"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Sepulang dari pasar dengan kantong plastik berisi ikan asin dan sayur mayur yang ia beli dengan perhitungan ketat, Arumi tidak punya waktu untuk sekadar menyelonjorkan kaki. Motor tua ayahnya ia parkirkan di teras rumah sederhana itu dengan sisa napas yang memburu. Arumi tahu, setiap detik yang ia buang adalah kata-kata yang hilang, dan setiap kata yang hilang adalah saldo yang berkurang.
Langkah kakinya langsung menuju dapur. Ia mulai meracik bumbu seadanya. Aroma tumis kangkung dan gorengan ikan asin mulai memenuhi ruangan, tapi pikiran Arumi masih tertahan pada ucapan ibu mertuanya di pasar tadi. Kalimat istri pelit itu berdenging seperti lebah yang mengganggu, namun Arumi segera menggelengkan kepala.
"Fokus, Arumi. Anak-anak harus makan," bisiknya pada diri sendiri.
Setelah urusan kompor selesai, Arumi beralih mengambil sapu dan pel. Ia mengitari setiap sudut rumah peninggalan orang tuanya. Ia menyapu debu yang masuk dari celah pintu, mengepel lantai hingga mengkilap, dan membereskan mainan serta buku-buku yang berantakan. Baginya, rumah yang bersih adalah satu-satunya cara agar ia bisa menulis dengan tenang. Ia tidak ingin Pras punya celah sedikit pun untuk mencacinya jika melihat ada debu yang tertinggal.
Pukul sepuluh pagi. Akhirnya, Arumi bisa duduk di kursi kayu yang alasnya sudah sedikit miring. Ia membuka laptopnya. Cahaya dari layar monitor itu menyinari wajahnya yang tampak pucat dan kusam, namun matanya tetap memancarkan tekad.
Arumi mencoba masuk ke dalam dunia imajinasinya, tempat di mana ia menciptakan tokoh-tokoh yang bahagia, tokoh-tokoh yang dicintai suaminya dengan tulus. Namun, hari ini terasa sangat berat. Bayangan sepatu sekolah si Kakak yang sudah jebol di bagian depannya terus menari-nari di pelupuk mata.
Arumi menghela napas panjang. Ia membuka tab baru di perambannya, lalu masuk ke akun bank miliknya. Di sana, tertera sisa uang simpanannya. Uang itu sebenarnya ia persiapkan untuk biaya darurat atau jika sewaktu-waktu laptop tuanya ini menyerah.
"Kalau aku pakai buat beli sepatu Kakak hari ini, simpananku benar-benar kosong," gumamnya lirih.
Ada keraguan yang menyelinap. Namun, saat ia mengingat bagaimana si Kakak dan si Adik berbagi piring pagi tadi, rasa ragu itu menguap seketika. Arumi tersenyum pahit. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa rezeki tidak akan tertukar. Jika ia mendahulukan kebutuhan anaknya, Tuhan pasti akan memberi ganti dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Mengingat gaji dari platform novel online yang akan cair bulan ini, semangat Arumi mendadak berkobar kembali. Ia melihat angka estimate income di dashboard penulisnya. Nominal yang cukup untuk menutup lubang-lubang nafkah yang ditinggalkan Pras.
"Sedikit lagi, Arumi. Kamu pasti bisa," ia menyemangati dirinya sendiri.
Jemarinya mulai menari di atas keyboard. Klik, klik, klik. Bunyi tuts laptop itu menjadi satu-satunya melodi di rumah yang sepi. Satu paragraf, dua paragraf, hingga ia tenggelam dalam alur ceritanya. Rasa capek di punggungnya ia abaikan. Rasa lapar di perutnya ia tahan dengan sisa air putih di gelas "Ibu Bukan Mesin". Ia harus menyelesaikan target 2000 kata sebelum jam satu siang.
Waktu berlalu begitu cepat. Alarm di ponselnya berbunyi, menandakan saatnya ia berangkat menjemput si Adik, kemudian berlanjut menjemput si Kakak. Arumi segera menutup laptopnya, merapikan jilbabnya yang sudah agak kusut, dan menyambar jaket pudar miliknya.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Arumi memarkirkan motor tuanya di antara deretan mobil mewah dan motor-motor keluaran terbaru. Ia berdiri di pojok, bersandar pada tembok pagar, berusaha menata napasnya yang tersengal karena terburu-buru.
Di sekelilingnya, berdiri ibu-ibu wali murid lainnya. Mereka tampak begitu kontras dengan Arumi. Kulit mereka cerah, menggunakan riasan wajah yang segar, pakaian yang modis, dan aroma parfum yang wangi tercium dari jarak beberapa meter. Mereka adalah gambaran wanita yang terawat dan dibahagiakan.
Arumi menunduk, melihat jempol kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit murah. Ia merasa seperti itik buruk rupa di antara sekumpulan angsa. Ada rasa minder yang sempat menyelinap, rasa pasrah akan penampilannya yang jauh dari kata cantik.
"Eh, Mamanya Bintang!" sebuah suara lembut menyapanya.
Arumi mendongak. Di depannya berdiri Mama Zidan, salah satu wali murid yang penampilannya sangat sosialita. Arumi sempat mengira wanita itu akan memandangnya sebelah mata, namun dugaannya salah.
"Mamanya Bintang kok baru kelihatan? Ke mana saja? Ini, tadi aku ada rezeki lebih, beli camilan buat anak-anak di kelas, ini ada sedikit buat Bintang dan adiknya ya," ujar Mama Zidan sambil menyodorkan sebuah kantong plastik berisi roti mahal.
Wali murid lainnya pun ikut tersenyum dan menyapa Arumi dengan ramah. "Iya, Mamanya Bintang, semangat ya! Kami tahu kok Mamanya Bintang sibuk banget kerjanya di rumah."
Arumi tertegun. Ia menerima kantong itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih banyak, Ma... Maaf ya, saya penampilannya begini, habis dari pasar langsung ke sini."
"Ah, nggak apa-apa, Ma! Yang penting kan sehat. Kita semua tahu kok berjuangnya seorang Ibu itu gimana," sahut ibu yang lain sambil menepuk bahu Arumi dengan tulus.
Air mata Arumi hampir saja jatuh. Ternyata, di saat dunia di dalam rumahnya terasa begitu kejam dan penuh tuntutan, dunia di luar sana melalui orang-orang asing ini justru memberinya kehangatan. Ia merasa dihargai, bukan sebagai mesin uang, tapi sebagai seorang Ibu yang sedang berjuang.
Saat si Adik berlari keluar gerbang dan langsung memeluk kakinya, Arumi mendekap bocah itu dengan erat. Ia tidak lagi peduli dengan wajah kusamnya. Di matanya, yang paling penting adalah senyum anak-anaknya dan sepatu baru yang akan ia beli sore nanti dari uang hasil keringatnya sendiri.
"Ayo pulang, Sayang. Ibu punya roti enak buat kamu dan Kakak," bisik Arumi.
Ia memacu motor tuanya meninggalkan sekolah. Di dalam hatinya, Arumi berjanji, ia tidak akan membiarkan lelah ini menghentikannya. Jika ia bisa bertahan selama sepuluh tahun, ia yakin pintu keluar dari penderitaan ini sudah semakin dekat.
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