NovelToon NovelToon
Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Eifel Dalam Genggaman Cinta Yang Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: de banyantree

Semakin hari Alan terus melukai Xarena dengan semua keangkuhannya. Namun Xarena memilih diam. Karena sakit yang sangat begitu dalam, lima tahun Alan meninggalkannya tanpa kabar. Kini dia kembali membawa Luka.
Bagi Alan, Xarena telah bahagia dengan pilihan orang tuanya. Bagi Xarena, Alan masih memiliki utang penjelasan untuknya.
Bagaimana dia tega meninggalkan Xarena sendirian, hingga Ciara Hadir di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon de banyantree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Modal

Alan menatap langit-langit kontrakan yang catnya sudah mulai mengelupas, kontras sekali dengan langit-langit kamar tidurnya di rumah Monique yang bergaya Eropa klasik. Dulu, ia hanya perlu menjentikkan jari untuk mendapatkan apa pun. Sekarang, bahkan untuk secangkir kopi pait saja, ia harus membuatnya sendiri.

​"Kris," panggil Alan tiba-tiba.

​Kris yang baru saja merebahkan diri di atas tikar, langsung bangkit. "Ya, Mas? Kenapa? Kok belum tidur?"

​"Gue sadar satu hal. Gue nggak bisa cuma modal 'cinta' buat balik ke Xarena. Dia butuh kepastian. Dia butuh rumah yang aman buat Ciara. Gue selama ini cuma parasit di hidup Monique, Kris. Gue nggak punya apa-apa atas nama gue sendiri," ujar Alan getir. Ia menatap telapak tangannya sendiri. "Mulai besok, gue mau cari kerja. Apa aja. Kerja kasar pun gue jabanin asal halal."

​Kris terdiam sejenak, lalu terkekeh. "Wah, udah mulai sadar ya, Mas? Bagus itu. Tapi jangan terlalu keras sama diri sendiri. Pelan-pelan asal kelakon. Besok kita fokus ke bunga lily dulu, baru habis itu kita cari peluang bisnis atau kerjaan yang pas. Yang penting, jangan balik ke dunia 'hitam' Monique lagi."

​"Setuju," sahut Alan mantap.

​Sementara itu, di rumah yang hangat itu, pembicaraan masih terus berlanjut. Budhe Sum baru saja pergi ke dapur untuk membuatkan singkong rebus, sementara Bi Inah sibuk mencatat ide-ide bisnis yang terlontar dari mulut Satria.

​"Xarena, lihat Mommy," Mommy Bela menatap Xarena dengan pandangan yang dalam. Ia kemudian merogoh saku daster batiknya, mengeluarkan sebuah buku tabungan tua yang sudah agak kusam sampulnya.

​Xarena mengerutkan kening. "Mommy? Ini apa?"

​"Ini tabungan Mommy selama belasan tahun," ujar Mommy Bela tenang, lalu meletakkannya di tangan Xarena. "Dulu, waktu kamu masih kecil dan hidup kita masih penuh dengan kekayaan, Mommy selalu menyisihkan uang sedikit demi sedikit demi bisa menyekolahkan kamu. Sekarang, uang ini nggak akan berguna kalau cuma disimpan di bank. Mommy mau kamu pakai ini buat modal awal usaha yang tadi Satria bilang."

​Mata Xarena membelalak. "Nggak, Mommy! Ini uang tabungan masa tua Mommy. Xarena nggak bisa terima!"

​"Dengarkan Ibu, Nak," Bi Inah ikut mendekat, mengelus punggung tangan Xarena. "Ibu Bela ini tulus. Beliau tahu kamu punya potensi. Kalau cuma mengandalkan gaji kecil, kapan kamu bisa punya rumah sendiri dan menyekolahkan Ciara dengan layak? Anggap saja ini investasi untuk kebahagiaan cucu Ibu sendiri."

​Satria tersenyum hangat. "Mbak Xarena, ini kesempatan emas. Saya sudah riset kecil-kecilan. Kue kering produksi rumahan kita bisa masuk ke toko-toko oleh-oleh di pusat kota. Kalau kita mulai besok, bulan depan barang sudah bisa masuk ke pasar."

​Xarena merasa sesak di dadanya, bukan karena sedih, tapi karena terharu melihat betapa banyak orang yang percaya padanya—sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Alan selama lima tahun terakhir.

​"Mommy... makasih," suara Xarena bergetar. Ia memeluk Mommy Bela erat sekali. "Xarena bakal buktiin. Xarena bakal bikin usaha ini sukses, dan uang Mommy ini bakal balik sepuluh kali lipat. Xarena nggak akan bikin Mommy kecewa."

​"Itu baru anak Mommy!" Mommy Bela mengusap kepala Xarena. "Ingat ya, Xarena. Kamu nggak perlu Alan untuk bahagia. Tapi kalau nanti dia benar-benar datang dan menunjukkan perubahan nyata, mungkin kamu bisa sedikit melonggarkan hati. Tapi untuk sekarang, fokus ke masa depan dulu."

​Keesokan paginya, suasana desa masih diselimuti kabut tipis ketika Alan dan Kris sudah siap dengan motor mereka. Alan sudah rapi, meski pakaian yang dikenakannya sederhana. Ia membawa setangkai bunga lily putih yang ia beli di pasar—bunga yang begitu cantik, namun tampak rapuh.

​"Mas, yakin mau langsung ke sana?" tanya Kris sambil memanaskan mesin motor. "Nanti dikira kita mau bikin keributan lagi."

​"Aku nggak mau bikin keributan, Kris. Aku cuma mau menyampaikan isi hati," jawab Alan. Ia menyelipkan sebuah surat yang sudah ia tulis semalaman di balik bunga itu.

