NovelToon NovelToon
Terpaksa Turun Ranjang

Terpaksa Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Naik ranjang/turun ranjang / Ibu Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:34.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Harsa tak pernah membayangkan bahwa hari paling bahagia dalam hidupnya akan berubah menjadi luka yang tak akan pernah sembuh.
Di saat ia menanti kelahiran buah hatinya bersama sang istri tercinta, Nadin, takdir justru merenggut segalanya. Sebuah kecelakaan kecil di kafe menjadi awal dari tragedi besar. Nadin mengalami pendarahan hebat di usia kandungan sembilan bulan, memaksanya menjalani operasi darurat.

Di ambang hidup dan mati, Nadin tak memohon untuk dirinya sendiri.
Ia justru meminta sesuatu yang menghancurkan hati Harsa, memintanya untuk menikahi adiknya sendiri, Arsyi.

Demi putri mereka, Melodi.
Harsa menolak. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan Nadin. Namun, permintaan itu menjadi wasiat terakhir sebelum Nadin menghembuskan napas terakhirnya.

Akankah, Harsa menepati janji pada wanita yang telah tiada atau justru mempertahankan hatinya pada masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Rumah itu masih dipenuhi aroma duka. Karangan bunga berjajar di halaman, sebagian mulai layu, namun tetap menjadi saksi bahwa kehilangan itu masih begitu baru. Di dalam, suara lantunan doa sejak pagi tak pernah benar-benar berhenti. Hari ini genap tujuh hari kepergian Nadin. Namun, bagi mereka yang ditinggalkan, waktu seolah tidak berjalan sama sekali.

Di dalam kamar, tangisan kecil terdengar pelan. Melodi menggeliat dalam gendongan Arsyi. Gadis itu mengayun tubuhnya perlahan sambil berbisik lembut, “Shh … iya, sayang … jangan nangis…” Suaranya lirih, penuh kelelahan yang ia sembunyikan sejak beberapa hari terakhir. Matanya sembab, tubuhnya lelah, namun ia tetap bertahan. Selama seminggu ini, hampir seluruh waktunya ia habiskan untuk bayi itu, mengganti popok, menyiapkan susu, hingga terbangun di tengah malam hanya untuk menenangkan tangisan kecil yang seolah tak pernah ingin berhenti.

Ia menatap wajah mungil itu dengan senyum tipis yang rapuh.

“Kalau Kak Nadin lihat kamu sekarang … pasti dia senang…” gumamnya. Namun, kalimat itu justru membuat air matanya kembali jatuh. Ia memeluk Melodi sedikit lebih erat, seolah takut kehilangan lagi.

Di ruang tengah, suasana jauh berbeda. Harsa duduk di antara para tamu yang datang silih berganti. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja kehilangan istri. Ia hanya mengangguk setiap kali seseorang menyalaminya dan berkata, “Menguatkan ya, Sa…” Lalu ia menjawab singkat, “Terima kasih.” Jawaban yang sama, berulang, tanpa ekspresi. Namun, di balik ketenangan itu, matanya kosong dan kehilangan cahaya yang dulu begitu hidup.

Setelah acara doa selesai, satu per satu tamu mulai berpamitan. Rumah yang tadinya penuh perlahan menjadi lengang. Dan di situlah, suasana yang sebenarnya mulai terasa lebih berat.

Tuan Hendra duduk berhadapan dengan Harsa, sementara Nyonya Ratih berada di sampingnya. Wajah keduanya tampak serius. Harsa sudah bisa menebak arah pembicaraan itu bahkan sebelum kata pertama diucapkan.

“Harsa,” panggil Tuan Hendra pelan. Harsa mengangkat wajahnya, menatap ayahnya tanpa banyak reaksi. “Ada hal yang ingin Papa bicarakan,” lanjutnya.

Harsa menarik napas panjang, lalu berkata pelan, “Ini tentang Arsyi, ya, Pa?”

