NovelToon NovelToon
Garis Takdir Baru

Garis Takdir Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: USR

Nata Prawira mati dalam kehancuran mental dan kemiskinan, meninggalkan kedua adiknya dalam penderitaan. Namun, takdir membawanya kembali ke tahun 2014, tepat di masa SMA-nya.
​Berbekal memori masa depan dan kepribadiannya yang dingin serta kalkulatif, Nata bertekad menulis ulang nasib. Dari gang sempit yang kumuh, ia mulai merancang strategi investasi di dunia BitCore dan industri teknologi yang baru tumbuh. Bukan sekadar mencari kekayaan, Nata adalah seorang arsitek yang sedang membangun kekaisaran bisnis untuk melindungi Kirana yang lembut dan Arya yang penuh semangat. Di dunia yang kejam, ia akan membuktikan bahwa kecerdasan strategis adalah senjata paling mematikan untuk menjungkirbalikkan kasta sosial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: TERBANGUN DI ATAS RERUNTUHAN WAKTU

Rasa sesak itu masih terasa nyata. Dingin yang merayap di ujung jemari, suara detak jantung yang melambat, dan kegelapan pekat yang menelan kesadaran Nata Prawira saat ia mengembuskan napas terakhirnya di sebuah kamar kontrakan sempit tahun 2026. Ia ingat betul rasa gagal yang menghancurkan jiwanya—lebih sakit daripada penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Ia mati sebagai pecundang yang meninggalkan adik-adiknya dalam jeratan kemiskinan tak berujung.

​Namun, kegelapan itu tiba-tiba koyak oleh sensasi panas yang menyengat. Suara dengung rendah dari kipas angin tua yang berputar tidak stabil menghantam indra pendengarannya.

​"Nata! Nata Prawira! Kamu tidur lagi di jam pelajaran saya?!"

​Sebuah bentakan keras disertai bunyi gebrakan meja membuat Nata tersentak. Matanya terbuka lebar. Fokusnya bergetar, berusaha memproses bayangan di depannya. Papan tulis hijau yang penuh coretan rumus, aroma debu kapur yang menyesakkan, dan wajah garang Pak Subagyo—guru matematika paling ditakuti di SMA Tunas Bangsa—berdiri tepat di depan mejanya.

​Nata mengerutkan kening. Pikirannya yang biasanya teratur dan logis kini berputar mencari penjelasan. Ini tidak mungkin.

​Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Teman-teman sekelasnya tertawa kecil. Di barisan belakang, ia melihat sosok Raka Dirgantara, anak pemilik yayasan sekolah yang selalu tampil klimis, sedang menyeringai sinis ke arahnya.

​Nata menatap tangannya sendiri. Kulitnya tidak lagi pucat dan keriput. Otot-ototnya terasa jauh lebih bertenaga meski tampak kurus. Ia melihat kalender dinding di atas pintu kelas.

​Mei 2014.

​Aku... kembali? Jantung Nata berdegup kencang, tapi ia tidak membiarkan emosinya meledak. Secara naluriah, ia langsung melakukan validasi. Ia mencubit punggung tangannya dengan keras. Sakit. Ia merasakan tekstur meja kayu yang kasar di bawah jemarinya. Ini bukan mimpi. Ini bukan halusinasi menjelang ajal.

​"Nata! Keluar! Berdiri di depan tiang bendera sampai jam pelajaran saya selesai!" perintah Pak Subagyo, wajahnya memerah.

​Nata tidak membantah. Ia berdiri dengan tenang, merapikan seragamnya yang sedikit kusam, lalu berjalan keluar kelas tanpa sepatah kata pun. Sikapnya yang tenang dan tatapan matanya yang tajam—sangat berbeda dengan Nata yang biasanya menunduk takut—membuat tawa teman-temannya perlahan mereda. Bahkan Raka yang tadinya ingin mengejek, tiba-tiba merasa bulu kuduknya berdiri saat mata Nata menyapu arahnya selama sepersekian detik. Itu bukan tatapan seorang remaja pecundang; itu tatapan seorang pria yang telah melihat neraka dan sedang menghitung setiap langkah di depannya.

​Nata berdiri di bawah terik matahari pagi. Panasnya kulit yang terbakar matahari justru membuatnya merasa hidup. Pikirannya bekerja dengan kecepatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, menyusun kepingan memori dari masa depan menjadi strategi yang koheren.

​2014. Bulan Mei. Artinya, sebentar lagi Piala Dunia di Brasil akan dimulai. BitCore masih berada di harga yang sangat rendah. Tren smartphone baru saja dimulai di Indonesia. Dan yang paling penting...

​Nata memejamkan mata sejenak, menahan gelombang emosi yang mencoba mengacaukan logikanya. Kirana masih SMP. Arya masih SD. Ayah sudah tidak ada, dan ibu sudah lama pergi. Di garis waktu asliku, bulan depan adalah saat aku terpaksa meminjam uang pada rentenir untuk biaya sekolah Kirana. Keputusan bodoh yang menjadi awal dari kehancuran kami.

