NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama

"Mi! Lo ganti baju apa bertapa sih?" Ujuk-ujuk Rola nongolin kepalanya di sela-sela pintu walk-in-closet.

Micin yang lagi sibuk-sibuknya di dalam ruangan pribadinya itu seketika terperanjat, lalu buru-buru bersedekap dada guna melindungi aset berharganya, agar tidak terlihat di mata Rola yang main nyelonong masuk aja.

"Sabar anjing! Kutang gue masih belum ketemu!" sahut Micin membesengut.

"Kutang?" Rola mengerinyit, agaknya gadis itu bingung dengan jawaban Micin yang barusan terdengar.

Rola lalu menelisik seantero sekitar.

"Lah itu apa?" tunjuk Rola ke arah satu lemari kaca tempat biasa Micin menyimpan segala aset dalamannya.

"Banyak banget berjejeran gitu kenapa bisa bilang belum ketemu?" herannya.

Micin sontak nyengir sembari menutup lemari itu cepat-cepat, sebelum segala isinya tertangkap di mata Rola.

"Ya itu kan yang lain, sedangkan yang mau gue pake hari ini bukan di antara mereka-mereka itu, Rol," kilah Micin sembari mengencangkan lilitan handuk.

Rola menghela napas panjang. Ia sendiri tahu sahabatnya itu memang punya kebiasaan yang cukup nyeleneh bin setengah nggak waras, gadis itu masih saja terheran-heran.

"Memangnya harus banget pake yang lo mau?"

"Ya iyalah!"

"Kan lo tau sendiri gue nggak biasa pake daleman yang nggak serasi. Kalau bawahnya ungu atasnya juga harus ungu! Dan kalau bawahnya biru atasnya juga harus biru," ngedumel Micin sambil masih mengobrak-abrik beberapa lemarinya yang lain.

Padahal di sana isinya sejenis gaun-gaun dan pakaian luar semua, tapi siapa tahu kutang yang ia cari-cari nyempil di sana.

"Yaelah!" Rola bersandar malas di daun pintu.

"Timbang beda warna doang apa masalahnya si! Lagian siapa juga yang bakal ngeh kalau daleman lo nggak serasi?" cebiknya terheran-heran.

"Ya elo!" dengus Micin. "Kan sekarang lo liat gue lagi telanjang begini! Artinya ya lo bakal tau kalau daleman gue nggak serasi!"

Tak lama kemudian Micin lalu memencet saklar lampu biar sekalian gelap. Berharap setelahnya Rola bakal pergi ninggalin dia sendirian.

Sementara di sela-sela pintu Rola nongolin kepalanya. Ia angsung cekikikan nggak berhenti-berhenti, lalu mundur perlahan sambil berpesan pada Micin.

"Jangan lama-lama, keburu malem! Kita cuma mau jenguk Dena, bukan mau ganggu jam istirahatnya," ujarnya lalu menutup pintu itu rapat-rapat.

Micin mencebikan bibirnya. Rola cerewet juga.

"Iyee! Lagian ini juga baru jam tujuh! Mau sakit sekalipun gue yakin Dena pasti lagi asik nontonin drama cina!" gerundelnya yang begitu mulut itu terkatup, ia menemukan satu kutang nyempil di antara gaun-gaunnya.

"Nah! Ketemu juga kan lo!" serunya berpuas diri.

Sementara itu di area meja belajar. Elsa terlihat duduk-duduk santai sembari nyemilin makanan si yang punya kamar itu sendiri.

Mencicipi bermacam-macam camilan yang ada, tapi rasanya asin-asin semua—sesuai dengan nama si yang punya camilan itu 'Micin' gadis itu memang membenci camilan yang rasanya manis-manis.

Elsa mengerinyit heran, menatap langkah gontai Rola ke arah ranjang. "Mimi mana, Rol?"

"Masih di dalem," tunjuknya dengan dagu ke arah ruang ganti baju.

"Belum selesai juga ganti bajunya?" tanya Elsa yang sebenarnya sudah mulai bosan ngunyah camilan.

Rola menggeleng lalu mencebik tipis. "Ya belum! Dia aja masih telanjang tuh, gara-gara kutangnya belum ketemu."

Ia lalu merebahkan diri di atas ranjang sambil minta dilemparin satu bungkus camilan.

"Memangnya dia cuma punya satu?" heran Elsa lalu melempari Rola satu bungkus basreng pedas level neraka, dengan sigap Rola menangkapnya.

"Ya banyak!" sahut Rola. "Tapi kan lo tau sendiri tuh anak biasanya gimana," cibirnya.

"Atas bawahnya masih harus sama?"

Rola mengangguk sambil ngunyah-ngunyah camilan bertekstur keras itu. "Aneh ya, perasaan cuma dia doang deh yang begitu."

Elsa jadi cekikikan.

Sampai akhirnya Micin keluar juga dari gua pertapaan, eh maksudnya ruang ganti pakaiannya. Dengan penampilannya yang sudah cantik sempurna, kayak anak remaja yang mau pergi dugeman. Padahal, niatnya mau jenguk teman.

