Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan
Keesokan harinya.
Tepat satu hari sebelum hidup Dena akan berubah—dan kali ini, berubah ke arah yang tidak pernah ia harapkan.
Pagi itu Dena masih terlihat berangkat sekolah seperti biasa, dengan penampilan yang juga tetap sama—acak-acakan, seolah tidak pernah niat dalam hal berdandan.
Padahal, semua orang di sekolah tahu, Dena termasuk yang paling cantik di sekolah itu. Hanya saja, ia tidak pernah peduli, dan lagi ia sudah punya pacar. Itu si Dyo.
Di suasana hujan deras yang malah ikut-ikutan turun, begitu Dena turun dari angkutan umum.
Dena jadi basah, lalu mendengus-dengus sambil pula gadis itu tak henti-hentinya memaki hujan.
Hujan yang mustahil tidak membuatnya geram. Gara-gara turunnya suka ngikut-ngikut.
"Ye! Giliran gue udah turun dari angkot, lo malah ikut-ikutan turun! Lo pikir gue emak lo!" maki Dena kepada hujan sambil buru-buru menaruh tas di atas kepalanya.
Tapi percuma, meski kepalanya terlindungi, sepatunya ya tetap kena.
Sepatu Dena basah, setelah tak sengaja tercelup ke dalam kubangan.
Wah, apes.
Dan yang lebih sial daripada itu—begitu Dena telah sampai di dalam gedung sekolah, hujannya malah berhenti.
Dena langsung keki. Kayak, entah kenapa nih hujan emang sengaja banget pengen menghujani Dena. Seperti punya dendam pribadi. Padahal, mereka juga belum tentu kenal.
"Hih!"
Dena jadi tambah murung. Ingin marah, tapi ya udah terlanjur basah. Yasudah...
Akhirnya, Dena lanjut jalan.
Melangkah pelan menuju area yang lebih dalam di gedung sekolah, beriringan pula dengan beberapa murid lain yang juga sama basahnya.
Tapi aneh, tidak satu pun dari mereka terlihat marah-marah.
Dena garuk-garuk kepala, terheran-heran, saat bisa-bisanya mereka justru terlihat sesabar itu?
"Hujan baru saja mempermainkan kita loh?" Dena mendelik.
"Serius kalian biasa aja?!"
Yap! Tidak ada seorang pun yang peduli dengan ocehannya. Dena jadi yakin, sepertinya ia memang satu-satunya manusia normal di antara mereka.
Sementara itu di depan kelas XII IPA 5.
Di sana, Rola, Micin, serta Elsa—tiga gadis cantik yang menduduki takhta 'tertinggi' siswi terhormat di angkatan mereka, sudah lebih dulu tiba di sana tepat sebelum hujan datang.
Dan di bangku panjang yang menghadap langsung ke area kaca menembus luar itu.
Mereka terlihat lagi duduk-duduk santai sambil ongkang-ongkang kaki, menunggu satu sahabat mereka yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya.
Bahkan, di saat tak lama lagi bel masuk akan berdering dengan nyaring.
"Mana? Dena masih belum berangkat juga tuh?!" Micin mencebik, menatap Rola selagi gadis itu celingukan mencari-cari Dena.
Rola melirik jam tangannya.
"Sabar, baru juga jam tujuh kurang seperempat! Paling Dena masih di jalan," kata Rola mencoba tetap tenang.
Padahal, aslinya ya deg-degan. Takut banget Dena beneran nggak datang.
Micin tersenyum miring, yakin, kali ini ia tidak salah dalam menebak dibanding Rola. "Kata gue, dia mah nggak mungkin berangkat deh."
"Secara, Dena kan nggak pernah telat," imbuhnya pe-de gila.
Tapi Rola acuh, dan tetap menunggu Dena muncul seperti yang ia yakini sejak awal.
Sampai akhirnya, ketika Dena benar-benar muncul dari arah tangga tengah gedung kelas sebelas. Rola spontan menoleh, menatap Dena dengan mata berbinar terang.
