NovelToon NovelToon
The Affair Mr. K

The Affair Mr. K

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Action / Selingkuh
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi dunia luar, pernikahan Dr. Emmeline Valerio dan Edward Snowden adalah simbol kesempurnaan dinasti papan atas di Los Angeles.

Namun, di balik dinding mansion Snowden yang megah, pernikahan itu tidak lebih dari sebuah Janji memuakkan.

Puncaknya, harga diri Emmeline sebagai seorang wanita diinjak-injak ketika dia mendapati Edward membawa wanita selingkuhannya ke atas ranjang mereka.

Emmeline tidak menangis. Dia tidak mengemis. Sebaliknya, api dendam yang dingin menyala di dadanya. Dia memilih membalas dendam dengan menyerahkan tubuhnya pada masa lalunya: Kingdom Kyle Stone.

Kini, di antara ego suaminya dan gairah protektif sang mantan agen rahasia, Emmeline memilih untuk berdansa di dalam neraka yang dia ciptakan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

Sinar matahari pagi Los Angeles menembus celah-celah gorden roller blind otomatis, membentuk garis-garis cahaya keemasan di atas lantai kayu ek yang dipoles berkilau.

Emmeline Valerio mengerjapkan matanya yang terasa seberat timah. Lenguhan pelan lolos dari bibirnya saat rasa pening langsung menyerang pelipisnya begitu dia mencoba bergerak.

Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi, dicat dengan warna abu-abu arang yang maskulin dan minimalis.

Ini bukan kamarnya di Mansion Snowden. Tidak ada bau wewangian mawar kesukaannya, tidak ada seprai sutra putih yang biasa menemaninya selama empat bulan terakhir.

Kesadaran itu menghantamnya seperti air es. Semalam. Pengkhianatan itu. Rentetan pesan dari Niyna Boo. Pengakuan menjijikkan Edward, tamparannya, dan taruhan gila enam bulan pernikahan kontrak mereka.

Semua memori itu berputar kembali di kepalanya bagai film hitam-putih yang rusak, meninggalkan rasa mual dan kekosongan yang teramat sangat di rongga dadanya.

Emmeline menghela napas panjang, membalikkan tubuhnya ke samping.

Matanya melirik jam dinding digital yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Jam biologis tubuhnya tidak bisa berbohong. Selama bertahun-tahun, dia selalu terbangun pada jam ini karena tuntutan profesinya yang luar biasa padat.

Emmeline Valerio bukan sekadar sosialita atau pajangan keluarga Valerio.

Di balik predikat ratu universitas dan kehidupan glamornya, dia adalah seorang Dokter Spesialis Bedah Umum di Rumah Sakit Pusat Los Angeles (LA Central Hospital).

Sebuah pencapaian yang luar Biasa bagi seorang wanita muda berusia 26 tahun, yang berhasil menyelesaikan akselerasi kuliah kedokteran dan masa residensinya dengan nilai di atas rata-rata berkat otaknya yang pintar tanpa bantuan keluarga nya.

Seharusnya, pagi ini dia memiliki jadwal operasi sif pagi. Namun, dengan kondisi mentalnya yang hancur berantakan dan tangan yang masih gemetar, Emmeline tahu dia tidak boleh memegang pisau bedah hari ini.

Satu kesalahan kecil darinya bisa merenggut nyawa pasien. Tadi malam, di dalam mobil sport-nya yang terparkir di pinggir jalan tol, dia sudah mengirimkan pesan singkat kepada kepala departemen bedah untuk menukar jadwalnya menjadi sif malam.

Dia butuh waktu seharian ini untuk bernapas, atau setidaknya, mengumpulkan kembali serpihan dirinya yang hancur.

Emmeline bangkit dari ranjang king size itu, menyeret langkahnya yang lemas keluar dari kamar tidur.

Dia tidak pulang ke kediaman utama keluarga Valerio. Terlalu berisiko. Jika dia pulang dengan mata sembab dan koper di tengah malam, Daddy-nya, Kensington Valerio—pria paruh baya yang memegang kendali penuh atas dinasti bisnis Valerio dan memiliki proteksi luar biasa terhadap putri tunggalnya—pasti akan langsung mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menyelidiki Edward.

Dan Mommy-nya, Audrey, wanita berhati lembut itu pasti akan menangis histeris. Emmeline belum siap membuat badai di keluarganya. Setidaknya, tidak sampai peluncuran proyek di Las Vegas aman.

Oleh karena itu, satu-satunya tempat pelarian yang aman adalah griya tawang penthouse mewah milik saudara kembar laki-lakinya.

Jadi apartemen super ketat dengan sistem keamanan biometrik ini adalah tempat persembunyian yang sempurna dari dunia luar. Terutama dari Edward.

Seharian itu, Emmeline benar-benar menjelma menjadi hantu di dalam apartemen Max yang luas.

