"Ugh..
aku harus..."
Theo seorang pemuda yang sedang bersepeda, menemukan sebuah cafe di daerah bukit bernama Bukit Dingin.
tiba-tiba, terjadi hal yang aneh pada Theo yang membawanya ke dunia lain.
cerita ini mengisahkan perjalanan Theo di dunia lain.
penasaran dengan perjalanan Theo?
segera baca kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShAdOwFaNg, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 34 : Tuan Muda
"Dasar anak yang malang."
Deg
Suara itu terasa menembus telingaku
"Halo kek."
Ku sapa dia... Um... Tunggu dulu, "Loh kakek kan..."
Belum sempat Theo menyapa kakek itu, "Shht, terkadang ada hal yang tidak boleh kamu katakan."
Loh, dia kan kakek penjual tong anggur.
"Kalau kau berpikir aku tidak bisa membaca hati, maka kau sudah sangat salah."
Tapi... Ahh! Gimanapun dia nggak bisa bikin aku balik.
Emosi dalam diri Theo terus terguncang hebat, bahkan terkadang benturan itu serasa membuat Theo menjadi gila.
"Dasar jiwa yang malang, apakah kau mau kembali ke dunia malah itu? Atau... kau mau tetap ada di sini?"
Apa? Kakek bisa mengembalikan aku?
"Hu... Dharmo ing rasa, Jiwa ing raga Bekti iku mulia."
Buk
Kakek itu memukul dadaku.
Sakit, tapi tubuhku terasa melayang.
Aku melayang, ya aku melayang.
Bum
Rasanya sakit, tapi aku harus tetap maju. Khekhekhe
Theo tersenyum dengan seringai yang tajam, lalu ia mulai merasakan sensasi tubuhnya.
"Theo! Sayang!" Suara Lucy terdengar memenuhi ruangan.
"Lucy?" Theo terbangun dengan kondisi linglung.
"Kamu... Untunglah kamu selamat. Hiks..." Air mata Lucy mengalir dengan deras.
"Memang kenapa sih? kok kamu kaya panik gitu? Xiangran juga, kok kalian kaya panik gitu sih?"
"Kamu... Mati. Tadi waktu aku bangun, aku liat kamu di belakangku. Pucat, mulutmu berbusa. Hiks... Kamu... Mati. Aku yakin... Tadi nadimu ilang."
"Ya, tadi kak Theo mati. Benar-benar mati, bahkan tubuhmu mulai dingin sebelum kamu bangun."
"Hei kalian bercanda kan? Nggak mungkin!"
Theo terkejut dengan informasi itu, tapi dia tidak terlalu memikirkannya lagi.
"Sayang... Kita... Harus pergi mencari Silas kan?"
"Oh iya, Silas ya? Ok, bentar. Umm... Gimana kalo kita semua nyari bareng? Mungkin aja, dengan kita nyari bareng... Silas lebih gampang ketemu." Theo mencoba mencairkan suasana.
Ketika ia menatap kakinya yang belum ia gerakan, ia merasa kaget.
Pucat, kakinya serasa tidak dialiri darah.
Sebelum akhirnya, Theo mulai menggerakkan kakinya.
"Wah, aku... beneran... mati?"
Theo tidak sempat memikirkan semua itu, akhirnya Theo keluar dari tavern bersama dengan Lucy, Xiangran dan Linlin.
"Hei... Menurut kalian kita mulai dari mana?" tanya Theo sambil menatap ketiga rekannya itu.
"Umm... Aku nggak tau sekarang, tapi Silas punya rumah di sini. Mungkin... Itu bisa membantu."
"Loh, Silas punya rumah? Pasti rumahnya berantakan ya?" Theo lagi-lagi dikejutkan dengan informasi itu.
"Nggak kok, malah... sangat rapi. Jujur... sulit mengakuinya, tapi begitulah kenyataannya. Rumah gorila bodoh itu sangatlah rapi, bahkan banyak barang yang disusun sesuai nama."
"Waaah... okelah, pimpin jalannya Lucy... say..." Theo tidak mampu memanggil Lucy dengan sayang di depan umum lagi.
Lucy masih menggunakan baju Theo, hanya saja kali ini ia menutup wajahnya dengan tudung jubah dari ordo cahaya.
Mereka berjalan menuju sebuah mansion besar yang bahkan pantas disebut istana.
Di depan mansion, ada sebuah bel besar yang dibungkus dengan tali rami.
"Hei, kalo rumahnya sebesar ini... Gimana dia bisa dengerin kita mau masuk?" Theo menatap mata Lucy dengan penuh pertanyaan.
"Umm... Biasanya gini, misi, Sayang."
Lucy berjalan ke arah lonceng lalu mulai memukulnya.