Di detik yang sama Rola menepuk-nepuk bahu Micin. Wajah cantiknya pun terlihat mengukir senyum kemenangan. Seakan, baru menang undian lotre di acara arisan ibu-ibu sosialita yang sering diadakan di rumahnya.
"Nah kan, Mi! Apa gue bilang, dia mah udah pasti berangkat!" seru Rola berbangga ria.
Micin menghela napas, panjang, berat, pengen nangis. Seolah, tidak senang kalau pada akhirnya ia harus mengakui kemenangan Rola.
"Iyee, kali ini lo menang dah!" sewot Micin sembari merogoh dompet dari dalam tas ranselnya.
"Mana uang taruhannya? Sejuta, nggak pake nego!" tagih Rola.
"Nih..." Micin menyodorkan sejumlah uang senilai yang Rola katakan dengan ekspresi tidak rela. Membuat beberapa murid lain yang ada di sekitar mereka jadi menahan tawa.
Sementara Rola langsung senyum-senyum. Lalu kipas-kipas pake uang itu di depan Micin yang sedang menyesal.
Elsa? Kalau dia ya nggak usah ditanya. Satu-satunya cewek normal di antara cewek-cewek setengah gila itu, pasti lebih memilih untuk jadi penonton.
Setidaknya itu lebih baik daripada mempertaruhkan sisa harta yang ia punya untuk urusan tidak penting seperti ini.
Bukannya untung, yang ada malah buntung.
Tak lama, langkah Dena tiba di depan mereka. Lalu dengan wajah yang ditekuk-tekuk, rambut lepek, dan tubuh setengah basah.
Dena lantas menjewer telinga dua sahabatnya itu. Kesal, karena sudah dijadikan bahan taruhan.
"Arkkhh... sakit, Den ...ampun..." rintih mereka berbarengan.
"Bisa ya lo berdua main ginian, sedangkan gue basah kuyup gara-gara kehujanan!" maki Dena dengan wajah masamnya, yang semakin lama jeweran maut itu jadi terasa semakin pedas.
Keduanya langsung memohon ampun.
"Selain berjudi itu nggak bagus! Gue juga bukan alat untuk dijadikan ajang bertaruh!" kecam Dena.
Rola dan Micin menelan ludah. Mengangguk pelan sambil mengusap-usap kuping mereka yang langsung berubah merah.
Sedangkan Elsa jauh lebih peka, dan buru-buru mengambil sepasang sendal jepitnya untuk ia pinjamkan ke Dena.
"Lagian lo juga sih!" kata Elsa setelah memberikan sendalnya.
Dena kontan melirik, "Salah gue?" dengusnya.
"Ya bukannya gitu, Den. Tapi, asal lo tau aja ya, mereka taruhan juga karena gara-gara khawatir sama lo. Udah tau langit mendung dari subuh, lo malah nggak buru-buru berangkat," kata Elsa.
"Iyaa, hp lo kenapa lagi sih, Den? Rusak apa kehabisan kuota, sampai-sampai nggak bales pesan gue!" sambar Rola.
"Iya, telfon gue juga nggak lo angkat! Lo sibuk apa gimana? Lo udah ngerasa jadi presiden!" sewot Micin.
Dena menghela napas.
"Gue bangun kesiangan! Mana sempet liat hp!" sahut Dena sembari meletakkan sepatunya di rak sebelah pintu kelas.
Micin langsung melirik Rola, "Nah kan! Apa gue bilang, Dena pasti kesiangan, Rol!" ujarnya sembari menjulurkan lidah.
"Tapi kan Dena tetep berangkat dan lagi dia juga nggak telat!" balas Rola mencebikan bibir.
Micin langsung nyengir, "Iya sih..."
"Tapi?" Ia kembali menatap Dena.
"Kenapa lo bisa kesiangan sih, Den? Biasanya nggak pernah tuh," herannya.
"Iya, memangnya semalem lo kemana?" Rola ikut terheran-heran.
Dengan segera Dena menjawab, "Nggak kemana-mana!" kilahnya.
