NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Rumah yang Terlalu Besar

Sudah tiga hari sejak Rubi sadar di tubuh Rubi Casandra Dimitri.

Meski perlahan mulai menerima kenyataan, terkadang ia masih merasa semuanya seperti mimpi.

Saat bangun tidur di kamar seluas rumah panti asuhannya dulu, ia sering lupa kalau dirinya bukan lagi Rubi yang lama.

Namun setiap kali melihat pantulan wajahnya di cermin atau perut yang mulai membesar, kenyataan kembali menghantamnya.

Ia memang masih Rubi.

Tapi bukan Rubi yang dulu.

Pagi itu Rubi berjalan sendirian menyusuri koridor mansion keluarga Dimitri.

Rumah itu terlalu besar.

Bahkan selama tiga hari terakhir, ia masih sering tersesat.

Lukisan-lukisan mahal menghiasi dinding.

Lampu kristal menggantung megah di setiap sudut.

Karpet merah membentang panjang seperti di istana.

Semuanya terlihat mewah.

Namun entah kenapa tidak terasa hangat.

Rumah ini indah, tetapi terasa dingin.

Sangat dingin.

"Nyonya muda."

Salah satu pelayan menghampirinya.

"Apakah ada yang bisa saya bantu?"

Rubi tersenyum.

"Aku hanya ingin jalan-jalan."

Pelayan itu terlihat lega.

Mungkin takut kalau ia sedang mencari sesuatu.

Sejak sadar, Rubi memang banyak bertanya.

Mulai dari letak dapur sampai ruang baca.

Untung para pelayan cukup ramah.

Mereka selalu menjawab dengan sopan.

Rubi melanjutkan langkahnya hingga tiba di sebuah ruangan besar yang belum pernah ia masuki.

Pintunya sedikit terbuka.

Karena penasaran, ia mengintip ke dalam.

Matanya langsung membulat.

"Perpustakaan?"

Ruangan itu dipenuhi rak-rak buku yang menjulang tinggi.

Jumlahnya mungkin ribuan.

Rubi yang sejak kecil suka membaca langsung masuk tanpa berpikir panjang.

Aroma khas buku memenuhi udara.

Untuk pertama kalinya sejak berada di mansion ini, ia merasa nyaman.

Tangannya menyentuh beberapa sampul buku.

Novel.

Sejarah.

Bisnis.

Psikologi.

Bahkan ada buku dari berbagai bahasa.

"Wow..."

Tanpa sadar ia tersenyum.

Ia mengambil sebuah novel dan duduk di sofa dekat jendela.

Matahari pagi masuk melalui kaca besar.

Suasananya tenang.

Nyaman.

Dan untuk sesaat, Rubi melupakan semua masalahnya.

---

Sementara itu di tempat lain.

Alexander baru saja kembali dari rapat sejak pagi.

Hari-harinya selalu sibuk.

Mengurus perusahaan saja sudah cukup melelahkan.

Belum lagi urusan organisasi yang berada di balik bisnisnya.

Banyak masalah yang harus diselesaikan.

Banyak musuh yang harus diawasi.

Karena itulah ia jarang berada di rumah.

Bahkan sebelum menikah, mansion itu lebih sering kosong daripada dihuni.

Alexander berjalan memasuki rumah.

Salah satu kepala pelayan segera menyambutnya.

"Tuan muda."

"Hm."

Alexander menyerahkan jasnya.

"Nyonya muda di mana?"

Pertanyaan itu membuat kepala pelayan sedikit terkejut.

Biasanya Alexander tidak pernah bertanya soal istrinya.

"Sepertinya nyonya muda sedang berada di perpustakaan."

Alexander mengangguk singkat.

Entah kenapa langkahnya berubah arah.

Alih-alih menuju ruang kerja, ia justru menuju perpustakaan.

Bahkan dirinya sendiri tidak tahu alasannya.

Mungkin hanya ingin memastikan kondisi istrinya baik-baik saja.

Atau mungkin karena beberapa hari terakhir Rubi terasa berbeda.

Sangat berbeda.

---

Di perpustakaan.

Rubi sama sekali tidak menyadari kedatangan Alexander.

Ia terlalu fokus membaca.

Sesekali senyum kecil muncul di wajahnya saat membaca bagian lucu dari novel yang dipegang.

Alexander berhenti di depan pintu.

Pemandangan di depannya membuatnya terdiam.

Rubi duduk dengan tenang di bawah cahaya matahari.

Rambutnya tergerai lembut.

Tangannya memegang buku.

Wajahnya terlihat damai.

Alexander belum pernah melihat istrinya seperti itu.

Biasanya wanita itu selalu murung.

Seolah memikul beban berat.

Namun sekarang...

Ia terlihat hidup.

Alexander memperhatikan beberapa saat.

Tanpa sadar cukup lama.

Sampai akhirnya Rubi mengangkat kepala.

Dan langsung membeku.

"Eh?!"

Matanya membesar.