Dia sengaja mematikan ponsel pintarnya dan melempar benda itu ke dalam laci meja rias.

Dia tidak ingin melihat panggilan masuk dari Edward yang mungkin berpura-pura cemas, atau rentetan pesan teror dari Niyna Boo yang mencoba memancing amarahnya lagi. Dia ingin terisolasi.

Mengenakan salah satu kemeja flanel kebesaran dan celana pendek, Emmeline menghabiskan waktu berjam-jam di atas sofa beludru ruang tengah.

Televisi layar lebar di depannya menyala, menampilkan sebuah film romantis komedi yang sama sekali tidak dia cerna jalan ceritanya. Matanya menatap lurus ke layar, namun pikirannya mengembara ke tempat yang sangat jauh.

Di sampingnya, sebuah mangkuk berisi sereal yang sudah melunak karena susu dibiarkan begitu saja tanpa disentuh. Seleranya sudah hilang, terkubur bersama rasa bangga yang diinjak-injak.

Dada Emmeline kembali terasa sesak. Air mata yang dia kira sudah habis semalam, kembali mengalir perlahan melewati pipinya.

Menyakitkan sekali mengakui bahwa dia masih merasakan sakit hati yang mendalam. Biar bagaimanapun, Edward Snowden adalah cinta pertamanya.

Pria pertama yang membuatnya merasakan debaran di dada, pria yang setahun lalu berlutut di hadapannya dengan sebuah cincin berlian dan berjanji akan menjadikannya wanita paling bahagia di dunia.

"Kau bodoh, Emmeline," lirihnya pada diri sendiri, menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. "Kau sangat bodoh karena mempercayai kebohongannya."

Lalu, ingatan Emmeline berputar pada kalimat gila yang dia ucapkan sebelum meninggalkan kamar mereka semalam.

“Maka tolong ajari aku selingkuh juga.”

Emmeline menarik sudut bibirnya, tertawa sumbang di tengah keheningan apartemen.

Konyol. Benar-benar konyol dan kekanak-kanakan.

Dia mengucapkan itu hanya karena harga dirinya sebagai seorang Valerio menolak untuk terlihat kalah di depan Edward yang bersikap arogan.

Selingkuh? Jangankan selingkuh, disentuh oleh pria selain suaminya saja rasanya tidak pernah terbayangkan oleh Emmeline selama empat bulan ini. Dia adalah seorang dokter yang rasional, bukan wanita nekat yang akan melempar dirinya ke pelukan sembarang pria hanya untuk membalas dendam.

Namun... kata 'disentuh' itu mendadak memicu sebuah reaksi berantai di dalam memorinya. Kata itu seperti magnet yang menarik paksa sepotong ingatan kuno yang selama Enam tahun ini selalu dia sangkal keberadaannya.

Wajah Edward yang tampan namun berhati dingin di benaknya mendadak buram, digantikan oleh bayangan samar seorang pemuda lain.

Seorang pria di masa lalunya. Pria berseragam High School

Emmeline bersandar pada sandaran sofa, matanya menerawang menatap langit-langit apartemen yang tinggi.

Jantungnya mendadak berdegup dengan ritme yang berbeda. Bukan degup kemarahan seperti saat memikirkan Edward, melainkan degup asing yang dipenuhi rasa bersalah dan... sensasi aneh yang tak bisa dia jelaskan.

Dia tidak akan pernah bisa melupakan bagaimana perawakan pemuda malam itu. Meskipun seragamnya menunjukkan dia masih seorang anak sekolah, tubuh di balik kain kemeja putih itu benar-benar kekar dan tegap.

Bahunya lebar, dadanya bidang, dan otot-otot lengannya mengeras dengan sempurna saat pria itu mencoba menahan pergerakan Emmeline yang kehilangan kendali akibat obat perangsang.

Fisik yang begitu dominan dan maskulin, sesuatu yang bahkan tidak dimiliki oleh Edward yang bertubuh tinggi namun cenderung ramping.

Emmeline memejamkan matanya erat-erat. Selama dua tahun ini, dia selalu membohongi akal sehatnya. Sebagai seorang Ratu Bully yang angkuh dan mahasiswi kedokteran yang superior, dia selalu menanamkan dogma di kepalanya bahwa malam itu adalah sebuah kecelakaan menjijikkan yang tidak ada artinya.

Dia meyakinkan dirinya bahwa dia membenci setiap detik dari malam itu.

Namun, di saat pernikahannya hancur karena penolakan Edward, alam bawah sadar Emmeline berhenti berbohong.

Perlakuan lembut anak SMA malam itu... adalah sesuatu yang bahkan tidak pernah dia dapatkan dari Edward selama satu tahun masa pacaran mereka, apalagi dalam empat bulan pernikahan mereka yang dingin.