"Nggak kemana-mana kok bisa bangun kesiangan!" sahut Rola menatap terheran-heran. "Memangnya lo nggak tidur?"
Dena mengangguk.
"Kenapa?" tanya ketiganya hampir serentak.
"Ya gara-gara semalem gue kebanyakan ngehalu, sampai-sampai gue lupa waktu. Tau-tau udah subuh aja," sahut Dena sedapatnya.
Padahal, kalau saja ia mau jujur, alasan sebenarnya juga bukan itu.
Tak ada sedetik, Rola refleks mencebik. Micin pun sama, soalnya mereka satu paket.
Sedangkan Elsa? Dia langsung bertanya, "Ngehalu-in apa?"
"Ngehalu-in diri gue sendiri. Gimana rasanya kalau gue jadi orang kaya," jawab Dena asal, lagipula ia juga tidak mungkin berkata jujur.
Sebab, kalau ia berkata jujur tidak bisa tidur gara-gara sebentar lagi ia akan dinikahi Alvaro.
Dena yakin betul, mereka tidak mungkin ada yang percaya.
"Yaelah, Den ... buat apa sih lo ngehalu-in yang begituan. Lagian, jadi orang kaya juga nggak menjamin kebahagiaan," ujar Rola sok bijak.
"Iya, nggak usah lah ngebayangin yang kayak gituan..."
"Mending, banyak-banyak bersyukur aja, biar hidup nggak kufur," tambah Micin tak ada bedanya dengan Rola.
"Betul nggak, Rol?"
Rola menjentikkan jari, "Yap, betul!"
Akan tetapi, karena perkataan mereka yang justru terdengar kontradiktif dengan kehidupan mereka sendiri sebagai anak konglomerat.
Mereka langsung mendapat lirikan tajam dari Dena maupun Elsa yang hidupnya tak lebih dari kata pas-pasan.
"Kata gue, lo berdua mending diem deh! Orang yang udah kaya dari lahir nggak usah sok menasihati!" sinis Dena. Elsa mengangguk setuju.
Keduanya langsung nyengir. Mau membantah pun sudah takut duluan.
Takut dijewer lagi.
Kringgg!
...***...
Siang itu, kegiatan sekolah telah berakhir.
Di area halaman depan—samping gedung perpustakaan sekolah.
Terlihat, Dena melangkah pelan-pelan sembari menenteng baju seragamnya yang masih setengah basah.
Beruntung, hari itu kelasnya ada jam olahraga. Jadilah Dena tetap bisa mengikuti pelajaran, walau seharian ini ia terpaksa memakai seragam yang berbeda.
Dan setibanya Dena di ruas jalan masuk SMA Harina, ia mendadak kepikiran sesuatu.
Seperti ada yang aneh... besok pagi, ia akan menikah ... tapi besok pagi masih hari Kamis. Dan anehnya, hari ini masih terlalu normal untuk menyambut hari esok yang bagi Dena masih terlalu di luar dugaan.
Dena jadi bingung. Tertunduk pelan, bergumam ringan.
"Gue nikahnya jam berapa sih? Pulang sekolah apa gimana?"
Ting!
Ketika pikiran Dena sedang berkelana tak tahu arah.
Satu notifikasi pesan tiba-tiba terdengar. Dena langsung mengeceknya. Nomor itu? Ia tak pernah lupa, meski belum sempat menyimpannya.
"Ini nomor Om Varo," yakinnya.
Lalu cepat, Dena segera membaca isinya.
'Besok lo nggak perlu izin apapun ke sekolah, semua sudah gue urus. Lo tinggal terima beres, lalu jadi istri gue,' tulis Alvaro dalam pesan itu.
Dena mengernyit, juga merinding. Tapi, berkat pesan itu, ia jadi mendapat jawaban dari pertanyaan yang sejak tadi terus berputar-putar di dalam kepalanya.
Dena lalu membalas, 'Oh, berarti kita nikahnya pagi ya, Om?'
'Kalau gue nyuruh lo bolos sekolah, artinya apa?'
'Pagi,'
'Kenapa masih nanya!' balas Alvaro disertai emoticon wajah monyet menjulurkan lidah.
