Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Alex menghela napas panjang, merasa berat untuk melawan arus keluarganya yang semakin gencar mendesak.
Ia menatap sekali lagi wajah Sisil dan Dimas, lalu berdiri dari kursinya.
“Aku harus pergi dulu ke kantor,” ucapnya singkat.
Ia mencoba menyembunyikan kegundahan yang bergemuruh di dalam dada.
Tanpa menunggu jawaban dari ibu dan saudara-saudaranya, Alex melangkah keluar rumah dengan tergesa-gesa.
Ia menaiki motornya dan langsung melaju membelah jalanan ke arah kantor, berharap kesibukan pekerjaan bisa mengalihkan pikirannya yang kian kusut.
Namun di sepanjang perjalanan, semua kata-kata tajam dari keluarganya terus berputar tanpa henti seperti kaset rusak.
Pilihan yang harus ia ambil kini terasa seperti jurang yang menganga lebar di depannya; tidak ada jalan tengah yang mudah untuk diselami.
Sesampainya di kantor, Alex melepas helm dengan tangan yang masih gemetar halus.
Ia mencoba menata napas dan menjernihkan pikiran, tetapi suasana hatinya yang berat belum juga mereda.
Di ruang kerja yang cukup tenang, Mira berdiri sambil menatap layar komputer.
Begitu menyadari kedatangan lelaki itu, mata mereka bertemu sejenak, dan sebuah senyum manis tersungging di bibir Mira.
“Alex, kamu sudah datang? Aku pikir kamu akan terlambat hari ini,” sapa Mira dengan suara yang dibuat-buat.
Alex membalas senyuman itu sambil menaruh tasnya.
“Iya, ada urusan keluarga yang cukup mengganggu pagi ini,” jawabnya.
Mira menganggukkan kepalanya dengan sorot matanya melembut seolah ia mengerti lebih dari apa yang bisa Alex ungkapkan.
Sebagai sahabat karib Lani, Mira tentu tahu betul badai apa yang sedang mengguncang rumah tangga mereka belakangan ini.
“Kalau kamu butuh teman bicara, aku selalu ada di sini, Lex,” ucap Mira sambil mengedipkan sebelah matanya.
Alex menatap Mira, merasakan ada sedikit beban yang terangkat dari pundaknya. Namun di sisi lain, ia juga menyadari bahwa kedekatan ini memicu sinyal bahaya yang bisa membawa masalah baru, yang mungkin jauh lebih rumit.
Alex menganggukkan kepala pelan sebagai tanda terima kasih.
Kemudian ia membuka laptop dengan jemari yang terasa berat.
Matanya menatap layar kosong yang terang, tetapi pikirannya melayang entah ke mana.
Mira kembali menoleh ke layar komputernya, memberikan Alex ruang untuk menyendiri.
Kendati demikian, kehadiran wanita itu di sebelah mejanya tetap memancarkan kehangatan yang diam-diam menyusup ke hati Alex.
Alex mencoba fokus pada tumpukan pekerjaannya, tetapi benaknya telanjur dipenuhi oleh tekanan dari keluarga, serta bayangan sahabat istrinya yang kini terasa semakin dekat.
Dalam hati, Alex bertanya-tanya apakah keputusan yang ia ambil nanti akan menghancurkan segalanya, atau justru membuka jalan baru untuk hidupnya.
Sementara itu di tempat lain Lani bergegas menuju pasar tradisional.
Meski hatinya masih sakit akibat beban pasca-kejadian test pack tadi pagi.
Ia membeli beberapa bahan makanan segar seperti sayur, cumi, ikan bawal, dan beberapa macam buah untuk dibawakan kepada ibu mertuanya.
Lani dengan perasaan tulus berharap jika perhatian kecilnya bisa sedikit memperbaiki hubungan mereka yang selama ini terasa sedingin es.
Setelah belanja di pasar, ia segera menuju ke rumah mertuanya.
Sesampainya di rumah Ibu Narti, Lani mengulas senyum terbaiknya dan menyodorkan tas belanjaan bungkusan pasar itu.
“Bu, ini Lani bawakan sedikit buah dan lauk untuk Ibu,” ucap Lani.
Namun, sambutan yang diterimanya justru jauh dari apa yang ia harapkan.
Ibu Narti menatap tas belanjaan di tangan Lani dengan lirikan sinis.
“Oh, belanjaannya cuma segini? Mungkin cuma segini yang bisa kamu sumbangkan ke rumah ini, ya? Maklum, kamu kan tak punya anak yang butuh diberi makan,” sindir Ibu Narti tajam tanpa memikirkan perasaan menantunya.
Tak lama kemudian, Dimas dan Sisil datang dari ruang tengah dan ikut bergabung.
Senyum di wajah kedua iparnya itu seketika berubah menjadi ejekan.
“Iya, Mbak Lani. Sama seperti masakanmu di rumah yang menunya itu-itu saja sampai suamimu maunya makan disini saja.” celetuk Dimas berlagak mengejek sambil bersedekap dada.
