NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sebuah dokumen bersampul merah marun diletakkan di atas meja kerja Pratama yang megah.

Diandra, dengan tubuh kecil Gia, duduk di kursi seberang suaminya.

Pena meluncur mulus, menorehkan tanda tangan yang sah.

Mulai hari ini, ia resmi menjabat sebagai Konsultan Khusus IT Pratama Group di bawah pengawasan langsung sang CEO.

Namun, di luar ruangan yang tenang itu, badai sedang berkecamuk.

Mita yang terbakar amarah tidak tinggal diam setelah penolakannya di ruang rapat.

Dengan wajah merah padam dan napas memburu, ia mengumpulkan para direktur senior di ruang tunggu eksekutif. Ia menggunakan lidah ularnya untuk menghasut mereka.

"Ini gila! Mas Pratama sudah kehilangan akal sehatnya sejak Mbak Diandra koma!" seru Mita memprovokasi.

"Merekrut anak SMA sebagai konsultan senior adalah penghinaan bagi korporasi kita! Mau ditaruh di mana muka perusahaan ini di mata dunia?"

Para direktur senior yang terkenal kolot dan gila hormat itu mulai terpancing.

Bisik-bisik kemarahan menjalar dengan cepat. Bagi mereka, reputasi adalah segalanya.

Tepat saat ketegangan memuncak, pintu ruang kerja CEO terbuka.

Pratama keluar berdampingan dengan Diandra. Melihat kemunculan mereka, salah satu direktur senior, Pak Subroto, langsung melangkah maju dengan berani.

"Pak Pratama, maaf jika saya harus lancang," ucap Pak Subroto dengan suara lantang yang disengaja agar didengar karyawan lain.

"Keputusan Anda merekrut anak ingusan ini sangat tidak masuk akal. Ini membuktikan bahwa Anda tidak kompeten lagi memimpin tanpa Ibu Diandra! Perusahaan ini dibangun dengan profesionalisme, bukan tempat penampungan anak sekolah!"

Mita tersenyum puas di belakang barisan, merasa di atas angin karena berhasil memojokkan suaminya.

Pratama hendak membuka suara dengan nada mengancam, namun Diandra menahan lengan suaminya dengan ketukan jari yang halus—sebuah kode agar ia yang mengambil alih.

Diandra melangkah ke depan, menatap Pak Subroto dan para direktur lainnya dengan pandangan yang membuat nyali mereka sedikit menciut.

"Saya mendengar semua drama yang kalian buat," ucap Diandra dengan suara yang tenang namun berwibawa.

"Jika kalian merasa saya tidak layak dan menganggap keputusan Pak Pratama adalah sebuah ketidakkompetenan..."

Diandra menjeda kalimatnya, melemparkan pandangan menantang tepat ke arah Mita.

"Saya menantang kalian untuk melakukan tes ulang sekarang juga. Berikan saya sistem paling rumit yang dimiliki perusahaan ini saat ini. Jika saya gagal menyelesaikannya dalam waktu lima menit, saya akan mundur, merobek kontrak ini, dan keluar dari gedung ini selamanya."

Suasana mendadak senyap. Para direktur saling pandang.

"Tapi," lanjut Diandra, senyum miringnya yang mematikan muncul, "jika saya berhasil, kalian semua harus meminta maaf secara terbuka kepada Pak Pratama atas kelancangan kalian hari ini. Bagaimana? Berani menerima tantangan anak SMA ini?".

"Setuju! Aku yang akan memberikan ujian itu," sebuah suara bariton yang berat dan penuh wibawa memecah keheningan koridor.

Semua orang menoleh ke arah sumber suara. Langkah kaki yang tegas terdengar mendekat.

Sosok pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih namun tetap terlihat gagah dalam setelan jas formalnya melangkah masuk ke dalam lingkaran ketegangan.

Dia adalah Tuan Bayu, mantan CEO tertinggi sekaligus ayah kandung Diandra dan ayah tiri Mita.

Kedatangannya yang mendadak membuat para direktur senior langsung menunduk hormat, sementara Mita seketika tersenyum lebar, merasa mendapat dukungan terbesar.

"Papa..." gumam Diandra tertahan.

Jantungnya berdesir hebat. Kerinduan mendalam menghantam dadanya melihat sang ayah yang tampak lebih kurus sejak dirinya dinyatakan koma. Namun, ia harus segera menguasai diri.

Di mata pria itu, dia hanyalah Gia, orang asing yang menggunakan seragam sekolah.

Mita langsung berlari kecil menghampiri ayahnya.

"Papa, syukurlah Papa datang! Lihat Mas Pratama, dia malah membawa anak SMA miskin ini ke kantor dan memberinya posisi penting. Ini benar-benar merusak nama baik keluarga kita!"

Tuan Bayu tidak memedulikan rengekan Mita. Sorot matanya yang tajam dan berpengalaman langsung tertuju pada Gia.

Ada sesuatu dari cara berdiri gadis itu yang membuatnya merasa familier, namun ia menepis perasaan itu.

Sebagai seorang maestro bisnis dan mantan akademisi, ia hanya percaya pada bukti konkrit.

Diandra menganggukkan kepalanya dengan mantap, menentang balik tatapan sang ayah.

"Silakan, Tuan Bayu. Saya siap menerima ujian apa pun dari Anda."

Pratama yang berdiri di samping Diandra hanya diam, namun tangannya mengepal erat. Ia tahu betul siapa Tuan Bayu.

Ayah mertuanya itu adalah salah satu otak di balik arsitektur keamanan awal perusahaan ini.