"Udah?" Rola menoleh malas, sementara Elsa masih sibuk makan walau sudah teramat bosan.

"Udah." Micin ngangguk-ngangguk semangat sambil mengikat bandana di atas kepala.

Dan harus warna ijo, karena selain ijo kata Micin nggak bagus, dan itu pun termasuk sebagai salah satu kebiasaannya juga. Untung yang ini tidak terlalu nyeleneh.

Rola segera beranjak bangun, tapi sebelum itu ia sempat terpikirkan sesuatu.

"Bagusnya kita kabarin Dena dulu apa enggak?" tanyanya.

"Kabarin kalau kita mau jenguk dia?" sambar Elsa yang apabila disuruh menelfon sudah teramat siap, ponsel pun sudah menyala di tangannya.

"Iya, baiknya gimana?" Rola menatap kedua sahabatnya bergantian.

"Kata gue nggak usah aja lah!" cetus Micin.

"Ntar yang ada dia malah nitip macem-macem kayak biasanya. Itu juga uangnya nggak pernah diganti, terutama pas dia nitip semangka lima biji," lanjutnya selaku yang pernah menjadi korban jasa titip berakhir dengan uangnya yang justru raib.

Rola sempat terkikik begitu teringat momen itu, dan ia pun mengangguk saja lalu buru-buru beranjak.

Sampai akhirnya mereka sudah siap pergi dengan menaiki mobil Rola.

"Dari rumah lo ke kost Dena enaknya lewat mana, Mi?" tanya Rola sebelum menginjak pedal gas di balik kemudi.

"Lewat Antasari aja," jawab Micin sebagai warga setempat.

Rola spontan menoleh. "Lo gila ya! Kita kan lagi di Pejaten, sedangkan rumah kost Dena kan di Depok!" dengusnya.

"Lewat Antasari bukannya muter?" tanyanya memastikan lagi.

"Ya memang, tapi biar pun agak muter, justru ini rute yang paling cepet, Rol" jawab Micin.

Rola mengerinyit. "Kok bisa cepet?"

"Ya bisa, pan gue juga kalau jemput atau nganterin Dena balik, biasa naik tol Desari lewat sana!" jelasnya.

"Oh? Maksud lo kita mau naik tol." Rola nyengir kemudian. "Ngomong anjing, kirain lewat bawah!"

"Macet!"

"Makanya."

Tak lama kemudian, mobil mulai melaju membelah jalanan malam perkotaan. Namun, dengan tak satu pun di antara mereka ada yang tahu—Dena sebenarnya tidak sedang berada di tempat yang akan mereka tuju.

...***...

Ceklek!

Dena menutup pintu kamar itu rapat-rapat.

Begitu masuk ke satu kamar mewah yang mulai sekarang akan menjadi kamarnya juga.

Kamar sepasang suami-istri dengan hanya terdapat satu ranjang berukuran besar, serta satu kamar mandi mewah di salah satu sudutnya.

Dena spontan menelan ludah.

Sialan! Jadi gue beneran harus sekamar sama Om Varo ya? Pikir Dena malam itu sambil kuat-kuat menahan gagang pintu.

Ia cemas, bagaimana jika tak lama lagi Alvaro akan menyusulnya masuk?

Lalu, gadis itu mulai menelisik seantero kamar yang dari segi desain interiornya sungguh terlihat sangat mewah, dengan segala aspek di sana didominasi oleh warna hitam putih, dan yang paling membuat Dena mengerinyit adalah;

Ketika di atas ranjang itu sudah berhiaskan bunga mawar merah yang tertata rapi bentuk hati?

Dan lagi lilin-lilin itu, menyala redup bersanding dengan wewangian aroma terapi berbau memanjakan.

Di detik itu pula Dena semakin tidak menyangka, ia akan merasakan momen malam pertama sebagai pengantin baru dalam waktu secepat ini.

Tok! Tok! Tok!

Tak lama, pintu kamar tiba-tiba diketuk pelan dari arah luar.

Sementara Dena langsung terperanjat, lalu kelimputan ke sana-sini tapi akhirnya balik lagi ke arah pintu.

Sesaat suara ketukan di pintu sempat berhenti, tergantikan oleh hening panjang yang membuat Dena kian gelisah.

"Kok nggak ngetuk lagi? Pergi lagi kah?" Dena bertanya-tanya dalam sanubari yang malah berujung pada rasa penasaran untuk sedikit mengintip ke luar.

Lalu pelan, Dena membuka pintu hanya untuk membuat sela kecil. Setidaknya cukup untuk ia gunakan mengintip. Tapi?

"Permisi, Nona?"

Suara lembut seorang perempuan dari balik pintu membuat Dena terlonjak. Jantungnya pun ikut berdebar kencang dengan perasaan tidak karuan.

"Kok perempuan?"

Ia menelan ludah, ragu sejenak sebelum akhirnya membuka pintu sedikit lebih lebar.

"Permisi?"

Suara itu terdengar lagi, dan tetap bukan suara seorang laki-laki. Sebab, yang berdiri di sana memang bukan Alvaro.