Sisil menimpali dengan nada yang tak kalah dingin, “Sudahlah, Lani. Jangan terlalu berharap kamu bisa mengambil hati kami dan diterima di sini. Kamu sudah tidak berguna lagi bagi masa depan keluarga ini.”
Lani menunduk dalam-dalam, perasaannya hancur berkeping-keping bak dihantam gada besi.
Ia mencoba sekuat tenaga menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata, berusaha tetap terlihat tegar di hadapan orang-orang yang membencinya. Namun di dalam hatinya, luka penolakan itu menganga jauh lebih dalam dan perih dari yang pernah ia duga.
Mendengar rentetan ejekan yang terus mengalir tanpa henti, Lani menarik napas panjang demi mengumpulkan sisa-sisa harga dirinya.
Matanya berkaca-kaca, tetapi ia menolak untuk menangis di rumah ini.
“Maaf, Bu. Sisil, Dimas. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu,” ucap Luna sambil meletakkan tas belanjaan itu di atas meja luar.
Tanpa menunggu jawaban atau anggukan dari mereka, Lani berbalik dan melangkah keluar pagar rumah dengan langkah cepat.
Setiap kata yang terlontar dari mulut keluarga Alex terasa seperti duri yang menusuk ulu hatinya, tetapi ia tidak ingin memperpanjang perdebatan yang sia-sia.
Sesampainya di pinggir jalan raya, Lani berhenti sejenak di bawah keteduhan pohon.
Ia mengusap sudut matanya yang mulai basah oleh air mata yang akhirnya lolos.
Ia bertekad di dalam hati untuk tetap kuat, meski dunia seolah-olah sedang menjauh dan memunggunginya.
Di perjalanan pulang menuju rumahnya sendiri, langkah kaki Lani mendadak melambat saat ia melewati sebuah studio foto kecil yang memajang berbagai bingkai gambar di etalase kaca depan.
Matanya mendadak terpaku pada sebuah foto besar yang dipajang di sana.
Ia melihat foto pernikahannya dengan Alex lima tahun lalu.
Di dalam bingkai itu, mereka berdua tampak tersenyum sangat lebar, penuh kebahagiaan seolah dunia hanya milik berdua, dan sarat akan harapan masa depan.
Wajah Lani di foto itu terlihat begitu cerah, memancarkan cinta murni yang ia kira tidak akan pernah pudar oleh waktu.
Lani menatap potret masa lalu itu dalam-dalam. Rasa sakit yang menghujam dan rasa rindu akan sosok Alex yang dulu bercampur menjadi satu adonan yang menyesakkan dada.
Dulu, semua terasa begitu indah dan ia percaya pernikahan mereka akan bertahan selamanya.
Tapi sekarang, segalanya telah berubah drastis, mulai hancur oleh rentetan luka dan bayang-bayang pengkhianatan yang belum ia ketahui bentuk pastinya.
Air mata Lani mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi di depan etalase toko itu. Namun, di balik kesedihan yang mendalam, ada satu doa yang terus ia rapalkan demi menguatkan hatinya demi sebuah harapan untuk masa depan yang lebih baik, entah bersama siapa pun itu nantinya.
Lani cepat-cepat menghapus air matanya, lalu melanjutkan langkahnya.
Sesampainya di rumah, ia langsung bergegas ke dapur, membuka lemari penyimpanan, dan mulai menyiapkan bahan-bahan segar yang ia beli tadi.
Ia ingin memasak cumi asam manis dan sup hangat—makanan kesukaan Alex.
Meski hatinya masih terasa sangat perih, Lani ingin membuktikan pada dirinya sendiri dan pada suaminya bahwa ia masih sangat peduli, dan ia masih berharap bisa memperbaiki keretakan rumah tangga mereka.
Aroma harum masakan perlahan mulai memenuhi seluruh penjuru ruangan, sedikit demi sedikit mengusir keheningan intimidatif yang sejak pagi menekan rumah itu.
Lani membayangkan bagaimana ekspresi wajah Alex saat pulang kerja nanti; melihat meja makan yang telah ia siapkan dengan penuh cinta dan kerapian.
“Semoga Mas Alex senang dengan masakan ini. Semoga ini bisa menjadi awal yang baru untuk kita...”
Jam di dinding ruang kantor telah menunjukkan pukul empat sore.
Matahari mulai merunduk ke ufuk barat, menyisakan bias sinar keemasan yang lembut di sepanjang aspal jalanan kota.
Alex menutup laptopnya, merapikan meja kerja, dan bersiap untuk pulang.
Pikirannya masih sangat kusut akibat tekanan yang menggunung dari keluarganya serta gejolak perasaannya sendiri yang tak menentu.
Namun, saat melangkah keluar dari lobi gedung kantor menuju area parkiran, matanya tak sengaja menangkap sosok Mira yang sedang berdiri sendirian di pinggir jalan raya, tampak sedang menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang.
Wajah wanita itu tampak lelah setelah seharian bekerja, namun tetap terlihat menawan dengan senyum tipis yang seolah tak pernah hilang dari bibirnya.
Alex memutuskan untuk mengarahkan laju motornya mendekati Mira.
