Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Runtuhnya dinasti kaca
Pagi di Lembang tidak pernah benar-benar terang. Kabut tebal selalu menyelimuti hutan pinus di sekitar villa, menciptakan tabir putih yang memisahkan tempat itu dari hiruk-pikuk dunia luar.
Di dalam kamar utama yang beraroma kayu cendana dan sisa pembakaran perapian, Aluna masih bergelung di balik selimut satin abu-abu yang berantakan. Tubuhnya terasa hangat, bukan hanya karena selimut tebal itu, tapi karena lengan kokoh yang melingkar posesif di pinggangnya.
Bramasta sudah terbangun, namun ia enggan beranjak. Ia sedang menikmati pemandangan di hadapannya: Aluna, gadis yang di mata dunia adalah tanggung jawabnya, kini terlelap dengan jejak gairah yang masih tertinggal di ceruk lehernya.
Di balik pintu tertutup ini, Bramasta bukan lagi wali yang bijaksana; ia adalah pemangsa yang telah berhasil mengurung mangsa paling berharganya.
Keheningan itu pecah saat ponsel Bramasta yang tergeletak di meja kayu jati bergetar hebat. Getarannya terasa merambat hingga ke tempat tidur. Bramasta mendesis pelan, meraih ponsel itu, dan matanya berkilat saat melihat nama yang muncul di layar.
"Ayah," gumam Bramasta pelan.
Suara itu membuat Aluna terjaga. Ia mengerjapkan matanya yang masih mengantuk, lalu menatap Bramasta dengan binar yang seketika berubah waspada. Bramasta mengisyaratkan agar ia diam, lalu menekan tombol pengeras suara.
"Bramasta!" Suara Tuan Adiguna menggelegar, penuh dengan otoritas yang bergetar karena amarah murni. "Apa kau sudah lihat berita sampah itu? Beraninya keluarga Wijaya menyerang Aluna secara terbuka di media! Mereka pikir siapa mereka? Sahabat lama? Persahabatan itu mati detik ini juga!"
Aluna merapatkan tubuhnya pada dada bidang Bramasta, menyandarkan dagunya di bahu pria itu. Ia memasang wajah yang tampak prihatin dan rapuh—sebuah topeng yang sudah ia asah bertahun-tahun—namun matanya berkilat penuh kemenangan.
"Aku sudah melihatnya, Ayah," jawab Bramasta tenang. Jemarinya mengelus rambut Aluna dengan gerakan yang sangat protektif, persis seperti seorang wali yang sedang menenangkan "anaknya" yang ketakutan. "Aku sedang menyiapkan tim hukum untuk menuntut pencemaran nama baik terhadap anggota keluarga Adiguna."
"Hukum saja tidak cukup!" Tuan Adiguna memotong dengan kasar. "Berita itu menyebut Aluna sebagai 'pengaruh tidak wajar'. Mereka mencoba mencoreng nama baik gadis kecilku! Aku sudah membatalkan seluruh kontrak suplai bahan baku untuk pabrik mereka. Aku juga sudah menelepon dewan direksi bank untuk membekukan sirkulasi kredit keluarga Wijaya. Dalam dua puluh empat jam, perusahaan mereka akan menjadi sejarah!"
Tuan Adiguna menghela napas berat, suaranya melembut namun tetap tegas.
"Bram, jangan biarkan Aluna membaca komentar-komentar kotor itu. Dia masih terlalu muda untuk menghadapi fitnah kejam seperti ini. Jaga anak itu baik-baik! Jika perlu, sita ponselnya agar dia tidak semakin sedih. Katakan padanya, ayah akan membereskannya."
"Baik, Ayah. Serahkan padaku. Aluna aman bersamaku di sini," sahut Bramasta sebelum memutus sambungan.
Bramasta menunduk, menatap Aluna yang kini menatapnya balik dengan tatapan yang jauh dari kata "polos".
"Kau dengar itu, Little Bird? Kakekmu sudah menjatuhkan hukuman mati untuk mereka. Kau tetap menjadi permata suci di matanya."
Satu jam kemudian, saat mereka sedang menikmati sarapan di balkon yang menghadap lembah, sebuah panggilan masuk kembali. Kali ini dari Herman Wijaya, ayah Clara. Bramasta melirik Aluna, lalu mengangkat telepon itu, kembali menyalakan pengeras suara agar Aluna bisa menikmati musik kehancuran musuhnya.
"Bramasta! Tolong... Bram, angkat bicaralah pada Ayahmu!" Suara Herman Wijaya terdengar parau, hancur. "Kredit kami dibekukan, saham kami terjun bebas. Ini semua hanya kesalahpahaman! Clara... dia hanya emosional, dia tidak bermaksud menyerang Aluna!"
Bramasta menyesap kopinya dengan santai, membiarkan keheningan yang menyiksa menyapa telinga Herman.
