pilihannya sederhana: Tunduk secara total, atau silakan keluar dari gerbang itu sekarang juga tanpa sehelai benang pun dari perlengkapan militer kalian."
Salah satu prajurit dengan pangkat Sersan mencoba mendongak. "Kami bersumpah setia pada negara, bukan pada seorang warga sipil!"
Herra mendengus pelan. Tanpa mengubah posisinya, ia menarik pelatuk sedikit hingga suara klik mekanis senjata itu terdengar jelas di keheningan pagi. "Negaramu sudah mati saat hujan darah turun, Sersan. Yang ada sekarang hanyalah siapa yang punya makanan dan siapa yang punya kekuatan untuk melindunginya. Nona Elara punya keduanya. Kamu? Kamu hanya punya mulut yang terlalu banyak bicara."
Arkan menatap Sersan itu, lalu matanya berpendar biru tipis. Ia menggunakan kemampuan "The Analyst" untuk memindai setiap orang di sana.
ANALISIS TARGET: UNIT MILITER SISA
TARGET 1 (SERSAN):
STATUS: REBELIUS (PEMBANGKANG) LOYALITAS: 5% ANCAMAN: TINGGI (MEMILIKI RENCANA SABOTASE) TARGET 2 - 15:
STATUS: TERGUNCANG (BISA DIREKRUT)
LOYALITAS: 40% ANCAMAN: RENDAH
"Herra," panggil Arkan tanpa menoleh. "Pria di depan ini, dan tiga orang di barisan belakang sebelah kanan... mereka punya niat untuk merebut gudang senjata kita malam nanti jika kita membiarkan mereka masuk."
Mendengar itu, wajah Sersan itu berubah drastis. "Bagaimana kamu bisa tahu?!"
Herra tidak menjawab dengan kata-kata. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia membidik kaki Sersan itu dan melepaskan satu tembakan.
DOR!
"ARRGGHH!" Sersan itu jatuh berlutut, memegangi betisnya yang hancur.
"Itu peringatan," ujar Herra dingin. "Arkan tidak pernah salah dalam menganalisis sampah seperti kalian. Siapa lagi yang punya rencana rahasia? Maju sekarang atau aku akan memastikan peluru berikutnya bersarang di antara mata kalian."
Tiga prajurit di barisan belakang gemetar hebat. Mereka menjatuhkan diri, bersujud di atas aspal yang panas. "Maaf! Kami hanya mengikuti perintah Sersan! Kami ingin hidup! Tolong jangan bunuh kami!"
Arkan kembali menggeser layar tabletnya. "Bagus. Untuk kalian yang benar-benar ingin bergabung, maju ke depan satu per satu. Aku akan memeriksa potensi kalian. Jika kalian punya kemampuan spesial yang belum terbangkitkan, Nona Elara mungkin akan memberikan kalian 'kesempatan' untuk berevolusi."
Satu per satu prajurit mulai bergerak maju. Arkan menyentuh bahu mereka, menggunakan kekuatannya untuk membaca potensi genetik mereka. Beberapa memiliki potensi tipe pertahanan, beberapa lagi tipe teknisi. Bagi Elara, mereka adalah aset berharga untuk mengelola pangkalan militer di Sektor 7 nanti.
"Siapa namamu?" tanya Arkan pada seorang prajurit muda yang tampak ketakutan.
"Bayu, Tuan... saya mekanik kendaraan berat," jawabnya gagah meski suaranya bergetar.
Arkan tersenyum tipis. "Potensi Tipe Mekanik Tingkat B. Kamu diterima. Herra, bawa dia ke Pak Bara. Kita butuh orang untuk memperbaiki truk-truk yang rusak di luar."
Herra memberikan kode dengan dagunya agar Bayu mengikuti seorang asisten mansion. Proses seleksi berlanjut selama dua jam. Dari tiga puluh orang, hanya delapan belas orang yang dinyatakan layak untuk direkrut. Sisa dua belas orang, termasuk si Sersan yang terluka, diseret paksa menuju gerbang depan.
"Tunggu! Kalian tidak bisa membuang kami begitu saja! Di luar sana banyak monster!" teriak salah satu prajurit yang ditolak.
