"Jangan pernah jatuh cinta padaku, karena kontrak ini tidak menyertakan perasaan," itulah aturan nomor satu yang ditulis oleh Arga Dirgantara untuk istrinya.
Selama dua tahun, Keysa hidup dalam bayang-bayang. Sebagai istri kontrak, ia adalah asisten yang tak terlihat, tameng perusahaan, dan sosok yang paling dibenci Arga karena dianggap sebagai penghalang kebahagiaan pria itu dengan wanita lain. Keysa sudah siap untuk menyerahkan surat cerai dan pergi selamanya.
Namun, takdir punya rencana lain. Sebuah kecelakaan fatal menghapus memori Arga selama tiga tahun terakhir.
Saat pria itu membuka mata, ia tidak lagi melihat Keysa sebagai 'istri kontrak' yang menyebalkan. Ia melihat seorang wanita yang dingin, cerdas, efisien, dan memiliki tatapan tajam yang membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga dengan nada posesif. "Dan kenapa setiap kali aku melihatmu, aku merasa aku adalah orang paling bodoh karena pernah membiarkanmu menangis?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Bau Obat dan Realita
"Tutup semua akses ke lantai VIP sekarang juga. Jangan biarkan satu pun wartawan lolos masuk ke lobi utama." Keysa setengah berlari melewati pintu geser otomatis Rumah Sakit Medika Pusat, ponselnya menempel erat di telinga kanan.
"Tapi Key, beberapa reporter berita online sudah mulai berkerumun di pelataran parkir," lapor Nindy dari seberang telepon dengan nada panik.
"Kerahkan petugas keamanan rumah sakit. Telepon kepala humas kita, suruh dia buat pernyataan resmi singkat kalau CEO Alvandra Group hanya mengalami kecelakaan ringan dan sedang menjalani pemeriksaan rutin. Keep it simple (Buat sesederhana mungkin). Kalau sampai ada berita bocor tentang kondisi kritisnya, aku akan pecat semua orang di departemen komunikasi hari ini juga."
Keysa memutus sambungan sepihak tanpa menunggu jawaban. Sepatu hak tingginya berbunyi nyaring mengetuk lantai marmer rumah sakit, mengabaikan tatapan beberapa perawat yang melintas. Ia melihat Reno mondar-mandir di depan meja pendaftaran. Wajah asisten junior itu pucat pasi, kemejanya berantakan dan tangannya gemetar memegang cangkir kopi kertas.
"Reno!" panggil Keysa tajam.
Laki-laki muda itu menoleh, bahunya langsung merosot lega seolah melihat juru selamat turun dari langit. "Mbak Keysa! Syukurlah Mbak sudah sampai. Dokter bedah menahan tindakan karena butuh tanda tangan keluarga inti. Bapak ada di dalam ruang gawat darurat sekarang."
"Bawa aku ke dokternya."
Keysa tidak membuang waktu sedetik pun untuk menangis atau meratapi nasib. Matanya tetap kering. Ia mengikuti Reno menyusuri lorong panjang menuju meja perawat di depan ruang gawat darurat. Seorang dokter pria paruh baya dengan jas putih yang sedikit bernoda darah sudah menunggunya dengan raut wajah sangat tegang.
"Kamu istri dari Arga Dirgantara?" tanya dokter itu cepat saat Keysa mendekat.
"Ya, aku istrinya. Keysa. Berikan berkas persetujuannya, Dok." Keysa langsung menyodorkan tangan, mengambil papan jalan berisi dokumen medis dari tangan perawat di sebelah dokter tanpa ragu sedikitpun. Matanya membaca kilat poin-poin risiko operasi sebelum membubuhkan tanda tangan yang tegas di atas meterai. "Lakukan apa pun yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan nyawanya. Biaya bukan masalah."
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Keysa. Pasien mengalami trauma benda tumpul yang parah di area kepala sisi kanan dan ada indikasi patah tulang rusuk. Kami harus segera menghentikan pendarahan di otaknya." Dokter itu mengangguk cepat lalu bergegas masuk kembali ke balik pintu ganda bertuliskan Ruang Resusitasi.
Lampu indikator di atas pintu berubah menjadi merah menyala.
Keysa berdiri mematung menatap pintu yang tertutup rapat itu. Hening sejenak melingkupi lorong. Reno yang berdiri di belakangnya masih bernapas putus-putus, berusaha menahan suara isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
"Berhenti menangis, Reno. Ini rumah sakit, bukan panggung teater," tegur Keysa dingin, pandangannya tidak lepas dari lampu merah menyala di atas pintu.
"Maaf, Mbak. Aku hanya takut sekali. Mobil Bapak hancur tidak berbentuk. Kepalanya berdarah banyak sekali. Aku pikir kita akan kehilangan CEO kita hari ini."
