NovelToon NovelToon
Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Cinta Gus Aqlan Ke Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / CEO
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Assalamualaikum wr.wb. cerita dari Hormoni ilmu dan amal di pesantren ini kelanjutan untuk cerita gus aqlan ke Aisyah.
Waktu Seketika wanita yang begitu elegan dan wibawa sangat dewasa bernama Aisyah Adeeba (anak dari papa arya dan mama laras), Kemudian kejadian yang begitu bahaya bagi mama laras karena pria tidak memberi tau kepadanya pada akhirnya Cinta mereka terhalang dengan mama laras kepada Aisyah. Pada bulan berbulan mereka ditemukan kembali Aisyah kuliah di terkenal di kalangan mahasiswa maupun mahasiswi lainnya, mereka berpapasan dengan mereka waktu ketemu getaran hati mereka bersatu kembali tapi mereka tidak tau kalau mereka pernah ketemu bahkan akrab.
"Apa kami pernah ketemu " batin Aisyah
"Apa wanita ini sangat familiar sekali wajah " batin pria berbaju putih dengan peci dan sorban yang rapih.Pria ini adalah anak dari suami-istri memiliki pesantren di jawa tengah nama pesantrennya Nurul ilmi,dengan pemilik Kiyai abdul dan nyai Maryam,pria tadi adalah gus aqlanArdhani

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21. Pertemuan Keluarga yang Penuh Haru

   ೄೄྀೄྀೄྀೄྀ A&Qೄྀೄྀೄྀೄྀೄྀ

Suasana di koridor rumah sakit itu masih dipenuhi kehangatan dan air mata bahagia. Gus Aqlan dan Aisyah masih saling berpandangan, seakan dunia milik berdua, setelah sekian lama rindu dan ingatan akhirnya bersatu kembali.

Namun, kedamaian itu kembali terganggu oleh suara langkah kaki yang berderap cepat dan penuh wibawa dari arah ujung lorong. Kali ini kedatangannya lebih terasa gagah dan penuh kharisma.

"Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..."

Suara itu berat, tegas, namun terdengar sangat lembut dan penuh kasih sayang.

Semua orang menoleh serentak.

Datanglah Kyai Abdul (Ayahanda Gus Aqlan) dan istrinya tercinta nyai Maryam ( Bunda Gus aqlan). Mereka baru saja tiba dari kediaman mereka setelah mendapat kabar mendesak bahwa putra kesayangan mereka pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.

Wajah Ayah Abdul tampak tenang namun matanya menyiratkan kekhawatiran yang dalam. Di sampingnya, Bunda Maryam berjalan dengan tangan memegang dadanya, napasnya tampak tertahan menahan kekhawatiran yang luar biasa selama perjalanan.

"Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh..." jawab mereka semua serentak dengan hormat.

"ayah... bunda..." panggil Gus Aqlan dan Zea bersamaan.

Bunda Maryam langsung bergegas mendekati putranya. Matanya segera memindai tubuh Gus Aqlan dari ujung kaki sampai ke ujung kepala, memastikan tidak ada luka atau hal buruk yang terjadi.

"Ya Allah... Aqlan... Kamu gimana nak? Kenapa bisa pingsan begitu? bunda kaget setengah mati dapat kabarnya..." ujar Bunda Maryam dengan suara bergetar, tangannya langsung memegang kedua pipi putranya itu memeriksa suhu tubuhnya.

"Alhamdulillah, bun... Aqlan baik-baik saja kok. Cuma tadi pusing sedikit, sekarang sudah enakan," jawab Gus Aqlan lembut menenangkan ibunya.

Ayah Abdul pun mengangguk pelan, lalu menatap putranya dalam-dalam. "Syukurlah kalau begitu. Jaga kesehatanmu, Nak. Ilmu itu penting, tapi kesehatan adalah amanah."

Selesai memastikan kondisi anaknya aman, nyai Maryam baru menyadari keberadaan orang lain di situ. Matanya perlahan beralih menatap sosok wanita muda yang berdiri di samping putranya, yang tampak masih dengan mata sembab dan wajah pucat.