Herra berdiri di depan gerbang yang perlahan terbuka. Ia menunjuk ke arah tumpukan mayat zombi yang mulai mengering di jalan raya. "Dunia ini adil, prajurit. Kalian tidak berguna bagi kami, jadi silakan cari kegunaan kalian di perut makhluk-makhluk itu. Anggap saja ini latihan bertahan hidup yang sesungguhnya dari Jenderal kalian yang sudah mati."
Gerbang ditutup dengan bunyi dentum yang berat, menyisakan teriakan putus asa di luar yang perlahan ditelan oleh raungan zombi dari kejauhan.
Arkan mematikan tabletnya dan menoleh pada Herra. "Nona Elara benar. Orang-orang ini butuh rasa takut yang nyata agar bisa setia."
Herra membersihkan laras senjatanya dengan kain sutra. "Rasa takut itu sementara, Arkan. Tapi setelah mereka merasakan masakan Mira dan keamanan mansion ini, mereka akan menyadari bahwa menjadi budak Elara jauh lebih baik daripada menjadi raja di neraka luar sana."
Arkan mengangguk setuju. "Ayo kembali. Nona pasti menunggu laporan kita sebelum berangkat ke Sektor 7. Aku merasakan ada sesuatu yang besar di pangkalan itu... sesuatu yang lebih dari sekadar senjata."
Kedua tim inti itu berjalan kembali ke dalam mansion, meninggalkan halaman yang kini sudah bersih dari pemberontak. Di dalam, kekaisaran Elara Quizel semakin kokoh dengan tambahan tenaga militer yang kini siap mati demi wanita yang mereka sebut sebagai "Ratu".
[STATUS SELEKSI: SELESAI]
[PENAMBAHAN PERSONEL: 18 PRAJURIT (LOYALITAS AWAL: 50%)]
[TIM INTI BERSINERGI: ARKAN & HERRA (EFEKTIVITAS: 100%)]
______🧟♀️🧟♀️🧟♀️🧟♀️
Pukul 07:00 malam
Suasana di dalam aula besar Mansion Quizel malam itu terasa begitu hangat, seolah-olah kiamat yang terjadi di luar sana hanyalah mimpi buruk yang jauh. Lampu-lampu kristal yang ditenagai oleh generator molekuler buatan Bara berpendar keemasan, memantul pada piring-piring porselen dan gelas-gelas kristal yang tertata rapi di atas meja panjang.
Ini adalah perayaan sekaligus ritual pengikat bagi mereka yang selamat. Di ujung meja, Elara duduk dengan anggun, mengenakan gaun sutra hitam simpel yang kontras dengan kulit pucatnya. Di sampingnya, Leonard duduk seperti singa yang menjaga ratunya, matanya sesekali melirik tajam ke arah para prajurit baru yang masih tampak kaku duduk di ujung meja yang lain.
"Malam ini, lupakan sejenak tentang darah dan zombi," suara Elara lembut namun merambat ke seluruh penjuru ruangan. "Nikmatilah apa yang sudah kita perjuangkan."
Mira keluar dari dapur bersama asistennya, membawa nampan-nampan besar yang mengeluarkan aroma surgawi. Ada daging panggang premium yang empuk, sup kental dengan bumbu rempah rahasia, hingga hidangan penutup yang tampak begitu mewah.
Para prajurit baru, termasuk Bayu si mekanik, menelan ludah dengan keras. Bagi mereka yang selama berminggu-minggu hanya memakan ransum militer kering dan air mentah, pemandangan ini hampir membuat mereka menangis.
"Silakan makan. Jangan ada yang tersisa," ujar Mira sambil tersenyum ramah.
Begitu suapan pertama menyentuh lidah mereka, keajaiban kemampuan "God’s Chef" milik Mira langsung bekerja. Rasa lezat yang tak masuk akal itu seolah mencuci trauma dan kelelahan mental mereka. Bayu, yang tadinya masih merasa ragu dan takut, tiba-tiba merasakan aliran energi hangat di dadanya.
"Ini... ini bukan sekadar makanan," bisik salah satu prajurit baru sambil mengusap air matanya yang jatuh tanpa sadar. "Aku merasa... aku merasa hidup kembali."