Tuan Hendra tidak menyangkal. “Kamu sudah tahu, berarti akan lebih mudah,” ucapnya. Nyonya Ratih ikut menimpali dengan suara lembut namun tegas, “Sudah seminggu, Nak. Kita tidak bisa terus diam seperti ini.”

Harsa menunduk sejenak, jemarinya saling menggenggam erat. “Seminggu bukan waktu yang cukup untuk membicarakan hal seperti itu,” jawabnya pelan.

“Tapi ini bukan hal kecil,” sahut Tuan Hendra. “Ini tentang masa depan Melodi.”

Kalimat itu membuat Harsa terdiam sesaat. Ia menghela napas pelan sebelum menjawab, “Saya bisa urus Melodi sendiri.”

“Apa kamu yakin?” tanya Nyonya Ratih. “Kamu bekerja, Nak. Kamu tidak akan selalu ada.”

“Ada pengasuh,” jawab Harsa singkat.

“Pengasuh tidak bisa menggantikan seorang ibu.” Ucapan itu langsung membuat suasana hening. Harsa tidak menjawab. Rahangnya mengeras, seolah menahan sesuatu yang ingin ia lontarkan.

Langkah pelan terdengar dari arah kamar. Arsyi keluar sambil menggendong Melodi yang kini sudah tertidur. Ia sempat berhenti saat melihat suasana ruang tengah yang terasa tegang. “Aku … bawa Melodi keluar sebentar…” ucapnya pelan, berniat menghindari situasi itu.

Namun, suara Tuan Hendra menghentikannya. “Duduk dulu, Arsyi.”

Langkahnya terhenti. Ia menatap ragu, lalu perlahan mendekat dan duduk dengan hati-hati, masih memeluk Melodi erat. Nyonya Ratih menatapnya dengan lembut. “Kamu sudah banyak membantu selama ini,” ucapnya.

Arsyi menunduk. “Saya cuma … tidak tega lihat dia sendiri,” jawabnya pelan.

Justru itu yang membuat Tuan Hendra semakin yakin. “Dan itu alasan kenapa kami ingin kalian segera menikah,” ucapnya tanpa basa-basi.

Kalimat itu membuat udara terasa membeku.

Arsyi terdiam, jantungnya berdetak kencang. “Om … saya…” ucapnya terbata, namun belum sempat menyelesaikan kalimatnya,

“Saya tidak setuju.” Suara Harsa langsung memotong.

Semua menoleh ke arahnya. Harsa berdiri perlahan, tatapannya keras. “Saya sudah bilang sebelumnya. Saya tidak akan menikah lagi,” lanjutnya.

Nyonya Ratih mencoba menenangkan. “Nak, ini bukan soal kamu saja…”

“Ini hidup saya, Bu,” potong Harsa, masih dengan suara yang terkendali namun penuh tekanan. “Saya belum selesai dengan kehilangan saya.”

Kalimat itu jatuh pelan, namun terasa sangat berat.

“Saya belum bisa melihat orang lain di tempat dia,” lanjutnya.

Hening kembali menguasai ruangan. Arsyi menunduk semakin dalam. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipinya.

Tuan Hendra menghela napas panjang. “Kamu pikir kami tidak mengerti perasaanmu?” tanyanya.

Harsa menatapnya. “Lalu kenapa tetap memaksa?”

“Karena kami juga memikirkan cucu kami!” suara Tuan Hendra akhirnya meninggi. “Melodi butuh ibu. Dan selama ini, siapa yang ada untuknya?”

Tak ada yang menjawab tetapi semua tahu jawabannya. Tatapan perlahan mengarah pada Arsyi.

Gadis itu menggigit bibirnya, menahan tangis. “Aku tidak bermaksud menggantikan siapa pun…” ucapnya lirih. “Aku cuma … tidak tega…”

Kalimat itu membuat suasana semakin berat.