"Apa sih? Nyebelin banget!" dengus Dena.
Tapi? Satu pertanyaan muncul lagi di dalam kepalanya.
'Kalau temen-temen saya nanyain kenapa saya bolos tanpa surat izin, saya harus jawab apa, Om?' tanyanya.
Ting!
Alvaro membalas, lebih cepat dari yang Dena kira.
'Lo atur sendiri aja. Asal, jangan sampai ada yang tau,' tulis Alvaro yang justru membuat Dena menghela napas panjang.
"Hih!" Dena mendesis kesal, lalu membalas pesan itu sambil dengan rahangnya yang mengeras.
'Jangan seenaknya nyuruh-nyurih, Om. Bantu mikir dong!'
'Nggak!'
'Nggak mau bantu?!'
'Nggak usah banyak protes!'
Dena menghela napas panjang, jengkel, muram. Baru juga hendak protes. Tapi, Alvaro sudah lebih dulu melarangnya. Ya, akhirnya Dena terpaksa mengalah.
'Iya deh,' balasnya.
Ting!
Tak lama begitu Dena telah mengantongi ponselnya, Alvaro tiba-tiba mengirim satu pesan lagi.
"Apa lagi sih?"
Dengan sedikit kesal, Dena langsung membukanya.
Dan membacanya lagi.
'Oh, gue hampir lupa. Setelah ini orang-orang gue bakal jemput lo,' tulis Alvaro.
Dan begitu Dena membacanya, ia langsung melotot, gelisah.
Di detik yang sama pun Dena mulai merasa, sejak ia kenal dengan Alvaro, dunianya seperti telah jatuh ke dalam kendali laki-laki itu.
Sial.
'Dijemput?'
'Di sekolah?'
'Sekarang?'
Dena membondong pesan.
Sayangnya, Alvaro tidak langsung membalas.
Dena jadi deg-degan, degup jantungnya juga terasa semakin naik tak terkendali.
'Om!'
'Ya?' balas Alvaro singkat.
'Nggak usah ah! Ngapain sih jemput-jemput saya!' protes Dena.
'Biar lo nggak kehujanan.'
'Ih! Nggak apa-apa kehujanan juga. Saya udah biasa!'
'Nggak usah aja ya, Om. Please!' tulisnya disertai emoticon nangis.
Setelah menekan tombol kirim. Dena menunggu Alvaro membalas dengan wajah cemas. Tapi, lagi-lagi Alvaro tak kunjung membalas.
Dena jadi lemas.
'Bales dong, Om!'
Ting!
'Apa sayang?'
'Saya tetep dijemput?!"
'Lima menit lagi mereka sampai, tunggu aja di situ.'
'Astaga!'
Dena mendadak panik, karena kalau saja ia benar-benar bakal dijemput orang-orang Alvaro apalagi di sekolah. Bahkan di detik itu juga. Mungkin, akan ada beberapa orang yang menyadarinya.
Dena yang sudah bisa dipastikan tidak siap, lantas melirik sekitar. Di sekelilingnya masih banyak murid lain yang ternyata belum pulang. Sial!
Dena jadi gelagapan.
'Kalau ada yang melihat saya dijemput orang-orang Om, gimana?' tulis Dena cemas nggak ketulungan.
Satu menit, lewat.
Dua menit, masih tidak dijawab.
'Bales dong, Om!' paksanya.
Tapi, laki-laki itu masih saja tidak mau membalas, bahkan ketika Dena sedang sangat mengharapkannya.
Alhasil, Dena jadi tambah sewot, lalu mengusap kasar wajahnya sendiri sambil berpikir keras.
Sementara itu dari arah parkiran, Elsa muncul menaiki motor matic kesayangannya, di barisan akhir para murid lain yang sedang beriringan menuju gerbang.
Setibanya di halaman depan. Elsa menyadari Dena terlihat murung di bawah pohon cemara. Ia lalu menghampirinya.
"Lo belum pulang, Den?" tanyanya.