​"Kali ini tidak akan sama," bisik Nata pada angin. "Aku akan membangun benteng yang tidak bisa ditembus oleh kemiskinan."

​Bel istirahat berbunyi. Saat Nata berjalan menuju kran air sekolah untuk membasahi tenggorokannya yang kering, sebuah kaki sengaja dijulurkan untuk menyandungnya.

​Nata menghentikan langkah tepat satu sentimeter sebelum kakinya tersangkut. Ia tidak perlu melihat ke bawah untuk tahu siapa pelakunya. Ia menoleh perlahan, menatap langsung ke mata Raka Dirgantara.

​"Wah, si miskin sudah bangun. Gimana mimpi indahnya, Nata? Mimpi punya sepatu baru yang nggak jebol kayak gitu?" Raka menunjuk sepatu kets Nata yang bagian depannya sudah mulai menganga.

​Antek-anteknya tertawa di belakang. Nata hanya menatap Raka dengan datar, seolah sedang melihat objek eksperimen yang membosankan. Di kehidupan sebelumnya, ia akan gemetar. Tapi sekarang, Raka hanyalah variabel kecil yang mengganggu efisiensi rencananya.

​"Raka," suara Nata rendah dan stabil. "Daripada mengurusi sepatuku, bukankah lebih baik kamu memikirkan cara menjelaskan pada ayahmu soal taruhan balap liar semalam? Menggunakan uang SPP murid-murid untuk menutupi hutang adalah langkah yang sangat ceroboh, bahkan untuk orang sepertimu."

​Wajah Raka seketika pucat pasi. "A-apa yang kamu omongkan?! Jangan sembarangan!"

​Nata hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman yang terlihat dingin dan penuh perhitungan. Ia mengingat skandal itu menjadi berita besar di sekolah beberapa minggu dari sekarang. "Pikirkan saja itu. Jangan ganggu aku, atau rahasiamu akan berpindah ke meja kepala sekolah sebelum jam pulang."

​Nata melenggang pergi, meninggalkan koridor yang mendadak sunyi.

​Sore harinya, Nata berjalan pulang menuju rumah kontrakannya melewati gang-gang sempit yang berbau air selokan dan asap knalpot angkot. Ia sampai di depan sebuah bangunan semi-permanen dengan cat yang sudah mengelupas.

​"Kak Nata!"

​Seorang gadis kecil dengan seragam SMP yang tampak kebesaran berlari keluar. Itu Kirana. Wajahnya cerah, senyumnya persis seperti yang diingat Nata—lembut dan penuh kasih. Dia adalah satu-satunya alasan Nata masih ingin mempertahankan sisa kemanusiaannya.

​"Kakak pulang telat? Tadi Kirana masak nasi goreng, tapi kecapnya habis, jadi agak putih," ucap Kirana ceria sambil menarik tangan Nata masuk.

​Nata merasakan sesak di dadanya, bukan karena sakit, tapi karena rasa sayang yang meluap. Ia mengusap kepala Kirana. "Nggak apa-apa. Nasi putih pun enak kalau kamu yang masak."

​Di sudut ruangan, seorang anak laki-laki berusia sekitar 8 tahun sedang asyik bermain dengan mobil-mobilan kayu. Arya. Dia menoleh dan nyengir lebar, memperlihatkan satu giginya yang ompong.

​"Kak! Lihat! Aku bisa bikin mobil ini jalan pakai satu roda!" seru Arya penuh semangat, seolah kemiskinan di sekitar mereka tidak pernah ada.

​Nata duduk di kursi plastik yang sudah retak. Ia mulai memetakan keadaan. Dompetnya hanya berisi satu lembar sepuluh ribu rupiah. Besok hari Jumat. Minggu depan Piala Dunia dimulai.

​Malam itu, setelah adik-adiknya terlelap, Nata duduk di meja kecil di bawah lampu redup. Ia tidak lagi meratapi nasib. Ia mengambil selembar kertas dan mulai menuliskan struktur rencana jangka pendeknya:

​Modal Awal: Pemanfaatan bursa prediksi pertandingan Brasil vs Kroasia.

​Aset Inti: Akuisisi BitCore (BCR) di harga bawah.

​Prioritas: Evakuasi keluarga ke lingkungan yang lebih layak sebelum musim hujan.

​Ia menatap wajah tenang Kirana dan Arya yang tertidur pulas. Di kehidupan pertama, ia terseret oleh arus kehidupan. Di kehidupan ini, ia akan menjadi arus itu sendiri.

​Langkah pertama dimulai besok. Nata tahu dunia bisnis 2014 adalah hutan rimba. Tapi mereka belum tahu, bahwa seorang arsitek yang telah melihat akhir dunia baru saja kembali untuk menulis ulang sejarahnya sendiri.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjutkan Thor, aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!