“Mira, kamu masih belum dapat angkutan juga?” tanyanya setelah mensejajarkan motor di dekat pembatas jalan.
Mira menoleh dan menganggukkan kepalanya “Iya nih, Lex. Sepertinya angkutan sore ini jarang sekali yang lewat. Aku sudah coba menunggu agak lama, tapi belum beruntung.”
Alex mengernyitkan dahi. Di dalam hatinya, mendadak muncul dorongan kuat untuk menolong wanita di depannya ini.
“Ayo, aku antar kamu pulang saja,” katanya dengan nada suara yang tulus.
“Biar kamu nggak repot dan kemalaman di jalan.”
Mira tersenyum bahagia saat mendengar perkataan Alex yang akan mengantarnya pulang.
"Terima kasih banyak ya, Alex. Kamu baik sekali.” ucap Mira segera naik ke boncengan motor Alex.
Sepanjang perjalanan membelah kepadatan jalan sore itu, suasana di antara mereka terasa begitu hangat, meski obrolan hanya sesekali terucap di tengah bisingnya jalanan.
Ada sebuah keakraban tak kasat mata yang perlahan tumbuh subur di antara mereka, mengikis sedikit demi sedikit beban berat yang selama ini menjerat pundak Alex.
Di atas motor, Mira mulai bercerita tentang penatnya pekerjaan hari ini, sesekali menyelipkan cerita tentang Lani, dan tentang harapan-harapan hidup yang kadang terasa sulit untuk digenggam.
Alex mendengarkan setiap kalimat Mira dengan saksama.
Ia merasa seolah-olah baru saja menemukan seseorang yang benar-benar bisa mengerti posisinya dan mendengarkannya lebih dari yang ia duga.
Namun, di balik kehangatan yang mengalir itu, nurani Alex yang paling dalam sebenarnya tahu bahwa kedekatan mereka ini bukanlah tanpa risiko.
Hatinya kini benar-benar terbelah menjadi dua pilihan antara sisa rasa cinta lamanya pada Lani yang mulai memudar, dan letupan godaan baru dari Mira yang mulai tumbuh liar.
Sesampainya di depan rumah minimalis milik Mira, Alex menghentikan motornya tepat di depan pintu pagar.
Ia bersiap untuk mengucapkan salam perpisahan untuk segera pulang ke rumahnya sendiri.
“Terima kasih banyak ya sudah repot-repot mengantar aku. Sampai jumpa besok di kantor,” ucap Mira sambil turun dari motor dan melempar senyum hangatnya yang paling menawan.
Alex membalasnya dengan senyuman tipis dari balik kaca helmnya.
“Sama-sama, Mir. Sampai jumpa besok.”
Namun, saat Alex baru saja hendak menarik tuas gas dan menyalakan kembali mesin motornya, tiba-tiba suara Mira memanggilnya kembali dari ambang pintu rumah.
“Alex! Tunggu sebentar!”
Alex refleks membatalkan niatnya dan menoleh ke arah Mira yang memanggilnya.
Di sana, Mira sedang melambaikan tangan dengan binar mata yang penuh harap.
“Kalau kamu sedang tidak buru-buru dan tidak keberatan, mampirlah dulu ke dalam untuk makan malam bersama. Aku kebetulan sudah memasak lauk yang cukup banyak tadi pagi, dan kamu pasti capek sekali setelah melewati hari yang panjang ini,” tawar Mira.
Alex sempat ragu sejenak di atas jok motornya. Di satu sisi, ia tahu Lani pasti sedang menunggunya di rumah. Namun di sisi lain, suasana hatinya yang sedang tak menentu dan keengganannya menghadapi atmosfer dingin di rumahnya sendiri membuat pertahanannya goyah.
Tawaran makan malam dari Mira malam ini terasa seperti sebuah oase sejuk di tengah gurun pasir masalah yang sedang menghimpitnya.
“Baiklah, aku mampir sebentar saja, ya,” jawab Alex akhirnya, kalah oleh egonya sendiri.
Mira tersenyum lebar penuh kemenangan yang tersamarkan, lalu mengajak Alex melangkah masuk ke dalam rumahnya yang sederhana namun terasa sangat nyaman.
Aroma masakan yang menggoda selera langsung menyambut indra penciuman mereka begitu pintu dibuka.
Mereka duduk di ruang makan rumah Mira yang hangat dan penuh tawa kecil.
Alex merasakan sebuah kelegaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
Suasana di sini benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang selalu ia rasakan di rumahnya bersama Lani; di sini, ia merasa bebas, jauh dari tuntutan anak, tekanan keluarga, maupun rasa bersalah yang terus menghantuinya.
Sementara itu di tempat lain dimana Afrain duduk di kursi kebesarannya.
"Bagaimana kabarmu, Lani? Apakah kamu masih bersama dengan Alex?" gumam Afrain yang tak lain mantan kakak ipar Lani dan mantan suami Sisil.
Semenjak ia bercerai dengan Lilis, ia sama sekali tidak tahu kabar tentang Lani.
Ia hanya berharap Lani dalam keadaan baik-baik saja.
Mengingat keluarga mantan istrinya yang seperti itu.