Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Cahaya lampu di ruang VVIP itu jauh lebih hangat dan tenang dibandingkan suasana dingin di ruang ICU tadi.
Kamar itu luas, dengan sofa beludru dan fasilitas terbaik, namun perhatian Emirhan sama sekali tidak teralih pada kemewahan itu.
Ia duduk di kursi tepat di samping tempat tidur Aliya, jemarinya menggenggam erat tangan gadis itu, seolah takut jika ia melepaskannya sedetik saja, Aliya akan kembali menghilang.
Aliya masih tampak sangat lemah, namun napasnya kini jauh lebih teratur.
Masker oksigen besar yang tadi menutup wajahnya kini telah diganti dengan selang kecil di hidung yang lebih nyaman.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu kayu ek yang tebal.
Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Leyla yang sembab karena terlalu banyak menangis, berdiri di samping beberapa guru sekolah yang tampak sangat cemas.
Mereka datang membawa buket bunga segar dan tatapan penuh empati.
"Aliya..." bisik Leyla tertahan saat melihat sahabatnya terbaring di sana.
Emirhan menoleh. Wajahnya yang biasanya keras dan angkuh kini tampak lebih lembut, menunjukkan sisa-sisa kelelahan emosional yang luar biasa.
Ia menyadari bahwa orang-orang ini adalah bagian dari dunia Aliya yang memberinya kebahagiaan—dunia yang hampir saja ia renggut karena ego keluarganya.
"Silakan masuk," ucap Emirhan dengan suara rendah namun sopan.
Ia sedikit menggeser duduknya, memberikan ruang bagi mereka untuk mendekat.
Leyla melangkah maju dengan ragu, matanya tertuju pada tangan Emirhan yang masih belum melepaskan tangan Aliya.
Ada rasa haru yang menyeruak di hati Leyla melihat betapa protektifnya pria itu terhadap sahabatnya.
"Terima kasih sudah datang," lanjut Emirhan kepada para guru.
"Kehadiran kalian sangat berarti bagi proses pemulihannya. Dokter bilang dia butuh semangat dari orang-orang terdekatnya."
Guru tari Aliya melangkah maju, meletakkan bunga di atas meja kecil.
"Kami semua sangat terkejut, Tuan Emirhan. Aliya adalah murid yang sangat berbakat dan baik hati. Kami berdoa untuk kesembuhannya."
Aliya perlahan membuka matanya mendengar suara-suara yang familiar.
Sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—muncul di bibirnya saat melihat Leyla.
Emirhan yang merasakan pergerakan kecil di tangan Aliya, langsung mendekatkan wajahnya.
"Lihat, Aliya. Teman-temanmu di sini," bisik Emirhan lembut.
Di dalam ruangan yang dijaga ketat itu, untuk sejenak, ketegangan antara klan Karadağ dan dunia luar seolah meluap, digantikan oleh kehangatan dari orang-orang yang tulus mencintai gadis yang baru saja kembali dari ambang kematian tersebut. Namun di luar pintu, penjaga berpakaian hitam kiriman Onur berdiri tegak, memastikan bahwa tidak ada satu pun pengkhianat dari mansion yang bisa mengusik ketenangan ini.
Di lorong rumah sakit yang sepi, jauh dari jangkauan telinga para penjaga dan guru, Leyla berdiri berhadapan dengan Emirhan.
Wajah Leyla tampak tegang, jemarinya terus meremas ujung seragam sekolahnya dengan gelisah.
Emirhan bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang berat yang ingin disampaikan gadis itu.
"Tuan Emirhan, ada yang harus aku katakan," bisik Leyla dengan suara bergetar.
Emirhan menatapnya tajam, naluri pelindungnya langsung bangkit.
"Katakan, Leyla. Apa pun itu. Ini tentang apa yang terjadi di sekolah?"
Leyla mengangguk cepat, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Kemarin sore, saat kami sedang berganti pakaian untuk latihan tari, aku sempat kembali ke kantin karena tertinggal ikat rambut. Dari kejauhan, aku melihat seseorang berdiri di dekat meja kami."
Napas Emirhan tercekat. "Siapa?"
"Aku tidak tahu pasti," jawab Leyla sambil menggeleng frustrasi.
"Orang itu memakai kacamata hitam besar dan kepalanya ditutupi oleh selendang yang sangat rapat. Dia bergerak sangat cepat. Aku melihatnya memasukkan sesuatu dari botol kecil ke dalam air minum Aliya."
Emirhan mencengkeram pegangan besi di dinding koridor hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa kamu tidak langsung menghentikannya atau melapor?"
"Aku pikir dia hanya petugas kebersihan atau seseorang yang salah meja. Aku tidak menaruh curiga sampai akhirnya Aliya pingsan dan kritis," Leyla terisak.
"Tapi selendang itu, aku merasa pernah melihat motifnya sebelumnya. Selendangnya sangat mewah, bukan seperti kain yang biasa dipakai murid atau staf sekolah."
Rahang Emirhan mengeras. Otaknya langsung bekerja cepat, memindai setiap detail penghuni mansion Karadağ.
Selendang mewah. Seseorang yang tahu jadwal Aliya. Seseorang yang memiliki akses ke racun bunga langka tersebut.
"Terima kasih, Leyla. Informasi ini lebih dari cukup," ucap Emirhan dengan nada suara yang kini berubah menjadi dingin dan mematikan.
Ia meninggalkan Leyla yang masih gemetar dan kembali menatap ke arah pintu ruang VVIP.