Emmeline mengingatnya dengan sangat jelas sekarang, seolah peristiwa itu baru terjadi kemarin malam. Ketika pengaruh obat perangsang membuatnya merintih kesakitan karena penyatuan paksa yang kasar, pemuda SMA itu tidak egois.

Di tengah kegelapan paviliun yang pengap, tangan besar pemuda itu yang tadinya menolak, perlahan bergerak mengelus rambut Emmeline dengan sangat lembut.

Jemarinya menyisir untaian rambut Emmeline yang basah oleh keringat, memberikan ketenangan yang aneh di tengah badai gairah yang menyiksa.

Dan kecupan itu...

Pemuda itu menundukkan wajahnya, mengecup kening Emmeline dengan lama dan penuh kelembutan yang tulus, seolah menyalurkan rasa bersalah sekaligus mencoba membagi rasa sakit yang sedang Emmeline rasakan.

Sebuah sentuhan yang begitu intim, begitu melindungi, yang membuat Emmeline yang saat itu sedang kehilangan kesadaran mendadak merasa aman di dalam pelukan seorang asing.

"Kenapa aku baru mengingatnya sekarang?" bisik Emmeline, menyentuh keningnya sendiri dengan ujung jari yang bergetar.

Selama ini, Edward bahkan jarang mencium keningnya dengan intensitas seperti itu. Setiap kali Edward menciumnya dulu, itu terasa seperti sebuah kewajiban atau formalitas belaka.

Tidak ada kehangatan yang tulus. Berbeda dengan bocah SMA malam itu yang bertindak seolah-olah Emmeline adalah sesuatu yang berharga yang harus dia jaga, meskipun Emmeline-lah yang memaksanya.

Emmeline merubah posisinya menjadi berbaring, menatap kosong pada dinding kaca yang menampilkan gedung-gedung pencakar langit Los Angeles. Dia mencoba memeras otaknya, memaksa memorinya yang buram untuk memunculkan kembali nama yang tertulis di kertas yang dia robek enam tahun lalu.

Pemuda itu sempat menyebutkan namanya sebelum pergi. Nama yang singkat.

"K..." Emmeline bergumam, mencoba merasakan huruf itu di lidahnya. "Ya, dia bilang namanya K. Hanya K."

Namun, Emmeline tahu itu bukan nama lengkap. Pikiran visualnya sebagai seorang dokter mulai bekerja mengumpulkan pecahan memori.

Dia teringat saat dia menarik kerah seragam pemuda itu dengan kasar malam itu. Di atas saku dada sebelah kiri seragam High School-nya yang berwarna putih, ada sebuah emblem bordir nama yang biasanya diwajibkan oleh sekolah-sekolah elite di wilayah California.

Di sana tertulis huruf inisial yang jelas: K.K.

"K.K..." Emmeline mengernyitkan keningnya, frustrasi.

Gilanya, karena gengsi dan keangkuhannya yang setinggi langit waktu itu, dia bahkan tidak sudi membaca nama lengkap yang tertera di balik inisial tersebut.

Baginya saat itu, membaca nama seorang anak SMA yang baru saja menidurinya adalah sebuah penurunan kasta. Dia terlalu sombong untuk peduli pada identitas bocah yang dia anggap sebagai noda dalam hidupnya yang sempurna.

Sekarang, Enam tahun telah berlalu. Siapa K.K.? Di mana dia sekarang? Apakah dia sudah lulus kuliah? Atau dia masih berada di Los Angeles, berjalan di bawah langit yang sama dengannya?

Emmeline menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan pemuda masa lalu itu dari kepalanya.

"Apa yang kau pikirkan, Emmeline? Kau sedang menghadapi kehancuran pernikahanmu, dan sekarang kau malah memikirkan anak SMA dari masa lalu? Kau benar-benar sudah gila."

Dia melirik jam lagi. Sudah pukul empat sore. Kegelapan mulai perlahan turun membayangi kota. Sudah waktunya dia bersiap-siap. Sif malamnya di rumah sakit akan dimulai dalam dua jam lagi.

Emmeline bangkit dari sofa, berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Air hangat yang mengguyur tubuhnya membantu meluruhkan sedikit ketegangan di otot-ototnya.

Sebelum keluar dari apartemen, Emmeline sempat berdiri di depan laci meja rias, menatap ponselnya yang masih mati.

Setelah menimbang-nimbang selama beberapa saat, dia akhirnya menyalakan ponsel itu. Dia tidak bisa terus bersembunyi. Dia adalah seorang Valerio, dan dia harus menghadapi dunia, sekotor apa pun dunia itu saat ini.

Begitu layar ponselnya menyala, ratusan notifikasi langsung masuk bertubi-tubi.

Ada lima belas panggilan tak terjawab dari Edward, dan beberapa pesan teks singkat yang nadanya beralih dari panik menjadi dingin menuntut kesepakatan enam bulan mereka.