Dena langsung mendongak, menatap Elsa masih dengan sisa-sisa raut kesalnya, tapi juga lagi deg-degan. Eh, Elsa malah nyamper.
"Menurut lo?"
Elsa nyengir, "Belum."
"Kalau udah tau, kenapa nanya?" sewot Dena.
Namun, Elsa tidak menjawab apa-apa, dan justru malah mengamati gelagat Dena yang seperti tengah dirundung kekesalan, tapi dengan wajah yang tampak pucat.
"Lo kenapa sih, Den? Wajah lo kayak pucat gitu, lo juga keringetan? Lo sakit ya?" tanya Elsa sedikit cemas.
Dena spontan ingin menggeleng, tapi?
"Sakit?" Ia membatin kata itu, lama.
Dena sejenak termenung, dan begitu sadar kembali. Mungkin, kata 'sakit' bisa jadi lebih berguna untuknya.
Tanpa berlama-lama, Dena langsung mengangguk.
"Lo beneran sakit?" Elsa melebarkan bola matanya, seperti khawatir.
Dena mengangguk lagi, "Kayaknya iya, Ca. Nggak tau kenapa, badan gue rasanya kayak lagi nggak enak banget," lirihnya sambil berlagak kayak yang lagi beneran nggak enak badan.
"Gara-gara kehujanan tadi pagi?"
"Mungkin iya, Ca," lirih Dena.
"Oh gitu, yaudah lo istirahat aja," sahut Elsa percaya begitu saja. Padahal, akting Dena juga nggak bagus-bagus amat.
"Niatnya juga gitu, Ca. Mungkin besok pagi gue izin nggak masuk dulu," katanya walau ragu, perkataannya itu akan berguna pada nantinya.
Tapi, setidaknya ia sudah punya Elsa, apabila teman-temannya ada yang bertanya kenapa dirinya membolos. Elsa sudah tau alasannya kenapa.
"Iya, besok lo istirahat aja di rumah... nggak usah berangkat dulu."
Dena tersenyum tipis, "Iya, Ca."
"Kalau gitu gue anter pulang aja yuk? Lagian udah gerimis juga," tawar Elsa sembari melirik ke arah jok belakang motornya.
Dena langsung menggeleng-geleng, "Eh, nggak usah, Ca!" tolaknya, cepat.
"Kenapa?"
Dena langsung menatap awan di atas, "Gerimis, Ca. Kalau gue kehujanan lagi gimana? Gue naik angkot aja deh," kilahnya, kali ini ia justru beruntung karena langit yang mendung itu.
Elsa mengangguk saja, mengerti keadaan Dena yang katanya lagi kurang enak badan, tidak mungkin ia ajak untuk hujan-hujanan.
"Yaudah deh, kalau gitu gue duluan ya, nggak apa-apa kan?" pamit Elsa.
Dena mengangguk-angguk, "Iya, nggak apa-apa kok, Ca. Lo pulang aja, keburu beneran hujan tuh," sahutnya.
Akhirnya, Elsa beneran pulang. Meninggalkan Dena sendirian di tempat itu.
Huh!
Dan akhirnya Dena bisa menghela napas panjang. Seolah, tiba-tiba merasa lega saat ia tidak perlu khawatir lagi Elsa akan melihat dirinya dijemput orang-orang Alvaro.
Namun, tak berselang lama begitu Dena merasa lega terlalu cepat. Hujan tiba-tiba runtuh tanpa aba-aba, dan dalam hitungan detik, ia pasti basah lagi.
"Ya ampun..."
Ia pun panik, lalu lari secepat mungkin mencari-cari tempat untuk berteduh.
Sialnya, halte yang menjadi satu-satunya tempat teduh di area itu justru sudah penuh.
Dena jadi geram. Bahkan, mulai kebingungan di saat ia harus berteduh kemana lagi.
Hingga, seseorang tiba-tiba saja berdiri tepat di sebelah Dena. Hawa kehadirannya pun tak sempat ia rasa, atau mungkin memang tidak bisa dirasakan?
Saat itu juga air yang sejak tadi terus jatuh di atas kepalanya mendadak berhenti.