Sekarang ia tahu pasti, musuhnya bukan berada di jalanan atau di antara orang asing.
Musuh itu adalah seseorang yang mengenakan sutra dan berlian, seseorang yang mungkin saat ini sedang berpura-pura cemas di dalam mansionnya sendiri.
Emirhan merogoh ponselnya, menghubungi kepala keamanannya dengan satu perintah singkat:
"Periksa semua rekaman CCTV sekolah dan cari wanita dengan selendang penutup wajah. Dan satu lagi, periksa kamar Laura dan Ibu Zaenab sekarang juga."
Emirhan mengatur napasnya sebelum membuka pintu, mencoba menyembunyikan amarah yang baru saja tersulut oleh informasi dari Leyla.
Ia tidak ingin Aliya melihat sisi gelapnya saat ini; yang Aliya butuhkan hanyalah ketenangan untuk pulih.
Begitu ia melangkah masuk, suasana di dalam ruangan terasa lebih tenang. Leyla dan para guru berdiri dari kursi mereka.
"Kami pamit dulu, Tuan Emirhan. Aliya butuh banyak istirahat," ucap salah satu guru dengan suara rendah.
Leyla mendekat ke ranjang, membisikkan kata-kata penyemangat di telinga Aliya sebelum melirik Emirhan dengan tatapan yang seolah berkata, 'Tolong jaga dia'.
Setelah pintu tertutup rapat dan hanya menyisakan mereka berdua, keheningan menyelimuti ruangan VVIP itu.
Aliya menolehkan kepalanya sedikit, menatap wajah Emirhan yang tampak tegang meskipun pria itu mencoba tersenyum.
"Ada apa, Emir?" tanya Aliya lirih, suaranya masih serak karena efek ventilator yang sempat terpasang. Matanya yang jernih seolah bisa membaca bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria di hadapannya.
Emirhan segera duduk di sampingnya, meraih tangan Aliya dan menciumnya lama, mencoba mengalirkan seluruh kasih sayangnya melalui sentuhan itu.
Ia tidak ingin Aliya tahu bahwa ada seseorang yang begitu membencinya hingga tega meracuninya.
"Tidak ada apa-apa, Sayang," jawab Emirhan lembut sambil mengusap kening Aliya.
Ia menggelengkan kepalanya perlahan, memastikan sorot matanya terlihat meyakinkan.
"Aku hanya terlalu senang melihatmu sudah bisa bicara lagi. Jangan memikirkan apa pun dulu, fokuslah pada kesehatanmu."
Aliya mengangguk lemah, meskipun jauh di lubuk hatinya, ia merasa ada badai yang sedang disiapkan Emirhan di luar sana. Namun, saat ini, ia memilih untuk percaya.
Ia memejamkan matanya, merasa aman dalam genggaman tangan Emirhan, sementara di balik senyumnya, Emirhan sedang menyusun rencana untuk menyeret pelaku ke dalam lubang penderitaan yang sama dengan yang dirasakan Aliya.
Emirhan merapikan letak selimut Aliya dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah harta yang paling rapuh di dunia.
Matanya menatap Aliya dengan intensitas yang tidak bisa dibantah.
"Lusa, kamu akan tetap mengikuti ujian, Aliya," ucap Emirhan dengan nada bicara yang final.
"Tapi tidak di sekolah. Aku sudah berkoordinasi dengan kepala sekolahmu. Kamu akan melakukan ujian di sini, di rumah sakit."
Aliya tersentak kecil, ia mencoba mendudukkan tubuhnya namun rasa lemas masih mendominasi.
"Tapi, Emir? Aku ingin di sekolah. Ini ujian terakhirku, aku ingin merayakannya bersama Leyla dan teman-teman yang lain. Aku tidak mau terlihat seperti orang sakit saat mengerjakan soal."
Emirhan langsung menahan bahu Aliya agar tetap berbaring, tatapannya mengeras.
"Tidak ada tapi-tapian, Sayang. Di sini jauh lebih aman. Aku tidak akan membiarkanmu keluar dari jangkauan pandanganku sebelum aku memastikan siapa yang melakukan ini padamu."
"Emir, aku sudah merasa lebih baik—"
"Aliya, dengarkan aku," potong Emirhan, suaranya kini merendah namun penuh penekanan.
"Dunia di luar sana sedang tidak aman untukmu. Guru-gurumu akan datang ke sini untuk mengawasimu secara langsung. Segala fasilitas yang kamu butuhkan sudah aku siapkan. Kamu hanya perlu fokus mengerjakan ujianmu tanpa harus memikirkan ancaman dari mana pun."
Aliya menghela napas panjang, ia tahu jika Emirhan sudah mengeluarkan nada bicara seperti itu, tidak akan ada ruang untuk bernegosiasi.
Ia menatap langit-langit ruang VVIP yang mewah itu dengan perasaan campur aduk antara kecewa dan rasa dilindungi yang begitu posesif.
"Baiklah kalau itu maumu," gumam Aliya akhirnya.
Emirhan mengecup kening Aliya lama.
"Ini untuk kebaikanmu. Aku tidak akan membiarkan maut mendekatimu lagi, meski hanya satu jengkal."
Sementara itu, di luar ruangan, Emirhan sudah menempatkan dua orang penjaga tambahan.
Ia tahu bahwa lusa, saat perhatian semua orang tertuju pada ujian Aliya, ia akan melakukan pergerakan besar untuk menjebak sosok di balik selendang yang diceritakan oleh Leyla.