Hebat...
Lonceng yang seharusnya tidak berbunyi karena dibalut kain rami itu bisa berbunyi.
Doeng!
Seketika itu, terlihat beberapa orang berjubah hitam keluar.
"Wah gila, dia sekaya apa sih?"
"Lihat aja, bentar."
Silas melangkah maju, melewati jejeran orang berjubah hitam.
"Kalian... kenapa kalian ke sini? Ada apa? Aku... aku sudah membunuh."
"Hei, mari kita bicarakan dulu."
"Nggak, kalahkan aku. Maka aku akan ikut kalian."
Silas kembali masuk ke dalam mansion.
Ketika ia baru melangkah beberapa kali, Theo maju.
"Kamu pikir mataku cuma satu?"
Ketika Theo mencoba menyerang Silas, dia merasa bahwa setiap serangannya seakan menembus udara yang kosong.
"Apa?"
"Kamu pikir, aku bersumpah tidak membunuh karena aku terlalu baik? Kamu terlalu naif."
Duak
Silas menekuk lengan Theo, lalu melemparnya ke arah Lucy dan Xiangran.
"Aku anggap kalian kalah, sekarang pergi!"
Para orang berjubah hitam mulai membentuk tembok, tapi salah seorang dari mereka maju.
"Tuan... sebenarnya, Tuan Silas itu mau pergi bersama kalian."
"Apa? Nggak mungkinlah, dia nolak tadi."
Orang itu mendekatkan tubuhnya lagi, "Dia itu sedang menguji kalian. Kalo kalian nggak tau, dia itu terlahir dengan berkah putra kematian."
"Putra kematian?" Theo menatap orang itu dengan wajah penasaran.
"Sebuah berkah, yang akan memperkuat pemilik berkah setiap dia membunuh orang. Makanya, dia itu pemimpin dari keluarga Crow."
"Keluarga Crow? Apa itu?"
"Sebuah keluarga pembunuh bayaran, bahkan dia pernah membunuh raja dan keluarga bangsawan. Sampe... Dia diminta untuk membunuh seorang wanita." Pelayan itu mulai mengajak mereka berjalan ke samping, menuju sebuah pemakaman kecil dan rumah kecil di samping pemakaman.
"Ini rumah budak, memang tidak begitu layak. Tapi... Lebih baik dibandingkan kalian pulang pergi terus."
"Hei, wanita itu gimana?" Theo mendekati orang itu.
"Oh, tuan masih penasaran? Dia mati. Lebih tepatnya, Silas terpaksa membunuh wanita itu."
"Memang... apa hubungannya?"
Theo menatap mata orang itu dalam, dan memberinya pertanyaan di kepalanya
"Wanita itu... adalah seorang courtesan muda, bahkan bisa dibilang dia adalah courtesan muda paling cantik yang Silas punya. Bahkan, dia sempat ingin menikahi wanita itu, karena bagaimanapun sebenarnya wanita itu adalah wanita yang tumbuh bersama Silas sampai dewasa dan hanya melayani Silas seorang."
Theo kemudian melirik Lucy, tapi dia teringat kalau wanita itu sudah mati.
"Ok deh, kalo gitu... aku pergi dulu ya."
"Siap, Oiya, kenapa tadi kalian manggil Silas dengan Tuan Silas, tapi barusan kamu manggil Silas pake namanya aja?"
"Ada rahasia yang harus tetap dirahasiakan."
Theo menatap rumah kecil itu, bahkan sebenarnya rumah itu sangat layak untuk dibilang rumah biasa.
Kasur yang empuk, perapian, dan dapur kecil yang sangat indah.
"Hmm... Rumah ini, terlalu besar untuk rumah budak." Theo menatap sekeliling rumah itu.
"Astaga, bagaimana mungkin? Ini... Ini kasur mahal loh. Bahkan kamu liat di lemari ini."
Lucy membuka lemari di sampingnya, terlihat banyak pakaian di dalam lemari itu.
"Semuanya pas, bagaimana bisa?"
"Nggak tau lah, aku mau jalan-jalan dulu."
Theo keluar dari rumah itu, berharap dapat melihat sesuatu yang seru.
"Hmm... Gimana ya cara aku kalahin dia? Hmm..."
Dari kejauhan, terlihat ada seorang pemuda sedang menatap Theo dengan tajam.
"Dia mau pergi ke sini? Hahaha, akan aku serang dia."
Syut
Sebuah tangan merangsak masuk kedalam ruang gerak Theo.
Buk!
Theo menangkis tangan itu, lalu ia menyerang balik dengan gaya belitan ular.
Duak!
...****************...
End Ch. 34 : Tuan Muda
Makasih semuanya udah baca karyaku, jangan lupa like, comment dan favorit.