Keysa berbalik memutar tubuhnya, menatap Reno tajam. "Arga tidak akan mati semudah itu. Dia laki-laki paling keras kepala yang pernah aku kenal. Kematian saja pasti malas berurusan dengan dia."
Reno menelan ludah mendengarnya. Ia selalu tahu Nyonya CEO ini memang terkenal berdarah dingin di kantor, sanggup melibas kompetitor tanpa berkedip. Tapi melihat respons Keysa yang tanpa air mata setetes pun di saat suaminya sedang meregang nyawa di dalam ruang operasi sungguh membuat Reno merinding ketakutan.
"Sekarang, kerjakan tugasmu," perintah Keysa lagi, suaranya mengudara penuh otoritas. "Hubungi direktur keuangan. Pastikan pembukaan bursa saham besok tidak terpengaruh insiden kecelakaan ini. Tahan semua transaksi besar sampai ada instruksi dariku. Aku sudah menyuruh tim humas meredam media luar. Kamu pantau terus pergerakan portal berita gosip lokal."
"Baik, Mbak. Aku kerjakan sekarang." Reno bergegas menjauh, mencari sudut sepi di dekat jendela kaca untuk mulai menelepon.
Keysa berjalan tenang menuju kursi tunggu yang terbuat dari besi tahan karat. Ia duduk perlahan, menyandarkan punggungnya yang mendadak terasa luar biasa kaku. Matanya menatap lurus ke arah lantai koridor yang putih bersih berbau karbol. Pikiran rasionalnya berputar sepuluh kali lipat lebih cepat dari biasanya.
Jika Arga mati hari ini, kontrak pernikahannya akan batal secara otomatis. Ia akan bebas tanpa syarat. Tapi membayangkan laki-laki arogan itu mati di atas meja operasi entah kenapa meninggalkan rasa tidak nyaman di rongga dadanya.
Bukan cinta. Keysa meyakinkan dirinya berkali-kali bahwa itu sama sekali bukan cinta. Hanya saja, Arga adalah rekan kerja yang brilian. Kehilangan Arga berarti Alvandra Group akan terguncang hebat, dan Keysa tidak sudi kerja kerasnya membereskan perusahaan itu selama dua tahun ikut terkubur bersama laki-laki tersebut.
Waktu bergulir lambat bak tetesan air dari keran yang rusak. Keysa menghabiskan waktu tunggunya dengan membalas puluhan surel pekerjaan dari ponselnya, memastikan roda perusahaan tetap berputar normal seolah CEO mereka hanya sedang tertidur lelap di apartemen.
Ia menyortir dokumen digital, menyetujui anggaran mingguan divisi pemasaran, dan menolak pengajuan dana dari departemen riset karena laporannya tidak masuk akal.
Suara denting pelan memecah konsentrasinya. Lampu merah di atas pintu operasi akhirnya padam.
Keysa langsung mematikan layar ponsel, berdiri tegak, dan merapikan setelan blazernya. Pintu ganda terbuka dan dokter bedah yang tadi berbicara dengannya melangkah keluar sambil melepas masker pelindung wajah. Wajah dokter itu terlihat lelah, banyak peluh di dahinya, namun rautnya jauh lebih rileks dari sebelumnya.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Keysa langsung melompat ke inti masalah.
"Operasinya berjalan lancar. Kami berhasil menghentikan pendarahan internal di kepalanya dan menstabilkan tulang rusuknya yang retak. Secara fisik, masa kritisnya sudah lewat." Dokter itu tersenyum tipis. "Suamimu memiliki fisik yang sangat prima. Dia akan kami pindahkan ke ruang rawat inap VIP untuk observasi."
Keysa membuang napas panjang perlahan dari mulutnya. Beban kasatmata yang sejak tadi menekan bahunya seakan terangkat separuh. "Syukurlah. Berapa lama dia butuh waktu untuk sadar penuh?"
"Nah, itu yang perlu kita bicarakan lebih lanjut." Dokter itu melipat tangannya di dada, raut wajahnya kembali berubah serius. "Benturan di kepalanya terjadi berulang kali saat kecelakaan. Hasil pemindaian otak menunjukkan ada trauma memar pada area lobus temporal. Kami belum bisa memastikan efek samping spesifiknya sampai pasien benar-benar sadar dan bisa merespons rangsangan. Terkadang, benturan sekeras itu memicu hal yang tidak terduga pada fungsi kognitif dan memori pasien."
Keysa mengerutkan dahi, insting bertahannya menangkap sinyal peringatan bahaya dari penjelasan medis tersebut. "Maksud Dokter, otaknya rusak? Dia bisa amnesia?"