"Emosional, Herman?" suara Bramasta terdengar sedingin es. "Putrimu menyebut Aluna 'pengaruh tidak wajar'. Dia mencoba menghancurkan reputasi gadis yang paling dilindungi di rumah ini. Kau pikir ayah akan diam saja melihat cucu angkat kesayangannya yang masih dianggap anak kecil oleh dunia dijadikan bahan gunjingan publik sebagai 'perusak'?"
"Bram, aku mohon! Aku akan memaksa Clara meminta maaf secara terbuka! Aku akan mengirimnya keluar negeri malam ini juga!" Herman mulai terisak.
Aluna meletakkan cangkirnya dengan denting halus yang sengaja diperdengarkan. Ia mendekatkan wajahnya ke ponsel Bramasta, suaranya terdengar sangat lembut namun tajam.
"Sayang sekali, Pak Herman... permintaan maaf tidak bisa mengembalikan ketenangan yang hilang, bukan? Reputasi saya sebagai 'anak' di keluarga ini sudah tercemar karena putri Bapak."
Hening sejenak di seberang telepon. Herman tampaknya menyadari bahwa Aluna ada di sana, menyaksikan kehancurannya dari balik bayang-bayang perlindungan Bramasta.
"Aluna? Aluna, Sayang... tolong bicara pada Kakek. Kau anak yang baik, kan? Tolong hentikan ini!"
Aluna tersenyum, sebuah senyum yang mengandung racun. "Maaf, Pak Herman. Saya hanyalah 'anak kecil' yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis, seperti kata Clara. Dan seorang anak tidak punya hak untuk mencampuri keputusan tegas para pria Adiguna. Bukankah begitu, Daddy?"
Aluna menoleh pada Bramasta dengan tatapan menantang saat mengucapkan kata terakhir itu. Bramasta tertawa rendah, merasa sangat puas melihat betapa liciknya Aluna menggunakan status "anak"-nya untuk menghancurkan Herman.
"Kau dengar itu, Herman? Aluna sudah memberikan jawabannya. Selamat menikmati sisa harimu sebelum semuanya benar-benar rata dengan tanah."
Klik.
Bramasta memutus sambungan. Ia melempar ponselnya ke meja, lalu menarik Aluna ke dalam pangkuannya. Kemeja putih kebesaran milik Bramasta yang dikenakan Aluna tersingkap, memamerkan paha mulusnya yang kini ditekan kuat oleh tangan Bramasta.
"Kau sangat pintar memainkan peranmu pagi ini, Baby," bisik Bramasta sambil mengecup ceruk leher Aluna, menghirup aroma kemenangan yang terpancar dari kulit gadis itu. "Anak kecil yang sangat nakal."
Aluna melingkarkan tangannya di leher Bramasta, menarik pria itu mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Aku hanya anak yang patuh pada Daddy-nya, kan? Dan Daddy sudah melakukan pekerjaan hebat dengan menghancurkan mereka untukku."
Bramasta menyeringai, tatapannya menggelap oleh gairah yang kembali tersulut. "Hadiahmu belum selesai, Aluna. Jika ayahku memberimu perlindungan, maka aku akan memberimu kepuasan yang tidak akan pernah kau dapatkan dari siapa pun."
Bramasta mengangkat Aluna dengan mudah, membawanya kembali menuju ranjang besar yang masih berantakan. Di balik jendela yang berembun, dunia luar sedang sibuk dengan skandal dan kehancuran keluarga Wijaya, namun di dalam villa itu, waktu seolah berhenti.
Aluna membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan Bramasta yang kasar namun penuh pemujaan. Ia menikmati setiap jengkal kulitnya yang diklaim oleh pria itu. Baginya, rasa sakit keluarga Clara adalah musik latar yang sempurna untuk gairah mereka pagi ini. Ia telah menang telak. Ia tetap menjadi cucu angkat yang "suci" di mata Kakek dan Nenek, sementara ia menjadi penguasa rahasia atas hasrat pria paling berkuasa di dinasti Adiguna.
Saat badai gairah itu kembali mereda di bawah selimut satin, Aluna menatap langit-langit kamar dengan senyum puas. Ia tahu, borgol emas ini mungkin masih melingkar di pergelangan tangannya, tapi malam ini dan pagi ini membuktikan bahwa dialah yang memegang kuncinya.
"Daddy," panggil Aluna pelan saat mereka berbaring dalam pelukan pasca-intimidasi itu.
"Ya, Little Bird?"
"Pastikan Clara melihat berita kehancurannya dari tempat yang paling rendah. Aku ingin dia tahu bahwa 'anak kecil' ini yang telah merampas segalanya darinya."
Bramasta mengecup kening Aluna, memeluknya lebih erat. "Apapun untukmu, Aluna. Apapun."
Di luar, kabut Lembang perlahan menipis, menyingkap lembah yang kini tampak sangat jelas—sejelas kemenangan Aluna yang tak tergoyahkan. Dinasti Wijaya telah runtuh, dan di atas puing-puingnya, Aluna bertahta dengan cantik dalam pelukan sang Daddy.