"Kapan Anda datang?"

Alexander mendekat.

"Beberapa menit yang lalu."

Rubi langsung salah tingkah.

"Kenapa tidak memanggil saya?"

"Kau sedang serius membaca."

Jawaban sederhana itu membuat Rubi tidak tahu harus menjawab apa.

Alexander melirik buku di tangannya.

"Kau suka membaca?"

"Iya."

Rubi mengangguk antusias.

"Dari kecil."

Baru setelah mengucapkannya ia sadar.

Ups.

Itu adalah kebiasaannya.

Bukan kebiasaan Rubi asli.

Jantungnya langsung berdegup cepat.

Namun untungnya Alexander tidak terlihat curiga.

Pria itu hanya melihat rak-rak buku di sekeliling mereka.

"Aku tidak tahu."

"Karena kita jarang bicara."

Jawaban itu keluar begitu saja.

Begitu sadar apa yang ia katakan, Rubi langsung ingin menggigit lidahnya sendiri.

Terlalu jujur.

Sangat terlalu jujur.

Namun anehnya Alexander tidak marah.

Pria itu justru terdiam beberapa saat.

Karena memang benar.

Selama menikah mereka hampir tidak pernah berbicara.

Bahkan dalam satu hari mungkin hanya beberapa kalimat.

Hubungan mereka lebih seperti orang asing.

"Benar."

Jawaban singkat itu membuat Rubi sedikit terkejut.

Ia tidak menyangka Alexander akan mengakuinya.

Suasana menjadi hening.

Untungnya seorang pelayan datang membawa teh dan camilan.

Rubi langsung merasa terselamatkan.

"Nyonya muda, silakan."

"Terima kasih."

Saat hendak mengambil cangkir teh, Rubi tiba-tiba mencium aroma yang membuat perutnya mual.

Wajahnya langsung berubah pucat.

"Uwek..."

Ia buru-buru menutup mulut.

Pelayan panik.

"Nyonya muda!"

Rubi berdiri cepat.

Namun rasa mual itu semakin kuat.

Ia bahkan tidak sempat berjalan jauh.

Alexander langsung bangkit dari kursinya.

"Apa yang terjadi?"

"Aku... mual..."

Belum selesai berbicara, Rubi sudah muntah.

Untung tidak mengenai siapa pun.

Pelayan segera membantu membersihkan.

Sementara Rubi merasa sangat malu.

"M-maaf..."

Alexander mengerutkan alis.

"Kenapa minta maaf?"

"Aku membuat berantakan."

"Itu normal."

Rubi berkedip.

Normal?

Alexander memandang perutnya.

"Dokter bilang beberapa ibu hamil memang mengalami itu."

Nada suaranya datar seperti biasa.

Namun entah kenapa membuat Rubi merasa lebih tenang.

Pelayan segera mengganti teh tadi.

"Tolong jangan gunakan aroma yang terlalu kuat."

Alexander berbicara pada pelayan.

"Baik, Tuan."

Rubi menatap pria itu.

Sedikit bingung.

Selama ini ia mengira Alexander adalah pria dingin yang tidak peduli pada siapa pun.

Tapi beberapa hari terakhir...

Pria itu selalu memperhatikan hal-hal kecil.

Mulai dari sarapan dingin hingga teh yang membuatnya mual.

Memang caranya aneh.

Tetap dingin.

Tetap kaku.

Tetapi ia memperhatikan.

Dan itu membuat Rubi tidak mengerti.

"Kenapa melihatku seperti itu?"

Suara Alexander membuat Rubi tersadar.

"Cuma heran."

"Apa?"

Rubi ragu-ragu.

Namun akhirnya berbicara juga.

"Anda ternyata tidak seseram yang saya kira."

Detik berikutnya perpustakaan mendadak sunyi.

Para pelayan yang mendengar hampir terkena serangan jantung.

Tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu pada Alexander Dimitri.

Tidak ada.

Rubi baru sadar setelah mengatakannya.

Wajahnya langsung pucat.

"Astaga..."

Selesai sudah hidupnya.

Mungkin hari ini ia akan dibuang ke laut.

Atau dikubur hidup-hidup.

Namun di luar dugaan.

Alexander justru mengangkat satu alis.

"Itu pujian?"

Rubi melongo.

"Hah?"

"Atau hinaan?"

Rubi tidak bisa menahan tawanya.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini.

Ia benar-benar tertawa.

Alexander memperhatikannya.

Lagi-lagi ada perasaan aneh yang muncul dalam dirinya.

Sudah lama mansion ini terasa sunyi.

Terlalu sunyi.

Namun sejak Rubi bangun dari sakitnya...

Rumah ini terasa sedikit berbeda.

Sedikit lebih hidup.

Dan tanpa disadari siapa pun.

Sebuah hubungan yang awalnya hanya berdasarkan kewajiban perlahan mulai berubah.

Meski keduanya belum menyadarinya.

Takdir mereka baru saja dimulai.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!