Dena spontan menoleh. Orang itu—yang tiba-tiba muncul lalu memayungi Dena agar terlindungi dari hujan, ternyata adalah satu dari beberapa orang kepercayaan Alvaro.
Dia juga merupakan salah satu pria berwajah dingin, yang tempo hari menjemput Dena di malam lamaran.
"Nona tidak perlu takut," ucapnya dingin, bahkan melebihi dinginnya suasana itu sendiri.
"Saya datang ke sini atas perintah Tuan Alvaro," tambahnya.
Pelan, Dena mengangguk, ucapan pria itu terdengar datar nyaris tak berekspresi. Namun, di sisi lain ia masih tidak menyangka, orang-orang Alvaro ternyata benar-benar datang untuk menjemputnya.
"Ja-Jadi saya beneran dijemput?"
Pria itu mengangguk.
Dan satu mobil mewah lantas berhenti tepat di depan Dena. Pria yang memegang payung itu lalu membukakan pintu untuknya.
"Silakan masuk, Nona. Kami akan mengantar Nona pulang dengan aman," ucap Pria itu.
Dena menurut, dan sebelum ada yang benar-benar menyadari ia dijemput dengan cara yang tidak biasa.
Dena buru-buru masuk ke dalam mobil.
Begitu masuk, suara hujan di luar langsung meredam.
Dan segera Dena melirik sekeliling.
Memastikan lagi, Dena berharap tidak ada satupun orang yang sadar bahwa dirinya baru saja masuk ke dalam mobil itu.
Dena mengamati cukup lama, dan tidak melihat adanya tanda-tanda.
Setidaknya, itu yang ia percaya.
Mobil lalu melaju perlahan membelah derasnya hujan dengan membawa Dena.
Tapi, satu hal ternyata luput dari penglihatannya.
Saat, tak jauh dari area gerbang, dua orang pria yang tengah nongkrong di teras warung depan sekolah. Rupanya, menyadari hal itu.
Salah satunya pria bertopi, satunya lagi pria tak berambut, dan keduanya nangkring di atas motor skuter matik oranye.
"Cewek itu ...pacarnya Dyo bukan?" tanya pria bertopi sesudah mengamati cukup rinci.
Rekannya mengangguk-angguk, tak lama setelah ia teringat hal yang sama, "Kayaknya iya, beberapa kali gue sempat liat cewek itu dibonceng, Dyo."
"Kalau dilihat dari mobil mewah yang menjemputnya. Pasti dia anak orang berada," ujar pria bertopi sambil meneguk segelas plastik kopi hitam.
"Iya, dari tadi gue juga mikir gitu." Pria di sebelahnya setuju. "Tapi, kok bisa-bisanya dia mau sama Dyo?"
Hening datang sejenak. Lalu, pria bertopi menoleh ke arah rekannya. Mau bicara agaknya.
"Berapa hutang Dyo di bengkel kita?" tanyanya.
Setelah menghitung sejumlah angka, rekannya itu lalu berkata, "Kurang lebih sekitar enam juta, tapi Dyo masih kita kasih keringanan untuk membayar seperempatnya dulu."
"Udah dibayar?"
"Dyo janjinya besok."
"Besok?" Pria bertopi mengangguk-angguk, lalu tersenyum sinis sambil mengelus-elus janggut, macam lagi mikirin sesuatu.
"Bocah itu berani berhutang enam juta ke kita... Tapi, ternyata dia punya cewek kelewat tajir," gumamnya.
"Sepertinya, kita sudah terlalu baik ke dia," imbuh si pria bertopi menatap rekannya.
Pria tak berambut menoleh, "Jadi apa yang harus kita lakukan?"
"Besok pagi kita tagih semua utang Dyo!"
"Semua?" Pria tak berambut seperti tidak yakin, "Kalau dia nggak mau bayar?"
Pria bertopi tersenyum miring, melirik ke arah mobil mewah yang kian menjauh dari pandangan mereka.
"Selama kita tau pacar Dyo yang mana, kita masih punya banyak cara..."