Di sisi lain meja, Herra dan Arkan menikmati makanan mereka dengan lebih tenang. Herra sesekali menyesap anggur merahnya, sementara Arkan terus memantau tabletnya, memastikan tidak ada lonjakan emosi negatif dari para rekrutan baru.
"Lihat mereka," bisik Arkan pada Herra. "Loyalitas mereka meningkat drastis. Dari 50% menjadi 75% hanya dalam satu sesi makan malam. Nona benar-benar tahu cara menjinakkan manusia."
Herra melirik ke arah Elara. "Bukan hanya makanan, Arkan. Nona memberikan mereka harapan. Di dunia yang hancur, harapan adalah narkoba yang paling mematikan."
Leonard tiba-tiba berdiri, mengangkat gelas kristalnya yang berisi minuman berwarna gelap. Seluruh ruangan seketika menjadi sunyi senyap.
"Besok, kita tidak hanya pergi untuk mengambil senjata," ujar Leonard, suaranya berat dan penuh wibawa. "Kita pergi untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita. Sektor 7 adalah langkah awal bagi kekaisaran yang dibangun oleh istriku. Siapa pun yang berani menghalangi, akan berakhir seperti Jenderal kalian. Paham?"
"PAHAM, TUAN!" seru delapan belas prajurit itu serempak, suara mereka menggetarkan aula. Kali ini, teriakan itu bukan karena takut, tapi karena mereka benar-benar ingin menjadi bagian dari kekuatan ini.
Elara tersenyum tipis. Ia berdiri dan mendekat ke arah Leonard, menyentuh lengannya dengan lembut. "Cukup, Sayang. Jangan menakuti mereka saat makan malam."
Elara kemudian menatap semua orang di ruangan itu. "Besok adalah hari besar. Pak Jaka telah menyiapkan ramuan penguat stamina untuk kalian semua. Pak Bara telah menyelesaikan modifikasi pada kendaraan tempur yang kita sita tadi pagi. Kita akan berangkat pukul empat pagi."
Perayaan berlanjut dengan suasana yang lebih santai. Para prajurit mulai berani mengobrol dengan tim inti, meski masih dengan rasa hormat yang tinggi. Tobi menceritakan beberapa pengalaman serunya saat melakukan pengintaian, sementara Sarah berkeliling memastikan kondisi fisik semua orang tetap prima.
Malam itu, di bawah perlindungan dinding Mansion Quizel, sebuah ikatan baru telah terbentuk. Mereka bukan lagi sekadar majikan dan bawahan, atau penyelamat dan pengungsi. Mereka adalah satu unit tempur yang terikat oleh kemewahan, rasa lapar yang terpuaskan, dan satu sosok wanita yang mereka anggap sebagai cahaya di tengah kegelapan.
Saat perayaan mulai berakhir, Elara dan Leonard berjalan menuju balkon kamar mereka. Menatap pangkalan Sektor 7 yang terlihat samar di cakrawala lewat teropong taktis.
"Siap untuk besok?" tanya Leonard sambil memeluk Elara dari belakang.
Elara bersandar pada dada bidang suaminya. "Aku sudah menyiapkan segalanya, Leo." Jawab Elara ia memejamkan mata nya sejenak 'Sektor 7 bukan hanya pangkalan militer. Di sana ada sesuatu yang sangat ku butuhkan untuk meningkatkan sistemku ke level selanjutnya. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan ku.' batin Elara
Malam itu ditutup dengan keheningan yang penuh rencana, sementara di gudang bawah tanah, Pak Jaka sedang menyiapkan pupuk dari 'bahan' yang baru saja ia terima, memastikan kebun mansion akan tetap subur untuk menyambut kepulangan tim pemenang besok sore.
[STATUS PSIKOLOGIS TIM: EUFORIA & LOYALITAS TINGGI]
[PERSIAPAN LOGISTIK: 100%]
[OPERASI SEKTOR 7: SIAP DILAKSANAKAN DALAM 6 JAM]
Bersambung....🧟♀️🧟♀️🧟♀️
nabung chapter dulu untuk yang next 🥰🙏🏻
menarik thorr, lanjutkan 😈🔥