"Bisa jadi hanya disorientasi ruang dan waktu sementara, atau bisa juga lebih kompleks dari sekadar lupa sesaat. Kita harus melihat perkembangannya secara langsung saat dia bangun nanti. Perawat sedang membersihkan sisa luka di tubuhnya sekarang. Kamu sudah bisa masuk ke dalam untuk menemaninya."
"Terima kasih, Dok."
Dokter itu pamit bergegas menyusuri lorong.
**”
Keysa berjalan tegap menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang rawat VVIP bernomor 501 di ujung lorong. Dua penjaga keamanan berbahu lebar utusan kantor pusat sudah berjaga ketat di depan pintu kayu tebal tersebut, membuktikan perintah Keysa untuk mensterilkan area berjalan sempurna tanpa cela.
Salah satu penjaga keamanan itu mengangguk hormat dan membukakan pintu perlahan untuk Keysa.
Keysa melangkah masuk ke dalam ruangan yang terlampau luas dan terlampau dingin. Bau obat-obatan antiseptik langsung menyergap penciumannya, berbaur dengan suara ritmis bernada monoton dari mesin monitor detak jantung di samping tempat tidur.
Di atas ranjang pesakitan berseprai putih, Arga terbaring diam pucat pasi. Kepalanya dibebat perban kasa tebal. Berbagai macam selang infus menempel di punggung tangan dan dada laki-laki itu. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun masa pernikahan kontrak mereka, Keysa melihat Arga Dirgantara dalam wujud yang paling rapuh dan tidak berdaya. Tidak ada rahang yang mengeras arogan menuntut hasil laporan. Tidak ada tatapan mata tajam bagai elang yang selalu menilai kinerja orang lain rendah.
Keysa berjalan mendekat perlahan, ujung sepatu hak tingginya tidak bersuara di atas karpet tebal ruangan itu. Ia berhenti tepat di sisi kanan ranjang. Ia menatap wajah suaminya lamat-lamat.
"Kau benar-benar selalu tahu cara membuatku repot sampai detik terakhir, Arga," bisik Keysa pelan, menyilangkan kedua lengan di depan dada. "Cepatlah sembuh. Tanda tangani surat perceraian kita di atas meja kerjamu itu, dan biarkan aku pergi dari hidupmu dengan tenang."
Tiba-tiba, jari telunjuk Arga yang terpasang alat pengukur saturasi oksigen bergerak kecil.
Keysa otomatis terdiam, menajamkan pandangannya ke wajah laki-laki itu. Napas Arga yang semula lambat dan teratur kini sedikit berubah ritme menjadi lebih cepat. Perlahan, sangat perlahan, kelopak mata laki-laki itu bergerak-gerak menahan silau sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit.
Cahaya lampu neon ruangan membuat Arga menyipitkan mata, mencoba menyesuaikan pandangannya dengan lingkungan yang serba asing. Bunyi mesin monitor detak jantung berdetak sedikit lebih cepat seiring dengan pulihnya kesadaran pemilik tubuh tersebut.
"Arga?" panggil Keysa datar. Ia membungkuk sedikit, menatap lurus ke manik mata kecokelatan suaminya. "Kau bisa mendengarku?"
Arga tidak langsung menjawab. Laki-laki itu memutar bola matanya pelan, mengamati detail langit-langit kamar rawat, lalu perlahan menoleh menatap Keysa. Tatapannya kosong sesaat, seolah sedang memuat ulang ribuan memori acak ke dalam otaknya yang rusak.
Keysa sudah bersiap memasang tameng diri menerima omelan pertama Arga. Biasanya laki-laki itu akan langsung marah-marah menyalahkan sopirnya karena kecelakaan tol ini, atau merutuk karena jadwal rapat dengan klien tertunda. Keysa bahkan sudah menyiapkan kalimat bantahan tajam di ujung lidahnya untuk membungkam mulut arogan itu.
Namun, raut wajah Arga perlahan berubah drastis. Dari kosong, menjadi bingung dan penuh selidik. Laki-laki itu mengerutkan kening dalam-dalam, menatap Keysa dari ujung rambut hingga ujung kaki seolah sedang melihat orang asing yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.
Suara mesin monitor detak jantung berdengung statis mengisi keheningan di antara mereka berdua.
Bibir pucat Arga bergerak pelan. Suaranya terdengar sangat serak, kering, dan parau. Ia memecah keheningan ruangan itu dengan sebuah pertanyaan pendek yang sukses membuat napas Keysa tertahan seketika di tenggorokan.
"Siapa kau?"
semoga Arga bisa meluluhkan hati Keysa walaupun harus menunggu waktu yg lama..
apalagi Keysa sosok mandiri tangguh dan badass..