Bunda Maryam tersenyum ramah dan sopan, senyum seorang ibu yang menghargai orang lain.

"Oh... ini pasti Aisyah ya? Yang sering diceritakan Zea?" sapanya lembut. "Terima kasih ya Nak sudah mau nemenin dan jagain Aqlan di sini. Kamu baik hati sekali."

Bunda Maryam tersenyum lebar menyambut Aisyah, berniat untuk menyapa dan mengulurkan tangan...

Namun...

Saat matanya menatap wajah Aisyah lebih lekat-lekat, saat ia melihat jelas ciri-ciri wajah, bentuk mata, dan senyum wanita itu...

BRAKK!!

Senyum di wajah Bunda Maryam tiba-tiba membeku. Matanya membelalak lebar tak percaya. Tangannya yang terulur terhenti di udara. Tubuhnya seakan terpaku kaku seolah tersambar petir di siang bolong.

"Kau... kau...?" bisik Bunda Maryam terbata-bata, suaranya hilang dari tenggorokan.

Wajahnya berubah drastis dari ramah menjadi kaget luar biasa. Matanya berkaca-kaca seketika. Ia menoleh cepat ke arah suaminya, Kyai Abdul, lalu kembali menatap Aisyah, lalu menatap wajah putranya Gus Aqlan yang kini tersenyum penuh makna.

"Abdul... Ayah... Lihat itu... Lihat wajah gadis ini..." isak Bunda Maryam pelan namun terdengar sangat syok.

Ayah Abdul yang tadinya tenang, kini ikut menatap Aisyah dengan seksama. Perlahan, mata sang Kyai pun ikut berbinar dan terbelalak. Dadanya naik turun menahan emosi yang meledak-ledak.

"Ya Allah... Maha Kuasa Engkau... Ini... ini bukan orang asing, Maryam..." gumam Ayah Abdul dengan suara berat yang bergetar. "Ini... ini Aisyah... Aisyah Adeeba..."

"Aisyah... Gadis kecil kita... Gadis yang dulu berjanji dengan Aqlan di Pondok At-Taqwa..."

GEDUBAR!!!

Bunda Maryam langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya meluncur deras tak tertahankan. Kakinya lemas seketika, untung cepat ditopang oleh Ayah Abdul dan Zea.

"Masya Allah... Masya Allah... Jadi... jadi dia yang selama ini Aqlan cari? Jadi dia yang bikin ingatan Aqlan balik?" jerit Bunda Maryam dalam hati, campur aduk antara kaget, takjub, dan bahagia yang luar biasa.

Ia tidak menyangka! Ia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita baik hati yang selama ini dekat dengan putranya di kampus, yang diceritakan Zea, adalah sosok yang sama yang sudah lama tertanam di hati dan janji keluarga mereka sejak dulu!

Ia kira hanya kemiripan nama atau kebetulan semata, tapi nyatanya... Tuhan mempertemukan mereka kembali di tempat ini, dalam kondisi yang begitu ajaib.

"Kau... kamu benar Aisyah, Nak?" tanya Bunda Maryam lagi, air mata membasahi pipinya. "Kamu Aisyah yang dulu suka makan bareng Aqlan? Kamu Aisyah yang janji mau jadi pendampingnya?"

Aisyah yang melihat reaksi Bunda Maryam yang begitu syok dan bahagia itu, hanya bisa mengangguk pelan sambil menangis.

"Betul, Bun... Saya Aisyah..."

Bunda Maryam tidak kuat menahan diri lagi. Ia langsung melangkah maju dan memeluk Aisyah dengan sangat erat, seakan memeluk anak kandung sendiri yang sudah hilang bertahun-tahun dan kini ditemukan kembali.

"Ya Allah... Terima kasih... Terima kasih telah mengembalikan kepingan hati kami..." isak Bunda Maryam di bahu Aisyah.

Suasana di koridor rumah sakit itu kini benar-benar utuh. Semua keluarga besar sudah berkumpul. Misteri terungkap, ingatan kembali, dan cinta yang terhalang waktu kini kembali bersinar terang di hadapan kedua orang tua mereka.

 

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!