Emmeline mengabaikannya. Matanya justru tertuju pada sebuah pesan masuk dari ibunya, Audrey Valerio.

Sayang, Daddy bilang Edward mengabari kalau kau sedang ada tugas operasi besar sejak semalam dan menginap di asrama rumah sakit. Jangan lupa makan, Sayang. Kami menyayangimu.

Emmeline tersenyum sinis. Jadi Edward membuat alasan itu untuk menutupi kepergiannya dari orang tuanya? Baguslah. Setidaknya pria brengsek itu masih memiliki otak untuk menjaga rahasia ini agar saham perusahaan mereka tidak anjlok esok hari.

Emmeline memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel, mengambil kunci mobil sport-nya, dan melangkah keluar dari griya tawang itu. Saat pintu lift tertutup, Emmeline menarik napas dalam-dalam, mengunci seluruh emosi pribadinya di dalam sebuah kotak rapat di sudut hatinya.

Mulai detik ini, di dalam gedung rumah sakit nanti, dia bukan lagi Emmeline Snowden yang dikhianati atau Emmeline Valerio yang memiliki rahasia kelam.

Dia adalah Dr. Emmeline Valerio, seorang ahli bedah yang dingin, kompeten, dan tidak memiliki ruang untuk kelemahan.

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, sebuah benih rasa penasaran yang berbahaya telah tumbuh.

Inisial 'K.K.' yang selama enam tahun ini terkubur, kini mulai berdenyut, seolah bersiap untuk memicu badai baru yang tidak akan pernah dia duga arah datangnya.

1
Agus Tina
Iya thor jangan buat ketiga pangeran kembar itu berpasangan sama wabita biasa, bukan kalangan dari mereka. Buat mereka apt daddynya yg bisa berpasangan dgn wanita hebat swperri mommy mereka
Zahra Alifia Hidayat
love my kaelix😍😍😍😍
Zahra Alifia Hidayat
pangeran bungsu kak😍😍😍😍😍
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Sholikhah Sholikhah
penasaran dgn mantannya emmelin 🤔
Ros 🍂: mantan suaminya Sudah berakhir ya kak🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Bau2nya freya bkn gadis sembarangan,, mungkin ank konglo yg kabur / di culik pas kcl,, 🤭🤭 jodohnya ken kah,, jangan sampe ada cinta segi4,, 🤣🤣
Ros 🍂: Hihihi author mah ngikut alur Reader saja 🤭🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Tenang mom,, nanti jg di siapkan pawangnya masing2 untuk triple K sama othor,, 🤭🤭
Ros 🍂: haha mommy perlu dikasih tau kak🤭🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Cerita kaelix dulu kk,,! 😌
Ros 🍂: penasaran ya kak🤭
total 2 replies
Agus Tina
Lanjuut ... penasaran sama mantannya Mrs. Stone ...
Ros 🍂: Mantannya Siapa kak?
total 1 replies
Agus Tina
Bagus sekali ... alhirnya sang countess benar2 luluh
Ros 🍂: hehe iya kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Typo,, cucu audrey,, knp yara udah punya cucu,, 😌yara kan menantu audrey ipar emme,, 🤭
Ros 🍂: Author kacau kak🤣🤣 Lupaa 🤭🤭🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Triplet ya thorrrr,, plisssss
Ros 🍂: sesuai request ya kak🫶🥰
total 1 replies
Dev..
istrinya Kensington kan Audrey thor🤔😅
Ros 🍂: asli Sampe lupa Kak 🤭🫶
total 3 replies
Dev..
Kensington kan thor..
Ros 🍂: ma'aciww ya kak komentarnya 🫶🥰
total 2 replies
Agus Hidayat
lanjut,kak kok Yara terus Audrey kak😍😍😍😍
Ros 🍂: kak, itu keliru sama ceritanya yang sebelah, hehe maaf Typo ya kak 🫶🙏🏻
total 1 replies
Agus Hidayat
kok Yara yg bener itu Audrey,Yara istrinya max menantunya ken🙏
Ros 🍂: maaf ya kak🤭 keliru 😭🤣🤣
total 1 replies
rachma yunita
lanjuuuuutt.. triple k
Ros 🍂: siap kak 🫶🙏🏻
total 1 replies
tri
lanjutin kak... saat anak2 mulai besar dan mengacau hahaha
Ros 🍂: Hahaha siap kak🫶🙏🏻
total 1 replies
Agus Tina
Bahagia sekali ... selamat mr and mrs. Stone
Ros 🍂: hheheh🥳🥳
total 1 replies
Mundri Astuti
pas dah sama kyle, satu militer tangguh, sebelahnya dokter bedah Badas euy
Ros 🍂: hehe sama-sama badas ya kak🤭
total 1 replies
durrotul aimmsh
i love your story kak...👍
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!