Harsa menutup matanya sejenak, lalu membuka kembali dengan tatapan lelah. “Untuk sekarang, tolong hentikan pembicaraan ini,” ucapnya pelan. Ia menatap kedua orang tuanya satu per satu. “Saya butuh waktu.”

“Sampai kapan?” tanya Nyonya Ratih.

Harsa terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, “Sampai saya siap.”

Jawaban yang tidak memberi kepastian, namun itulah satu-satunya yang ia miliki saat ini.

Malam itu, kamar yang dulu penuh tawa kini hanya menyisakan sunyi. Harsa duduk di tepi ranjang, menatap lemari yang masih berisi pakaian Nadin. Aroma itu masih ada. Kenangan itu masih terasa nyata.

Ia menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air matanya jatuh lagi. “Aku belum bisa…” bisiknya lirih. “Aku benar-benar belum bisa…”

Di luar kamar, Arsyi berdiri diam. Tanpa sengaja ia mendengar semuanya. Tangannya memeluk Melodi lebih erat, seolah bayi itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia pertahankan.

“Kalau begini … aku harus bagaimana, Kak…” gumamnya pelan.

1
Naufal Affiq
manusia bodoh ya seperti mu harsa,murah percaya dengan omongan orang
Mei Susilowati
hmmm... tergoda MBI Rina yg ternyata Ra seneng MBI anak e🤣🤣
Ikaaa1605
Lanjutttt thor
Ita rahmawati
kuatkan hatimu utk tdk goyah Arsy 💪
mama
ini baru jebakan yg asli buat harsa🤣,.sukses Rina semoga lancar buat harsa terikat sm km.. biar arsy bisa bebas dari pernikahan yg tak diharapkan hsrsa🤭..nama ny aj CEO ooon yg begitulah😄
Fitra Sari
lnjutt donkk thorr doubel up
Teh Euis Tea
dihh aku gemes sm km harsa pengen tak cubit ginjelmu
dyah EkaPratiwi
gemes sama Harsa pengen getok pake palu
Ita rahmawati
harusnya bgtu Arsy kmu bentengi hatimu dn batasi komunikari dari Harsa 🤦
Nanik Arifin
jangan merasa menang Rina, seandainya Harsa bisa kau dapatkan, kamu hanyalah seorang pelakor. lebih rendah dari seorang pengganti
Oma Gavin
harsa perlahan tapi pasti sudah masuk jebakan rani tinggal tunggu waktu harsa akan menyesal seumur hidupnya karena sudah diberikan istri yg baik seperti arsyi tapi tidak dianggap
Valen Angelina
cerai aja ya..... biar dia nikah sama Rina... Uda kegatelan tuh cewek🤭🤭😁😁
Teh Euis Tea
syukutlah ga ada jebakkan tdnya aku pikir si harsa di jebak si rina tp ternyata ga
ekomahoks mahoks
doubel up donk thor
neny
syukurlah tdk terjadi apa2 sm harsa,,hanya pancingan dr ucapan mentari yg mengingatkan bahwa bersama dia urusan bs terselesaikan
neny: ehrina,,kok jd mentari sih,,lp aq kak,,maafkeun yaa🙏😂😂
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat up nya 💪🥰
Eva Karmita
jangan terlalu dingin Harsa kalau jadi orang ...jgn buat penyesalan mu semakin besar nanti kalau Arsy pergi 💔 ... tunggu aja tanggal mainnya Arsy bakal ninggalin kamu dan ngk akan pernah nungguin kamu pulang dan disitu lah hari " penyesalan mu tiba 😏😤
Fitra Sari
lanjut donk thorr doubel up 🙏🙏🙏😍
Aditya hp/ bunda Lia
ntar saat Arsy pergi kamu baru kehilangan biasa juga gitu ... dasar cowok gak ada otak
Eva Karmita
dasar licik pelakor kegatelan semoga aja jebakan mu ngk berhasil dasar wanita gila pewaris otak setan 😤😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!