​Sesampainya di depan rumah Xarena, mereka tidak langsung masuk. Alan mematikan mesin motor agak jauh, lalu berjalan kaki pelan-pelan. Namun, pemandangan yang ia lihat membuatnya membeku.

​Di teras rumah, Xarena, Satria, dan Bi Inah sedang asyik menata peralatan masak. Mereka tertawa lepas. Wajah Xarena tampak begitu cerah—sebuah pemandangan yang selama lima tahun ini jarang sekali ia lihat.

​"Tuh kan, Mas. Mbak Xarena kayaknya udah dapet 'dunia' baru," bisik Kris pelan di belakangnya.

​Alan mematikan langkahnya. Ia melihat ke tangannya, bunga lily itu masih tergenggam erat. Ia menyadari sesuatu yang menyakitkan namun benar: Xarena baik-baik saja tanpa dirinya.

​Tiba-tiba, Satria menoleh ke arah jalan dan melihat Alan berdiri di sana. Suasana yang tadinya ceria mendadak hening. Xarena berdiri, menatap Alan dengan tatapan yang sulit diartikan—ada sisa rasa sayang, tapi lebih banyak kekecewaan yang membeku.

​Alan menarik napas panjang. Ia memberanikan diri melangkah mendekat, meski ia tahu risikonya.

​"Xarena," panggil Alan lirih saat jarak mereka hanya tersisa beberapa meter. "Aku nggak ke sini buat bikin onar. Aku cuma mau kasih ini."

​Alan menyodorkan bunga lily itu dengan tangan gemetar.

​Xarena menatap bunga itu, lalu menatap mata Alan. Ia tidak langsung mengambilnya. "Alan, untuk apa lagi semua ini? Kamu sudah punya kehidupan di Jakarta. Kenapa harus balik ke sini dan mengganggu ketenangan kami?"

​"Karena ketenanganku ada di sini, Xarena," jawab Alan jujur, suaranya parau. "Aku tahu aku salah. Lima tahun itu terlalu lama, dan aku nggak minta kamu maafin aku hari ini juga. Aku cuma mau kamu tahu, aku mulai hari ini—aku bakal jadi pria yang bisa diandalkan. Aku bakal cari kerja, aku bakal mandiri, dan aku bakal pastikan nggak ada lagi orang seperti Monique yang bisa menyentuh kalian."

​Satria berdiri di samping Xarena, menatap Alan dengan pandangan waspada. "Alan, kalau kamu benar-benar pria, tunjukkan dengan bukti, bukan bunga. Mbak Xarena sudah punya rencana besar buat masa depannya dan Ciara. Kamu cuma akan jadi penghambat."

​Alan menatap Satria, lalu beralih kembali ke Xarena. "Aku tahu, Sat. Dan aku nggak akan menghambat. Kalau memang kehadiranku cuma jadi beban, aku bakal pergi setelah ini. Tapi tolong, terima bunga ini sebagai tanda penyesalanku yang terdalam."

​Xarena akhirnya mengulurkan tangan, mengambil bunga itu dengan sangat perlahan. Tangannya sedikit gemetar saat jemarinya menyentuh tangan Alan. Ada aliran listrik yang masih terasa—sebuah memori yang sulit dihapuskan.

​"Aku nggak bisa janji apa-apa, Alan," ucap Xarena dingin namun tidak membenci. "Hidupku sudah bukan lagi tentang menunggu kamu. Aku punya tanggung jawab sekarang. Punya bisnis yang harus aku bangun."

​"Aku tahu," jawab Alan dengan senyum getir yang tulus. "Dan aku bangga kamu bisa sekuat ini. Lanjutkan bisnismu, Xarena. Aku akan cari jalan buat membuktikan diriku di luar sana."

​Alan berbalik arah, berjalan menjauh kembali ke arah motornya. Kris yang menunggu dengan cemas segera menyalakan mesin.

​"Jadi, Mas? Nggak jadi nungguin?" tanya Kris.

​"Enggak, Kris. Dia udah bahagia. Tugas gue sekarang adalah bikin diri gue pantas buat ada di samping kebahagiaan itu," jawab Alan sambil menaiki motor.

​Alan melirik sekali lagi ke arah rumah itu. Ia melihat Xarena masih memegang bunga lily-nya, memandangi sosok Alan yang perlahan menjauh dari pandangan. Kabut tipis mulai terangkat, seolah memberi jalan bagi Alan untuk memulai hidup yang baru—hidup yang ia bangun dengan keringat sendiri, bukan lagi dengan kemewahan palsu Monique.

​"Ayo, Kris. Kita ke kota. Cari kerja!" seru Alan dengan semangat baru.

​"Siap, Bos! Gaspol!"

​Motor bebek itu menderu, meninggalkan debu tipis di jalanan desa. Hari itu adalah titik balik. Alan bukan lagi pria yang lari dari kenyataan, dan Xarena bukan lagi wanita yang terkurung dalam penantian. Keduanya mulai melangkah, meski di jalan yang berbeda, menuju masa depan yang mungkin akan mempertemukan mereka kembali—atau mungkin tidak sama sekali. Namun yang pasti, hari itu, keduanya sama-sama sedang berjuang untuk menjadi manusia yang lebih baik.

1
mama
alan ny goblok bin tololl.. mau2 nikah sm mak Lampir cm demi kekuasaan🤣..
mama
CEO terbodoh🤣,..org kaya gk mampu nyari detektif buat nyari kebenarannya nih cerita ny, gitu aj bingung😄..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!