Melainkan seorang perempuan berpenampilan rapi, berdiri tegap di balik pintu dengan membawa nampan perak sambil tersenyum sopan.

"Selamat malam, Nona," sapanya.

Dena mengembuskan napas lega, rupanya seorang pelayan. "Ah, Mbak. Saya kira siapa," ucapnya sembari mengelus dada.

Perempuan itu mengangguk tipis, tersenyum.

"Maaf Nona kalau saya menganggu waktu Nona," kata pelayan dengan tetap mengukir senyum tulus di wajahnya yang cantik.

"Saya datang membawakan ini untuk Nona, dari Tuan Alvaro," ujarnya hormat sambil mengangkat nampan itu setinggi dada.

Dena mengerinyit, mengamati nampan di tangan pelayan, lalu sedikit menunduk untuk melihat apa isinya.

Di atasnya terlipat rapi sebuah jubah sutra berwarna putih gading, jubah itu berkilau lembut di bawah cahaya lampu temaram.

Lalu di sampingnya terdapat segelas madu hangat di dalam sebuah cangkir kristal, menguarkan aroma manis menenangkan yang justru membuat Dena mendadak gugup.

Pipinya pun langsung merona, sedikit banyak ia mulai mengerti maksud dan tujuan, mengapa benda itu diantarkan kepadanya.

"I—Ini dari Om Varo?" tanya Dena terbata ringan.

Pelayan itu menunduk sopan, lalu mengangguk. "Iya, Nona. Dan Tuan berharap Nona mengenakannya malam ini," jawabnya.

Deg!

Tak ada sedetik jantung Dena seakan tiba-tiba jatuh ke dasar perut.

"Memakainya?"

"Iya Nona. Silakan," pelayan itu lalu mendekatkan nampannya ke arah Dena.

Sedangkan Dena masih menatap jubah sutra itu dengan napas tertahan. Lalu jemarinya meraba jubah sutra berenda bunga jala yang terasa dingin di tangannya. Sementara cangkir madu hangat di samping mengeluarkan uap tipis.

"Kalau secangkir madu ini?" tanyanya pelan.

"Madu ini, untuk Nona minum," ujarnya.

"Harus?"

Pelayan itu mengangguk sekali.

"Kalau saya menolak?"

"Itu hak, Nona," kata pelayan mempersilakan. "Tapi, saya sudah diminta Tuan Alvaro agar memastikan Nona meneguknya walau sedikit," imbuhnya dengan tersenyum sopan.

Dena menghela napas ringin, lalu dengan ragu ia menyesap sedikit madu itu hingga rasa manisnya menjalar ke tenggorokan, memberi kehangatan yang perlahan menenangkan. Namun, kegugupan itu tetap saja tak mau pergi.

Terlebih ketika ia kembali menatap ke arah jubah sutra itu. Rasanya seperti tidak bersedia untuk mengenakannya di depan Alvaro.

"Kalau begitu, mari Nona saya bantu untuk memakai jubah ini," tawar pelayan itu membuyarkan lamunan Dena.

"Eh? Saya bisa memakainya sendiri kok, Mbak," kaget Dena lalu buru-buru mengambil jubah sutra itu dari atas nampan.

Pelayan mengangguk.

"Kalau begitu saya akan menunggu, untuk memastikan Nona telah benar-benar memakainya, seperti yang tuan inginkan," katanya.

"Baru setelah itu saya diperbolehkan untuk meninggalkan tempat ini," imbuhnya tertunduk hormat.

Dena menghela napas panjang.

Ternyata Alvaro juga mengutus pelayan itu untuk memastikan dirinya benar-benar memakai pakaian tipis itu. Dan bilamana ia tidak mengenakkannya, pelayan itu diharamkan untuk meninggalkannya.

Sialan!

Dena mengambil benda itu, lalu beranjak menuju kamar mandi untuk segera mengenakannya.

Tak lama kemudian, Dena keluar dengan jubah sutra yang telah melekat di tubuhnya.

Kainnya jatuh lembut mengikuti setiap lekuk tubuhnya, membuatnya terlihat anggun tatkala Dena menatap bayangannya di cermin.

Pipinya merona, sementara matanya berkilau cemas, diikuti oleh pergerakan jari-jemarinya yang saling bertaut gugup.

"Sudah, Nona?" tanya pelayan dari luar kamar.

Dena menoleh sembari mengangguk pelan. "Mbak sudah boleh pergi," jawabnya.

Pelayan itu segera pamit undur diri, lalu menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan Dena seorang diri di dalam kamarnya.

Namun, belum sempat Dena menenangkan diri untuk waktu yang lebih lama. Atau setidaknya buat ngatur napas.

Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu kembali terdengar dengan kali ini lebih tegas.

Lebih kayak pake tenaga.

Sedangkan Dena sontak bertegak, nyaris membuat alur napasnya memburu lebih cepat, lalu menatap ke arah pintu dengan perasaan campur aduk.

Ia tahu. Kali ini, yang datang bukan lagi seorang pelayan.

Melainkan Alvaro—suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!