NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

BAB 2: JEJAK DI PERGELANGAN TANGAN

"Ada kebohongan yang dibungkus sangat rapi sampai kamu lupa mana yang asli."

Pagi menyelinap masuk lewat celah tirai jendela, membawa serta cahaya keemasan yang kontras dengan kegelapan yang memenuhi kepala Arka semalaman. Ia tidak tidur sama sekali. Matanya perih, berat, tapi pikirannya berputar cepat, menganalisis setiap detik gerak-gerik Elena yang kini bergerak lincah di dapur.

Aroma kopi buatan Elena memenuhi ruangan, aroma yang dulunya menjadi penenang hati Arka, kini terasa memabukkan dan menyisakan rasa pahit di tenggorokan.

Elena keluar dari dapur dengan nampan berisi dua cangkir kopi dan roti bakar. Senyumnya merekah indah, bibirnya merah merona alami, matanya berbinar cerah. Seolah semalam tidak ada apa-apa. Seolah ia tidur nyenyak dari jam satu pagi hingga matahari terbit.

"Pagi, Mas," sapa Elena lembut, mencium pipi Arka sekilas saat meletakkan nampan di meja makan. "Kok matanya merah banget? Semalam nggak tidur ya? Kerjaan terus sih, orangnya."

Arka menatap wajah istrinya lekat-lekat. Mencari sedikit pun jejak kelelahan, atau tanda bahwa wanita ini pernah bangun dan beraktivitas di tengah malam. Tapi nihil. Elena tampak sempurna. Terlalu sempurna.

"Pagi, Le," jawab Arka pelan, suaranya sedikit serak. Ia mengambil cangkir kopi, tangannya sengaja bergerak pelan. "Aku cuma... piye ya, kurang enak badan dikit. Mimpi buruk mungkin."

Elena duduk di hadapannya, menopang dagu dengan tangan kanannya yang lentik. "Mimpi apa? Mimpi dikejar hantu? Atau mimpi aku marahin Mas?" ia terkekeh pelan, suara renyahnya menggema di ruang makan yang luas itu.

Arka tidak menjawab. Matanya tiba-tiba terpaku pada pergelangan tangan kiri Elena. Lengan baju daster katun yang biasa ia pakai itu sedikit melorot ke bawah, memperlihatkan kulit putih bersih yang biasanya selalu tertutup.

Dan di sana, terlihat jelas.

Sebuah bekas memar berwarna keunguan, bentuknya memanjang melingkar pas di pergelangan tangan. Bentuknya persis seperti bekas cengkeraman jari-jari tangan seseorang yang mencengkeram kuat.

Darah Arka mendidih seketika, namun ia tetap diam, menahan diri.

"Le..." panggilnya pelan, matanya menatap tajam ke arah memar itu. "Itu... dari mana di tangan?"

Gerakan Elena terhenti sepersekian detik. Senyum di bibirnya hilang sekejap, sebelum kembali terpasang lebih lebar dari sebelumnya. Dengan gerakan sangat cepat dan halus, ia menarik kembali lengan bajunya ke bawah, menutupi bekas itu sepenuhnya. Gerakan yang dilakukan orang yang sudah terbiasa menyembunyikan sesuatu.

"Ah, ini?" Elena melirik tangannya dengan santai, lalu mengibaskan tangannya seolah itu hal sepele. "Tadi sore nabrak gagang pintu lift di kantor. Sakit lho, Mas. Kasihan istrimu ini, kerja keras terus eh malah celaka dikit."

Ia tertawa lagi, berusaha membuat suasananya ringan. Tapi Arka tidak tertawa.

"Nabrak?" tanya Arka menegaskan. Ia pernah bekerja di desain interior, paham betul bentuk luka akibat benturan dan akibat tekanan. "Benturan biasanya memarnya di satu sisi, Le. Ini melingkar... persis kayak orang mencengkeram."