Diandra dan Tuan Bayu sama-sama memiliki kepintaran yang luar biasa di bidang matematika.

Bakat jenius Diandra turun langsung dari darah pria ini. Jika ada orang yang bisa membuat soal matematika yang paling mustahil di dunia, orang itu adalah Tuan Bayu.

"Bagus. Ikut aku ke ruang server utama," ucap Tuan Bayu dingin.

Di dalam ruang server, Tuan Bayu berjalan ke arah salah satu komputer super dan mulai mengetik serangkaian formula.

Setelah beberapa menit, ia memutar layar monitor ke arah Diandra.

Kemudian, Tuan Bayu memberikan sebuah lembaran matriks persamaan non-linear tiga dimensi yang terintegrasi dengan kode kriptografi kuno—sebuah teori probabilitas rumit yang dulu pernah ia kembangkan bersama Diandra saat putrinya itu masih kuliah.

"Ini adalah dasar dari algoritma enkripsi awal Pratama Group yang belum pernah dipublikasikan. Selesaikan persamaan ini dan temukan kunci variabel utamanya dalam waktu lima menit. Jika jawabanmu meleset satu angka saja, angkat kakimu dari sini," tantang Tuan Bayu.

Mita tersenyum sinis di sudut ruangan. Ia tahu soal itu sangat mustahil.

Bahkan para profesor matematika pun butuh waktu berhari-hari untuk memecahkannya.

Namun, Diandra justru menatap layar itu dengan mata yang berbinar.

Di dalam hatinya, ia ingin menangis sekaligus tertawa.

"Papa, kamu memberikan soal yang kita pecahkan bersama di ruang kerjamu lima tahun lalu?" batin Diandra.

Tanpa ragu sedikit pun, Diandra melangkah maju dan menarik papan ketik ke hadapannya. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Diandra dengan penuh percaya diri melangkah maju.

Ia sama sekali tidak menyentuh kertas atau alat bantu hitung yang disediakan.

Jari-jemarinya langsung menari di atas papan ketik komputer super tersebut dengan irama yang konstan, tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun.

Di dalam kepalanya, memori lima tahun lalu berputar dengan jelas.

Saat itu, ia dan sang ayah duduk di ruang kerja rumah mereka yang hangat, ditemani secangkir teh, berdebat semalaman suntuk hanya untuk menyempurnakan rumus variabel ini.

Diandra tahu persis di mana letak jebakan angka prima yang sengaja disisipkan ayahnya di baris ketiga puluh empat.

Tap!

Ketukan terakhir pada tombol Enter menggema di ruang server yang sunyi.

Waktu di layar digital baru menunjukkan menit ketiga. Angka hitung mundur berhenti di angka 02:14.

Layar monitor besar itu berkedip, menampilkan sebuah grafik matriks tiga dimensi yang berputar sempurna, disusul dengan barisan angka biner yang tersusun rapi hingga memunculkan status:

[VERIFIED - ACCURATE 100%].

Seluruh ruangan seketika senyap. Para direktur senior yang tadinya memandang remeh kini terbelalak, saling pandang dengan wajah pucat.

Mita yang berdiri di belakang ayahnya langsung kehilangan senyum sinisnya.

Tubuhnya menegang, tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikan matanya.

Namun, reaksi paling dramatis datang dari Tuan Bayu.

Pria paruh baya itu melangkah mendekati monitor, matanya menatap tidak percaya pada metode penyelesaian yang tertera di layar.

Tubuhnya gemetar hebat hingga ia harus berpegangan pada tepi meja marmer.

"Tidak mungkin... Ini... Ini tidak mungkin," bisik Tuan Bayu dengan suara yang mendadak serak dan sarat akan emosi.

Metode penyelesaian itu bukan sekadar benar secara matematika.

Gadis SMA ini menggunakan shortcut rumus probabilitas terbalik yang sangat spesifik—sebuah gaya penyelesaian yang tidak pernah ada di buku teks mana pun di dunia.

Itu adalah gaya penyelesaian yang diciptakan oleh mendiang istrinya dan hanya diwariskan kepada satu orang saja: Diandra.

"Tidak mungkin ini jawaban dari Diandra..." gumam Tuan Bayu lirih, nyaris tak terdengar oleh orang lain.

Matanya beralih dari layar komputer dan menatap tajam ke arah Gia.

"Siapa kamu sebenarnya?" gumam Tuan Bayu dalam hati, dadanya bergemuruh hebat. Rasa syok dan kebingungan yang luar biasa bercampur menjadi satu.

Logikanya menolak keras, namun naluri seorang ayah di dalam dirinya berteriak bahwa ada sesuatu dari jiwa putrinya yang tertinggal di dalam gerak-gerik gadis asing ini.

Diandra berdiri tegak, menjalin kedua tangannya di depan tubuh, lalu menatap Tuan Bayu dengan sorot mata yang penuh kehangatan yang berusaha ia sembunyikan.

"Ujiannya selesai, Tuan Bayu," ucap Diandra dengan nada yang sangat sopan namun penuh penekanan.

"Sesuai perjanjian, saya rasa ada beberapa orang di ruangan ini yang berutang permohonan maaf kepada Pak Pratama."

Pratama yang menyaksikan hal itu dari sudut ruangan tersenyum tipis, merasa kemenangan mereka sudah di depan mata.

Sementara Mita mulai berkeringat dingin, menyadari bahwa gadis SMA di hadapannya ini jauh lebih berbahaya dari apa yang ia bayangkan.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!