Wajah Elena berubah. Rona merah di pipinya memudar, digantikan warna pucat yang khas pada dirinya. Ia menatap Arka, matanya yang besar menyipit tajam. Ada kilatan emosi yang sulit diartikan—marah? Takut? Atau terancam?

"Mas kok ngomongnya gitu?" nada bicaranya berubah, sedikit meninggi, logat Surabayanya keluar lebih kental. "Emang Mas nuduh aku diapain sama orang lain? Mas nuduh aku berantem? Atau... Mas nuduh aku ketemu orang lain sampai ditangkap-tangkap gitu?"

Suara Elena mulai bergetar. Air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya, membuat Arka serba salah. Dalam sekejap, wanita itu berubah menjadi sosok yang paling tersakiti di dunia.

"Aku cuma tanya..." Arka mencoba melunakkan nada bicaranya, merasa bersalah karena telah menuduh tanpa bukti. "Aku khawatir, Le."

"Khawatir atau curiga?" Elena bangkit berdiri kasar, kursi di belakangnya bergeser berisik. Air mata jatuh membasahi pipinya. "Kenapa akhir-akhir ini Mas berubah? Kenapa semuanya jadi salah di mata Mas? Aku kerja capek-capek, ngurus rumah, ngurus Mas... bukannya dihargai, malah dituduh macam-macam!"

"Le, aku bukan bermaksud gitu..."

"Udah!" Elena menyeka air matanya kasar, lalu berbalik badan menjauh. "Aku mau pergi. Ada urusan sama klien di daerah Senayan. Nanti kalau Mas udah bisa mikir jernih, baru ngomong sama aku lagi. Aku capek kalau dituduh terus."

Arka diam terpaku di kursinya. Ia ingin memanggil, ingin menjelaskan, tapi lidahnya terasa kelu. Ia melihat Elena berjalan cepat ke kamar tidur, menutup pintu dengan cukup keras.

Di meja makan, kopi yang masih mengepul itu perlahan menjadi dingin. Arka menatap kosong ke arah pintu kamar. Ia tahu, tadi itu hanya akting. Elena pandai sekali memutarbalikkan fakta, membuat Arka merasa menjadi penjahat, membuat dirinya menjadi korban.

Tapi satu hal that pasti: itu bukan bekas benturan.

Dan Arka yakin sekali, tangan yang mencengkeram istrinya itu... bukan tangannya.

Pintu kamar terbuka lagi. Elena keluar dengan pakaian rapi, kemeja putih dan celana bahan hitam, tas tangan besar berwarna hitam tersampir di bahu. Wajahnya sudah bersih dari air mata, riasan tipis sudah kembali sempurna. Seolah tidak ada pertengkaran sedetik yang lalu.

Ia berjalan melewati meja makan, berhenti sejenak tepat di samping kursi Arka. Menunduk menatap suaminya dengan tatapan yang dalam, tajam, dan dingin.

"Mas..." bisiknya pelan, cukup dekat hingga Arka bisa mencium wangi parfum mahal yang biasa ia pakai. "Ingat ya... kalau kita nggak saling percaya, kita nggak bakal bisa bertahan. Jangan sampai Mas nyesel udah curiga sama aku yang nggak-nggak."

Elena berjalan pergi, langkah kakinya mantap, sepatu hak tingginya mengetuk lantai keramik dengan irama yang meninggalkan bekas di hati Arka.

Pintu depan tertutup.

Arka mengusap wajahnya kasar. Di dalam hatinya, pertanyaan-pertanyaan mulai berdatangan seperti ombak yang tak terbendung. Siapa yang mencengkeram tanganmu, Elena? Dan kenapa kau bertindak seolah akulah musuhmu?

Dan lebih mengerikan lagi... kenapa rasanya Elena ingin Arka tahu, tapi sekaligus ingin Arka bungkam selamanya?

— BERSAMBUNG......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!